
Perang Amerika-Zionis: Perang Salib ‘Modern’
Tidak diragukan, agresi tanpa batas Amerika-Zionis di Dunia Islam, terutama Timur Tengah, adalah bermotif kapitalisme. Negara imperialis ini benar-benar ingin menguasai kekayaan alam di Timur Tengah yang melimpah. Tidak cukup minyak dan gas dari negara-negara Arab seperti Saudi dan negara-negara Teluk. Amerika juga ingin secara penuh menguasai minyak Iran yang melimpah. Dalam sambutan dari Kantor Oval, Trump juga mengatakan bahwa tujuannya dalam operasi militer melawan Iran adalah “bukan senjata nuklir”. “Tujuan itu telah tercapai. Mereka tidak memiliki senjata nuklir.” “Perubahan rezim bukanlah tujuan,” kata Trump.
Di kesempatan lain, Trump mengungkap maksud Amerika sebenarnya. Kepada surat kabar The Financial Times Trump menyatakan dia ingin “mengambil minyak” di Iran dan mengatakan Washington dapat merebut pusat ekspor Iran di Pulau Kharg. Trump membandingkan langkah potensial itu dengan pendekatan AS di Venezuela. Di sana dia mencatat niat Washington untuk mengendalikan industri minyak “tanpa batas waktu” setelah penculikan Presiden Nicolas Maduro pada Januari. “Sejujurnya dengan Anda, hal favorit saya adalah mengambil minyak di Iran, tetapi beberapa orang bodoh di AS berkata, ‘Mengapa Anda melakukan itu?’ Tapi mereka adalah orang-orang bodoh,” katanya.
Meskipun motif ideologi kapitalisme merupakan pendorong utama Amerika, hal ini tidak bisa dilepaskan dari misi keagamaan, Perang Salib. Perang yang penuh kebencian terhadap Islam dan umat Islam. Hal ini tampak dari pernyataan-pernyataan elit politik Amerika yang menggunakan dalih-dalih keagamaan dalam perang mereka terhadap Dunia Islam. Dalam briefing pers Pentagon, Menteri Pertahanan, Pete Hegseth menyatakan bahwa “rezim gila seperti Iran, yang terobsesi dengan delusi Islamis profetik/nubuwah (on prophetic Islamist delusions), tidak boleh memiliki senjata nuklir.”
Pernyataan ini bukan sekadar serangan terhadap Iran, tetapi juga penghinaan langsung terhadap Islam dan setiap visi politik Islam yang berakar pada wahyu. Dengan menyebut petunjuk profetik sebagai “delusi,” pihak Amerika menunjukkan permusuhan peradaban terhadap Islam dan ketakutannya terhadap umat Islam yang mengatur urusannya menurut perintah Allah. Pasalnya, dalam Islam, kembalinya kekuasaan Islam ditandai dengan kembalinya Khilafah ‘alâ minhâj an-Nubuwah, seperti yang dijanjikan Rasulullah saw.
Para komandan militer Amerika sendiri telah menggunakan retorika Kristen ekstrem yang berpusat pada “akhir zaman” dalam Al-Kitab untuk membenarkan partisipasi dalam perang melawan Iran. Menurut laporan The Guardian, Military Religious Freedom Foundation (MRFF) telah menerima lebih dari 200 keluhan dari anggota militer di seluruh cabang angkatan bersenjata AS, termasuk Marinir, Angkatan Udara, dan Space Force.
Seorang komandan mendorong personel untuk membingkai konflik tersebut kepada pasukan mereka sebagai sesuatu yang telah ditentukan secara ilahi. Menurut laporan yang dilihat oleh The Guardian, komandan tersebut memerintahkan mereka untuk mengatakan kepada para prajurit bahwa perang itu adalah “bagian dari rencana Tuhan,”. Dia lalu secara eksplisit mengutip beberapa ayat dari al-Kitab yang merujuk pada Armageddon dan kembalinya Yesus Kristus ke bumi dalam waktu dekat.
Perwira tersebut juga melaporkan bahwa sang komandan menyatakan, “Presiden Donald Trump telah diurapi oleh Yesus untuk menyalakan api sinyal di Iran guna memicu Armageddon dan menandai kembalinya-Nya ke bumi.”
Retorika yang sama pernah digunakan presiden Amerika tidak lama setelah serangan WTC. “This crusade, this war on terrorism, is going to take a while…” Ini diucapkan oleh George W. Bush pada 16 September 2001, beberapa hari setelah Serangan 11 September 2001 (9/11).
Hal yang sama digunakan Netanyahu. Dalam pidato saat perang Gaza (Oktober 2023), dia berpidato, “You must remember what Amalek has done to you, says our Holy Bible (Kamu harus mengingat apa yang telah Amalek lakukan kepadamu. Demikian firman Kitab Suci kita).” Dia mengacu pada kisah Amalek dalam Alkitab, yang beberapa bagiannya berisi perintah untuk menghancurkan musuh secara total. Dalam beberapa kesempatan, elit politik Yahudi juga berbicara tentang ambisi membentuk “Greater Israel” (Israel Raya). Ia adalah gagasan wilayah Israel yang mencakup area yang lebih luas (merujuk pada wilayah dalam Tanakh seperti dari Sungai Nil sampai Efrat).
Semua ini menunjukkan permusuhan ini melampaui batas negara Iran; menargetkan aspirasi dan keinginan yang tertanam di hati umat. Ini adalah pertarungan antara al-Haqq (kebenaran) dan al-Bâthil (kesesatan). Ini adalah sebuah Perang Salib modern. Benturan peradaban. Ini adalah ideologi kapitalisme yang rakus yang diperkuat dengan keyakinan agama mereka.
Pertahanan terhadap serangan terbuka ini hanya dapat terwujud sepenuhnya di bawah Panji Tauhid (Lâ ilâha illâ AlLâh, Muhammad RasûlulLâh). Jalan ke depan jelas: kehormatan dan perlindungan umat terletak pada apakah kita berpegang teguh pada manhaj kenabian atau tidak, baik secara intelektual maupun politik, hingga Islam ditegakkan kembali sebagai sistem pemerintahan melalui Khilafah.
Hanya dengan berdirinya Khilafah, delusi Hegseth akan bisa dilawan. Delusi yang dia kira bisa mencegah janji Allah SWT. Umat Islam sudah seharusnya meyakini kabar gembira akan kembalinya Khilafah ‘alâ minhâj an-Nubuwwah. Semua upaya mereka untuk membendung kembalinya Khilafah, untuk memadamkan cahaya Islam, akan gagal. Demikian sebagaimana firman Allah SWT (yang artinya): Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut-mulut (ucapan-ucapan) mereka, sementara Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai (TQS At-Taubah [9]: 32). AlLâhu Akbar! [Farid Wadjdi]





