
Cinta Sejati Untuk Baginda Nabi Saw
BANYAK lisan yang fasih bershalawat. Tentu bagus. Banyak hati yang mengaku rindu kepada Rasulullah . Tentu baik. Namun, apakah itu cukup? Tentu tidak. Sebabnya, cinta kepada Baginda Rasulullah saw. dikaitkan dengan cinta kepada Allah SWT. Adapun cinta kepada Allah SWT memiliki ukuran yang tegas:
Katakanlah (Muhammad), ”Jika kalian benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali ‘Imran [3]: 31).
Cinta sejati kepada Allah SWT harus dibuktikan dengan cinta kepada Rasulullah saw. dengan meneladani beliau. Meneladani beliau sebagai bukti cinta kepada beliau tentu bukan hanya dalam urusan ibadah ritual saja. Beliau juga wajib diteladani dalam mengatur urusan umat, memimpin negara, mengatur perdagangan, menegakkan keadilan dan menyebarkan dakwah hingga ke luar negeri.
Dengan demikian cinta kepada Baginda Rasulullah saw. tak cukup berhenti di bibir. Ia menuntut pembuktian dengan ketaatan total; dengan mengikuti jejak beliau di seluruh aspek kehidupan; dari akidah, ibadah, akhlak, muamalah hingga perjuangan menegakkan syariah secara kâffah.
Rasulullah saw. bersabda:
Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sampai aku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia (HR al-Bukhari dan Muslim).
Hadis ini adalah tolok ukur bahwa cinta kepada Nabi saw. harus berada di puncak; mengalahkan cinta pada keluarga, harta, bahkan diri sendiri.
Imam an-Nawawi menegaskan, “Cinta yang dimaksud adalah cinta yang mendorong untuk menaati segala perintah beliau dan mengutamakan beliau atas segala hal duniawi.” (An-Nawawi, Syarh Shahîh Muslim, 2/15).
Al-Qadhi ‘Iyadh berkata, “Tanda cinta kepada Nabi saw. adalah meneladani beliau, mengamalkan sunnah beliau, mengikuti perintah beliau, menjauhi larangan beliau dan beradab dengan adab beliau.” (Al-Qadhi Iyadh, Asy-Syifâ’, hlm. 49–50).
Ditegaskan pula bahwa di antara tanda-tanda cinta sejati kepada Baginda Rasulullah saw. adalah: Pertama, mengikuti ajaran beliau secara total (Lihat: QS Ali ‘Imran [3]: 31). Kedua, membela kehormatan beliau dan risalahnya dari penghinaan (Lihat: QS at-Taubah [9]: 24, Ath-Thabari, Tafsîr ath-Thabari, 14/496–498). Ketiga, menghidupkan sunnah dan memerangi bid’ah (Al-Qadhi ‘Iyadh, Asy-Syifâ’, hlm. 49–50). Keempat, berjuang menegakkan Islam secara kâffah (An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, 2/15). Kelima, merindukan pertemuan dengan beliau dan memperbanyak shalawat (HR al-Bukhari dan Muslim).
Dalam hal ini selayaknya kita meneladani para Sahabat dalam membuktikan kebenaran, kesungguhan dan ketulusan cinta mereka kepada Baginda Rasulullah saw. Contohnya Sayidina Abu Bakar ash-Shiddiq ra. Dalam perjalanan hijrah, misalnya, Sayidina Abu Bakar ra. bergantian berjalan di depan dan di belakang Baginda Nabi saw. Saat ditanya alasannya, ia menjawab, “Jika aku teringat musuh di depan, aku berjalan di depanmu. Jika teringat bahaya dari belakang, aku berjalan di belakangmu.” Ia betul-betul khawatir jika sampai bahaya menimpa Baginda Rasulullah saw.
Di Gua Tsur, ia menutup lubang dengan kain dan kakinya sendiri meski digigit binatang berbisa. Semata-mata agar Rasulullah saw. bisa beristirahat tenang (Ibnu Hisyam, Sîrah Ibn Hisyâm, 2/91–94). Ibnu Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, 3/222). Inilah cinta sejati yang mengorbankan kenyamanan bahkan jiwa sendiri.
Contoh lainnya lagi adalah Sahabat Thufail bin ‘Amr ad-Dausi ra. Ketika Rasulullah saw. wafat, Thufail bermimpi bertemu dengan beliau. Ia pun bertekad untuk melanjutkan perjuangan beliau. Ia terjun ke medan perang hingga syahid (Ibnu Hisyam, Sîrah Ibn Hisyâm, 4/256–257). Inilah cinta yang mengobarkan semangat jihad hingga akhir hayat.
Sahabat Anas bin Malik ra. adalah contoh berikutnya. Anas ra. setia melayani Baginda Nabi saw. selama sepuluh tahun dengan pelayanan terbaik. Pengabdian dan pelayanan terbaiknya kepada beliau membuahkan rasa cinta dan kasih-sayang dari beliau. Ia bersaksi, “Beliau tidak pernah sekalipun berkata ‘ah’ kepadaku atau bertanya mengapa aku melakukan atau meninggalkan sesuatu.” (HR Muslim, Kitâb al-Fadhâ’il, No. 2309; Adz-Dzahabi, Siyar A‘lam al-Nubalâ’, 3/395). Inilah cinta yang tumbuh dari kelembutan dan teladan akhlak.
Alhasil, cinta kepada Rasulullah saw. harus kita bawa hingga akhir hayat; harus terbukti dalam ketaatan, perjuangan dan pembelaan terhadap agama yang beliau bawa. Apalagi cinta sejati kepada Baginda Nabi Muhammad saw. akan mengantarkan sang pemilik cinta ke dalam surga-Nya bersama-sama dengan beliau. Demikian sebagaimana sabda beliau:
Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai (HR al-Bukhari, Kitâb al-Adab, No. 6169; HR. Muslim, Kitâb al-Birr wa as-Silah, No. 2639).
Berkaitan dengan hadis di atas, Anas bin Malik ra., berkata, “Kami tidak pernah bergembira seperti kegembiraan mendengar sabda ini. Aku mencintai Nabi saw., Abu Bakar dan Umar. Aku pun berharap akan bersama-sama dengan mereka meski amalanku tidak seperti amalan mereka.” (Adz-Dzahabi, Siyar A‘lam an-Nubalâ’, 3/395).
Semoga kita termasuk orang-orang yang mencintai Baginda Nabi Muhammad saw. setulus hati.
Ya Allah, jadikanlah cinta kepada-Mu dan cinta kepada Nabi-Mu lebih tinggi daripada cinta kami kepada diri kami, harta kami, anak-anak kami dan dari air dingin saat dahaga.
Wa mâ tawfîqî illâ bilLâh. [ABI]



