Baiti Jannati

Agar Anak Berbakti Kepada Orangtua

Memiliki anak yang shalih dan berbakti merupakan dambaan setiap orangtua.  Anak yang seperti inilah yang akan mengalirkan pahala bagi ayah dan ibunya sekalipun keduanya telah meninggalkan kehidupan dunia ini.  Doa-doa yang mereka panjatkan pun akan melapangkan kehidupan di alam kuburnya.

Apa yang harus dilakukan oleh orang tua agar harapan memiliki anak yang berbakti menjadi kenyataan?

 

Langkah-Langkah Mewujudkan Harapan

 

  1. Menanamkan konsep keimanan yang benar.

Mereka wajib memahami bahwa hidup adalah untuk beribadah kepada Allah SWT (QS adz-Dzariyat []: 56).  Konsep ini akan mendorong anak berusaha meraih nilai ibadah dari setiap aktivitasnya.  Dia pun akan berupaya agar perlakuan mereka kepada kedua orangtuanya akan berbuah pahala di sisi Allah SWT.

 

  1. Menjelaskan kepada anak tentang kewajiban melakukan birrul walidayn.

Bersikap baik kepada orangtua bukanlah semata dilakukan anak untuk membalas jasa dan kebaikan keduanya.  Sampai kapan pun jasa orangtua tak akan terbalaskan. Seorang anak berbuat baik kepada orangtua semata  menjalankan perintah Allah SWT.   Banyak nas yang membahas masalah ini.  Di antaranya, Allah SWT berfirman:

۞وَٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡ‍ٔٗاۖ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنٗا ٣٦

Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan Dia dengan apapun. Berbuat baiklah kepada kedua orangtua (QS an-Nisa’[4]: 36).

 

Anak penting mengetahui apa saja wujud berbakti kepada orangtua, seperti bersikap lemah lembut dan tidak bersikap kasar, mengikuti perintah keduanya selama tidak menyelahi aturan Allah SWT, menyenangkan hati keduanya, meringankan kesulitan keduanya dan mendoakan keduanya.

 

  1. Menjelaskan kepada anak tentang keutamaan yang akan diperoleh mereka yang berbakti kepada kedua orangtua dan sanksi yang berat bagi siapa saja yang bersikap durhaka kepada keduanya.

Di antara keutamaan tersebut adalah menjadi amalan yang paling dicintai Allah SWT. Abu ‘Amr Asy-Syaibani meriwayatkan: Pemilik rumah ini (seraya menunjuk rumah Abdullah bin Mas’ud ra.) menyampaikan kepadaku: Aku pernah bertanya kepada Rasulullah saw. “Amalan apakah yang paling Allah cintai?”

Rasul menjawab, “Shalat pada (awal) waktunya.”

“Kemudian apa lagi?” Nabi menjawab lagi, “Berbakti kepada kedua orangtua.

Aku bertanya kembali, “Kemudian apa lagi”

Jawab beliau, “Jihad fi Sabilillah.” (HR Bukhari, Muslim, Ahmad dan Nasa’i).

Anak yang senantiasa berbuat baik dan berbakti kepada kedua orangtuanya juga akan memperoleh keberkahan hidup berupa umur panjang dan kemudahan rezeki. Sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah saw.:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُمَدَّ لَهُ فِي عُمْرِهِ، وَأَنْ يُزَادَ لَه فِي رِزْقِهِ، فَلْيَبَر وَالِدَيْهِ، وَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan ditambah rezekinya, hendaknya ia berbakti kepada kedua orangtuanya dan menyambung silaturahmi (kekerabatan) (HR Ahmad).

 

Berbakti kepada orangtua merupakan pintu surga yang paling tengah. Abu Abdurrahman as-Sulami meriwayatkan dari Abu Darda, bahwa seorang pria pernah mendatangi dia dan berkata, ”Aku memiliki seorang istri. Namun, ibuku menyuruhku untuk mentalak dia.” Abu Darda berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda:

الوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الجَنَّةِ، فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ البَابَ أَوْ احْفَظْه

Orangtua merupakan pintu surga paling pertengahan. Jika engkau mampu maka tetapilah atau jagalah pintu tersebut (HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).

 

Perlakuan yang baik kepada orangtua akan berbuah pahala. Sebaliknya, perlakuan buruk (durhaka) kepada keduanya bisa mendatangkan siksa yang luar biasa beratnya.  Nabi saw. bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّة عَاقٌ وَلا مُدْمِنُ خَمْرٍ وَلا مُكَذِّبٌ بِالقَدَرِ

Tidak masuk surga anak yang durhaka (kepada kedua orangtuanya), peminum khamr (minuman keras) dan orang yang mendustakan takdir (HR Ahmad).

 

  1. Orangtua berupaya untuk memenuhi hak-hak anak dengan sebaik-baiknya.

Di antara hak-hak anak yang menjadi kewajiban orangtua adalah memberikan makan, minum, pakaian, pengasuhan,  pendidikan, juga perhatian dan kasih sayang.  Semua itu akan menjadi bukti di sisi anak bahwa betapa kehadiran orangtuanya sangat berarti dalam kehidupan mereka.  Kesadaraan ini tampak dalam doa yang senantiasa dipanjatkan anak yang berbakti untuk kedua orangtuanya, “Ya Allah, ampunilah semua dosa-dosaku dan dosa-dosa kedua orangtuaku, serta berbelaskasihlah kepada mereka berdua seperti mereka berbelas kasih kepada diriku di waktu aku kecil.”  (TQS al-Isra’ [17]: 24).

 

  1. Menceritakan proses hamil, kelahiran dan tumbuh kembang anak dari mulai masa kandungan, penyusuan, pengasuhan sampai sekarang.

Mereka tidak tumbuh secara serta-merta karena proses alami, namun penuh dengan curahan tenaga dan perhatian orangtua (Lihat: QS Luqman [31]: 15).

 

  1. Orangtua memberikan teladan yang baik dalam memperlakukan orangtua.

Perlakuan orangtua kepada nenek dan kakeknya akan menjadi bukti bahwa hal tersebut adalah mulia yang mampu dilakukan.  Akan terekam kuat dalam benak anak bahwa birrul walidayn bukan sebatas teori tentang kebaikan yang diajarkan orangtua mereka.  Namun, ada wujud nyata yang mereka saksikan sendiri dilakukan oleh kedua orangtua mereka.

 

  1. Menyampaikan kisah-kisah teladan tentang sikap berbakti kepada orangtua.

Di antaranya keteladanan Nabi saw., Sahabat serta para ulama salafush-shaalih, seperti kisah Uwais al-Qarni.

 

  1. Membersihkan pengaruh-pengaruh buruk yang bisa meracuni pemahaman dan merusak perilaku anak sehingga tidak berbakti kepada orangtua.

Paham sekularisme yang menghilangkan peran agama dalam kehidupan harus dijauhkan dari anak.  Demikian juga racun Kapitalisme yang akan melahirkan sikap oportunistik dan pertimbangan materi semata tidak boleh mempengaruhi anak. Mereka harus diselamatkan dari perilaku bebas tanpa aturan.  Mereka harus paham bahwa seluruh perilakunya mesti terikat dengan aturan syariah, termasuk dalam memperlakukan orangtua.  Bukan mengikuti adat kebiasaan, bukan pula mencontoh perilaku artis dan para selebritis terkenal.

 

  1. Senantiasa memohon kepada Allah SWT agar dikaruniai anak yang berbakti.

Banyak doa yang dicontohkan Rasulullah saw. Di antaranya adalah, “Duhai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”  (TQS al-Furqan [25]: 74).

 

  1. Memaafkan anak dan memohonkan ampunan atas kesalahan mereka.

Ketika harapan memiliki anak yang berbakti belum menjadi kenyataan, kadang hal ini menjadi ujian bagi orangtua.  Ada rasa kecewa, kesal, merasa gagal yang bisa berujung pada kemarahan pada anak.  Keadaan ini tidak boleh dibiarkan berkelanjutan karena akan mempengaruhi sikap orangtua kepada anak.  Karena itu orangtua harus segera meredam berbagai rasa yang berkecamuk tersebut dengan bersikap proposional bahwa bagaimanapun sikap anak, mereka tetaplah anak yang diharapkan akan menjadi ivestasi masa depan.  Mereka butuh bimbingan dan arahan yang tepat dari orangtuanya  agar menjadi lebih baik.  Jangan sampai kekesalan dan kemarahan orangtua mengantarkan pada ketidakadilan dalam bersikap, menjerumuskan pada pengabaian hak-hak anak dan menjadi penghambat datangnya keberkahan dari Allah SWT.

WalLâhu a’lam bi ash-shawwâb. [Dedeh Wahidah Achmad]

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

11 − six =

Back to top button