
Memahamkan Keluarga Tentang Sistem Pergaulan Islam
Pergaulan bebas makin marak, bahkan menimpa anak-anak usia sekolah. Fenomena ini terjadi akibat adanya dorongan seksual yang menuntut pemuasan. Apalagi saat ini dunia maya menjadi santapan anak-anak. Banyak konten pornografi dan pornoaksi disajikan. Baik lewat film, sinetron, iklan atau di kehidupan nyata. Konten ini bebas diakses oleh siapa saja. Bahkan anak-anak. Akibatnya, mereka yang menyaksikan adegan tersebut akan terdorong untuk melakukan hal serupa. Apalagi di kalangan remaja yang labil.
Kondisi buruk ini terjadi akibat penerapan sistem sekuler. Sistem ini menjadikan kebebasan di atas segalanya. Salah satunya akibatnya adalah pergaulan bebas. Sistem ini menganut pemisahan agama dari kehidupan. Wajar jika pada akhirnya nilai agama disingkirkan. Agama hanya menjadi urusan individu. Minimnya bekal agama menjadikan para remaja ini kehilangan pegangan hidup. Akibatnya, pergaulan mereka semakin kebablasan. Yang lemah iman menjadi korban sistem yang rusak ini.
Bagaimanapun situasi ini harus dihadapi. Arus liberalisme demikian kuatnya melanda. Tayangan-tayangan di televisi dan media sosial seolah tidak ada remnya. Semua itu berpeluang besar membangkitkan syahwat. Wajar jika para orangtua sangat khawatir terhadap situasi ini. Karena itu mau tidak mau kita harus memberikan perhatian dan pemahaman ekstra untuk anak-anak kita. Pemahaman tentang sistem pergaulan Islam menjadi hal penting untuk ditanamkan kepada merea. Tentu agar mereka terhindar dari pergaulan bebas. Di sinilah pentingnya peran keluarga membentengi mereka dengan pemahaman Islam yang lurus. Lalu apa yang harus dilakukan?
- Menanamkan keimanan yang kokoh sejak dini.
Keimanan yang kokoh dalam keluarga merupakan hal yang sangat penting. Ia merupakan pondasi dasar bagi keberlangsungan tegaknya aturan Islam dalam keluarga. Orangtualah yang memiliki peran sentral dalam melaksanakan tugas utama ini. Inilah yang akan mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya sendi-sendi agama pada diri anak. Rasulullah saw. bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu dan bapaknyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR al-Bukhari).
Tujuan penanaman akidah pada anak adalah agar mereka mengenal betul siapa Allah, Penciptanya, Yang Maha Pengatur; juga mengenal Muhammad saw. sebagai utusan-Nya serta mencintai al-Quran dan meyakini seluruh aturan yang ada di dalamnya. Selanjutnya mereka rela diatur oleh syariah Islam.
- Menanamkan keterikatan pada syariah Islam.
Keberkahan akan berlimpah ketika syariah Islam diterapkan dalam sebuah keluarga. Karena itu keluarga berperan mengenalkan syariah Islam sejak dini pada seluruh anggota keluarga. Termasuk tentang sistem pergaulan dalam Islam. Rasulullah saw., “Perintahlah anak-anak kalian untuk mendirikan shalat tatkala mereka telah berumur tujuh tahun. Pukullah mereka karenanya tatkala mereka telah berumur sepuluh tahun.”
Mulai dengan membiasakan mereka menjalankan ibadah, menjelaskan tentang ahkâm al-khamsah, larangan mencuri, mengambil hak orang lain, cara berpakaian hingga bagaimana seharusnya bergaul dengan lawan jenis.
- Menjelaskan secara khusus sistem pengaulan Islam.
Ketika anak telah mumayyiz, maka orangtua sudah mulai menyampaikan hukum-hukum syariah dengan lebih detil, terutama berkaitan dengan sistem pergaulan dalam Islam dengan rinci. Dengan itu, ketika mereka balig, mereka telah siap menanggung beban hukum. Ketika anak-anak kita paham tentang aturan ini, maka bi idznilLâh mereka tidak akan terjerumus ke dalam pergaulan bebas.
Kita menjelaskan kepada anak-anak kita: Islam memiliki aturan bahwa laki-laki dan perempuan diperintahkan untuk menundukkan pandangan (QS an-Nur [24]: 30-31); Islam mewajibkan untuk menjaga sifat ’iffah (menjaga kesucian diri) (QS an-Nur [24]: 33); Islam mewajibkan menutup aurat dan memakai pakaian yang sempurna (QS an-Nur [24]: 31 dan QS al-Ahzab [33]: 59); Islam melarang laki-laki dan perempuan untuk ber-khalwat, melarang tabarruj bagi perempuan dan sebagainya.
Kita juga harus menyampaikan bahwa Allah telah mengharamkan hubungan seksual (shilah jinsiyah) sebelum pernikahan/zina (QS al-Isra’ [17]: 32; QS an-Nur [24]: 2).
Aturan-aturan inilah yang akan membentengi anak-anak kita dari pergaulan bebas.
- Menanamkan tanggung-jawab atas setiap perbuatan yang dilakukan.
Ketika anak sudah tamyîz, maka kita sudah bisa menumbuhkan kesadaran pada anak-anak kita bahwa segala perbuatan yang mereka kerjakan akan ada pertanggung-jawabannya. Amal baik akan dibalas dengan kebaikan. Amal buruk akan dibalas dengan keburukan. Dengan begitu, anak-anak akan berhati-hati dalam bertindak dan berucap. Mereka tidak akan mudah jatuh dalam suatu keburukan. Jika melakukan kekhilafan, ia segera menyadari lalu bertobat kepada Allah dan memperbaiki diri agar menjadi lebih baik.
Termasuk dalam hal mendidik tanggung jawab pada anak adalah menegur mereka dari kesalahan yang telah mereka lakukan. Sebagaimana diriwayatkan: Abdullah bin Busr ash-Shahabi ra. berkata: Ibuku pernah mengutus aku ke tempat Rasulullah saw. untuk memberikan setandan buah anggur. Akan tetapi, sebelum sampai kepada beliau, aku memakan sebagiannya. Ketika aku tiba di rumah Rasulullah, beliau menjewer telingaku seraya bersabda, “Wahai anak yang tidak amanah.” (HR Ibnu Sunni).
Rasulullah saw. memperlakukan anak sesuai dengan kadar kesalahan dan kondisi seorang anak. Sikap tanggung-jawab membuat anak-anak mampu mengendalikan dirinya.
- Berani berbeda dengan lingkungan yang pergaulan sosialnya menyimpang dari syariah.
Ketika iman yang kokoh telah terpatri dalam diri anak-anak dan anggota keluarga kita, maka akan muncul ketundukan kepada Allah dan Rasul-Nya, menjalankan syariah Islam dengan ikhlas dan istiqamah. Tidak takut terhadap orang-orang yang mencibir atau mencela karena mereka berbeda dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Sebaliknya, mereka bangga ber-Islam. Bangga menjadi seorang Muslim. Dalam situasi apapun mereka berani berbeda dengan lingkungan pergaulan yang tidak sesuai dengan syariah. Bahkan mereka berusaha mendakwahkan syariah Islam kepada orang-orang di sekitarnya. Percaya diri dengan keislaman mereka.
- Menjadi teladan bagi anak-anak.
Bagaimanapun anak-anak membutuhkan qudwah dan teladan yang baik, bahkan hingga ia dewasa. Maka dari itu, sudah seharusnya orangtua selalu memberi contoh yang baik kepada anak. Tentu agar tertanam dalam jiwa mereka benih-benih kebaikan yang akan menghunjam dalam sanubari mereka. Terbawa dalam setiap sikap dan perilaku mereka.
Keduanya harus memberikan contoh yang baik dan benar kepada anak-anaknya mengenai cara berbicara, bersikap, berpikir; menjalankan seluruh aturan Allah dalam keluarga dan kebiasaan sehari-hari. Orangtua adalah sekolah pertama dan utama bagi putra-putrinya. Keluarga adalah poros penting dalam proses pembentukan kepribadian seorang anak.
- Menanamkan kewaspadaan terhadap pengaruh media sosial.
Kemajuan teknologi memang memberikan pengaruh positif terhadap kehidupan manusia. Informasi apapun semakin mudah dan cepat didapat. Hanya saja, pengaruh negatifnya pun tidak sedikit. Yang menjadi permasalahan adalah konten medsos saat ini sudah sangat tidak terkendali sehingga berbahaya bagi anak-anak. Banyak kasus kejahatan dan pelecehan seksual terhadap teman sebaya dilakukan anak-anak dan remaja karena terinspirasi konten di medsos.
Oleh karena itu, penting untuk selalu waspada terhadap pengaruh medsos ini. Orangtua harus menjelaskan apa pengaruh buruk dan baik media sosial dan tetap mengontrol anak-anaknya agar tidak mengkonsumsi konten medsos yang negatif. Selain itu dituntut pula agar keluarga Muslim peka terhadap lingkungan sekitarnya. Pembentukan lingkungan yang kondusif di tengah-tengah masyarakat menjadi hal penting bagi keberlangsungan kehidupan anak. Budaya beramar makruf nahi mungkar di masyarakat menentukan sehat-tidaknya sebuah masyarakat.
- Memilihkan teman dan komunitas yang membawa pada ketakwaan.
Fakta menunjukkan bahwa sebagian besar pertemanan yang baik berpengaruh baik pada perilaku seseorang. Sebaliknya, pertemanan yang buruk berpengaruh buruk pula pada perilaku seseorang. Dalam Islam, seorang Muslim diperintahkan untuk menjaga pertemanan dengan baik, tentu saja bukan dengan sembarang orang. Bukan juga sembarang pertemanan yang bisa membuat tertawa, tetapi pertemanan yang menguatkan ketakwaan. Teman yang bertakwa bukan sekadar menciptakan suasana bahagia, tetapi juga menciptakan energi positif untuk selalu giat beribadah, beramal shalih dan berdakwah. Nabi saw. mengumpamakan teman yang shalih seperti pedagang parfum yang turut menyebarkan aroma wangi pada orang di sekitarnya. “Penjual minyak wangi mungkin akan memberi kamu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi dari dia. Kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum dari dirinya.” (HR Muslim).
Penutup
Demikianlah. Islam dengan sangat rinci dan detil mengatur bagaimana seharusnya keluarga Muslim berperan menjaga pelaksanaan syariah Islam dalam keluarga, termasuk berkaitan dengan sistem pergaulan dalam Islam. Karena itu sudah menjadi keharusan untuk terus berusaha agar rumah kita benar-benar menjadi tempat yang sarat dengan kebaikan dan selalu dinaungi dengan keberkahan dan keselamatan baik dunia maupun akhirat.
Hanya saja, untuk mewujudkan keluarga yang senantiasa berjalan sesuai syariah Islam membutuhkan adanya peran sistem yang mendukung. Bagaimanapun gempuran dari luar akan senantiasa menghadang, baik pemikiran yang merusak, godaan gaya hidup maupun kesulitan ekonomi. Di sinilah pentingnya mewujudkan penegakan syariah Islam di tengah-tengah umat. Hanya di bawah naungan sistem Islam sajalah, keluarga Muslim akan leluasa menjalankan syariah Islam secara kâffah.
Oleh karena itu, mari seluruh keluarga Muslim yang diberkahi Allah SWT menguatkan tekad dan bergandengan tangan bersama mengembalikan penagakan syariah Islam sehingga tercapai kebahagiaan hakiki dalam naungan Khilafah Islamiyah.
WalLâhu’alam. [Najmah Saiidah]





