Fikih

Cenderung Kepada Orang Zalim

Soal:

Saya ingin bertanya: Mengapa tidak boleh cenderung kepada orang zalim (atau seseorang yang punya kekuasaan, pengaruh dan potensi-potensi yang bermanfaat, baik dia munafik atau fasik atau bahkan kafir), meminta harta atau pertolongan dari dia sehingga seorang Muslim dapat berjihad melawan agresor atau supaya untuk menolong agamanya?

 

Jawab:

Seolah dengan ucapan “cenderung kepada orang zalim” itu Anda menunjuk pada firman Allah SWT:

وَلَا تَرۡكَنُوٓاْ إِلَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ فَتَمَسَّكُمُ ٱلنَّارُ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِنۡ أَوۡلِيَآءَ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ  ١١٣

Janganlah kalian cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kalian disentuh api neraka. Sekali-kali kalian tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah. Kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan (QS Hud [11]: 113).

 

Jelas dari ayat yang Anda isyaratkan, haram cenderung kepada orang zalim. Lalu bagaimana Anda bertanya tentang kebolehan hal itu?!

Dinyatakan di Tafsîr al-Qurthubî untuk ayat ini sebagai berikut:

 

Di dalamnya ada empat masalah: Pertama, firman Allah “wa lâ tarkanû (Janganlah kalian cenderung).” Ar-Rukûn adalah hakikat penyandaran, ketergantungan, diam dan ridha pada sesuatu. Qatadah berkata, “Maknanya: Janganlah kalian senang kepada mereka dan jangan kalian menaati mereka.”

Ibnu Juraij berkata, “Maknanya: Janganlah kalian cenderung kepada mereka.”

Abu al-’Aliyah berkata, “Maknanya: Janganlah kalian meridhai perbuatan mereka.”

Semuanya berdekatan maknanya.

Kedua, firman Allah SWT “ilâ al-ladzîna zhalamû (kepada orang-orang zalim).” Dikatakan: yakni para pengikut kesyirikan. Dikatakan: yakni bersifat umum mencakup mereka dan orang-orang yang banyak bermaksiat, seperti firman Allah SWT:

وَإِذَا رَأَيۡتَ ٱلَّذِينَ يَخُوضُونَ فِيٓ ءَايَٰتِنَا فَأَعۡرِضۡ عَنۡهُمۡ حَتَّىٰ يَخُوضُواْ فِي حَدِيثٍ غَيۡرِهِۦۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ ٱلشَّيۡطَٰنُ فَلَا تَقۡعُدۡ بَعۡدَ ٱلذِّكۡرَىٰ مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ  ٦٨

Jika kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), janganlah kamu duduk bersama orang-orang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu) (QS al-An’am [6]: 68).

 

Telah dijelaskan sebelumnya. Ini adalah yang shahih dalam makna ayat tersebut. Ayat tersebut menunjukkan agar meninggalkan para penganut kekufuran dan kemaksiatan baik pelaku bid’ah dan selain mereka. Sebabnya, persahabatan dengan mereka adalah kekufuran atau kemaksiatan. Alasannya, persahabatan itu tidak terjadi kecuali karena kasih sayang.

Ketiga, firman Allah SWT “fatamassakum an-nâru (menyebabkan kalian disentuh api neraka)”. Maknanya, yakni membakar kalian karena bergaul dan bersahabat dengan mereka dan cenderung kepada mereka atas keberpalingan mereka dan menyetujui mereka dalam perkara mereka.

 

Jelas dari tafsir ayat ini bahwa cenderung kepada orang zalim hukumnya adalah haram tanpa keraguan, baik orang zalim itu kafir atau Muslim yang bermaksiat. Cenderung kepada orang zalim dengan kasih-sayang kepada dia, menaati dia, cenderung kepada dia, bersandar kepada dia, memuji dia dan diam atas kezalimannya … dsb, semua itu terderivasi di bawah sikap cenderung dan itu haram dengan ayat yang mulia itu.

Kemudian orang zalim itu, sesuai pertanyaan Anda, kadang dia seorang penguasa kafir dan kadang seorang penguasa (Muslim) yang bermaksiat atau orang munafik yang memerintah dengan selain Islam sebagaimana kondisi para penguasa kaum Muslim hari ini.

Pertama: Jika penguasa itu kafir, maka meminta tolong kepada dia secara syar’i tidak boleh meskipun itu dengan mengambil harta dari dirinya untuk melakukan jihad. Sebabnya, mengambil harta dari dia tanpa diragukan lagi mengantarkan pada sikap menjadikan dia memiliki kekuasaan atas pihak yang mengambil harta dari dirinya. Perkara ini dapat disaksikan dan diindera, khususnya ketika masalahnya berkaitan dengan faksi-faksi dan milisi-milisi yang berperang. Sebabnya, mereka menjadi tergadai pada negara-negara yang mendanai dan keputusannya terampas. Hal itu karena siapa yang memiliki pengetahuan paling sedikit dengan kenyataan perkara itu, niscaya dia memahami bahwa negara-negara itu bukanlah memberi sedekah. Setiap harta yang diberikan oleh negara di dunia kepada pihak yang bukan rakyatnya tidak lain bertujuan untuk merealisasi tujuan-tujuan tertentu miliknya. Bagi mereka tidak penting kemaslahatan pihak yang diberi bantuan. Pengambilan harta dari negara-negara asing kafir oleh individu, kelompok dan milisi untuk jihad dan memerangi agresor tentu saja merupakan keterikatan kepada pihak asing dan bunuh diri politik. Ini akan membuat orang kafir memiliki kekuasaan terhadap kaum Muslim. Padahal Allah SWT berfirman:

وَلَن يَجۡعَلَ ٱللَّهُ لِلۡكَٰفِرِينَ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ سَبِيلًا  ١٤١

Allah sekali-kali tidak akan memberikan jalan kepada kaum kafir untuk memusnahkan kaum Mukmin (QS an-Nisa’ [4]: 141).

 

Kedua: Jika penguasa itu adalah orang Muslim yang bermaksiat, semisal fakta para penguasa saat ini di negeri kaum Muslim, maka mereka juga sama saja. Mereka tidak akan memberikan harta kepada suatu pihak luar kecuali untuk merealisasikan tujuan-tujuan tertentu. Pada galibnya tujuan ini bagian dari rencana yang dirumuskan oleh negara-negara kafir. Sebabnya, para penguasa kaum Muslim adalah agen negara-negara penjajah kafir. Oleh karena itu, pihak yang terikat dengan seorang penguasa di negeri kaum Muslim serta menerima bantuan dan dukungan dari dirinya maka dia menjadi alat di tangan penguasa itu yang dia arahkan sesukanya. Tidak jauh dari kita apa yang dapat kita saksikan di negeri Syam berupa keterikatan banyak faksi dan organisasi kepada dana politik kotor yang diberikan kepada mereka oleh negara-negara Kawasan. Belum lagi pujian-pujian yang diarahkan oleh pihak-pihak yang mengambil bantuan itu kepada penguasa zalim, loyalitas kepada mereka, memoles citra mereka dan tidak menyatakan pengingkaran terhadap mereka…dll. Semua itu tak diragukan lagi adalah haram. Sebabnya, hal itu mengantarkan pada pengabaian hak dan tujuan kaum Muslim dan menjadikan pihak pengambil harta sebagai pembantu untuk orang zalim dan pengkhianat ummat dan agamanya.

Ketiga: Selain itu, jihad di jalan Allah dan menolong agama itu tidak dengan meminta bantuan dari penguasa kafir atau penguasa zalim. Sebabnya, para penguasa kafir itu adalah musuh kaum Muslim.  Mereka adalah orang-orang yang wajib bagi umat untuk berjihad melawan mereka dan memerangi mereka. Tidak terbayangkan bahwa jihad melawan mereka itu dengan mengambil bantuan dan harta dari mereka. Ini adalah kontradiksi yang jelas. Sebaliknya, jihad dan menolong agama adalah dengan bersandar kepada umat serta menjadikan umat sebagai sumber kekuatan dan pemberian.

Kemudian, para penguasa zalim di negeri kaum Muslim, mereka itu adalah alat di tangan kaum kafir. Jadi bagaimana terbayangkan seorang Muslim mengambil dari mereka bantuan dan harta untuk memerangi kaum kafir dan menolong agama, selama mereka adalah alat di tangan kaum kafir musuh-musuh umat, menimpakan kepada umat siksaan yang pedih dan memerangi para mujahid yang benar dan para pengemban dakwah yang mukhlis?!

 

[Dikutip dari Jawab-Soal Syaikh Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah pada 23 Dzul Hijjah 1444 H/11 Juli 2023 M]

 

Sumber:

https://www.hizb-ut-tahrir.info/ar/index.php/ameer-hizb/ameer-cmo-site/89834.html

https://www.facebook.com/HT.AtaabuAlrashtah/posts/828230945530943

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

10 − 6 =

Back to top button