Takrifat

Dalâlah Al-Isyârah

Dalâlah al-isyârah merupakan bagian dari al-mafhûm, yakni bagian dari dalâlah al-iltizâm. Artinya, ia merupakan bagian dari apa yang ditunjukkan oleh lafal tidak pada posisi prononsiasi, yakni tidak pada posisi ungkapan yang diucapkan. Dengan kata lain, apa yang ditunjuk oleh dalâlah al-isyârah itu di-taqdir berada di luar dari apa yang diucapkan, yang lazim untuk makna lafal tersebut.

Jadi lafal itu punya makna manthuq. Makna ini memiliki makna lain yang merupakan makna lazim dari manthuq itu. Karena itu ketika kita memahami madlul dari lafal tersebut, benak (pikiran) juga beralih pada makna atau madlul lazimnya. Seperti penjelasan Imam al-Amidi di dalam Al-Ihkâm fî Ushûl al-Ahkâm, makna lazim dalam dalâlah al-isyârah itu bukan yang dimaksudkan oleh redaksi ucapannya.

Dalam hal ini Syaikh Abdul Wahab al-Khalaf menjelaskan di dalam Al-Muhadzab fî ‘Ilmi Ushûl al-Fiqh al-Muqâran bahwa dalâlah al-isyârah adalah penunjukkan lafal kepada lazimnya yang bukan dimaksudkan oleh yang berucap. Ia tidak menentukan kebenaran dan kesahihan ucapannya. Jadi hukum diambil dari isyârah lafal, bukan dari lafal itu sendiri. Maksudnya, apa yang mengikuti lafal tanpa melepaskan maksud lafalnya.

Syaikh Atha’ Abu ar-Rasytah di dalam Taysîr al-Wushûl ilâ al-Ushûl menjelaskan, dalâlah al-isyârah adalah apa yang diambil dari isyarat lafal. Yang dimaksudkan adalah apa yang mengikuti lafal tanpa memisahkan maksud lafalnya.

Menurut ‘Iyadh bin Namiy bin ‘Awadh as-Sulami di dalam Ushûl al-Fiqh al-Ladzî lâ Yasa’u al-Faqîh Jahlahu, dalâlah al-isyârah itu adalah dalalah lafal atas makna yang bukan dimaksudkan oleh konteks redaksi kalam, tetapi menjadi kelaziman untuk makna kalam yang dinyatakan.

Al-‘Allamah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani di dalam Asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyah Juz III menjelaskan, dalâlah al-isyârah adalah keberadaan kalam yang dinyatakan untuk menjelaskan satu hukum atau menunjukkan atas satu hukum. Namun, dari situ dipahami hukum lain selain hukum yang dimaksudkan oleh kalam itu. Dengan kata lain kalam itu datang untuk menunjukkan suatu hukum. Namun, dalam kalam itu juga terkandung hukum lain yang tidak dimaksud oleh kalam tersebut. Jadi dalâlah al-isyârah merupakan dalalah kalam atas hukum yang tidak dinyatakan dan tidak ditunjukkan langsung oleh kalam itu, tetapi dapat dipahami dari kalam tersebut.

Jadi dalâlah al-isyârah itu merupakan penunjukkan suatu lafal pada makna yang tidak langsung dipahami dari lafal itu. Namun, makna ini tidak dapat dipisahkan dari makna yang dimaksudkan. Dengan kata lain, dalâlah al-isyârah itu merupakan penunjukan lafal pada makna iltizâmî, yakni tidak dapat dipisahkan, tetapi tidak dimaksudkan menurut siyâq al-kalâm (kontek redaksi ucapan).

Dengan demikian dalâlah al-isyârah itu merupakan makna yang lazim dari ucapan yang dinyatakan untuk menjelaskan hukum, atau menunjukkan hukum yang menjadi kelaziman, tetapi hukum tersebut bukan yang dimaksudkan secara langsung oleh kalam itu. Yang dimaksudkan dari kalam itu tidak lain adalah suatu hukum tertentu. Namun, kalam itu memberikan makna atau hukum lain meski bukan hukum yang dimaksudkan secara langsung oleh kalam tersebut. Dengan kata lain dalâlah al-isyârah adalah makna yang lazim dari makna manthuq suatu kalam. Hanya saja, kalam itu tidak dinyatakan untuk makna itu, namun makna lazim itu tidak bisa dipisahkan dari makna yang dituju oleh kalam itu.

Contohnya dalam firman Allah SWT:

أُحِلَّ لَكُمۡ لَيۡلَةَ ٱلصِّيَامِ ٱلرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَآئِكُمۡۚ … فَٱلۡـَٰٔنَ بَٰشِرُوهُنَّ وَٱبۡتَغُواْ مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلۡخَيۡطُ ٱلۡأَبۡيَضُ مِنَ ٱلۡخَيۡطِ ٱلۡأَسۡوَدِ مِنَ ٱلۡفَجۡرِۖ ثُمَّ أَتِمُّواْ ٱلصِّيَامَ إِلَى ٱلَّيۡلِۚ

Dihalalkan bagi kalian pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kalian…Sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untuk kalian. Makan minumlah hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam… (QS al-Baqarah [2]: 187).

 

Ayat ini menunjukkan kebolehan mencampuri istri pada malam Ramadhan hingga terbit fajar. Ini adalah makna manthuq ayat ini. Makna ini memiliki makna lain yang lazim, yakni siapa yang mencampuri istrinya pada akhir malam menjelang fajar dan itu boleh, tentu akan terlambat mandi junub sampai terbit fajar atau masuk waktu subuh. Meski begitu di ayat tersebut, dia diperintahkan untuk menyempurnakan puasanya. Jadi makna manthuq ayat ini menunjuk hukum lain, yaitu siapa yang mencampuri istrinya pada malam Ramadhan dan masuk waktu subuh dalam keadaan junub maka puasanya tidak rusak (batal), yakni puasanya tetap sah. Hukum ini bukan yang dimaksudkan oleh kalam tersebut. Dengan demikian ayat ini tidak dinyatakan untuk menjelaskan hukum ini. Artinya, hukum tersebut ditunjukkan oleh dalâlah al-isyârah ayat tersebut.

Contoh lainnya, firman Allah SWT:

لَّا جُنَاحَ عَلَيۡكُمۡ إِن طَلَّقۡتُمُ ٱلنِّسَآءَ مَا لَمۡ تَمَسُّوهُنَّ أَوۡ تَفۡرِضُواْ لَهُنَّ فَرِيضَةٗۚ

Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kalian jika kalian menceraikan istri-istri kalian sebelum kalian bercampur dengan mereka dan sebelum kalian menentukan maharnya (QS al-Baqarah [2]: 236).

 

Makna manthuq ayat ini menunjukkan kebolehan menjatuhkan talak sebelum bercampur dan sebelum menentukan maharnya. Inilah maksud dari redaksi ayat ini. Hukum ini menunjukkan hukum lain yang menjadi kelazimannya, yaitu akad pernikahan tanpa menentukan maharnya adalah sah. Sebab, talak itu tidak terjadi kecuali terhadap akad nikah yang sah. Hukum ini ditunjukkan oleh dalâlah al-isyârah ayat itu.

Contoh lainnya, firman Allah SWT:

وَعَلَى ٱلۡمَوۡلُودِ لَهُۥ رِزۡقُهُنَّ وَكِسۡوَتُهُنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۚ

Kewajiban ayah memberikan makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara makruf (QS al-Baqarah [2]: 233).

 

Ayat ini menunjukkan bahwa wajib atas bapak memberi nafkah dan pakaian kepada ibu. Ayat ini secara dalâlah al-isyârah atau isyârah an-nash melalui huruf al-lâm pada lafal lahu menunjukkan hukum lain yaitu: Pertama, nasab itu dinisbatkan kepada bapak. Kedua, bapak berkewajiban memberi nafkah kepada anak-anaknya dan kewajiban itu tidak disertai oleh orang lain. Meski bapak miskin, sementara si ibu kaya, nafkah anak-anak tetap kewajiban bapak. Ketiga, dalam keadaan sangat memerlukan, bapak boleh mengambil harta anaknya secara makruf sekadar untuk menutupi kebutuhan tanpa menggantinya. Sebabnya, anak dan hartanya adalah untuk bapaknya. Ini juga diperkuat sabda Rasul saw.:

أَنْتَ وَمَالُكَ لِأَبِيكَ

Kamu dan hartamu untuk bapakmu (HR Ahmad, Ibnu Majah, Abu Dawud, asy-Syafi’i, Ibnu Hibban dan al-Baihaqi).

 

Dalâlah al-isyârah itu juga ada dalam firman Allah SWT:

۞وَٱلۡوَٰلِدَٰتُ يُرۡضِعۡنَ أَوۡلَٰدَهُنَّ حَوۡلَيۡنِ كَامِلَيۡنِۖ لِمَنۡ أَرَادَ أَن يُتِمَّ ٱلرَّضَاعَةَۚ

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan (QS al-Baqarah [2]: 233).

وَحَمۡلُهُۥ وَفِصَٰلُهُۥ ثَلَٰثُونَ شَهۡرًاۚ ١٥

Ia mengandung anaknya sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan (QS al-Ahqaf [46]: 15).

 

Ayat di atas menunjukkan  bahwa lamanya menyusui adalah dua tahun yakni 24 bulan. Lamanya mengandung hingga menyapihnya adalah 30 bulan. Inilah yang dinyatakan oleh ayat di atas. Makna ini menunjukkan makna lain yang menjadi kelazimannya bahwa masa kehamilan syar’i minimialnya adalah enam bulan.

Contoh dalâlah al-isyârah lainnya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا يَسۡخَرۡ قَوۡمٞ مِّن قَوۡمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُواْ خَيۡرٗا مِّنۡهُمۡ وَلَا نِسَآءٞ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيۡرٗا مِّنۡهُنَّۖ ١١

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain. Boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya. Boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik (QS al-Hujurat [49: 11).

 

Manthuq ayat ini menunjukkan haramnya laki-laki merendahkan laki-laki lain dan perempuan merendahkan perempuan lainnya. Ayat ini secara dalâlah al-isyârah juga mengisyaratkan bahwa kehidupan jamaah laki-laki di dalam masyarakat terpisah dari jamaah perempuan.

Contoh lainnya, sabda Rasul saw.:

فِي كُلِّ إِبِلٍ سَائِمَةٍ . فِي كُلِّ أَرْبَعِينَ ابْنَةُ لَبُونٍ

Dalam setiap unta yang digembalakan, pada setiap 40 ekor (zakatnya) seekor bintu labun… (HR Ahmad, an-Nasai, Abu Dawud, Abu Ubaid dan Ibnu Zanjawaih).

 

Sabda Rasul saw.:

فِيمَا سَقَتِ السَّمَاءُ وَالعُيُونُ أَوْ كَانَ عَثَرِ العُشْرُ، وَمَا سُقِيَ بِالنَّضْحِ نِصْفُ العُشْرِ

Dalam apa yang diairi oleh langit dan mata air atau tidak diairi (zakatnya) sepersepuluh. Apa yang diairi dengan pengairan buatan (zakatnya) seperduapuluh (HR al-Bukhari, Ibnu Majah, an-Nasai, Abu Dawud dan at-Tirmidzi. Lafal al-Bukhari).

 

Manthuq dua hadis ini, yakni zakat wajib pada hewan ternak yang digembalakan, dan dalam zakit hasal pertanian yang diairi dengan pengairan buatan adalah 5 persen. Hukum ini menunjukkan hukum lain yang menjadi kelazimnya, yaitu agar pemasukan zakat meningkat, negara harus menyediakan padang gembalaan umum dan saluran serta fasilitas irigasi termasuk bendungan, sumur, dsb, secara memadai.

Tentu masih banyak dalâlah al-isyârah yang ditunjukkan oleh nas-nas syariah lainnya. WalLâh a’lam wa ahkam. [Yoyok Rudianto]

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

14 + seventeen =

Back to top button