Hadis Pilihan

Al-Istishnâ’ Dan Industri

عن سهل بن سعد الساعدي…أَرْسَلَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى فُلاَنَة – امْرَأَةٍ مِنَ الأَنْصَارِ قَدْ سَمَّاهَا سَهْل –«مُرِي غُلاَمَكِ النَّجَّارَ، أَنْ يَعْمَلَ لِي أَعْوَادًا، أَجْلِسُ عَلَيْهِنَّ إِذَا كَلَّمْتُ النَّاسَ»، فَأَمَرَتْهُ فَعَمِلَهَا مِنْ طَرْفَاءِ الغَابَةِ، ثُم جَاءَ بها، فَأَرْسَلَتْ إِلَى رَسُولِ الله صَلَّى الله عليه وسلم، فَأَمَرَ بها فَوُضِعَتْ هَا هُنَا، ثُم رَأَيْتُ رَسُولَ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى عَلَيْهَا وَكَبَّرَ وَهُوَ عَلَيْهَا، ثُم رَكَعَ وَهُوَ عَلَيْهَا، ثُم نَزَلَ القَهْقَرَى، فَسَجَدَ فِي أَصْلِ الْمِنْبَرِ ثُم عَادَ، فَلَمَّا فَرَغَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ، فَقَالَ: «أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّمَا صَنَعْتُ هَذَا لِتَأْتَمُّوا وَلِتَعَلَّمُوا صَلاَتِي»

Dari Sahal bin Sa’d as-Sa’idi:  … Rasulullah saw. pernah mengirimkan surat kepada Fulanah—seorang wanita Anshar yang disebutkan namanya oleh Sahal—(yang isinya): “Perintahkan hamba sahayamu yang tukang kayu agar membuatkan untukku bangku untukku agar aku bisa duduk di atasnya jika aku berbicara kepada orang-orang.” Lalu Fulanah memerintahkan hamba sahayanya (untuk membuat bangku tersebut). Dia membuatkan bangku tersebut dari Tharfa’ al-Ghabah, Kemudian dia membawa bangku itu kepada Fulanah. Lalu Fulanan mengirimkan bangku itu kepada Rasulullah saw. Beliau memerintahkan agar bangku itu ditempatkan di situ. Kemudian aku melihat Rasulullah saw. shalat di atasnya. Beliau bertakbir dan beliau berdiri di atasnya. Kemudian beliau rukuk dan beliau tetap di atasnya. Lalu beliau turun dengan mundur, kemudian sujud di (tanah/lantai dekat) dasar mimbar kemudian kembali lagi. Ketika sudah selesai, beliau menghadap ke arah orang-orang lalu bersabda, “Hai manusia, tidak lain aku melakukan ini agar kalian mengikutinya dan agar kalian mengetahui shalatku.”  (HR al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, an-Nasai, ad-Darimi, al-Baihaqi, Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah, Ibnu al-Ja’di, ar-Ruyani dan ath-Thabarani).

 

Hadis ini dikeluarkan oleh Imam al-Bukhari (w. 256 H) di dalam Shahîh al-Bukhârî, hadis no. 917, 377, 448, 2094 dan 2569; Imam Muslim (w. 261 H) di dalam Shahîh Muslim, hadis no. 544; Imam Ahmad (w. 241 H) di dalam Al-Musnad, hadis no. 22.871; Imam Abu Dawud (w. 275 H) di dalam Sunan Abû Dâwud, hadis no. 1080; Imam an-Nasa’i (w. 303 H) di dalam Sunan an-Nasa‘i, hadis no. 739; Imam ad-Darimi (w. 255 H) di dalam Sunan ad-Dârimî, hadis no. 1606; Imam al-Baihaqi (w. 458 H) di dalam Sunan al-Kubrâ, hadis no. 5230 dan 5231; Imam Ibnu Hibban (w. 354 H) di dalam Shahîh Ibni Hibbân, hadis no. 2142; Imam Ibnu Khuzaimah (w. 311 H) di dalam Shahîh Ibni Khuzaymah, hadis no. 1521; Imam ath-Thabarani (w. 360 H) di dalam Mu’jam al-Kabîr, hadis no. 5881; ‘Ali bin al-Ja’di (w. 230 H) di dalam Musnad Ibni al-Ja’di, hadis no. 2932 dan 2934; ar-Ruyani (w. 307 H) di dalam Musnad ar-Rûyâni, hadis no. 1030.

Tharfa’ adalah nama pohon. Al-Ghâbah adalah dataran tinggi Madinah ke arah Syam berjarak 12 mil dari Madinah. Bangku atau mimbar Rasul saw. itu—dalam riwayat Imam Muslim, Imam Ahmad, Ibnu al-Ja’di dan Ibnu Khuzaimah—digambarkan  terdiri tiga tingkat (tiga undakan/tangga).

Rasulullah saw. juga pernah memesan agar dibuatkan cincin dari emas. Abdullah bin Umar ra. menuturkan:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم اصْطَنَعَ خَاتَماً مِنْ ذَهَبٍ وَكَانَ يَلْبَسُهُ، فَيَجْعَلُ فَصَّهُ فِي بَاطِنِ كَفِّهِ، فَصَنَعَ النَّاسُ خَوَاتِيمَ، ثُمَّ إِنَّهُ جَلَسَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَنَزَعَهُ، فَقَالَ: إِنِيّ كُنْتُ أَلْبَسُ هَذَا الخَاتِمَ، وَأَجْعَلُ فَصَّه مِن دَاخِلٍ، فَرَمَى بِهِ ثُمَّ قَالَ: وَالله لاَ أَلْبَسُه أَبَدًا فَنَبَذَ النَّاسُ خَوَاتِيمَهُمْ

Rasulullah saw. pernah memesan agar dibuatkan cincin dari emas. Beliau lalu memakai cincin tersebut, sementara mata cincinnya mengarah ke telapak tangan. Lalu orang-orang pun membuat cincin. Kemudian Rasul duduk di atas mimbar dan membuang cincin itu seraya bersabda, “Sebelumnya aku memakai cincin ini dan aku buat mata cincinnya ada di dalam.” Lalu beliau melemparkan cincin teresbut seraya bersabda, “Demi Allah, aku tidak akan memakainya lagi selama-lamanya.” Lalu orang-orang pun mencampakkan cincin mereka (HR al-Bukhari, hadis no. 6651; Muslim, hadis no. 2091; Ahmad, hadis no. 6008; Abu Dawud, hadis no. 4218; at-Tirmidzi, hadis no. 1741; an-Nasa’i, hadis no. 9473).

 

Dalam riwayat Muslim, Abdullah bin Umar. ra menuturkan: Nabi saw. pernah memakai cincin dari emas. Lalu beliau membuang cincin tersebut. Kemudian beliau memakai cincin dari perak dan diukir di situ: “Muhammad RasûlulLâh”. Beliau lalu bersabda, “Janganlah seorang pun mengukir cincin seperti ukiran cincinku ini.” Jika beliau memakai cincin, beliau membuat mata cincinnya mengarah ke telapak tangan. Cincin itulah yang jatuh dari Mu’aiqib di sumur Aris (HR Muslim).

Para fuqaha menjadikan dua hadis di atas sebagai dalil atas kebolehan istishnâ’. Hadis Sahal bin Sa’d as-Sa’idi gamblang menyebutkan kebolehan istishnâ’ (pemesanan pembuatan) bangku dari kayu. Hadis Ibnu Umar gamblang menggambarkan kebolehan istishnâ’ (pemesanan pembuatan) cincin emas. Dalam riwayat Muslim tersirat kebolehan istishnâ’ (pemesanan pembuatan) cincin perak.

Al-Istishnâ’ secara bahasa adalah mashdar dari istashna’a asy-syay‘a: yakni meminta agar dibuatkan sesuatu. Dikatakan: ishthana’a fulân bâban; yakni jika dia meminta seseorang agar membuatkan pintu untuk dirinya. Sebagaimana dikatakan: iktataba, yakni dia menyuruh (orang lain) agar menuliskan untuk dirinya (Ibnu Manzhur, Lisân al-‘Arab; al-Jauhari, Ash-Shihâh, pasal shana’a).

Hadis Sahal bin Sa’d as-Sa’idi menjelaskan beberapa ketentuan: Pertama, pada saat Rasul saw. memesan bangku, bangku itu belum ada dan belum dimiliki oleh si pembuat. Kedua, bahkan bahan kayu untuk membuat bangku juga belum ada atau belum dimiliki oleh si produsen. Ketiga, bangku itu dibuat setelah dipesan oleh Rasul. Keempat, bangku itu diserahkan kepada Rasul saw. setelah jangka waktu tertentu dari akad pemesanan beliau. Artinya, akad istishnâ’ itu adalah secara kredit dan bangku itu fî dzimmati (dalam tanggungan) si pembuat. Kelima, ketika diserahkan, Rasul saw. langsung menerima bangkau itu. Ini menunjukkan akad istishna’ itu bersifat lâzim, bukan jâ’iz.

Pemesanan bangku dan cincin itu termasuk jual-beli, bukan ijârah (jasa). Sebabnya, bahan pembuatan bangku dan cincin itu berasal dari si pembuat atau produsen.

Praktik istishnâ’ itu juga banyak dilakukan oleh para Sahabat dan Nabi saw. mendiamkannya. Semua itu menegaskan kebolehan dan legalnya istishnâ’. Tentu istishnâ’ harus memenuhi ketentuan syariah yang telah dijelaskan oleh para fuqaha’.

Jelas dari hadis-hadis di atas, pada masa Rasul saw. ada produsen (pengrajin) furnitur, perhiasan emas dan perak. Juga jelas dari banyak hadis bahwa pada masa Rasul saw juga ada produsen furnitur perkakas kulit, gerabah, senjata (pedang, panah, dsb), pakaian, dan barang-barang lainnya. Semua itu menunjukkan kebolehan aktivitas industri dan pabrik yang memproduksi barang-barang. Tentu selama barang-barang itu halal.

WalLâh a’lam wa ahkam.  [Yoyok Rudianto]

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 − 11 =

Back to top button