Hiwar

KH. Ahmad Fadholi: Wajib Ittibâ’ Total kepada Nabi Saw.

Pengantar:

Sebagaimana diketahui, Peringatan Maulid Nabi saw. hampir setiap tahun diperingati oleh kaum Muslim. Khususnya di tanah air. Tentu ini merupakan hal yang mengembirakan. Setidaknya hal itu menjadi salah satu bukti betapa umat Islam begitu mencintai beliau.

Pertanyaannya: Apa sebetulnya esensi cinta kepada Nabi saw.? Apakah cukup cinta kepada Nabi saw. diekspresikan dengan memperingati kelahiran beliau, memperbanyak shalawat untuk beliau, dan meneladani beliau hanya dalam urusan ibadah dan akhlak beliau saja? Tidak perlukah kita mencontoh dan meneladani beliau dalam urusan politik, sosial, pemerintahan, penegakan hukum dll?

Inilah beberapa pertanyaan yang diajukan oleh Redaksi kepada KH Ahmad Fadholi dalam Rubrik Hiwar kali ini. Berikut wawancara lengkapnya.

 

Kyai, bisa dijelaskan apa hakikat mencintai Nabi Muhammad SAW menurut al-Quran, as-Sunnah dan pemahaman para ulama?

Mencintai Nabi Muhammad saw. sebagaimana dijelaskan oleh para ulama, seperti oleh Ibn Taimiyah, adalah konsekuensi keimanan, sekaligus pangkal keimanan yang besar serta pondasi yang kokoh. Senada dengan Ibnu Taimiyah, Syaikh Yusuf an-Nabhani juga menyebutkan mencintai Nabi Muhammad saw. adalah pangkal segala kebaikan. Ia adalah sebab keberuntungan dan sarana seorang Muslim mendapat syafaat beliau.

Semuanya itu meniscayakan adanya ketaatan dan ittibâ’ kepada beliau. Secara menyeluruh Qadhi Iyadh dalam Asy-Syifâ’ menyebutkan hak-hak Nabi Muhammad saw. untuk diimani, ditaati, diikuti, dicintai, diagungkan, ditolong sunnahnya, dan dibacakan shalawat atas beliau.

Allah SWT menyebutkan di dalam QS al-Imran ayat 31 (yang artinya): Jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian.

Imam al-Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan perihal salah satu dari tiga perkara yang dengan itu seseorang merasakan manisnya keimanan, yaitu: Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai daripada apapun. Hal itu meniscayakan kecenderungannya diletakkan di bawah risalah yang dibawa Nabi Muhammad.

 

Mengapa saat ini banyak orang mengaku mencintai Nabi SAW, tetapi dalam kehidupan sehari-hari belum menjadikan beliau sebagai satu-satunya teladan?

Munculnya pertanyaan tersebut sangat bisa dipahami jika standar cinta kepada Nabi saw. adalah seperti yang dijelaskan oleh para ulama. Pemahaman yang kurang menyeluruh dan kurang jernih tentang hakikat cinta kepada Nabi saw. tersebut mengakibatkan kecintaan Nabi saw. hanya diungkapkan dengan ketersentuhan hati saat mendengar kisah beliau, kekaguman mendengar syamaa-il beliau dan kemukjizatan beliau, gemar menghadiri majelis maulid dan lain-lain. Tidak disertai ittibâ’ dan ketaatan kepada beliau dalam semua aspeknya.

 

Apa saja bentuk kontradiksi yang sering terjadi di tengah Masyarakat? Misalnya, mencintai Nabi SAW, tetapi tidak mengikuti sunnah beliau secara utuh, baik dalam ibadah, akhlak, maupun kehidupan bermasyarakat?

Saya akan membagi bentuk kontradiksi tersebut ke dua. Pertama: Kontradiksi umum sebagai dampak dari paham sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Hal tersebut menyebabkan kecintaan kepada Nabi saw. lebih bersifat simbolik yang dimanifestasikan oleh sesuatu yang mereka sebut syiar. Kedua: Kontradiksi khusus sebagai akibat racun sekularisme yang menjangkiti golongan elit umat. Golongan kedua inilah yang selalu mempropagandakan bahwa aspek kenegaraan, hukum, ekonomi dan kemasyarakatan harus dijauhkan dari Islam. Tatanan Islam tidak mencakup aspek-aspek tersebut. Akibatnya, ittibâ’ kepada Nabi saw. tidak menyentuh aspek-aspek tersebut. Jadilah sanad bernegara merujuk kepada Montesquieu, rujukan berekonomi adalah Adam Smith dan para filosof modern yang melegalkan riba, panutan berpolitik adalah Machiavelli yang pragmatis. Ini adalah kontradiksi yang sangat parah sekali.

 

Bagaimana Islam memandang sikap yang mencintai Nabi SAW, tetapi menolak penerapan syariah yang beliau bawa atau bahkan memusuhi para pengembannya?

Syariah Islam adalah risalah yang dengan itu Nabi Muhammad saw. diutus. Bahkan beliau adalah representasi dari syariah itu sendiri yang otoritasnya diberikan oleh Allah SWT. Karena itulah beliau dijaga dan diberi ‘ishmah.

Kecintaan Abu Thalib terhadap pribadi Nabi Muhammad saw. tentu tidak diragukan. Akan tetapi, hal itu tidak cukup. Abu Lahab juga sangat gembira dengan kelahiran Muhammad. Karena gembiranya dia memerdekakan budaknya. Beberapa orientalis modern respect kepada Nabi Muhammad saw., seperi Karen Amstrong dan Montgomery Watt, Hal itu dituangkan dalam karya-karyanya. Akan tetapi, itu semua tidak cukup sampai kecenderungannya mengikuti risalah yang beliau bawa. Sabda beliau, “Lâ yu’minu ahadukum hatta hawahu tâbi’an limâ ji’tu bihi.”

Begitu pula para da’i sebagai pengemban risalah yang beliau bawa. Mereka mempunyai kedudukan yang sangat tinggi. Ini sebagaimana yang termaktub dalam QS Fusshilat ayat 33. Dinyatakan bahwa perkataan para da’i adalah perkataan terbaik. Ancaman permusuhan kepada para ulama dan fuqaha berlaku juga untuk yang memusuhi pengemban da’wah. Ada ucapan Ibnu asakir yang legendaris, “Daging para ulama itu beracun.”

 

Mengapa Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan ibadah pribadi, tetapi juga memberikan tuntunan dalam bidang pemerintahan, politik, ekonomi, dan kehidupan sosial?

Kalau kita menelâh Kitab Zâd al-Maad karya Ibnul Qayyim yang memotret kehidupan Nabi saw., maka kita akan mendapati bahwa petunjuk beliau itu mencakup A sampai Z. Seluruh sendi kehidupan manusia termasuk politik, ekonomi, sosial dll. Kalau pertanyannya adalah mengapa maka bisa disimpulkan bahwa jawabannya adalah bahwa terkait sendi-sendi kehidupan tersebut manusia membutuhkan petunjuk Nabi saw., sebagaimana manusia membutuhkan petunjuk dalam ibadah. Tanpa petunjuk Nabi saw. dalam hal ibadah menyebabkan hati menjadi kosong. Demikian pula mengabaikan petunjuk Nabi saw. dalam tatanan politik, ekonomi, social dll maka kehidupan akan menjadi kacau dan timpang.

 

Apa hubungan antara kecintaan kepada Nabi SAW dengan kewajiban menjalankan Islam secara menyeluruh (kaffah)?

Secara nurani, kecintaan kepada seseorang meniscayakan ia mencari keridhaan dari orang yang dicintai. Begitu pula kecintaan kepada Nabi Muhammad saw.. Ia meniscayakan adanya upaya untuk mendapatkan ridha beliau. Menerima risalah atau syariah adalah syarat kecintaan kepada beliau. Apalagi petunjuk Allah dan sabda beliau juga mengatakan demikian. Dengan demikian mengambil hanya sebagian syariah adalah bukti nyata tiada kecintaan kepada Nabi Muhammad saw. Bahkan dalam hal yang demikian ada tanda kekufuran dan ketiadaan iman. Karena itu terhadap perilaku yang demikian Allah mempertanyakan (yang artinya): “Apakah kalian mengimani sebagian isi al-Kitab dan kufur dengan sebagian lainnya.”

 

Bagaimana seharusnya seorang Muslim membuktikan cintanya kepada Nabi SAW dalam membela kepentingan umat Islam yang tertindas serta memperjuangkan kemuliaan umat?

Dalam banyak riwayat Nabi saw. memposisikan dirinya sebagai pembela golongan yang tertindas. Sebagaimana dalam riwayat Abu Dawud beliau menyatakan, “Carilah aku di tengah orang-orang yang lemah di antara kalian.”

Secara nurani kecintaan seseorang kepada orang lain akan mendorong dia berada di posisi orang yang dicintai. Karena itu memberikan nushrah kepada kaum Muslim di Ghaza, Kashmir dll adalah salah satu bukti cinta seorang Muslim kepada Rasulullah saw. Membebaskan umat dari belenggu sistem yang eksploitatif juga adalah di antara bukti cinta kepada Rasulullah saw.

 

Mengapa mengikuti dakwah Rasulullah SAW dan memperjuangkan nilai-nilai yang beliau bawa menjadi bagian dari wujud kecintaan kepada beliau?

Tentu saja. Itu adalah manifestasi cinta kepada Rasulullah saw. dan tuntutan syariah sebagaimana dinyatakan dalam QS al-Ahzab bahwa beliau adalah uswat[un] hasanah. Bukankah orangtua yang mencintai anaknya akan berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkan cita-cita mulia dari anaknya. Apalagi jika langkah yang ditempuh anaknya sudah benar?

 

Apa makna sebenarnya dari Peringat­an Maulid Nabi SAW? Bagaimana agar perayaan tersebut tidak berhenti pada aspek seremonial, tetapi melahirkan perubahan sikap dan amal?

Berbagai acara yang diselenggarakan dalam rangka Peringatan Maulid Nabi saw. memang sangat bagus untuk membangun kedekatan emosional dengan Rasulullah saw. dan lebih berlipat-lipat maknanya. Pasalnya, mengingat kelahiran Rasulullah SAW akan mengingatkan kembali risalah yang beliau bawa dan memperbarui komitmen untuk mengikuti beliau.

 

Bagaimana seorang Muslim dapat membedakan antara cinta kepada Nabi SAW yang bersifat emosional dengan cinta yang diwujudkan melalui keimanan, ketaatan, serta mengikuti seluruh ajaran beliau?.

Mencintai Rasulullah SAW adalah kewajiban setiap Muslim. Akan tetapi, tidak ada cinta jika tidak ada komitmen. Bahkan itu bisa dinilai sebagai cinta palsu atau naik levelnya dari cinta palsu, yaitu level cintanya adalah tingkatan terendah. Padahal yang dituntut oleh syariah adalah cinta yang mengubah cara berpikir, bersikap dan bertindak. Betul, Islam tidak menolak ekspresi emosi kepada Rasulullah SAW. Akan tetapi, cinta kepada beliau bukanlah cinta biasa. Cinta kepada beliau adalah cinta yang didasarkan pada keimanan. Di sana ada ketaatan. Ada ittibâ’. Demikian sebagaimana yang digambarkan oleh Qodhi Iyadh.

 

Mengapa sebagian kalangan berpandangan bahwa perjuangan Rasulullah SAW dalam membangun masyarakat dan negara merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari risalah Islam? Apa dasar argumentasinya?.

Mestinya pertanyaannya di balik: Mengapa ada orang yang tidak berpendapat seperti itu. Realitas kehidupan Nabi Muhammad saw. setelah hijrah adalah beliau sebagai kepala negara. Beliau mengatur urusan rakyat. Beliau membuat regulasi atas kekayaan alam yang tidak terbatas sebagai milik umum. Beliau mengangkat kepala daerah dan qâdhi. Beliau mengumumkan perang, mencanangkan perlawanan kepada agresor, dan mengirim duta ke entitas politik ke luar. Intinya, beliau menjalankan segala fungsi kepala negara dan pemerintahan. Hal tersebut terdokumentasi di dalam al-Kitab, as-Sunnah, Sîrah dan catatan orang luar.

 

Bagaimana langkah-langkah praktis yang dapat dilakukan umat Islam agar kecintaan kepada Nabi SAW benar-benar terwujud dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat dan perjuangan umat secara menyeluruh?

Seseorang yang mengaku mencintai Rasulullah SAW harus mengikuti seluruh risalah yang beliau bawa. Rasulullah SAW tidak hanya mendidik individu menjadi shalih, tetapi juga membangun masyarakat dan menegakkan tatanan kehidupan yang berdasarkan wahyu.

Seorang yang mencintai Rasulullah saw. harus berjuang untuk mengembalikan sistem kehidupan yang telah beliau rintis dan beliau praktikkan. Sistem ini kemudian diteruskan oleh para Sahabat beliau yang mulii sehingga risalahnya menerangi bumi ini dari timur hingga barat. Risalah yang mencakup seluruh aspek kehidupan dari A sampai Z. []

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × five =

Back to top button