Tafsir

Al-Quran, Alam Semesta, dan Hari Akhir

(QS al-Ahqaf [46]: 1-3)

حمٓ  ١ تَنزِيلُ ٱلۡكِتَٰبِ مِنَ ٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَكِيمِ  ٢ مَا خَلَقۡنَا ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَآ إِلَّا بِٱلۡحَقِّ وَأَجَلٖ مُّسَمّٗىۚ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ عَمَّآ أُنذِرُواْ مُعۡرِضُونَ  ٣

Haa Miim (1). Diturunkan Kitab ini dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana (2). Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan, sementara orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka (3). (QS al-Ahqaf [46]: 1-3).

 

Surat ini dinamai dengan surat Al-Ahqaf. Nama tersebut diambil dari sebuah nama tempat yang dikisahkan dalam surat ini. Kata al-Ahqaf merupakan tempat penduduk ‘Ad di Yaman yang Allah binasakan dengan angin topan yang menimpa mereka. Ini akibat kekufuran mereka dan sikap mereka yang melampaui batas (Lihat: QS al-Ahqaf [46]: 21).

Surat ini termasuk dalam Makkiyyah. Bahkan menurut Imam al-Qurthubi, hal itu merupakan pendapat semuanya.1

 

Tafsir Ayat

Allah SWT berfirman:

حمٓ

Hâ Miim.

 

Surat ini diawal dengan al-ahruf al-muqaththa’ah (huruf-huruf yang terputus), yakni huruf-huruf yang tersusun, namun tidak membentuk kata.

Para ulama berbeda pendapat tentang hakikat huruf muqaththaa’ah yang terdapat pada awal-awal surat. Ada yang mengatakan bahwa hanya Allah SWT yang mengetahui maksudnya. Dengan demikian hakikat huruf-huruf tersebut diserahkan kepada Allah dan para ulama tidak menafsirkan huruf-huruf tersebut.

Sebagian lainnya menyatakan bahwa huruf-huruf tersebut memiliki makna yang dapat dipahami. Akan tetapi, mereka berselisih pendapat mengenai tafsirannya. Ada pendapat yang mengatakan bahwa huruf muqaththa’ah adalah di antara nama al-Quran. Juga ada yang berpendapat itu adalah nama surat. Masih ada penafsiran-penafsiran lainnya.

Tentang ayat ini, Dr. Wahbah az-Zuhaili berkata, “Huruf-huruf muqaththa’ah ini untuk menunjukkan kemukjizatan al-Quran. Ini merupakan tantangan kepada orang-orang Arab bahwa al-Quran itu tersusun dari huruf-huruf hijaiyah yang sama seperti mereka. Ia sekaligus menjadi peringatan atas pentingnya bacaan dalam surat ini.”2

Kemudian disebutkan:

تَنزِيلُ ٱلۡكِتَٰبِ مِنَ ٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَكِيمِ  ٢

Diturunkan Kitab ini dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

 

Kata « تَنزِيلُ » merupakan bentuk mashdar dari kata « نَزَّلَ » (menurunkan). Bentuk kata tersebut menyiratkan bahwa al-Qura diturunkan secara bertahap.3

Yang dimaksud dengan al-Kitâb di sini adalah al-Quran. Menurut Syaikh Wahbah az-Zuhaili, “Al-Kitab adalah al-Quran yang sempurna dalam segala sesuatu.”4

Ditegaskan dalam ayat ini bahwa kitab al-Quran benar-benar Allah turunkan. Dengan kata lain, al-Quran bukanlah kitab buatan Rasulullah saw. sebagaimana tuduhan orang-orang musyrik. Akan tetapi, kitab itu berasal Allah SWT. Rasulullah saw. hanya menerima, membacakan, menyampaikan dan menjelaskan isinya kepada manusia.

Kemudian disebutkan dua sifat Allah SWT yang menurunkan al-Quran itu, yakni: « الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ » (Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana). Kedua kata merupakan bentuk shighah mubâlaghah. Artinya, ia merupakan bentuk kata yang berguna untuk menguatkan dan melebihkan sifat pada yang disifati.

Penyebutan kedua sifat Allah SWT terkait dengan turunnya al-Quran juga disebutkan dalam awal surat sebelumnya (Lihat: QS al-Jatsyiah [45]: 2).

Kata « العَزِيز »  bermakna « القوي الشديد الغالب الذي لا يُغْلَب » (yang sangat kuat, menang lagi mengalahkan, yang tidak dapat dikalahkan). Ini seperti dalam firman Allah SWT:

وَلِلَّهِ ٱلۡعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِۦ وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ ٨

Padahal kekuatan itu hanyalah milik Allah, Rasul-Nya, dan kaum Mukmin (QS al-Munafiqun [63]: 8).5

 

Menurut Raghib al-Asfahani, « العِزَّة » berarti « حالة مانعة للإنسان أن يُغلب » (keadaan yang mencegah manusia untuk dikalahkan). Adapun makna « العَزِيز » adalah « الذي يَقْهَرُ ولا يُقهر » (yang mengalahkan dan tidak terkalahkan). Ini seperti dalam firman Allah SWT:

إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ  ٢٦

Sungguh Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana (QS al-Ankabut [29]: 26).6

 

Al-Hakîm adalah yang memiliki sifat al-hikmah (bijaksana)Kata tersebut berarti « إصابة الحق بالعلم والعقل » (memahami dan mencapai kebenaran dengan ilmu dan akal).7

Menurut Az-Zuhaili, maknanya adalah Mahabijaksana dalam pengaturan dan ciptaan-Nya; meletakkan setiap perkara pada tempat yang semestinya.8

Karena berasal dari Tuhan Yang Mahaperkasa dan Mahabijaksana, al-Quran adalah kitab yang seluruh isinya benar dan adil. Sudah semestinya manusia mengimani, menerima dan mengamalkan al-Quran secara total.

Meskipun dalam ayat ini digunakan berbentuk kalimat berita, ia dapat dipahami sebagai perintah untuk mengimani dan mengamalkan al-Quran. Abdurrahman as-Sa’di berkata, “Ini adalah pujian dari Allah ST atas Kitab-Nya yang mulia dan Dia mengagungkan-Nya. Di dalamnya mengandung pengajaran kepada hamba tentang petunjuk jalan dengan cahaya-Nya, melakukan tadabbur ayat-ayat-Nya, dan mengeluarkan simpanannya.”9

Kemudian Allah SWT berfirman:

مَا خَلَقۡنَا ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَآ إِلَّا بِٱلۡحَقِّ وَأَجَلٖ مُّسَمّٗىۚ ٣

Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan.

 

Setelah sebelumnya menerangkan Kitab-Nya yang berisi perintah dan larangan, Allah SWT kemudian mengingatkan tentang penciptaan langit dan bumi. Menurut Abdurrahman as-Sa’di, ini berarti menghimpun antara al-khalq (penciptaan) dan al-amr (perintah). Ini sebagaimana firman Allah SWT (dalam ayat lain, red.) (QS al-A’raf [7]: 54; QS ath-Thalaq [65]: 12; QS an-Nahl [16]: 2-3).

Allah-lah Yang menciptakan manusia yang dibebani untuk menjalankan syariah-Nya. Dia juga Yang menciptakan tempat tinggal mereka dan menundukkan apa yang ada di langit dan di bumi untuk kepentingan manusia. Selanjutnya Allah mengirimkan para rasul untuk mereka. Kitab pun diturunkan untuk mereka. Mereka diberi perintah dan larangan. Mereka juga diberitahu bahwa dunia ini adalah tempat beramal dan sebagai tempat berlalunya bagi orang-orang yang beramal. Bukan tempat menetap yang tidak akan ditinggalkan. Mreka akan meninggalkan dunia ini menuju tempat tinggal yang sebenarnya, kekal dan abadi (akhirat). Sesungguhnya semua amal perbuatan yang mereka kerjakan dalam kehidupan dunia ini akan mereka temukan di akhirat secara sempurna.10

Ayat ini menegaskan bahwa langit dan bumi beserta semua yang ada di antara keduanya adalah ciptaan Allah SWT. Semua adalah makhluk-Nya. Termasuk manusia yang hidup di muka bumi. Tidak ada yang ada dengan sendirinya. Apalagi menjadi tuhan bagi yang lainnya. Lalu ditegaskan bahwa tidaklah semua itu diciptakan Allah SWT melainkan bi al-haqq.

Menurut Imam Ibnu Katsir bahwa bi al-haqq bermakna « لَا عَلَى وَجْهِ الْعَبَثِ وَالْبَاطِلِ » (bukan untuk sesuatu yang sia-sia dan batil).11

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari juga memaknai frasa tersebut sebagai « إِلَّا لِإِقَامَةِ الْحَقِّ وَالْعَدْلِ فِي الْخَلْقِ » (kecuali untuk menegakkan kebenaran dan keadilan bagi makhluk).12

Kemudian disebutkan:  « أَجَلٍ مُسّمَّى ». Secara bahasa, kata « الْأَجَل » berarti « الْمُدَّةُ الْمَضْرُوبَةُ لِلشَّيْءِ » (tempo atau waktu tertentu yang ditetapkan bagi sesuatu).13

Adapun makna « أَجَلٍ مُسَمَّى », sebagaimana diterangkan Ibnu Katsir, adalah « إِلَى مُدَّةٍ مُعَيَّنَةٍ مَضْرُوبَةٍ لَا تَزِيدُ وَلَا تَنْقُصُ » (hingga tempo yang telah ditentukan dan ditetapkan, tidak bertambah dan tidak berkurang).14

Menurut sebagian ulama lainnya, tempo yang ditetapkan tersebut berlaku bagi semua makhluk yang ada. Semuanya memiliki ajal atau tempo yang telah ditetapkan.15

Imam Ibnu Jarir al-Thabari berkata, “Maksudnya, kecuali dengan tempo yang telah Allah ketahui pada semua itu. Dia melenyapkan tempo tersebut ketika waktunya telah tiba dan setelah sebelumnya ada karena Dia ciptakan.”16

Sebagian lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud dengan « أَجَلٍ مُسَمَّى » itu adalah Hari Kiamat. Sebabnya, itulah waktu berakhirnya langit dan bumi.17

Menurut Imam asy-Syaukani, ini lebih tepat. Alasannya, Allah SWT tidak menciptakan makhluk-Nya dengan sia-sia, tak berguna, dan tanpa tujuan. Akan tetapi Dia menciptakan makhluknya untuk mendapatkan pahala dan dosa.18

Dengan demikian, ayat ini memastikan bahwa langit, bumi, dan semua isinya telah ditetapkan temponya. Semuanya akan berakhir ketika temponya telah habis dan waktunya tiba. Setiap makhluk yang hidup akan mati. Akhir semua itu adalah Hari Kiamat. Itulah berakhirnya kehidupan dunia, yang kemudian disusul dengan kehidupan akhirat.

Imam Fakhruddin ar-Razi berkata, “Ini menunjukkan tentang penetapan adanya Tuhan bagi alam semesta. Juga, menunjukkan bahwa Tuhan itu wajib Mahaadil dan Maha Penyayang terhadap makhluk-Nya, mengasihi merekadan berbuat baik kepada mereka; serta menunjukkan bahwa Hari Kiamat adalah seuatu yang benar. “19

Menurut Syaikh Wahbah az-Zuhaili, ayat ini menunjukkan tiga hal. Pertama: Penegasan wujud Allah SWT dengan penciptaan alam ini. Kedua: Penegasan bahwa Tuhan ini Mahaadil dan Maha Penyayang. Ini berdasarkan penggalan ayat: illâ bi al-haqq. Maksudnya, langit dan bumi beserta segala yang ada di antara keduanya adalah karunia, rahmat, dan kebaikan. Ketiga: Penegasan atas kepastian Hari Kebangkitan dan Hari Kiamat. Sebabnya, jika tidak ada Hari Kiamat, maka hak-hak orang yang teraniaya tidak bisa diambil dari penganiayanya; pemenuhan pahala bagi orang-orang yang taat serta hukuman bagi orang-orang kafir juga tidak akan terealisasi. Itu semua bertentangan dengan keberadaan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya.20

Kemudian Allah SWT berfirman:

وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ عَمَّآ أُنذِرُواْ مُعۡرِضُونَ  ٣

Orang-orang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka.

 

Orang-orang kafir adalah orang-orang yang ingkar terhadap apa yang dibawa oleh Rasul, baik sebagian maupun semuanya. Menurut ayat ini, mereka berpaling terhadap apa yang diperingatkan kepada mereka. Menurut Imam al-Qurthubi, apa yang diperingatkan kepada mereka adalah Hari Kiamat tersebut.21

Imam al-Khazin juga menuturkan bahwa yang diancamkan kepada mereka dalam al-Quran berupa Hari Kebangkitan dan Perhitungan. Adapun « مُعْرِضُونَ » bermakna tidak beriman.22

Imam Ibnu Katsir berkata, “Mereka lalai terhadap apa yang diinginkan mereka. Sungguh telah diturunkan al-Kitab atas mereka dan diutus rasul kepada mereka. Akan tetapi, mereka berpaling dari semua itu. Artinya, mereka akan mengetahui akibat atas itu semua.”23

Imam Ibnu Jarir juga berkata tentang ayat ini, “Orang-orang yang mengingkari keesaan Allah SWT itu berpaling terhadap peringatan Allah SWT kepada mereka. Tidak mau menjadikan peringatan itu sebagai nasihat. Tidak memikirkan peringatan itu. Tidak menjadikan peringatan tersebut sebagai pelajaran.”24

 

Kepastian al-Quran Berasal dari Allah SWT

Ayat ini memastikan bahwa al-Quran berasal dari Allah Yang Mahaperkasa dan Mahabijaksana. Karena itu tidak ada alasan bagi manusia untuk menolak al-Quran. Sebaliknya, wajib atas seluruh manusia mengimani dan mengamalkan al-Quran secara total. Diingatkan pula, langit dan bumi beserta semua isinya adalah ciptaan Allah SWT. Semua itu diciptakan bukan untuk sesuatu yang sia-sia, namun ada tujuan yang benar dan hikmah yang tinggi.

Semua ciptaan Allah SWT itu tidak diciptakaan agar kekal abadi. Akan tetapi, semuanya telah ditetapkan batas waktunya. Batas akhir kehidupan dunia ini adalah Hari Kiamat. Itulah saat berakhirnya langit, bumi dan seisinya diganti yang baru. Saat itu pula, manusia seluruhnya akan dihidupkan kembali untuk menerima balasan atas amal yang dikerhjakan semasa di dunia.

Maka dari itu, sungguh merugilah orang-orang yang mengingkari Hari Kebangkitan dan hari Pembalasan. Karena sikap demikian menjadikan mereka tidak menyiapkan bekal untuk menyongsong hari tersebut. Mereka tidak akan mengerjakan amal shalih yang membuat mereka mendapatkan pahala. Sebaliknya, mereka tak berat menabrak perbuatan dosa yang mengantarkan mereka ke neraka. Semoga kita tidak termasuk di dalamnya. Aamiin.

WalLâh a’lam bi ash-shawâb. [Ust. Rokhmat S. Labib, M.E.I.]

 

Catatan kaki:

1        al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur‘ân, vol. 16 (Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah, 1969), 178

2        al-Zuhaili, al-Tafsîr al-Munîr, vol. 26 (Damaskus: Dar al-Fikr al-Mu’ashir, 1998), 8

3        Ibnu ‘Asyur, al-Tahrîr wa al-Tanwîr , vol. 23 (Tunisia: Dar al-Tunisiyah, 1984), 314

4        al-Zuhaili, al-Tafsîr al-Munîr, vol. 26, 28

5        Muhammad Hasan Jabal, al-Mu’jam al-Isytiqâqi, vol. 3 (Kairo: Maktbah al-Adab, 2010), 1454

6        al-Asfahani, al-Mufradât fî Gharîb al-Qur‘ân (Damaskus: Dar al-Qalam, 1992), 65

7        al-Asfahani, al-Mufradât fî Gharîb al-Qur‘ân, 249

8        al-Zuhaili, al-Tafsîr al-Munîr, vol. 26  8

9        al-Sa’di, Taysîr al-Karîm al-Rahmân (tt: Muassasah al-Risalah, 2000), 779

10      al-Sa’di, Taysîr al-Karîm al-Rahmân, 779

11      Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-’Azhîm, 7, 274

12      al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qurân, vol. 22 (tt: al-Risalah, 2000), 89

13      al-Asfahani, al-Mufradât fî Gharîb al-Qur‘ân, 65

14      Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-’Azhîm, 7, 274

15      al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur‘ân, vol. 16, 178-179

16      al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qurân, vol. 22, 89

17      al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur‘ân, vol. 16, 178; al-Khazin, Liubâb al-Ta‘wîl fî Ma’ânî al-Tanzîl, vol. 4 (Beirut: Dar al-Kutub al-;Ilmiyyah, 1995), 127

18      al-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, vol. 6 (Damaskus: Dar Ibnu Katsir, 1994), 448

19      al-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, vol. 28 (Beirut: Dar Ihya al-Turtas al-‘Arabi, 1420 H), 5

20      al-Zuhaili, al-Tafsîr al-Munîr, vol. 26,

21      al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur‘ân, vol. 16, 178-179

22      al-Khazin, Liubâb al-Ta‘wîl, vol. 4, 127

23      Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-’Azhîm, 7, 274

24      al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qurân, vol. 22, 89

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × three =

Back to top button