Kilas Dunia

PBB Lemah di Hadapan Zionis Yahudi

Dicabutnya visa Koordinator Kemanusiaan PBB menunjukkan betapa lemah organisasi internasional pengganti Liga Bangsa-Bangsa, yang didirikan setelah Perang Dunia II itu, di hadapan entitas Zionis Yahudi.

“Ini sekali lagi menunjukkan kepada kita begitu lemahnya PBB berhadapan dengan entitas penjajah Yahudi ini,” ujar Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS) Farid Wadjdi kepada Media-umat.info, Rabu (6/12/2023).

Sebelumnya, terlontar kritik keras Lynn Hastings, koordinator kemanusiaan dimaksud, terhadap dampak kebiadaban entitas penjajah Yahudi atas warga Gaza, Palestina.

“Tidak ada tempat yang aman di Gaza dan tidak ada tempat lagi untuk dituju. Kondisi yang dibutuhkan untuk menyalurkan bantuan kepada masyarakat Gaza tidak ada. Jika memungkinkan, skenario yang lebih mengerikan akan terjadi, operasi kemanusiaan mungkin tidak dapat meresponsnya.” cetus Hastings pada Senin (4/12) lalu.

Untuk diketahui juga, PBB yang bekerjasama dengan 193 negara anggota ini semestinya memiliki peran penting dalam menjaga perdamaian dan keamanan dunia.

Namun, dengan alasan sikap Lynn Hastings, mengenai infiltrasi Hamas pada 7 Oktober di wilayah pendudukan zionis Yahudi, Menteri Luar Negeri Eli Cohen, seperti dalam sebuah postingan di media sosial X memutuskan mencabut visa Koordinator Kemanusiaan PBB tersebut.

Padahal, untuk ditambahkan, selain bertanggung jawab memelihara perdamaian dan keamanan internasional, Dewan Keamanan PBB di dalamnya juga memiliki kewenangan untuk bertindak atas nama semua anggota PBB dan dapat mengambil tindakan penegakan keamanan seperti sanksi ekonomi dan pengiriman pasukan militer.

Namun sayangnya, alih-alih menyelamatkan, PBB malah diusir dari wilayah konflik yang notabene mengharuskan berada di sana. “Bagaimana bisa PBB lembaga dunia, itu diusir dari wilayah perang, yang seharusnya mereka berada di sana?” ucap Farid.

Pada saat yang sama, ia memandang sikap Zionis Yahudi tersebut juga mencerminkan kegagalan upaya untuk menutup-nutupi kejahatan yang telah dan tengah mereka lakukan.

Artinya, bencana genosida atas warga Gaza, Palestina, yang menurut Farid di luar batas kemanusiaan itu tidak bisa lagi ditutup-tutupi dari perhatian dunia.

Dengan kata lain pula, terangnya, pencabutan visa tersebut juga menunjukkan bahwa narasi-narasi tentang kekejaman Hamas menjadi suatu kebohongan yang digaungkan oleh Zionis Yahudi.

“Narasi-narasi itu adalah narasi-narasi kebohongan,” tegas Farid, terkait tudingan bahwa Hamas identik dengan kelompok teroris.

Lebih jauh, upaya pencabutan visa tersebut dinilai sebagai langkah untuk menyingkirkan siapa saja yang berusaha membuka kebrutalan entitas penjajah Yahudi. “Itu bisa kemudian menggambarkan kebrutalan entitas penjajah Yahudi ini, mereka akan singkirkan,” tambah Farid.

Karena itu, dengan melihat ketidakberdayaan lembaga PBB, mestinya umat Islam tak lagi bergantung kepada organisasi internasional tersebut, tetapi pada kekuatan politik mereka sendiri.

“Di situlah relevansinya mengapa umat Islam membutuhkan Khilafah ‘alaa minhaaj an-nubuwwah sebagai kekuatan politik umat Islam pada level global,” pungkasnya. [Joy dan tim]

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nineteen − 4 =

Back to top button