
Perang: Bisnis Besar Amerika
Dalam kitab Mafâhîm Siyâsiyyah li Hizb at-Tahrîr, Syaikh Abdul Qadim Zallum menjelaskan perkara yang paling mendasar mengapa Amerika tidak pernah berhenti melakukan perang dan kerusakan di muka bumi. Dalam kitab itu ditegaskan bahwa ideologi Kapitalisme yang menjadi dasar negara Amerika itulah penyebab utamanya. Sebagai negara kapitalis, Amerika menjadikan penjajahan (isti’maar) sebagai tharîqah (metode) penyebaran Kapitalisme di dunia dalam berbagai bentuk; baik ekonomi, politik, budaya maupun militer. Jadi, jangan berharap Amerika berhenti menebar perang, kecuali Kapitalisme runtuh atau ada negara yang menghentikan kejahatan Amerika secara global.
Dari berbagai bentuk penjajahan Amerika, penjajahan politik dengan menyebarluaskan demokrasi dan penjajahan ekonomi dengan menyebarluaskan liberalisme ekonomi menjadi pilar utamanya. Inilah yang membuat mesin perang Amerika tidak pernah berhenti berbuat kerusakan. William Blum, dalam bukunya America’s Deadliest Export: Democracy – The Truth About US Foreign Policy and Everything Else (2013), membongkar bagaimana perang menjadi instrumen untuk mempertahankan kepentingan Amerika.
William Blum menyatakan bahwa “ekspor demokrasi” hanyalah legitimasi bagi intervensi Amerika di berbagai negara. Slogan penyebaran demokrasi dijadikan pembenaran untuk melakukan intervensi militer, operasi rahasia CIA, pergantian rezim (regime change), hingga dukungan terhadap kudeta demi menjaga kepentingan strategis Washington. Dalam America’s Deadliest Export, Blum mendokumentasikan berbagai operasi Amerika sejak 1945 di Iran, Guatemala, Kongo, Vietnam, Chile, Nicaragua, Irak, Afghanistan, Libya, dan banyak negara lainnya. Semuanya menunjukkan pola berulang bahwa perang dan penggunaan kekuatan militer merupakan instrumen utama Amerika untuk mempertahankan hegemoni globalnya.
Kejahatan Amerika tidak berhenti pada intervensi politik dan militer. Perang juga telah menjadi bisnis yang sangat menguntungkan bagi industri pertahanannya. Di balik citranya sebagai penjaga demokrasi, hak asasi manusia, dan stabilitas dunia, setiap konflik justru mendorong peningkatan anggaran Pentagon, pembelian persenjataan, riset teknologi militer, serta kontrak bagi perusahaan-perusahaan pertahanan yang meraup keuntungan besar.
Presiden Dwight D. Eisenhower sejak 1961 telah memperingatkan bahaya military-industrial complex, yakni hubungan erat antara militer, industri persenjataan dan para pembuat kebijakan. Peringatan itu kini terbukti. Perusahaan seperti Lockheed Martin, Boeing, RTX (Raytheon), Northrop Grumman, dan General Dynamics sangat bergantung pada anggaran pertahanan Pemerintah. Pada 2018. Sekitar 92 persen pendapatan Lockheed Martin berasal dari kontrak Pemerintah. Ini menunjukkan bahwa semakin besar anggaran militer, semakin besar pula keuntungan industri persenjataan.
Semua kejahatan ini dilegalkan oleh sistem politik Amerika yang memperlihatkan hubungan erat pengambilan kebijakan dengan kepentingan para pemilik modal. Artikel “War: A Lucrative Business for the USA” mengungkap bahwa 51 anggota Kongres Amerika beserta pasangan mereka memiliki saham pada 30 perusahaan kontraktor pertahanan. Nilai investasinya diperkirakan mencapai US$2,3–5,8 juta. Sebanyak 18 anggota Kongres memiliki saham Lockheed Martin hingga sekitar US$760 ribu.
Ironisnya, mereka tetap berwenang menyusun anggaran Pentagon, menyetujui pembelian senjata dan menentukan besarnya belanja pertahanan. Keputusan yang mereka ambil berpotensi langsung meningkatkan keuntungan perusahaan tempat mereka berinvestasi. Dalam sistem Kapitalisme, kondisi seperti ini tidak dianggap sebagai pelanggaran selama memenuhi ketentuan hukum yang berlaku.
Dominasi sektor swasta dalam anggaran pertahanan juga terus meningkat. Jika pada 1990 sekitar 41 persen anggaran Pentagon mengalir kepada kontraktor swasta, pada 2024 angkanya telah mencapai sekitar 54 persen. Lebih dari separuh belanja militer Amerika kini menjadi sumber pendapatan langsung bagi perusahaan-perusahaan pertahanan. Selain anggaran resmi, Amerika juga memiliki ghost budget yang sebagian besar tersembunyi dalam anggaran Pentagon. Menurut Linda Bilmes dari Harvard Kennedy School, anggaran intelijen Amerika diperkirakan melebihi US$100 miliar. Total biaya perangnya pasca-serangan 11 September mencapai sekitar US$5 triliun. Semuanya dibiayai melalui utang dengan pengawasan publik yang minim. Alasannya: keamanan nasional.
Tidaklah mengherankan jika perang menjadi mesin bisnis yang menguntungkan. Pada 2024, nilai penjualan utama persenjataan Amerika mencapai sekitar US$145 miliar, salah satu yang tertinggi sejak Perang Dunia II. Pasar utamanya adalah Ukraina, Israel dan negara-negara Eropa. Sejak invasi Rusia pada 2022, Amerika telah menggelontorkan bantuan militer kepada Ukraina lebih dari US$66 miliar. Sebagian besar dana tersebut pada akhirnya digunakan untuk membeli persenjataan buatan perusahaan Amerika. Dengan kata lain, dana bantuan Pemerintah kembali mengalir kepada industri pertahanan dalam negeri.
Pola serupa terjadi pada bantuan militer kepada entitas Zionis Yahudi. Bantuan tersebut pada umumnya diwujudkan dalam pembelian persenjataan Amerika. Bahkan Perang Gaza meningkatkan permintaan berbagai jenis persenjataan, mulai dari rudal Apache, amunisi kaliber 155 mm, bom penghancur bunker, perangkat night vision, hingga kendaraan lapis baja. Seluruhnya menjadi sumber keuntungan baru bagi kontraktor militer Amerika.
Berbagai fakta tersebut menunjukkan bahwa perang telah menjadi bagian dari mekanisme ekonomi kapitalisme. Semakin luas konflik yang terjadi, semakin besar pula keuntungan yang mengalir kepada industri persenjataan Amerika. Yang dapat menghentikan ini hanyalah kekuatan global yang setara dengan Amerika, dengan kekuatan ideologi yang tidak menginduk pada kapitalisme sebagai pangkal kerusakan, melainkan dengan ideologi baru yang jauh berbeda.
Di sinilah letak penting perjuangan Hizbut Tahrir secara global untuk menegakkan Kembali Khilafah ‘alâ minhâj an-Nubuwwah. Khilafah akan menjadi kekuatan yang seimbang dengan Amerika. Khilafah akan membangun negara adidaya dengan ideologi yang bukan hanya bertentangan, tetapi juga akan menghancurkan ideologi jahat Kapitalisme. Itulah ideologi yang didasarkan pada Islam. Tanpa Khilafah ‘alâ minhaaaj an-Nubuwwah, dunia akan tetap berada dalam kegelapan. Sudah seharusnya kita menyadari pentingnya perjuangan global ini. Ini adalah kewajiban serta tanggung jawab kita bersama. AlLâhu Akbar! [Farid Wadjdi]





