Dari Redaksi

Derita Muslim Minoritas Tanpa Khilafah

Muskaan Khan, demikian namanya. Seorang muslimah yang telah menunjukkan keberaniannya yang luar biasa. Ia bertakbir berulang-ulang saat menghadapi segerombolan laki-laki militan Hindu. Mereka menghalangi dirinya masuk ke kampusnya. Mereka menghalangi haknya untuk mendapat pendidikan hanya karena pakaian Muslimahnya.

Gerombolan itu mengenakan selendang saffron khas nasionalis Hindu militan ini. Sambil meneriakkan “Jai Shri Ram” (Kemenangan bagi Dewa Ram), mereka memaksa Muslimah India yang hendak memasuki kampusnya untuk mencopot jilbab mereka.

Muskaan Khan menjadi simbol keberanian Muslimah India menghadapi rezim penindas. Muslim India semakin dizalimi, terutama saat Modi dari BPJ, partai militan Hindu, berkuasa. Partai ini telah menggunakan isu kebencian terhadap Islam untuk mendapatkan dukungan suara politik dari masyarakat Hindu di India. Berbagai kebijakan rezim BPJ ini menyudutkan umat Islam. Umat Islam di India menjadi minoritas yang makin ditindas.

Rezim Modi menghapus otonomi Khasmir, negeri Islam yang dirampas India. Dia mencampuri hukum keluarga dan individu dalam Islam, termasuk pernikahan. Dia pun memberikan status tanah Masjid Babri yang telah lama berdiri kepada umat Hindu. Hampir tiga dekade, 850 saksi mata, lebih dari 7.000 dokumen, foto dan rekaman video, pengadilan di India memutuskan tak seorang pun bersalah dalam aksi pembongkaran Masjid Babri dari Abad ke-16 yang diserang oleh massa Hindu di kota suci Ayodhya.

Kebijakan lain adalah UU  Kewarganegaraan diskiminatif yang dibela rezim Modi. Regulasi ini memperbolehkan warga non-Muslim asal Bangladesh, Pakistan dan Afganistan yang masuk ke India secara ilegal untuk menjadi warga negaranya.

Sering, setiap protes yang dilakukan umat Islam, dibenturkan dengan gerakan Hindu, yang membuat gesekan horizontal di tengah masyarakat. Berbagai kerusuhan kerap terjadi. Aparat keamanan cenderung memihak kelompok Hindu militan. Mereka tidak memberikan perlindungan sepenuhnya kepada umat Islam. Masjid dan toko-toko milik umat Islam pun menjadi sasaran penghancuran.

Seperti yang terjadi dalam kerusuhan di Delhi, Februari 2020, lebih dari 30 orang terbunuh. Banyak di antaranya umat Islam.  Setelah selama ini tidak dipersoalkan, pakaian Muslim pun mulai digugat. Semua ini sejalan dengan keinginan kelompok-kelompok Hindu militan. Kebencian terhadap umat Islam yang sudah lama ada semakin membesar di tengah masyarakat. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari kebijakan dan provakasi elit-elit BPJ sendiri.

Keberanian Muskaan Khan sesungguhnya menampar keras para penguasa Muslim di negeri-negeri Islam yang diam terhadap penindasan yang terjadi di India. Hampir tidak ada tindakan nyata untuk menghentikan penindasan ini. Jangankan boikot ekonomi, pemutusan hubungan diplomatik, apalagi mobilisasi militer. Sebatas kecaman keras pun nyaris tidak terdengar disampaikan oleh penguasa-penguasa negeri Islam. Penguasa ruwaybidhah ini justru sibuk di negerinya memojokkan rakyatnya sendiri dengan isu-isu radikal Islam. Mereka bahkan bekerjasama lebih erat lagi dengan penguasa India. Kalaulah penguasa Pakistan, yang memiliki angkatan perang dan senjata nuklir, mau bersuara apalagi sampai mengancam tindakan militer, tentulah penguasa militan Hindu ini tidak akan seberani ini.

Semua ini terjadi setelah umat Islam tidak memiliki institusi politik negara adidaya yang disegani, yakni Khilafah menyatukan umat Islam dan melindungi setiap nyawa kaum Muslim yang ditindas. Khilafah adalah junnah (perisai) yang melindung umat.

Umat Islam India membutuhkan kehadiran kembali Muhammad bin al-Qashim. Panglima perang gagah berani yang diutus di era Khalifah al-Walid bin Abdul Malik, untuk menyebarluaskan dakwah Islam ke India; melakukan futûhât, termasuk memberikan pelajaran, setelah pada tahun 90 H, 12 kapal laut yang memuat barang-barang dagangan dirampok. Pedagang dan wanita Muslimah ditangkap oleh perompak di wilayah Sindh. Panglima Perang Muhammad bin Al Qashim berhasil mengalahkan pasukan Raja Dahir Sen, Ibukota Sindh ditaklukkan kaum Muslim.

Saat Islam berkuasa di benua India, rakyat India mendapatkan cahaya hidayah. Banyak di antara mereka yang memeluk Islam. Rakyat India pun merasakan keadilan hukum-hukum Islam. Pemeluk Hindu dan Budha pun masih leluasa untuk tetap beribadah sesuai keyakinan mereka.

Keruntuhan Khilafah 101 tahun yang lalu menjadi penyebab umat Islam tidak lagi memiliki pelindung. Tidak ada institusi global yang secara politik mempengaruhi konstelasi internasional yang memihak pada umat Islam. Pada 28 Rajab 1342 H, bersamaan dengan 3 Maret 1924 M, Khilafah Islam diruntuhkan Inggris melalui kaki tangannya yang hina, Kamal Ataturk. Akibatnya, kaum Muslim  kehilangan institusi yang menerapkan syariah Islam secara kâffah, menyatukan umat Islam di seluruh dunia dan mengemban dakwah Islam sebagai politik luar negerinya.

Bulan Rajab ini mengingatkan kita akan kewajiban menegakkan kembali Khilafah Islam. Kewajiban ini didasarkan pada syariah Islam. Menurut Imam Nawawi dalam Syarh Shahîh Muslim, para Sahabat, juga para imam mazhab, sepakat tentang kewajiban ini. Bahkan Ijmak Shabat menegaskan bahwa umat Islam tidak boleh tidak memiliki Khalifah lebih dari tiga hari tiga malam. Faktanya, sekarang sudah 101 tahun umat Islam tanpa Khilafah. Inilah kewajiban yang harus segera ditunaikan umat Islam saat ini. Saatnya umat Islam berjuang bersama menegakkan kembali Khilafah yang akan menggantikan tatanan dunia Kapitalisme yang busuk dan rapuh saat ini.

AlLâhu Akbar! [Farid Wadjdi]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

18 + 18 =

Back to top button