
Ustadzah Iffah Ainur Rochmah: Generasi Muslim Harus Punya Kesadaran Politik Islam
Pengantar Redaksi:
Di tengah derasnya arus digital, generasi muda Muslim menghadapi tantangan besar: pola pikir dan perilaku mereka dibentuk algoritma kapitalis. Dalam wawancara bersama Reporter Tamu Al-Wa’ie, Ragil Rahayu, Aktivis Dakwah Nasional Ustadzah Iffah Ainur Rochmah menegaskan bahwa generasi Muslim harus memiliki kesadaran politik Islam. Tujuannya agar potensi mereka dapat diarahkan untuk membina kepribadian Islam dan menjadi pengemban risalah. Peran ibu, keluarga dan seluruh komponen umat menjadi kunci dalam menjaga kesinambungan pendidikan dan nilai-nilai Islam di era digital. Berikut wawancara lengkapnya.
Ustadzah, apa tantangan mendidik generasi muda pada era digital saat ini?
Banyak problem baru yang muncul akibat interaksi intens generasi muda dengan dunia digital. Yang paling umum adalah adiksi digital. Generasi muda berlama-lama di dunia maya dan makin minim interaksi sosial di dunia nyata, bahkan dengan keluarga. Juga ada overload informasi yang mengantarkan pada problem kesehatan mental, anxiety (kegelisahan) hingga bunuh diri. Begitu pula dengan cyberbullying (perundungan siber) dan cybercrime (kriminal siber).
Apa yang menyebabkan hal ini?
Platform digital dengan seluruh aturan mainnya saat ini hadir satu paket dengan hegemoni Kapitalisme. Pengendalinya korporasi raksasa digital. Orientasi mereka hanya untung. Mereka tidak peduli dampak kerusakan pada generasi.
Dengan mesin algoritma versi mereka, manusia dibuat berlama-lama dan makin tidak terpisahkan dari dunia digital. Tanpa sadar pola yang dibentuk maupun konten yang disuguhkan terus mengasup nilai dan teladan perilaku sekuler, kapitalistik, bahkan liberal. Sebaliknya, konten-konten Islam kâffah, Islam politik, khilafah, jihad dan sejenisnya sangat dibatasi, dikriminalisasi, bahkan dihapus.
Bagaimana seharusnya orangtua, terutama ibu, menghadapi tantangan pengasuhan ini?
Hegemoni raksasa digital hanya bisa dihentikan jika ada kekuatan negara yang mandiri dan siap membangun infrastruktur digital yang menandingi negara adidaya saat ini, yaitu AS. Negara yang seperti itu lahir dari kekuatan politik Islam yang kita kenal sebagai Khilafah Islam.
Sebelum Khilafah Islam tegak, generasi Muslim yang masuk ke dunia digital harus punya kesadaran politik Islam. Mereka wajib mengerti bahwa algoritma media sosial saat ini mengarahkan pola pikir dan perilaku mereka sesuai dengan kepentingan kapitalis. Mereka harus sadar bahwa tidak bisa memahami Islam secara utuh dari dunia maya saja. Generasi muda butuh ikut pembinaan kepribadian di keluarga dan jemaah dakwah Islam kâffah.
Bagaimana teladan dari Rasulullah saw. dalam membina para Sahabat hingga menghasilkan generasi pejuang Islam?
Pertama: Rasulullah saw. menanamkan pemahaman bahwa Islam adalah ideologi/mabda’. Kedua: Para Sahabat dibina menjadi pengemban mabda’ Islam sehingga kepribadian Islamnya harus kuat, berpengaruh dan memimpin atau memberi contoh bagi yang lain. Ketiga: Dibangun kesadaran politiknya, yakni mereka melihat semua peristiwa dengan tujuan memenangkan risalah Islam agar terwujud rahmatan lil alamin.
Lantas, menurut Ustadzah, bagaimana peran ibu dalam mewujudkan pejuang Islam di tengah hegemoni digital ini?
Para ibu punya peran sentral dan vital. Jika ibu juga terpapar standar media sosial tentang ukuran sukses dan bahagia, mereka akan menuntut anak menjadi shalih dengan ukuran hanya taat ibadah harian, baca al-Quran dan memiliki adab yang baik. Adapun sukses duniawinya diukur dengan punya banyak uang.
Ini tentu tidak mengantarkan ibu untuk mendorong anaknya menjadi pejuang Islam. Ibu menganggap anak adalah miliknya sehingga potensinya diarahkan untuk kepentingan diri dan keluarganya saja.
Sebaliknya, jika ibu memahami anaknya adalah milik Allah, potensinya wajib dioptimalkan untuk proyek Allah pada era digital. Ibu akan bangga bisa mewakafkan anak-anaknya untuk menjadi bagian penting proses perubahan ke arah tegaknya Islam kâffah.
Ibu akan mendidik putra-putrinya agar siap menjadi duta Islam kâffah serta mendorong mereka terlibat dalam jemaah Islam idelogis. Di situlah generasi terbaik pejuang Islam dicetak dengan kesadaran politik Islam dan diarahkan potensinya menjadi pilar membangun kekuatan politik Islam.
Mampukah ibu sendirian melindungi generasi muda dari hegemoni digital saat ini?
Semua komponen umat wajib terlibat. Selain ibu (umm), juga para pendidik generasi (murabbiyat ajyal), yakni para pembina kaum muda, para guru dan dosen, tokoh-tokoh umat, pemangku pesantren dan sekolah/kampus, dan bahkan sangat penting adalah juga keterlibatan ayah. Pasalnya, peran ini tidak bisa digantikan oleh ibu. Jangan sampai pula generasi umat ini kehilangan fungsi ayah (fatherless) meski ada banyak beban hidup akibat sistem Kapitalisme yang makin mengimpit.
Jangan sampai komunikasi dan ketersambungan risalah serta keteladanan perilaku dari generasi senior terputus dan tidak tersambung dengan generasi muda. Meski beda generasi, semuanya sama-sama punya satu amanah, yakni amanah mengembalikan kehidupan Islam dengan kembalinya sistem Khilafah. Dua generasi, satu amanah. []
*****





