Nafsiyah

Pujian Tertinggi Bagi Penolong Agama Allah

Tidaklah Allah swt menurunkan risalah Dîn-Nya melainkan untuk dimenangkan atas seluruh agama dan keyakinan. Allah SWT berfirman menegaskan:

هُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ لِيُظۡهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُشۡرِكُونَ  ٩

Dialah Tuhan Yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkan agama itu atas semua agama meskipun kaum musyrik benci (QS ash-Shaff [61]: 9).

 

Visi agung ini tidaklah terealisasi melainkan dengan dakwah dan jihad yang ditegakkan oleh para pejuang Islam, dari kalangan da’i dan ahl al-quwwah (pasukan militer), yang mengibarkan panji-panji perjuangan Islam dalam dakwah dan jihad fî sabilillah. Merekalah golongan yang layak meraih nashrulLâh (pertolongan Allah) dalam firman-Nya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تَنصُرُواْ ٱللَّهَ يَنصُرۡكُمۡ وَيُثَبِّتۡ أَقۡدَامَكُمۡ  ٧

Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong (agama) Allah, Dia pasti akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian (QS Muhammad [47]: 7).

 

Allah SWT mengawali seruan (khithâb) dalam ayat agung ini dengan seruan keimanan kepada orang-orang beriman dengan cakupan luas; mencakup kalangan ahl al-quwwah (militer), agar mereka menolong tegaknya DinulLâh. Istimewanya, secara kiasan Allah menisbatkan pertolongan hamba-hamba-Nya kepada Diri-Nya. Padahal Allah Mahakuasa atas segala perkara. Dia tak membutuhkan pertolongan makhluk-Nya. Ini untuk menunjukkan betapa agungnya aktivitas menolong tegaknya Dîn Allah (lihat: QS al-’Ankabût [29]: 6).

Imam Abu Ja’far al-Nahhas (w. 338 H) dalam I’râb al-Qur’ân (4/119) menjelaskan bahwa ungkapan tersebut merupakan kiasan (majâz) yang disebutkan oleh Allah. Maksudnya adalah menolong Rasul-Nya, Dîn-Nya, syariah-Nya dan kelompok pembela Dîn-Nya (hizbulLâh). Demikian sebagaimana ditegaskan pula oleh Imam ar-Razi dalam Mafâtîh al-Ghaib (8/42). Merekalah golongan di garda terdepan pada setiap celah benteng pertahanan Islam. Imam al-Marwazi (w. 294 H) dalam As-Sunnah menukil nasihat Imam al-Awza’i:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ إِلَّا وَهُوَ قَائِمٌ عَلَى ثَغْرَةٍ مِنْ ثُغَرِ الْإِسْلَامِ، فَمَنِ اسْتَطَاعَ أَلَّا يُؤْتَى الْإِسْلَامُ مِنْ ثَغْرَتِهِ فَلْيَفْعَلْ

Tidaklah setiap Muslim itu, kecuali ia harus berdiri di depan benteng pertahanan dari benteng-benteng pertahanan Islam. Karena itu siapa saja yang mampu agar Islam tidak (dihancurkan) datang dari arah bentengnya, maka lakukanlah!

 

Hal ini meniscayakan kaum Muslim, da’i dan ahl al-quwwah untuk merapatkan barisan, menguatkan keyakinan, serta menjalin ikatan pemikiran dan perasaan untuk meraih pujian tertinggi dari Allah Yang Mahaperkasa, sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ ٤

Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh (QS ash-Shaff [61]: 4).

 

Melebur Dua Potensi Kekuatan: Keyakinan dan Amal Perbuatan

Rib’i bin ‘Amir r.a., salah seorang pejuang Islam mulia dan pemberani yang diutus oleh Panglima Jihad, Sa’ad bin Abi Waqqash ra., pernah menjumpai Rustum (pemimpin pasukan Persia), sebelum meletus Pertempuran al-Qadisiyyah (636 M). Rustum bertanya, “Apa tujuan yang mendorong kalian datang ke tempat ini?” Rib’i bin ‘Amir ra. menegaskan:

لَقَدْ اِبْتَعَثْنَا اللهُ لِنُخْرِجَ الْعِبَادَ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ إِلَى عِبَادَةِ رَبِّ الْعِبَادِ، وَمِنْ جُوْرِ اْلأَدْيَانِ إِلَى عَدْلِ اْلإِسْلَامِ، وَمِنْ ضيقِ الدُّنْيَا إِلَى سعَةِ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ

Sesungguhnya Allah telah mengirim kami untuk mengeluarkan hamba dari penyembahan kepada hamba menuju penyembahan kepada Tuhan para hamba semata; dari kezaliman berbagai agama menuju keadilan Islam; dan dari dari kesempitan dunia menuju kelapangan dunia dan akhiratnya.

 

Untaian kalimat Rib’i ra. sarat dengan spirit keimanan dan kecintaan pada dakwah Islam. Benar-benar menonjol. Terpatri dalam dada-dada setiap individu pasukan militer dari jajaran Sahabat Rasulullah saw. Menjadi spirit yang menonjol secara komunal. Tercatat dalam tinta emas sejarah Islam. Merekalah golongan yang Allah firmankan:

وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ ١٤٦

Berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut-(nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai kaum yang sabar (QS Ali ’Imran [3]: 146).

 

Bukan sekadar tercermin dalam aspek ucapan dan perbuatan, tetapi juga tercermin dalam akhlak dalam berperang. Syariah Islam, dengan kemuliaan ajarannya, jelas mengharamkan pasukan kaum Muslim memerangi anak-anak, perempuan dan orangtua yang lemah tak bersenjata. Bahkan Islam pun menjauhi perbuatan ghuluww, yakni membalas kejahatan kaum kuffaar dengan kejahatan serupa yang bertentangan dengan syariah Islam. Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq ra., sebagai pemimpin, adalah teladan bagi militer kaum Muslim.

Dalam riwayat shahih dari an-Nasa’i, al-Baihaqi, diriwayatkan: dari ’Uqbah bin Amir ra., bahwa ’Amru bin al-’Ash dan Syurahbil bin Hasanah ra., keduanya mengutus dirinya kepada Khalifah Abu Bakar al-Shiddiq ra. membawa kepala Banan (salah seorang komandan Romawi). Ketika dihadapkan kepada Abu Bakar ra., beliau mengingkarinya. Uqbah kemudian menanggapi, ”Wahai Khalifah Rasulullah saw., hal ini pula yang dilakukan mereka kepada kita.” Abu Bakar ra. menjawab, ”Apakah layak mengikuti tradisi Persia dan Romawi? Jangan bawa kepala. Cukup dengan surat dan beritanya saja!”

Sikap bara’ah (berlepas diri) dari segala pemikiran kufur dan tradisi jahiliyah kaum kuffaar, menjadi cerminan berpegang teguh pada Dîn alIslâm, menjadi faktor utama kemenangan kaum Muslim, benarlah Umar bin al-Khaththab ra. yang bertutur:

«إِنَّا قَوْمٌ أَعَزَّنَا اللهُ بِاْلإِسْلَامِ فَلَنْ نَبْتَغِيَ الْعِزَّةَ بِغَيْرِهِ»

Kami adalah kaum yang Allah muliakan dengan Islam. Karena itu kami tak akan pernah mencari kemuliaan dengan selainnya.

 

Kekuatan iman ini didukung oleh amal perbuatan yang relevan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَأَعِدُّواْ لَهُم مَّا ٱسۡتَطَعۡتُم مِّن قُوَّةٖ وَمِن رِّبَاطِ ٱلۡخَيۡلِ تُرۡهِبُونَ بِهِۦ عَدُوَّ ٱللَّهِ وَعَدُوَّكُمۡ وَءَاخَرِينَ مِن دُونِهِمۡ لَا تَعۡلَمُونَهُمُ ٱللَّهُ يَعۡلَمُهُمۡۚ ٦٠

Persiapkanlah oleh kalian segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kalian miliki, juga pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah, musuh kalian dan orang-orang selain mereka yang tidak kalian ketahui, tetapi Allah mengetahui mereka (QS al-Anfal [8]: 60).

 

Allah SWT memerintahkan kaum Muslim, mempersiapkan segala potensi kekuatan yang cukup untuk menggetarkan musuh Allah dan kaum Muslim. Lafal quwwah dalam bentuk ism nakirah menunjukkan keluasan cakupan kekuatan militer yang dimaksud. Syaikh Ali al-Shabuni dalam Shafwat at-Tafâsîr menegaskan mencakup ragam jenis kekuatan yang bersifat materil maupun maknawi. Apa hikmahnya? Ditunjukkan kalimat turhibûna bihi ’aduwwallâh wa ’aduwwakum, yakni agar cukup menggentarkan musuh Allah dan musuh kaum Muslim, bahkan musuh-musuh lain yang samar bagi kaum Muslim. Kekuatan ini adalah bagian dari apa yang dipuji Rasulullah saw. dalam hadisnya:

«اَلْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ، وَفِيْ كُلٍّ خَيْرٌ، اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ»

Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah ‘Azza wa Jalla daripada Mukmin yang lemah. Pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagi dirimu dan mintalah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah (HR Muslim).

 

Sifat kekuatan dalam hadis ini tidak terbatas pada kekuatan fisik (quwwat al-jism), tetapi mencakup kekuatan iman (quwwat al-‘îmân), ilmu (quwwat al-‘ilm) dan jiwa (quwwat al-nafs).”

WalLâhu a’lam. []

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 − two =

Back to top button