
Dipermainkan AS, Rezim Suriah Tetap Patuh
Meski dipermainkan Utusan Khusus AS untuk Suriah/Duta Besar AS untuk Turki Thomas Joseph Barrack Jr., rezim Suriah tetap saja bertindak sebagai murid yang patuh.
“Tetapi kini ia mempermainkan para pemimpin rezim Suriah, yang lebih seperti murid yang mendengarkan dia, belajar dari dirinya, dan mematuhi perintahnya!” tulis situs hizb-ut-tahrir.info, Rabu (27/8/2025).
Pasalnya, Thomas Barrack menyatakan, solusi di Suriah bukanlah negara pusat (kesatuan), melainkan sistem yang menyerupai federalisme atau membangun pemerintahan otonom untuk setiap gerakan separatis. Padahal sebelumnya, ia menganjurkan Suriah yang bersatu dan menentang Perjanjian Sykes-Picot.
Pernyataan terbaru Barrack tersebut sebagaimana diberitakan The Washington Post, Sabtu (23/8/2025), menyusul “kekerasan besar-besaran di berbagai wilayah Suriah memicu tuntutan otonomi dari kelompok-kelompok (minoritas), dan mencatat bahwa konflik yang paling menonjol saat ini adalah ketegangan antara Pemerintah Damaskus dan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didukung AS.”
Surat kabar tersebut melaporkan respon rezim Suriah, “Pemerintah Suriah tidak menolak segala bentuk desentralisasi, terutama pemerintahan daerah.” []



