Fokus

Yang Umat Butuhkan Hari ini

Kondisi Gaza hari ini bisa menjadi satu potret pilu umat Muslim hari ini. Lebih dari 25 ribu jiwa melayang akibat serangan brutal militer zionis. PBB melaporkan setiap hari, sejak Desember tahun lalu, 160 anak Gaza tewas. Setiap hari 10 anak Gaza menjadi cacat atau kehilangan anggota tubuhnya. Semua itu adalah akibat agresi Yahudi yang direstui Amerika Serikat dan sekutunya.

Gaza tidak sendirian. Ada Muslim India yang setiap hari mengalami hidup dalam teror kelompok Hindu radikal. Kelompok ini disokong oleh pemerintahan Narendra Moodi dari Partai Hindu garis keras, BJP. Penganiayaan, pembunuhan dan pelecehan seksual dialami umat Muslim India. Moodi bahkan sempat merancang undang-undang kewarganegaraan yang tidak akan pernah mengakui keberadaan Muslim sebagai warga negara India. Namun, akibat tekanan publik pasal itu dibatalkan.

 

Persatuan Adalah Kebutuhan

Umat Muslim jelas bukan minoritas di dunia ini. Namun, jumlah yang banyak itu tak bisa menahan berbagai tekanan dan intimidasi. Menurut catatan situs Global Muslim Population, populasi muslim di seluruh dunia mencapai lebih dari 2 miliar jiwa. Itu berarti 25 persen dari jumlah penduduk dunia. Ada 53 negeri Muslim. Juga ada jutaan Muslim yang tersebar di berbagai negeri non-Muslim seperti di benua Eropa ataupun di Amerika Serikat. Populasi yang besar itu menjadi potensi tenaga kerja juga pasar untuk bisnis yang luar biasa. Termasuk menjadi potensi kekuatan bersenjata terbesar di dunia.

Dari sisi SDA, di negeri-negeri Muslim berlimpah kekayaan alam yang menarik berbagai negara besar. Arab Saudi berada di peringkat kedua produsen minyak bumi terbesar di dunia. Kontribusinya sekitar 12,2% produksi minyak dunia pada tahun 2021. Jumlah produksinya sekitar 10,95 juta barel perhari. Berikutnya ada Irak. Jumlah produksi minyaknya 4,10 juta barel perhari (4,6% produksi minyak di dunia). Lalu ada Uni Emirat Arab (UEA). UEA mampu memproduksi minyak 3,67 juta barel perhari (4,0% produksi minyak di dunia).

Berbicara kekuatan militer, yang harusnya dapat dipakai melindungi kaum Muslim di berbagai belahan dunia, sejumlah negeri Muslim masuk klasifikasi negara dengan kekuatan militer terkuat di dunia. Menurut pemeringkatan oleh Global Fire Power pada tahun 2023 ada empat negeri Islam masuk dalam jajaran 20 besar; Pakistan, Turki, Indonesia, Mesir dan Iran.

Secara geopolitik, sejumlah wilayah strategis di darat maupun di lautan terletak di Dunia Islam. Salah satunya adalah Terusan Suez. Terusan ini terletak di sebelah barat Semenanjung Sinai. Ini adalah jalur perdagangan strategis di dunia. Sekitar 12% dari total perdagangan global melewati jalur sepanjang 193 km ini yang dibangun pada masa Khilafah Utsmaniyah. Setiap tahun jalur ini dilewati oleh sebanyak lebih dari 18 ribu kapal pertahun, atau setara dengan 51-52 kapal setiap harinya.

Belum lagi jalur perdagangan yang melewati kawasan laut di Indonesia; Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Lombok dan Selat Makassar. Menurut data Kemenhub, 40% dari 90% perdagangan dunia melewati perairan Indonesia.

Segenap potensi kekuatan tersebut harusnya menjadikan umat Muslim memiliki nilai tawar politik dan ekonomi juga militer di dunia. Bahkan kaum Muslim seharusnya bisa mendikte negara-negara manapun, termasuk negara-negara Barat.

Faktanya, hari ini umat Muslim justru menjadi pesakitan. Terintimidasi dan teraniaya secara fisik. Bahkan sebagian terusir dari negerinya sendiri. Keadaan ini sudah diperingatkan oleh Nabi saw.: seperti buih di lautan.

يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَة إِلَى قَصْعَتِهَا. فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ. قَالَ: بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاء كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ. فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللهِ وَمَا الْوَهَنُ. قَالَ: حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

“Hampir saja berbagai umat mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring.” Kemudian seseorang bertanya, “Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata, “Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi, kalian bagai buih di lautan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan menimpakan dalam hati kalian ’wahn’. Kemudian seseorang bertanya, “Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.” (HR Abu Dawud).

 

Hal pertama yang dibutuhkan umat hari ini adalah unifikasi seluruh negeri-negeri Muslim. Namun, bayangan persatuan umat seperti kemustahilan. Umat terbelenggu oleh batas-batas imajiner berupa ide nasionalisme. Sulit bagi umat hari ini membayangkan bahwa persatuan umat Muslim sedunia bisa terwujud seperti pada masa lampau. Padahal realita peluang unifikasi berbagai negara seperti Amerika Serikat, Jerman Barat dan Timur dan pembentukan Uni Eropa jelas di depan mata.

Apalagi dasar pijakan penyatuan umat sudah begitu jelas. Di antaranya Rasulullah saw. bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ في تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلَ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَه سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

Perumpamaan kaum Mukmin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam (HR al-Bukhari dan Muslim).

 

Nasionalisme dan ikatan primordialisme lainnya bukanlah karakter asli umat Muslim. Umat Islam  telah diberi ajaran ukhuwah islamiyyah yang melewati batas-batas fisik, suku bangsa dan bahasa. Namun, Barat memang berhasil memelihara paham nasionalisme dan memaksakan paham ini  ke tengah-tengah kaum Muslim di Dunia Islam melalui para penguasa boneka mereka.

 

Umat Butuh Khilafah

Persatuan yang dibutuhkan umat bukanlah seperti Liga Arab, atau Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang berupa pseudo ukhuwah. Pasalnya, mereka tetap mempertahankan ego nasionalisme dan kepentingan kekuasaan masing-masing.

Persatuan yang umat butuhkan adalah unifikasi di bawah kepemimpinan tunggal. Umat membutuhkan persatuan di bawah kepemimpinan yang logis dan absah secara syariah. Itulah Khalifah yang akan memimpin pemerintahan Islam global, yakni Khilafah Islamiyah.

Eksistensi Khilafah secara syariah adalah wajib. Tidak ada satu pun ulama Ahlus Sunnah yang tidak menyebutkan kewajiban umat untuk mendirikan Khilafah. Imam al-Qurthubi, seorang kampiun tafsir dari pemuka ulama dari mazhab Maliki, ketika menjelaskan tafsir QS al-Baqarah ayat 30, menyatakan, “Ayat ini merupakan dalil paling asal mengenai kewajiban mengangkat seorang imam/khalifah yang wajib didengar dan ditaati, untuk menyatukan pendapat serta melaksanakan hukum-hukum khalifah. Tidak ada perselisihan pendapat tentang kewajiban tersebut di kalangan umat Islam maupun di kalangan ulama, kecuali apa yang diriwayatkan dari Al-A’sham.” (Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, 1/264-265).

Agresi militer oleh zionis Yahudi di Palestina dan sekarang terjadi di Gaza adalah realita politik bahwa umat membutuhkan institusi politik yang melindungi mereka. Negara zionis bisa eksis dan terus melancarkan operasi militer karena sokongan negara-negara Barat. Uang dan bantuan persenjataan mengalir secara rutin ke negara zionis itu dari negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat. Setiap tahun AS mengirimkan bantuan militer sebesar US$3,8 miliar atau setara Rp 60,27 triliun. Tanpa itu, zionis Yahudi sudah ambruk sejak puluhan tahun lalu.

Sebaliknya, Palestina dan Gaza tidak mendapatkan sokongan yang memadai untuk bertahan apalagi mengusir kaum Yahudi penjajah. Negara-negara Arab dan Dunia Islam hanya memberikan bantuan obat-obatan, pangan dan uang untuk pembangunan, bukan untuk kebutuhan militer. Para pemimpin Dunia Islam juga tidak melakukan tekanan politik atau embargo ekonomi yang keras, yang dapat menjungkalkan entitas Yahudi dari tanah Palestina. Semuanya hanya macan kertas dan macan panggung.

Mustahil pula umat Muslim mengharapkan lembaga-lembaga internasional, semacam PBB atau Mahkamah Internasional/International Court of Justice (ICJ), sebagai juru penengah apalagi juru selamat untuk berbagai kezaliman yang menimpa umat. Lagipula berbagai keputusan mereka tidak punya daya ikat dan daya tuntut yang berpengaruh terhadap negara-negara agresor. Hanya sebatas himbauan belaka.

Itulah sebabnya keberadaan Khilafah tidak pelak lagi mutlak dibutuhkan. Wajib secara hukum syariah dan mendesak secara realitas politik. Umat bak anak ayam kehilangan induknya tanpa perlindungan Khilafah. Tak ada yang melindungi mereka dan membela kehormatan mereka. Benarlah sabda Nabi saw. akan karakter Imam/Khalifah bak perisai:

إِنَّماَ اْلإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

Sungguh Imam/Khalifah adalah perisai; orang-orang berperang di belakang dirinya dan menjadikan dia sebagai pelindung (HR Muslim).

 

Pengkhianatan Para Penguasa

Mustahil pula umat berharap para penguasa Dunia Islam saat ini dapat memberikan perlindungan. Para pemimpin Dunia Islam saat ini memberikan loyalitasnya bukan pada agama (Islam) dan berkhidmat pada umat, melainkan pada kepentingan Barat. Umat harus tahu bahwa para penguasa itu tidak mungkin berdiri di panggung kekuasaan tanpa peran negara-negara Barat. Jatuhnya Presiden Mesir Mursi lewat kudeta militer adalah atas restu Amerika Serikat dan negara-negara Barat. Padahal Mursi naik ke tampuk kekuasaan secara demokratis, seperti teori yang digaungkan Barat. Namun, para penguasa Barat tidak mau ada satu pun negeri Muslim yang dipimpin oleh sosok yang berkiblat pada Islam, sekalipun lewat mekanisme demokrasi yang konstitusional.

Padahal Amerika dan sekutunya yang menginvasi Irak dan Afganistan dengan alibi menghancurkan kekuasaan tirani dan menegakkan demokrasi. Saddam Husain yang sebenarnya sekutu Barat tetap dijatuhkan karena tidak sesuai keinginan politik dan ideologi mereka. Hal yang sama dengan Rezim Orde Baru di bawah kekuasaan Soeharto. Soeharto juga dijatuhkan lewat skenario krisis moneter lalu masuk ke era reformasi. Padahal CIA pula yang membantu pemerintah Orde Baru menjatuhkan Soekarno dari kekuasaannya karena dinilai sudah terlalu dekat dengan Komunisme.

Selanjutnya, para penguasa di negeri-negeri Muslim melayani apa saja kepentingan Barat, baik pemerintahannya maupun korporasi dari negara mereka. Turki di bawah Erdogan tetap berkhidmat pada Amerika Serikat. Di balik retorika permusuhannya pada entitas Yahudi, Erdogan tetap melanggengkan pangkalan-pangkalan militer AS di dalam negerinya. Turki juga membantu Amerika Serikat untuk memelihara kepentingannya di Suriah dari intervensi Rusia dan Cina.

Di Indonesia, sejumlah UU diloloskan Pemerintah dan DPR yang memberikan karpet merah pada pengusaha asing. Situs Mahkamah Konstitusi RI menurunkan tulisan yang menyebutkan keprihatian sejumlah pihak banyak produk undang-undang yang dibiayai asing (Memprihatinkan, Proses Legislasi Indonesia Banyak Dibiayai Asing | Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia (mkri.id))

Pada tahun 2010, anggota DPR Eva Kusuma Sundari menyebut ada 76 undang-undang yang draft-nya dibuat oleh pihak asing. Eva mengatakan, temuan ini dia peroleh dari sumber Badan Intelijen Negara. Puluhan UU dengan intervensi asing itu dilakukan dalam 12 tahun pasca reformasi. Inti dari intervensi ini adalah upaya meliberalisasi sektor-sektor vital di Indonesia. Contohnya, UU tentang Migas, Kelistrikan, Pebankan dan Keuangan, Pertanian, serta sumber Daya Air.

Para pemimpin kaum Muslim hari ini, sejak keruntuhan Khilafah Islamiyah terakhir di Turki, tidak pernah berorientasi pada kejayaan Islam dan kaum Muslim. Mereka memfokuskan pada kekuasaan mereka dan kepentingan majikan mereka. Tengok saja ketika entitas Yahudi membantai kaum Muslim Gaza, para penguasa Arab malah memberikan jalur transportasi darat untuk pengiriman logistik negara Yahudi setelah kapal-kapal mereka dihadang milisi Houthi di Laut Merah. Lihat pula ketika umat Muslim antusias melakukan gerakan boikot produk-produk yang membantu militer Yahudi, tidak ada satu pun para pemimpin Dunia Islam yang memboikot perekonomian negara Yahudi. Sebabnya jelas, mereka takut pada tekanan AS dan negara-negara Barat lainnya.

Inilah sikap pengecut dan khianat para pemimpin Dunia Islam. Semestinya umat paham sehingga tidak menaruh lagi harapan pada mereka. Tidak mempercayai mereka karena loyalitas mereka bukanlah pada agama dan umat, tetapi pada kepentingan Barat.

Sikap pengkhianatan ini adalah dosa besar. Rasulullah saw. telah mengingatkan bahwa kelak mereka akan dipermalukan oleh Allah SWT pada Hari Akhir. Sabda Nabi saw.:

لِكُلِّ غَادِرٍ لِوَاءٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرْفَعُ لَه بِقَدْرِ غَدْرِه أَلَا وَلَا غَادِرَ أَعْظَمُ غَدْرًا مِنْ أَمِيرِ عَامَّةٍ

Pada Hari Kiamat kelak, setiap pengkhianat akan membawa bendera yang dia kibarkan tinggi-tinggi sesuai dengan pengkhianatan-nya. Ketahuilah, tidak ada pengkhianatan yang lebih besar daripada pengkhianatan seorang penguasa terhadap rakyatnya (HR Muslim).

 

WalLaahu a’lam. [Iwan Januar]

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ten + eight =

Back to top button