Opini

Gaza Merobek Sandiwara AS dan Para Anteknya

Sekitar 2,3 juta warga Gaza saat ini menghadapi tingkat kerawanan pangan. Gambar yang dibagikan di media sosial menunjukkan orang-orang, khususnya di bagian utara Gaza, memakan rumput, rumput liar, dan pakan ternak. Citra satelit juga menunjukkan rusaknya banyak pelabuhan perikanan, pasar, rumah kaca, dan lahan pertanian.

Risiko kelaparan meningkat setiap hari di Gaza karena berlanjutnya permusuhan dan blokade terhadap Gaza. Hampir semua rumah tangga Palestina di Gaza melewatkan makan setiap hari. Action Against Hunger mengatakan bahwa beberapa keluarga melewatkan siang dan malam tanpa makan. Hancurnya infrastruktur produksi dan distribusi pangan serta pembatasan impor komersial telah mengurangi akses terhadap pangan.

Ironisnya, hari ini kita menyaksikan wajah-wajah ‘munafik’ para penguasa Muslim itu. Faktanya, para penguasa negeri-negeri Islam saat ini makin menarik diri dari perannya atas nasib kaum Muslim di Palestina. Mereka lebih membela kepentingan mereka sendiri serta kepentingan pasukan perang salib modern. Mereka melatih para tentara dan pasukan keamanan hanya untuk memberangus umat Islam dan bukan untuk membela kepentingan umat Islam. Yang lebih menjijikkan, para pemimpin Dunia Islam itu malah sering mencurigai umat Islam.

Ironi memang, bagaimana mungkin ‘panggung sandiwara’ PBB dengan sutradaranya AS dkk (dengan hak vetonya) dijadikan tempat bergantung oleh para penguasa Muslim. Mereka seolah lupa bahwa sebenarnya ‘sang sutradara’-lah yang menjadikan Israel saat ini ada dan eksis. Setiap hari Amerika membantu Israel jutaan dolar, yang dibelanjakan untuk alat-alat perang dan kepentingan pertahanan Israel. Bom-bom yang ditumpahkan di penduduk Gaza adalah bom-bom yang diduga dibeli dan dipasok oleh AS. Sementara itu, rancangan resolusi DK PBB diveto AS dan Inggris dengan alasan tidak seimbang jika tidak menekan Hamas agar menghentikan serangan.

Di sisi lain, ‘kerajaan besar’ yang bernama PBB terbukti telah menjadi media efektif bagi AS dan sekutunya untuk menguasai nasib negeri-negeri Islam, sementara para penguasa Muslim menjadi umalâ’ (antek-antek)-nya. PBB terbukti terlibat dalam berbagai upaya pembantaian massal, seperti di Srebenica. PBB gagal dalam ‘misi perdamaian’-nya di Kongo dengan korban hampir 5 juta orang pada akhir tahun 2000. Akibat mandulnya PBB, pada tahun 1994 pembantaian massal di Rwanda menelan korban hampir 1 juta jiwa. PBB pun hanya menjadi alat legalisasi bagi kepentingan-kepentingan AS, sebagaimana ditunjukkan dalam tragedi Gaza-Palestina saat ini. [Ummu Amir ; (Ibu Rumah Tangga)]

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × 4 =

Back to top button