Afkar

Sejarah Kebiadaban Komunisme Di Berbagai Negara

Salah satu sejarah yang paling kelam di era modern adalah pembantaian yang dilakukan oleh gerakan komunis di berbagai negara dengan mengatasnamakan perubahan revolusioner. Gerakan ini lahir sebenarnya untuk memperjuangkan nasib para buruh yang tereksploitasi oleh para pemilik modal, kapitalis, yang dilegitimasi oleh negara. Paradigma perubahan dengan pertarungan antarkelas menjadikan pembunuhan, pembantaian dan penghancuran menjadi terlegitimasi secara ideologis. Sebabnya, menurut ideologi Komunisme, satu-satunya jalan perubahan adalah dengan mengubah struktur masyarakat dengan menggulingkan ideologi Kapitalisme bersama dengan para elit penyokongnya. Strategi ini diyakini sebagai bagian dari hukum sejarah umat manusia.

Menurut Prof. R.J. Rummel (1994), pada rentang waktu tahun 1900 sampai tahun 1987, Komunisme  di berbagai negara seperti Uni Soviet, Kamboja, Cina, Kuba, Korea Utara dan Vietnam telah membunuh sekitar 110.000.000 orang baik dilakukan oleh kalangan pemerintah, kelompok pro pemerintah maupun gerakan militan komunis. Semua yang dibunuh itu adalah orang-orang yang dianggap pro kapitalis atau kontrarevolusi dari kalangan politisi, pengusaha, petani kaya dan pemilik lahan, militer, polisi dan kelompok-kelompok anti Komunisme.1

 

Komunisme Berdarah Soviet

Yang menjadi pionir dari ekspansi Komunisme adalah Uni Soviet setelah Revolusi Bolshevik tahun 1917. Pada era kepemimpinan Lenin dan Stalin, upaya penerapan Komunisme memakan banyak korban. Misalnya, tahun 1918-1922 era “Teror Merah Lenin”, adalah fase pembersihan kaum kapitalis dari kalangan pendukung Kekaisaran Tsar Rusia, kaum liberal, sosialis non-Bolshevik, para tokoh agama, kulaks (petani kaya) dan orang asing. Sekitar 200 ribu orang yang dianggap musuh ini dieksekusi mati, ditangkap, diinterogasi, ditahan, diadili atau dikirim ke penjara dan kamp kerja paksa. Pada era itu juga 11 juta meninggal karena kelaparan.

Tahun 1936-1938 pada era Stalin, pembersihan besar-besaran musuh komunis termasuk bersih-bersih internal partai komunis memakan korban 700.000-750.000 nyawa. Lebih dari satu juta orang tewas di kamp penahanan atau kamp kerja paksa (Gulag). Mereka yang disasar termasuk petani, etnis minoritas, seniman, ilmuwan, penulis, orang asing dan warga negara biasa yang dianggap kontrarevolusioner.2

Terhadap agama, sejak tahun 1917 pemberangusan terhadap symbol-simbol agama di Rusia secara massif dilakukan melalui penghapusan ajaran-ajaran agama di kurikulum sekolah, berlanjut dengan  penghancuran gereja dan biara atau diubah menjadi toilet umum. Ribuan uskup, biarawan dan pendeta dibunuh secara sistematis atau dikirim kamp tahanan oleh Dinas Keamanan.3

Vladimir Lenin dalam sebuah pidatonya menyebutkan, sebagai pengikut Komunisme, moralitas seharusnya selalu tunduk pada kepentingan kaum pekerja, petani atau proletariat. Sementara, kelompok – kelompok borjuis termasuk kalangan agamawan, pemilik tanah mereka mengatasnamakan nilai-nilai ketuhanan untuk melakukan eksploitasi terhadap para pekerja. Oleh karena itu, menurut Lenin, moralitas seperti ini harus ditolak.4

Seorang anggota polisi rahasia rezim Lenin menyatakan, Komunisme tidak melakukan serangan individual, tetapi kepada kaum borjuis. Nasib seseorang di negara komunis bergantung pada posisi mana dia berpijak.5

 

Percobaan Gagal Komunisme Cina

Sejak revolusi komunis Cina tahun 1948, pemerintahan Mao Zedong/Mao Tse-Tung  mendesain negara ini menjadi negara komunis melalui kebijakan kolektivisme ekonomi, yakni dengan penghapusan kepemilikan individu dan industrialisasi melalui kewajiban kerja untuk meningkatkan hasil pertanian dan industri di bawah kontrol partai komunis. Program ini dicanangkan oleh rezim melalui kebijakan Lompatan Jauh ke Depan periode tahun 1958 – 1961.

Kebijakan peningkatan pertanian dan industrialiasi ini gagal. Kelaparan menyebar, khususnya di pedesaan, mengakibatkan jutaan kematian. Warga bahkan terpaksa memakan kulit pohon dan kotoran. Di beberapa daerah bahkan sebagian menjadi kanibal, memakan daging manusia.

Petani yang gagal memenuhi kuota panen, yang berusaha melarikan diri, disiksa dan dibunuh bersama anggota keluarganya melalui pemukulan, mutilasi di depan umum, dikubur hidup-hidup, direbus dengan air mendidih, dan metode lainnya. Diperkirakan sekitar 30 hingga 45 juta kematian akibat kelaparan, eksekusi, penyiksaan, kerja paksa, dan bunuh diri karena putus asa di era ini.6

Penderitaan di bawah Komunisme berlanjut pada tahun 1966 – 1976. Tahun ini dikenal sebagai masa Revolusi Kebudayaan (cultural revolution), yakni upaya penghapusan besar-besaran tradisi lama. Melalui kelompok Pengawal Merah (Red Guards) anak-anak muda dikerahkan untuk melakukan aksi-aksi teror dan anarkisme terhadap kalangan atau properti yang dianggap berseberangan dengan cita-cita Komunisme. Banyak sekolah, universitas dan gereja, kuil, perpustakaan, toko dan rumah pribadi digeledah atau dihancurkan dengan mengatasnamakan revolusi tersebut. Banyak guru, intelektual dipersekusi bahkan dibunuh.

Saat Revolusi Kebudayaan ini berakhir tahun 1976, diperkirakan antara 500.000-2.000.000 orang meninggal, serta 36 juta orang dipersekusi atau dianiaya.7

Teror Revolusi Kebudayaan ini dicetuskan setelah Mao mendeklarasikan melalui media nasional Harian Rakyat untuk menyapu bersih orang-orang yang dianggap monster dan iblis. Nasib setiap orang berakhir di label: anda bagian dari Komunisme atau bukan.

 

Genosida Komunisme di Negara Lain

Komunisme Kamboja berkuasa relatif singkat, yakni tahun 1975-1979, melalui kekuasaan Partai Khmer Merah (Khmer Rouge) yang dipimpin oleh Pol Pot. Dia mengambil-alih kekuasaan dan mencoba mengaplikasikan masyarakat agraris tanpa kelas di negara ini.

Metode yang digunakan adalah dengan memindahkan penduduk kota yang mapan ke desa-desa untuk ikut mensukseskan visi masyarakat agraris dengan dipaksa bertani dan membangun bendungan. Bank-bank ditutup. Pasar dan penggunaan uang dilarang. Namun, kebijakan  ini malah melahirkan banyak penderitaan, kelaparan dan penyakit.

Selain itu, rezim Pol Pot juga melakukan pembersihan kepada orang-orang yang dianggap musuh seperti kelompok-kelompok agama Kristen, Budha dan Islam dan etnis minoritas. Umat Islam Cham dianggap paling menderita oleh genosida dengan jumlah korban 500.000 orang atau 70% dari total populasi Muslim Cham.

Selain itu kalangan profesional seperti guru, pengacara, dokter, dan pendeta menjadi target penangkapan dan pemusnahan rezim. Bahkan orang-orang berkacamata atau berbahasa asing akan menjadi sasaran teror oleh rezim ini. Secara keseluruhan sampai tahun 1979, jumlah korban rezim komunis Khmer Merah ini berjumlah antara 1,5 – 3 juta orang.8

Nasib yang sama menimpa masyarakat Korea Utara, di era Kim Il Sung (1948-1994) implementasi komunisme di negara ini membuat masyarakat terbagi dalam pro dan kontra komunis. Ribuan bahkan jutaan orang yang kontra dan kritis terhadap rezim ini dari kalangan intelektual, media, pemilik lahan akan diberangus, ditangkap, dibunuh, atau diisolasi di daerah terpencil yang miskin.

Di Vietnam Utara, sejak tahun 1940an,  Komunisme juga memakan banyak korban khususnya terhadap kalangan pemilik lahan, petani yang kaya, kelompok oposisi dan orang-orang asing. Ratusan ribu orang yang dianggap berbeda kelas disiksa, dipenjara, bahkan dibunuh oleh rezim komunis Vietnam.9

Indonesia juga pernah merasakan pengalaman buruk dengan komunisme, gerombolan partai komunis di Indonesia terlibat beberapa pemberontakan dan memakan banyak korban baik santri maupun ulama termasuk pesantren dan masjid yang menjadi sasarannya. Untungnya, gerakan ini tidak sampai menjadi rezim yang berkuasa di Indonesia. Seandainya terjadi, Indonesia mungkin akan mengalami nasib yang sama dengan negara lain: dipecah-belah, persekusi, pembunuhan massal, intimidasi, pemenjaraan, isolasi, dan kerja paksa.

Dalam buku Catatan Hitam Kriminalitas Komunisme (1999) dijabarkan korban kebrutalan Komunisme di berbagai negara10:

  1. Uni Soviet : 20 juta korban
  2. Cina : 65 juta korban
  3. Vietnam : 1 juta korban
  4. Korea Utara           : 2 juta korban
  5. Kamboja : 2 juta korban
  6. Eropa Timur           : 1 juta korban
  7. Amerika Latin : 150,000 korban
  8. Afrika : 1,7 juta korban
  9. Afghanistan           : 1,5 juta korban.

 

Semua daftar kematian di negara-negara yang pernah dikuasai komunis adalah implementasi dari sebuah ideologi yang cacat yang menilai problem masyarakat dari persoalan kelas-kelas sosial. Seolah-olah jika kelas hilang maka hilang pula penderitaan masyarakat. Memang, revolusi komunis ini terbangun dari kegagalan rezim sebelumnya untuk menciptakan kemakmuran dan keadilan. Namun, dengan pemahaman yang keliru, alih-alih membawa kebaikan, malah menciptakan permusuhan di tengah-tengah masyarakat dan pembantaian terhadap orang-orang yang sebenarnya tidak bersalah.

Kegagalan dari program Komunisme di negara-negara komunis itu membuat rezim-rezim politik setelahnya mengubah haluan meninggalkan resep dari ideologi yang bengis ini. Komunisme akhirnya menjadi salah satu penyumbang pembunuhan terbesar dalam sejarah umat manusia. [Hasbi Aswar]

 

Catatan kaki:

1        R.J. Rummel, ‘Murder by Communism’, November 1993, https://www.hawaii.edu/powerkills/COM.ART.HTM.

2        ‘Great Terror: 1937, Stalin & Russia’, HISTORY, 4 October 2022, https://www.history.com/topics/european-history/great-purge.

3        Giles Fraser, ‘Why the Soviet Attempt to Stamp out Religion Failed’, The Guardian, 26 October 2017, sec. Opinion, https://www.theguardian.com/commentisfree/belief/2017/oct/26/why-the-soviet-attempt-to-stamp-out-religion-failed.

4        ‘Lenin on the Komsomol’, Seventeen Moments in Soviet History (blog), 27 August 2015, https://soviethistory.msu.edu/1924-2/young-communists/young-communists-texts/lenin-on-the-komsomol/.

5        David Satter, ‘100 Years of Communism—and 100 Million Dead’, WSJ, accessed 1 August 2023, https://www.wsj.com/articles/100-years-of-communismand-100-million-dead-1510011810.

6        Investopedia Team, ‘Great Leap Forward: What It Was, Goals, and Impact’, Investopedia, accessed 2 August 2023, https://www.investopedia.com/terms/g/great-leap-forward.asp.

7        Pankaj Mishra, ‘What Are the Cultural Revolution’s Lessons for Our Current Moment?’, The New Yorker, 25 January 2021, https://www.newyorker.com/magazine/2021/02/01/what-are-the-cultural-revolutions-lessons-for-our-current-moment.

8        ‘Cambodia’, College of Liberal Arts, accessed 2 August 2023, https://cla.umn.edu/chgs/holocaust-genocide-education/resource-guides/cambodia.

9        ‘50 Years On, Vietnamese Remember Land Reform Terror’, Radio Free Asia, accessed 2 August 2023, https://www.rfa.org/english/news/vietnam_landreform-20060608.html.

10      Stephane Courtouis Werth Nicolas et al., The Black Book of Communism: Crimes, Terror, Repression (Oxford University Press, 1999).

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

18 − eight =

Back to top button