
Amerika Musuh Umat Islam
Menentukan mana negara sahabat dan mana negara musuh adalah sangat penting dalam konstelasi politik internasional dan sangat menentukan kebijakan negara. Memahami siapa lawan dan siapa kawan akan menentukan arah kebijakan politik luar negeri; sekaligus mempermudah pedoman dalam sikap politik, diplomasi, ekonomi dan militer. Hal itu juga akan menjaga kepentingan strategis negara. Sebabnya, pada hakikatnya politik luar negeri suatu negara dan interaksi negara dalam konstelasi politik internasional pastilah dimaksudkan untuk kepentingan negara itu.
Karena itu suatu negara harus benar-benar membedakan pihak mana yang sejalan dengan kepentingan negaranya dan mana yang justru merugikan. Hal ini akan mencegah infiltrasi dan dominasi asing yang jelas-jelas merugikan negara itu. Banyak negara yang lemah, tunduk, dan dieksploitasi oleh kepentingan negara-negara lain karena salah membaca siapa kawan dan siapa lawan. Penjajah yang sejatinya harus dianggap musuh bahkan dianggap mitra atau sahabat dekat. Ujung-ujungnya, negara itu akan dikendalikan dan tetap dijajah dalam berbagai bentuknya, seperti ekonomi atau politik, meskipun tidak selalu melalui penjajahan militer.
Kejelasan siapa lawan dan siapa kawan akan menentukan prioritas ancaman; menghindari politik yang pragmatis, naif dan emosional, sekaligus sangat menentukan aliansi yang akan dibangun dalam dinamika politik internasional. Dengan begitu kerja sama dengan negara mitra justru bisa menguntungkan secara ekonomi dan politik. Bukan sebaliknya. Yang lebih mendasar lagi, kejelasan siapa kawan dan siapa lawan akan menjaga identitas politik dan independensi dalam pengambilan keputusan suatu negara. Dengan itu setiap keputusan bukan dikendalikan negara lain.
Dalam pandangan Islam, untuk bisa menentukan kawan atau lawan dalam politik internasional dibutuhkan kesadaran politik (al-wa’yu as-siyâsî). Dalam kitab Mafâhîm Siyâsiyyah li Hizb ut-Tahrir, disebutkan dua pilar kesadaran politik. Pertama: Pandangan global (tidak terjebak pada tribalisme, termasuk belenggu nasionalisme, atau regionalisme). Kedua: Dari sudut pandang yang khusus (min zâwiyat[in] khâshshah), yaitu akidah Islam.
Dengan kesadaran politik ini, kita bisa dengan tepat memposisikan mana negara kawan dan mana lawan, terutama terhadap negara besar seperti Amerika. Dengan pandangan global, sangat jelas bahwa Amerika adalah negara imperialis yang punya visi mengendalikan dunia untuk kepentingan kapitalismenya. Politik luar negeri yang dibangun negara itu berbasiskan pada penjajahan dalam berbagai bentuk. Sebagai penjajah, Amerika tidak layak dijadikan sebagai teman atau mitra. Hal ini diperkuat dengan pandangan akidah Islam yang menjadi dasar dalam kebijakan syariah Islam.
Berdasarkan syariah Islam, posisi Amerika adalah negara muhârib[an] fi‘l[an]. Negara ini secara nyata memusuhi dan memerangi umat Islam dan negeri-negeri Islam. Fakta ini sangat jelas di depan mata. Amerikalah yang bertanggung jawab atas genosida yang terjadi di Palestina lewat dukungan “harga mati” negara itu terhadap entitas Zionis Yahudi. Amerika telah menumpahkan darah kaum Muslim di berbagai kawasan negeri Islam. Jutaan menjadi korbannya; seperti yang terjadi di Irak, Afganistan, Yaman, Suriah dan Iran. Amerika juga bertanggung jawab mendukung rezim-rezim represif di Dunia Islam yang telah menumpahkan darah kaum Muslim, memenjara rakyatnya sendiri, dan memberikan jalan mulus bagi Amerika untuk mengeksploitasi kekayaan alam negeri-negeri Islam.
Berdasarkan ini, sangat kita sayangkan jika rezim pemerintahan Prabowo saat ini justru memperkuat hubungan dengan Amerika sebagai negara penjajah. Hal ini jelas akan merugikan kaum Muslim, baik secara politik maupun ekonomi secara global. Paling tidak, hal itu tampak dari empat langkah terakhir yang diambil.
Pertama: Partisipasi Indonesia di dalam Dewan Perdamaian (Board of Peace-BoP) yang dipimpin oleh Amerika Serikat di bawah pimpinan Trump. Kedua: Pada bulan Februari ditandatangani Perjanjian Perdagangan Timbal Balik (Agreement on Reciprocal Trade-ART) antara Amerika dan Indonesia. Ketiga: Seperti yang dilansir surat kabar India, The Sunday Guardian, di website-nya (12/4/2026) tentang adanya dokumen rahasia Departemen Pertahanan AS yang mengungkapkan rencana untuk mengamankan akses terbang lintas tanpa batas (blanket overflight access) untuk pesawat militer AS melalui wilayah udara Indonesia. Meskipun Pemerintah Indonesia menyatakan hal ini belum final, Pemerintah itu menunjukkan proses tersebut ada dan sedang berlangsung. Keempat: Penandatanganan perjanjian MDCP. Menteri Pertahanan Amerika dan Menteri Pertahanan Indonesia mengumumkan pembentukan Kemitraan Kerjasama Pertahanan Utama (Major Defense Cooperation Partnership-MDCP).
Untuk itu, kita tegaskan bahwa salah besar ketika Pemerintah menjadikan Amerika sebagai mitra atau sahabat. Pastilah sebagai negara penjajah, Amerika akan memanfaatkan setiap hubungan dengan negara lain demi kepentingan penjajahannya. Indonesia akan semakin masuk dalam orbit strategi Amerika dalam berbagai bidang: ekonomi, keamanan dan militer. Artinya, Indonesia tampak semakin terintegrasi dalam strategi global AS. Hal ini berpotensi menyebabkan ketergantungan militer, menjadi objek tekanan politik, dan mempermudah Amerika untuk mengeksploitasi kekayaan alam negeri ini.
Padahal sebagai negara besar dengan segala potensi keunggulannya, Indonesia bersama negeri-negeri Islam lain bisa membangun kekuatan politik global; memutus mata rantai penjajahan dan penderitaan umat Islam di seluruh dunia, yaitu dengan menghentikan arogansi Amerika; memutus urat nadi ekonomi AS yang bergantung pada penjajahan ekonomi mereka di Dunia Islam; sekaligus membangun angkatan bersenjata yang disegani. Dengan itu, negara penjajah itu tidak berbuat seenaknya terhadap kaum Muslim.
Kekuatan yang terpenting dalam hal ini adalah Islam. Islam harus menjadi dasar (ideologi) dalam segenap kehidupan melalui penerapan Islam dalam semua aspek kehidupan di bawah naungan Al-Khilâfah ar-Râsyidah. Dengan itu, negeri-negeri Islam, termasuk Indonesia, akan mampu memengaruhi seluruh dunia dengan menyebarkan kebaikan di segala penjuru dunia sebagai rahmatan lil ‘âlamîn.
AlLâhu Akbar! [Farid Wadjdi]





