Pengantar

Pengantar [Merajut Kembali Ukhuwah Islamiyah]

Assalâmu‘alaikum wa rahmatullâhi wa barakâtuh.

Pembaca yang budiman, nyaris setiap menjelang, saat dan usai Pemilu/Pilpres, umat Islam terpolarisasi. Mereka terbelah. Antar pendukung paslon saling gontok-gontokan. Seolah di tengah-tengah mereka tak ada lagi ukhuwah islamiyah.

Jelas, Pemilu/Pilres sering menciptakan luka di tubuh umat Islam. Luka ini acapkali tidak mudah untuk disembuhkan. Buktinya, istilah ’kadrun’ dan ’kampret’ yang sempat mencuat selama Pemilu/Pilpres 2014 dan 2019 masih terngiang-ngiang bahkan terbawa hingga kini. Bahkan keterbelahan umat selama Pemilu/Pilpres 2024—terutama karena faktor kecurangan yang luar biasa terstruktur dan sistematis—terasa  makin parah. Polarisasi umat makin tajam. Keterbelahan umat makin menganga. Otomatis luka di tubuh umat juga makin dalam.

Karena itu tentu penting bagi umat Islam saat ini untuk kembali merajut ukhwah islamiyah yang terlanjur terkoyak. Namun demikian, upaya ini tentu tidak akan pernah bisa berhasil jika umat tidak segera menanggalkan pragmatismenya, khususnya pragmatisme politik. Dengan kata lain, merajut kembali ukhuwah islamiyah akan sulit terealisasi selama umat Islam tidak memiliki kesadaran ideologis Islam.

Karena itu di satu sisi sangat penting umat Islam segera melepaskan diri dari pragmatisme. Di sisi lain, sangat penting pula umat segera membangun kesadaran ideologis Islam. Kesadaran ideologis Islam inilah faktor utama yang bisa menjadikan ukhwuwah islamiyah di tengah-tengah umat rekat kembali. Bahkan dengan kadar yang sangat kuat.

Apalagi pada momentum Idul Fitri. Idul Fitri amat kental dengan tradisi silaturami dan silatul-ukhuwah. Ditambah lagi suasana keimanan dan ketakwaan umat yang masih cukup terasa sebagai hasil dari pembinaan di ’madrasah’ Ramadhan. Tentu penting dan mendesak bagi umat Islam saat ini untuk menguatkan dan merekatkan kembali ukhuwah islamiyah ini. Upaya ini harus dibarengi dengan usaha serius untuk merumuskan kembali agenda bersama. Tidak lain agenda perjuangan untuk menegakkan kembali syariah Islam secara kaaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Tentu di dalam institusi pemerintahan Islam. Itulah Khilafah ’alaa minhaaj an-nubuwwah.

Itulah yang dibahas dalam tema utama al-waie edisi kali ini, selain sejumlah tema menarik lainnya. Selamat membaca!

Wassalâmu‘alaikum wa rahmatullâhi wa barakâtuh.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × 1 =

Back to top button