
Hijrah Personal
DARI Umar bin al-Khaththab ra. hingga Fudhail bin ‘Iyadh rahimahulLâh. Tidak ada manusia yang terlalu baik sehingga tidak memerlukan hijrah. Sebaliknya, tidak ada manusia yang terlalu buruk sehingga tidak mungkin berhijrah.
Hijrah—secara personal—bukanlah perpindahan kaki dari satu tempat ke tempat lain. Hijrah personal adalah perpindahan hati: dari gelap menuju terang; dari lalai menuju sadar; dari dunia menuju akhirat; dari maksiat menuju taat.
Karena itu sejarah Islam sesungguhnya adalah sejarah hijrah. Di antara kisah hijrah secara personal paling menakjubkan adalah kisah Umar bin al-Khaththab ra. Siapa yang menyangka, ia yang dulu berangkat dengan pedang terhunus untuk membunuh Rasulullah SAW justru kemudian menjadi pembela Islam paling perkasa?
Saat itu Umar adalah sosok yang ditakuti. Keras. Tegas. Bahkan pernah menjadi momok bagi kaum Muslim. Akan tetapi, Allah SWT membolak-balikkan hati manusia. Ketika Umar mendengar ayat-ayat al-Quran dibaca oleh adiknya, Fathimah binti al-Khaththab, hatinya yang keras itu tiba-tiba luluh. Air matanya jatuh. Dadanya bergetar. Ia berkata, “Betapa indah dan mulianya kalam ini!”
Sejak saat itu Umar berubah. Bukan berubah sedikit. Tetapi berubah total. Dari pemburu kaum Muslim menjadi pelindung kaum Muslim. Dari musuh dakwah menjadi benteng dakwah. Lihatlah ketika kaum Muslim diperintahkan untuk berhijrah ke Madinah. Sebagian besar mereka berangkat secara diam-diam. Mereka khawatir dihalangi atau disiksa oleh kaum Quraisy. Akan tetapi, Umar berbeda. Ia mendatangi Ka’bah. Bertawaf tujuh kali. Setelah itu ia berdiri di hadapan kaum Quraisy sambil berkata, “Siapa saja yang ingin ibunya kehilangan anaknya, istrinya menjadi janda dan anaknya menjadi yatim, hendaklah ia menghadang aku di balik lembah ini!”
Tak seorang pun berani menjawab tantangannya. Umar kemudian berhijrah secara terang-terangan. Betapa dahsyat perubahan itu! Dulu pedangnya terhunus untuk memusuhi Islam. Setelah itu pedang yang sama dihunus demi membela Islam.
Kisah hijrah Umar ra. diriwayatkan oleh Muhammad bin Ishaq dalam As-Sîrah an-Nabawiyyah, juga dinukil oleh Ibnu Hisyam dalam As-Sîrah an-Nabawiyyah.
Kisah lain yang tak kalah menyentuh adalah kisah Malik bin Dinar rahimahulLâh. Ia adalah seorang taabi’iin yang terkenal zuhud. Akan tetapi, siapa sangka, masa lalunya justru sangat kelam. Ia pernah menjadi peminum khamr. Bahkan sangat kecanduan. Di tengah kehidupan yang rusak itu, Allah mengaruniai dia seorang anak perempuan yang sangat dia cintai. Anak itu menjadi cahaya hidupnya. Ketika Malik hendak meminum khamr, putrinya sering merebut gelas itu dan menumpahkan isinya. Malik hanya tersenyum. Ia sangat mencintai putrinya.
Akan tetapi, ujian datang. Anak perempuan itu meninggal dunia. Hancur hati Malik. Ia semakin tenggelam dalam minuman keras. Hingga suatu malam ia bermimpi. Dalam mimpinya ia melihat Hari Kiamat telah tiba. Kubur-kubur dibangkitkan. Manusia berlarian. Ia pun berlari ketakutan. Di belakangnya seekor ular raksasa mengejar dirinya. Di tengah pelariannya, tiba-tiba ia bertemu dengan putrinya yang telah meninggal. Anak itu memeluknya. Lalu berkata, “Wahai Ayah, bukankah telah datang waktunya bagi orang-orang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?”
Malik menangis dalam mimpinya. Lalu terbangun. Tubuhnya basah oleh air mata. Sejak saat itu ia bertobat. Ia meninggalkan khamr. Ia lalu memperbanyak ibadah. Ia bahkan kemudian menjadi ulama besar dan ahli zuhud yang terkenal.
Kisah tobat Malik bin Dinar disebutkan oleh Abu Nu’aim al-Ashbahani dalam Hilyah al-Awliyâ’, II/357-358); juga dinukil oleh Ibnu Qudamah dalam Kitab At-Tawwaabiin.
Kisah hijrah berikutnya bahkan lebih menggetarkan. Ia adalah Fudhail bin ‘Iyadh rahimahulLâh. Siapa Fudhail? Ia bukan ulama sejak kecil. Bukan ahli ibadah sejak muda. Ia justru seorang perampok jalanan sejak remaja hingga dewasa. Namanya sangat ditakuti. Orang-orang yang hendak bepergian selalu berkata, “Hati-hati! Jangan melewati jalan itu! Ada Fudhail bin ‘Iyadh!”
Begitulah kehidupannya. Penuh maksiat. Sarat perampokan. Dosa demi dosa ia lakukan. Hingga datang suatu malam. Malam itu mengubah seluruh hidupnya. Saat itu ia sedang memanjat tembok menuju rumah seorang wanita yang dia cintai. Tiba-tiba dari rumah sebelah terdengar seseorang membaca al-Quran:
Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah? (QS al-Hadid [57]: 16).
Ayat itu menghantam jantungnya. Fudhail terdiam. Tubuhnya gemetar. Lalu ia menangis dan berkata, “Benar, duhai Tuhanku. Sungguh telah tiba waktunya.”
Malam itu ia tidak melanjutkan maksiatnya. Ia segera pulang. Ia segera bertobat. Meninggalkan seluruh masa lalunya. Lalu ia pergi ke Makkah. Mendalami Islam. Ia menjadi ahli ibadah. Menjadi ahli hadis. Menjadi ulama besar. Namanya kemudian dikenang sepanjang zaman. Dari seorang penjahat menjadi seorang wali Allah. SubhânalLâh.
Betapa luas rahmat Allah. Betapa terbukanya pintu tobat. Kisah tobat dan hijrah Fudhail bin ‘Iyadh diriwayatkan oleh Abu Nu’aim al-Ashbahani dalam Hilyah al-Awliyâ’ wa Thabaqât al-Ashfiyaa’, 8/87-88; juga dinukil oleh Imam adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam an-Nubalâ’, 8/421-422).
Demikianlah. Hijrah tidak mengenal usia. Tidak mengenal profesi. Tidak mengenal masa lalu. Umar berhijrah dari kekerasan. Malik bin Dinar berhijrah dari kemaksiatan. Fudhail berhijrah dari kejahatan. Mereka semua memiliki satu kesamaan: Mereka tidak menunda. Ketika hidayah datang, mereka segera menyambutnya. Ketika hati tersentuh, mereka segera berubah. Sebabnya, mereka tahu, usia tidak pernah memberi tahu kapan ia akan berakhir.
Karena itu hijrah tidak perlu menunggu sempurna. Berhijrahlah maka Allah akan menyempurnakan dirimu. Berhijrahlah, meski perlahan. Berhijrahlah, meski tertatih. Dari jauh menjadi dekat dengan Allah. Dari lalai menjadi taat. Dari kehidupan yang sia-sia menuju kehidupan yang penuh makna.
Alhasil, jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Toh, setiap manusia punya noda masa lalu. Sekecil apapun. Akan tetapi, setiap manusia juga punya masa depan yang belum ternoda sedikit pun. Tinggal bagaimana kita mengisi masa depan kita dengan ragam ketaataan. Itulah hijrah (secara personal).
Wa mâ tawfîqî illâ bilLâh. [Arief B. Iskandar]





