Nisa

Muslimah Penggerak Hijrah Umat

Setiap kali Tahun Baru Hijrah datang, umat Islam kembali mengenang peristiwa besar yang menjadi tonggak sejarah peradaban, yaitu Hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Tema hijrah pun kembali mengemuka dalam kajian, tausiyah, tabligh akbar dan lain-lain.

Banyak yang memaknai hijrah sebagai perubahan diri menjadi lebih baik; dengan memperbaiki ibadah, memperbaiki akhlak, meninggalkan maksiat dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semua itu tentu merupakan makna yang penting. Akan tetapi, Hijrah Rasulullah SAW mengandung makna yang jauh lebih besar daripada sekadar perubahan individu.

Sebelum hijrah, kaum Muslim telah memiliki akidah yang kuat, melaksanakan ibadah, sudah memiliki kepribadian Islam yang kokoh. Akan tetapi, Islam belum diterapkan sebagai aturan kehidupan masyarakat secara menyeluruh. Setelah hijrah ke Madinah, keadaan berubah. Syariah Islam mulai diterapkan dalam kehidupan. Rasulullah SAW memimpin masyarakat, menyelesaikan sengketa, mengatur perekonomian, hubungan sosial, keamanan, pendidikan, hingga hubungan dengan negara-negara lain.

Hijrah Rasulullah SAW menunjukkan bahwa risalah Islam tidak berhenti pada pembinaan individu, tetapi berlanjut hingga terwujud kehidupan yang diatur oleh wahyu. Karena itu, meneladani Hijrah Rasulullah saw. berarti menjadikan perjuangan beliau sebagai arah perubahan umat hari ini.

 

Dari Cinta Islam Menuju Pemahaman Islam Kâffah

Tantangan dakwah di Indonesia saat ini bukan semata-mata mengajak umat mencintai Islam. Mayoritas umat sudah memiliki kecintaan itu. Tantangannya adalah mengubah kecintaan tersebut menjadi pemahaman yang benar. Banyak kaum Muslim merasa Islam adalah agama terbaik. Akan tetapi, mereka seolah masih meragukan kemampuan syariah Islam dalam mengatur ekonomi, politik, pendidikan, atau pemerintahan. Semua ini akibat dari sekularisasi agama. Islam diterima di masjid, tetapi tidak di ruang publik. Islam diterima sebagai ibadah, tetapi tidak sebagai solusi kehidupan.

Di sinilah diperlukan transformasi pemikiran. Dari memahami Islam sebagai agama spiritual semata menuju pemahaman bahwa Islam adalah petunjuk hidup yang sempurna. Allah SWT berfirman:

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ ٣

Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Aku cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan telah Aku ri­dhai Islam sebagai agama bagi kalian (QS al-Maidah [5]: 3).

Allah SWT telah memerintahkan agar Islam diterapkan secara total, bukan parsial. Allah SWT berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةٗ ٢٠٨

Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan (QS al-Baqarah [2]: 208).

Oleh karena itu, perjuangan untuk menghadirkan sistem Islam merupakan bagian dari kewajiban umat.

 

Jejak Muslimah dalam Perubahan Peradaban

Sejarah Islam membuktikan bahwa para Muslimah senantiasa hadir dalam momentum-momentum perubahan besar. Khadijah binti Khuwailid ra. adalah orang pertama yang membenarkan risalah Rasulullah SAW. Dukungan moral, materi dan pemikirannya menjadi salah satu faktor penting yang menguatkan dakwah Islam pada fase awal yang penuh tekanan. Asma’ binti Abu Bakar ra. memainkan peran penting dalam peristiwa hijrah. Beliau menyiapkan logistik dan membantu menjaga kerahasiaan perjalanan Rasulullah SAW dan Abu Bakar ra. menuju Madinah.

Setelah wafat Rasulullah SAW, kontribusi Muslimah tetap berlanjut. Aisyah binti Abi Bakar menjadi rujukan para Sahabat dan Tâbi’în dalam fikih, hadis dan berbagai persoalan syariah. Asy-Syifa binti ‘Abdillah, pada masa Khalifah Umar bin al-Khaththab ra., dipercaya membantu pengawasan pasar dan urusan administrasi publik. Umm ad-Darda as-Sughra, menjadi ulama terkemuka di Damaskus. Fatimah binti Abdul Malik mendukung kebijakan-kebijakan reformasi suaminya, Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Zubaidah binti Ja’far, proyek terkenalnya dikenal sebagai “Ain Zubaidah”, yang selama berabad-abad membantu kebutuhan air di jalur haji menuju Makkah. Nurbanu Sultan berperan dalam pengelolaan berbagai wakaf yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

Kisah para Shahabiyah dan Muslimah pada masa Khilafah tidak dituturkan sekadar untuk dikenang atau dibanggakan, tetapi untuk dijadikan rujukan dan inspirasi oleh Muslimah masa kini. Dari mereka, Muslimah belajar bagaimana menggabungkan keimanan, ilmu, pengorbanan dan keberanian sehingga mampu memberikan kontribusi terbaik bagi Islam, umat, dan perubahan masyarakat menuju kebaikan.

 

Menjadi Muslimah Penggerak Perubahan

Peran pertama dan paling mendasar bagi Muslimah adalah membangun kesadaran ideologis di tengah masyarakat. Ini berarti membantu Muslimah lain memahami akar persoalan yang mereka hadapi dan menghubungkannya dengan solusi Islam. Ketika mereka mengeluhkan mahalnya pendidikan, harga kebutuhan terus naik, sulitnya lapangan kerja, maraknya kerusakan moral, atau ketidakadilan hukum, Muslimah dapat mengarahkan diskusi agar tidak berhenti pada keluhan atau pergantian figur pemimpin semata. Mereka bisa mengarahkan kaum Muslimah lain agar sampai pada pemahaman tentang pentingnya aturan yang bersumber dari syariah Islam. Mereka harus menjelaskan bahwa kesulitan hidup itu karena penerapan sistem Kapitalisme–sekuler. Aktivitas ini dapat dilakukan melalui obrolan harian, forum diskusi, tulisan, media sosial maupun percakapan sehari-hari yang mencerahkan. Dengan cara itulah kesadaran umat dibangun sedikit demi sedikit hingga lahir opini umum yang mendukung penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan.

 

Menjadi Pendidik Generasi Perubahan

Peran strategis berikutnya adalah membina generasi yang akan melanjutkan perjuangan Islam. Muslimah yang memahami misi peradaban Islam akan menjadikan rumahnya sebagai pusat pembinaan generasi pejuang. Bukan sekadar tempat memenuhi kebutuhan biologis dan materi. Ia tidak hanya mengajarkan shalat, membaca al-Quran, atau adab sehari-hari. Ia juga menumbuhkan kecintaan pada Islam, kepedulian terhadap umat dan kebiasaan melihat persoalan hidup dengan tolok ukur halal dan haram.

Di rumah, ia menanamkan akidah, adab dan kecintaan pada Islam kepada anak-anaknya. Di lingkungan sekitar, ia membina Muslimah lain, mendampingi remaja, menghidupkan majelis ilmu, dan menyebarkan kesadaran Islam melalui berbagai sarana dakwah. Dari rumahnya lahir generasi yang kokoh keislamannya. Melalui aktivitasnya di tengah masyarakat lahir lingkungan yang semakin dekat dengan nilai-nilai Islam. Dengan cara inilah Muslimah menjadi jembatan antara pembinaan keluarga dan kebangkitan umat.

 

Menggerakkan Opini Umum Islam

Perubahan masyarakat tidak cukup dilakukan pada level individu. Harus ada opini umum yang mendukung penerapan Islam. Karena itu Muslimah perlu aktif membangun opini Islam di tengah masyarakat. Ketika muncul berbagai kebijakan yang zalim, kerusakan moral akibat liberalisme, penjajahan ekonomi, atau kezaliman terhadap kaum Muslim di berbagai negeri, Muslimah tidak boleh diam. Mereka harus menjelaskan persoalan dari sudut pandang Islam dan menunjukkan solusi yang berasal dari syariah. Aktivitas ini dapat dilakukan melalui berbagai forum kajian, komunitas Muslimah, artikel dan opini, konten media sosial, seminar dan diskusi publik dan pendidikan masyarakat. Dengan cara ini, masyarakat akan semakin memahami bahwa sumber masalah bukan sekadar individu yang buruk, melainkan sistem yang rusak.

 

Bergabung dalam Jamaah Dakwah Ideologis

Perubahan besar tidak mungkin diwujudkan secara individual. Rasulullah SAW membangun perubahan melalui aktivitas dakwah yang terorganisasi bersama para Sahabat. Demikian pula perjuangan menegakkan Islam pada masa kini memerlukan kerja kolektif yang terarah. Karena itu Muslimah perlu mengambil bagian dalam jamaah dakwah ideologis yang memperjuangkan penerapan Islam secara menyeluruh. Melalui kerja jamaah, pembinaan umat menjadi lebih sistematis, penyebaran pemikiran Islam lebih luas dan perjuangan perubahan memiliki arah yang jelas.

Keterlibatan Muslimah dalam dakwah jamaah bukan berarti mengabaikan peran keluarga. Justru keduanya dapat berjalan beriringan ketika dibangun atas kesadaran bahwa dakwah adalah kewajiban yang harus menjadi bagian dari kehidupan seorang Muslim.

Perjuangan perubahan tidak selalu mudah. Akan ada tantangan, tekanan, fitnah, bahkan upaya pelemahan dari berbagai pihak. Di sinilah Muslimah perlu meneladani para Shahabiyah yang tetap teguh meskipun menghadapi ujian berat. Keteguhan seorang Muslimah dalam memegang prinsip Islam akan memberikan inspirasi bagi lingkungan sekitarnya. Ia menjadi bukti bahwa kehidupan berdasarkan syariah bukan utopia, melainkan sesuatu yang dapat diperjuangkan dengan kesungguhan.

 

Penutup

Muslimah hari ini berada pada posisi yang sangat strategis. Dengan jumlah yang besar, kedekatan dengan institusi keluarga, akses terhadap pendidikan dan media, serta kemampuan membangun pengaruh sosial, Muslimah memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak perubahan. Menjadi kewajiban bagi Muslimah mengambil peran lebih besar dalam membangun kesadaran umat, membina generasi, menggerakkan opini umum Islam, dan terlibat aktif dalam dakwah ideologis yang mengarah pada penerapan syariah Islam secara kâffah.

WalLâhu a’lam. [Ir. Ratu Erma R]

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eighteen + 3 =

Back to top button