Hiwar

Ust. Hasbi Aswar, Ph.D: AS Ingin Iran Tunduk Total!

Pengantar:

Perang Iran vs AS-Israel saat ini memang memasuki babak baru: gencatan senjata. Akan tetapi, tetap penting untuk memahami banyak persoalan di seputar perang ini. Di antaranya: Apa yang melatarbelakangi AS-Israel tiba-tiba menyerang Iran secara brutal? Betulkah hanya karena faktor nuklir Iran? Jika terkait nuklir, bukankah selama ini Iran sudah cukup koperatif? Jika demikian, adakah faktor lain? Jika ada, apa saja? Bagaimana pula kemungkinan akhir dari perang Iran vs AS-Israel ini? Bagaimana pula tantangan dan peluang umat Islam ke depan pasca “kekalahan” AS melawan Iran dalam perang ini?

Itulah di antara pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Redaksi kepada Ust. Hasbi Aswar, Ph.D, seorang pengamat Dunia Islam, dalam Rubrik Hiwar kali ini.

 

Sebenarnya apa tujuan utama AS-Israel tiba-tiba menyerang Iran?

Ini masih kelanjutan dari ketegangan yang meningkat antara Iran – AS dan Israel pasca serangan 07 Oktober 2023 oleh Hamas terhadap Israel. Sejak itu Israel juga aktif melakukan berbagai serangan terhadap Iran. Di antaranya serangan terhadap fasilitas kedutaan Iran di Suriah, termasuk serangan terhadap Iran sendiri yang terjadi di tahun 2024 dan perang 12 hari di tahun 2025 yang lalu.

Selama ini isu yang sering muncul adalah pengayaan nuklir Iran. Akan tetapi, perang terakhir ini membuka semua yang diinginkan oleh AS dan Israel. Di antaranya mengganti rezim yang lebih aman terhadap kepentingan AS maupun Israel, melemahkan kekuatan militer Iran yang selama ini digunakan untuk menopang proksi-proksinya, juga melemahkan politik Rusia dan Cina yang selama ini banyak diuntungkan oleh dukungan Iran baik ekonomi maupun militer.

 

Apa yang ditarget oleh AS-Israel untuk memuluskan tujuan utamanya?

Sejak awal perang pada akhir Februari tersebut AS dan Israel menarget fasilitas militer Iran. Sejumlah pejabat tinggi Iran dari berbagai lini strategis mencakup pemimpin tertinggi negara, Ali Khameneni, pejabat pertahanan, Ali Larijani serta tokoh penting dalam struktur keamanan nasional dan militer. Total sekitar 20 orang pejabat tinggi negara yang telah terbunuh dalam perang ini.

 

Bagaimana strategi AS-Israel dalam penyerangannya agar tujuan utamanya tercapai?

Ada dua pendekatan yang Israel dan AS lakukan. Pertama: Serangan militer yang terkoordinir melalui pesawat-pesawat tempur. Kedua: Upaya penggembosan terhadap publik Iran untuk melakukan aksi penggulingan rezim. Itu dinyatakan jelas oleh Trump sejak awal perang tersebut melalui pidatonya.

 

Rencana AS-Israel ternyata gagal total. Apa penyebabnya?

AS ternyata salah menilai kekuatan Iran. Kematian pimpinan tertinggi Iran bersama para pejabat lainnya tidak membuat perlawanan Iran surut. Mereka bahkan telah mengantisipasi itu semua dengan strategi perang yang menciptakan kerugian besar bagi AS, yakni strategi bertahan mosaik (mosaic defense strategy). Ini adalah sistem pertahanan militer yang terdesentralisasi. Strategi ini digunakan oleh Iran untuk bisa tetap melawan meski pimpinan pimpinan politik dan militer tertinggi mereka tewas dalam peperangan.

Iran juga memborbardir fasilitas militer AS dan Israel dengan drone-drone murah seharga 20-50 ribu dolar, yang harus ditangkal oleh AS dan Israel dengan rudal-rudal penangkal senilai 3-5 juta dolar/per rudal. Belum lagi kerugian besar AS akibat kerusakan 17 fasilitas militernya di negara-negara Arab. Juga jatuhnya pesawat tempur AS yang nilainya puluhan juta dolar. Situasi ini memaksa AS menambah kekuatan tambahan melalui kapal serbu USS Tripoli dan 2.500 Marinir ke Timur Tengah dari pangkalannya di Jepang.

Upaya AS-Israel untuk memprovokasi warga Iran melakukan penggulingan kekuasaan juga tidak terwujud. Malah sebaliknya. Serangan terhadap sekolah yang menewaskan 168 orang di Iran itu malah menyatukan warga Iran untuk mendukung Pemerintah mereka. Alih-alih mendorong pergolakan di Iran, yang terjadi malah sebaliknya. Warga AS yang merasa dirugikan secara ekonomi oleh perang ini melakukan protes dan aksi besar-besaran untuk mendesak agar perang ini segera dihentikan.

 

Saat tujuan utama tidak tercapai, apa manuver AS-Israel sebagai jalur ‘penyelamatan’?

Karena pendekatan militer tidak bisa, akhirnya Trump dan Israel terpaksa kembali ke meja perundingan. Tentu dengan kondisi yang berbeda dari sebelum perang. Kegagalan AS-Israel dalam mencapai target di Iran dan dalam kondisi yang terdesak saat ini, membuat Iran lebih punya posisi tawar yang besar dalam negosiasi. Itu terlihat dari beberapa tuntutan Iran yang cukup sulit diterima oleh AS. Di antaranya: penguasaan terhadap Selat Hormuz dan penarikan iuran 2 juta dolar per kapal, penghentian sanksi ekonomi terhadap Iran, penghentian serangan terhadap Iran dan sekutunya, penarikan seluruh pasukan AS di Timur Tengah dan jaminan kelanjutan pengayaan uranium Iran.

 

Betulkah ‘Dokumen Penyelamatan Diri’ merupakan strategi baru yang dilakukan oleh AS-Israel pasca tujuan utamanya gagal agar tetap bisa memenangkan pertempuran?

Iya betul. Baik perang maupun negosiasi adalah dua strategi dalam politik. Jika salah satunya dianggap tidak efektif maka strategi yang lain akan digunakan.

 

Bagaimana reaksi Iran atas strategi baru AS-Israel?

Dalam konteks negosiasi dan penghentian perang, Iran sebenarnya selalu terbuka untuk melakukan negosiasi dengan AS. Perang ini kan sebenarnya juga terjadi di tengah pembicaraan tentang nuklir Iran bersama AS yang kabarnya Iran sudah bersedia mengikuti permintaan AS. Namun, Iran berargumen bahwa selama serangan terhadap Iran terus dilakukan, maka Iran juga akan terus membalas sampai serangan betul-betul berhenti, barulah negosiasi bisa dilanjutkan kembali.

Sebetulnya Iran memahami bahwa AS dan Israel selalu tidak konsisten dengan kata-kata mereka sendiri. Karena itu Iran akan selalu waspada dan siap untuk kembali bertempur. Misalnya, meski Trump telah mengumumkan gencata senjata selama dua minggu sejak tanggal 8 April 2026 dan serangan terhadap Iran telah dihentikan, Iran masih menganggap AS-Israel tidak patuh terhadap gencatan senjata itu. Buktinya, Israel terus melakukan serangan terhadap Lebanon. Iran merespon dengan tetap menutup Selat Hormuz yang seharusnya telah dibuka sebagai hasil dari kesepakatan gencatan senjata kedua belah pihak.

 

Apakah pemerintahan Iran solid atau terpecah dalam beberapa faksi?

Saya kira masih sangat solid, ya. Apalagi rezim Iran sangat tegas dan keras menyikapi berbagai potensi pembangkangan. Ini seperti yang terjadi saat aksi di akhir Desember 2025 lalu yang konon menewaskan ribuan demonstran dan puluhan ribu lainnya yang ditangkap. Beberapa oknum yang dianggap sebagai agen Mossad juga dieksekusi mati oleh Pemerintah Iran. Iran juga sangat ketat dalam mengontrol informasi sehingga potensi-potensi munculnya tokoh oposisi di Iran melalui media-media lokal juga menjadi sulit. Tokoh Reza Pahlevi yang didukung oleh AS-Israel pun bisa bersuara karena ia tinggal di AS dan hanya bisa bersuara melalui media-media asing. Itu pun gagal dalam mendapatkan dukungan publik Iran sendiri.

 

Bagaimana kemungkinan akhir Perang Iran vs AS-Iran?

Sejak gencatan senjata dimulai 08 April 2026 kemarin, negosiasi telah mulai berjalan. Itu artinya, ada kemungkinan perang akan segera selesai. AS pun tidak mempersoalkan lagi soal pergantian rezim di Iran. Yang AS sangat prioritaskan saat ini adalah stabilitas Timur Tengah dan bisnis minyak global bisa normal kembali. Sebabnya, jika tidak, AS akan menghadapi warganya sendiri yang memang sejak awal mayoritas tidak setuju perang. Apalagi mereka sudah merasakan dampaknya sampai saat ini. Meski perang berakhir, hasrat Israel-AS untuk menggulingkan rezim Iran dan melemahkan negara ini pasti akan terus berlanjut.

Hanya saja, patut dicatat, tindakan Iran sebetulnya masih dalam kerangka untuk membela kepentingan nasional Iran sendiri. Bukan dalam perspektif hitam-putih bahwa AS & Israel memang menjadi musuh abadi Iran. Sejarah membuktikan itu. Israel bersama AS pernah menjadi sekutu Iran di Timur Tengah. Pasca Revolusi Islam 1979, Iran juga pernah berkolaborasi dengan AS dalam Perang Afganistan 2001, dan perang melawan ISIS di Irak tahun 2014.

 

Israel melebarkan front pertemuran ke arah Lebanon & Sungai Litani. Apa targetnya?

Ada dua target yang Israel inginkan. Pertama: Untuk memperluas wilayah negaranya dengan menguasai Lebanon Selatan sebagai bagian dari upaya untuk mewujudkan mimpi Israel raya. Kedua: Sebagai upaya untuk menghancurkan Hizbullah dan melemahkan pengaruh Iran di Timur Tengah. Israel kelihatannya tidak cukup puas dengan seruan-seruan demiliterisasi Hizbullah, baik melalui PBB maupun Pemerintah Lebanon sendiri. Oleh sebab itu, Israel mengambil langkah sendiri dengan menguasai Lebanon selatan. Tujuannya agar ia bisa dengan mudah melakukan operasi militer berkelanjutan di wilayah ini. Strategi Israel ini, sama dengan di Suriah, melalui pendudukan terhadap Dataran Tinggi Golan pasca rezim Ahmad al-Shara berkuasa, Israel bisa dengan leluasa melakukan operasi militer di Suriah.

 

Benarkah tidak ada jalur negosiasi dan diplomasi di tengah sengitnya pertempuran yang ada?

Turki, Mesir dan Pakistan selama ini dianggap aktif melakukan membuka jalur komunikasi antara AS dan Iran. Namun, pada akhirnya Pakistanlah yang dipilih menjadi tempat negosiasi tersebut meski masih gagal setelah 21 jam (11-12 April 2026) bernegosiasi secara intensif antara kedua belah pihak. Pakistan dipilih karena negara ini memiliki hubungan dekat baik dengan AS maupun Iran. Pakistan selama ini juga aktif dalam memediasi kedua belah pihak. Yang lebih penting lagi, Pakistan dan Iran adalah negara yang bertetangga sehingga dari aspek keamanan lebih mudah bagi Iran untuk melakukan negosiasi dengan AS di negara ini.

 

Benarkah pertempuran ini membuka kedok bahwa kekuatan luar biasa AS itu sebagai mitos belaka?

Perang ini menambah daftar kekalahan dan kegagalan AS dalam mencapai target politiknya di Timur Tengah selama beberapa tahun terakhir ini. Tahun 2021, AS terpaksa harus meninggalkan Afganistan setelah berhasil dikalahkan oleh Pasukan Taliban, setelah dua puluh tahun bertempur. Kemudian sejak tahun 2023 sampai 2025, AS bersama Israel juga harus melakukan gencatan senjata dengan Hamas setelah gagal menghancurkan kelompok ini meski dengan strategi pembumihangusan Gaza. Nah, Perang Iran, menambah list kekalahan strategi politik AS kembali.

 

Benarkah pertempuran ini juga menunjukkan keterpecahbelahan umat Islam?

Betul. Ini juga menambah fakta lagi bagi kita mengenai siapa yang berpihak kepada musuh dan siapa yang berpihak kepada sesama Muslim. Itu sudah terlihat sejak Perang Gaza 2023 sampai Perang Iran 2025 & 2026 ini. Alih-alih saling mendukung sesama Muslim, negara-negara Muslim khususnya di Arab malah menjadi fasilitator terhadap AS & Israel melalui penyediaan ruang udara, juga pangkalan-pangkalan militer mereka untuk kepentingan AS-Israel.

 

Pelajaran penting apa yang bisa diambil bagi umat Islam dari pertempuran ini agar bisa mengalahkan AS dan Israel?

Ini seharusnya dapat mengubah paradigma rezim-rezim Dunia Islam untuk mau menjadi negara independen serta membangun kekuatan ekonomi dan militernya sendiri. Iran membuktikan bahwa tanpa bergantung pada AS dan Barat sekalipun, Iran bisa bertahan hidup bahkan membangun kekuatan yang mampu meladeni serangan-serangan AS dan Israel. Iran saja bisa, mengapa negara-negara Muslim lain tidak bisa. Malah perang ini bisa menjadi peluang bagi Iran dan ajaran Syiahnya untuk menjadi lebih populer. Siapa yang dirugikan? Ya Dunia Islam sendiri yang mayoritasnya Sunni.

 

Apa yang harus dilakukan oleh umat Islam agar bisa mewujudkan negara adikuasa yang kuat sehingga bisa menyaingi AS?

Umat Islam butuh persatuan yang dihimpun oleh kekuasaan yang berasaskan Islam yang bisa mengayomi semua kaum Muslim tanpa memandang mazhab dan aliran keberagamaannya. Itulah Negara Khilafah. Khilafah pernah ada dalam sejarah kaum Muslim. Khilafah selama berabad-abad terbukti tidak hanya menyatukan kaum Muslim, tetapi juga berhasil menyebarkan kebaikan buat umat manusia.

Khilafah ini bertumpu pada ajaran Islam sebagai asas ideologinya. Politiknya independen dari kepentingan musuh-musuh Islam. Khilafah juga terus bertumbuh baik secara ekonomi, militer serta kekuasaan politiknya. Hanya Khilafah yang bisa menjadi solusi saat ini dalam menghadapi kezaliman negara-negara superpower saat ini. []

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 × three =

Back to top button