
Generasi Rabbani
Ramadhan telah berlalu. Hari-hari yang penuh keberkahan itu telah meninggalkan kita. Masjid yang sebelumnya penuh oleh jamaah qiyamullail perlahan kembali lengang. Mushaf al-Quran yang selama sebulan sering disentuh, dibaca dan di-tadabburi, perlahan kembali tersimpan di rak-rak rumah.
Padahal Ramadhan sejatinya bukanlah tujuan akhir. Ia hanyalah madrasah ruhaniyah. Tempat seorang Muslim ditempa selama sebulan penuh agar keluar darinya sebagai pribadi yang lebih bertakwa (Lihat: QS al-Baqarah [2]: 183).
Karena itu keberhasilan Ramadhan bukanlah diukur dari berapa banyak amal yang kita lakukan selama Ramadhan, tetapi sejauh mana amal tersebut tetap hidup sepanjang tahun setelah Ramadhan berlalu.
Sayangnya, sebagian manusia hanya mengenal Allah pada bulan Ramadhan. Ketika Ramadhan datang, mereka menjadi sangat rajin beribadah. Shalat berjamaah, qiyamullail, tilawah al-Quran, sedekah, dan berbagai amal lainnya. Akan tetapi, ketika Ramadhan berlalu, semua itu ikut berlalu.
Fenomena ini telah lama dikritik oleh para ulama salaf. Salah seorang di antaranya adalah Bisyr al-Hafi rahimahulLâh. Beliau berkata:
Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengenal hak Allah kecuali pada bulan Ramadhan saja. Sungguh orang yang benar-benar shalih adalah orang yang beribadah dan bersungguh-sungguh (dalam ketaatan) sepanjang tahun (Ibnu Rajab, Lathâ’if al-Ma’ârif, hlm. 222).
Inilah gambaran ”Generasi Ramadhani”. Mereka beribadah hanya pada musim tertentu.
Sebaliknya, ”Generasi Rabbani” adalah mereka yang beribadah dan istiqamah dalam ketaatan kepada Allah SWT sepanjang usia. Mereka memahami bahwa Rabb Ramadhan juga adalah Rabb sebelas bulan lainnya. Karena itu Rasulullah SAW pernah memberikan nasihat yang sangat singkat, tetapi amat mendalam. Beliau bersabda: Katakanlah, ”Aku beriman kepada Allah. Kemudian beristiqamahlah!” (HR Muslim).
Istiqamah dalam ketakwaan adalah ruh dari kehidupan seorang Mukmin. Karena itu seseorang yang benar-benar menang setelah Ramadhan adalah mereka yang kehidupannya berubah menjadi lebih taat. Lebih bertakwa. Tak banyak melakukan dosa. Mereka inilah sesungguhnya yang layak merayakan Hari Raya. Demikian sebagaimana dinyatakan oleh Abdullah bin al-Mubarak:
Setiap hari yang di dalamnya aku tidak bermaksiat kepada Allah, maka itulah hari raya bagiku (Al-Mawardi, Adab ad-Dunyâ wa ad-Dîn, I/131).
Betapa indahnya pandangan ini. Seorang Mukmin tidak menunggu Hari Raya untuk merasakan kebahagiaan. Ia merasakan Hari Raya setiap kali berhasil menjaga dirinya dari dosa.
Di sisi lain, ada satu pertanyaan besar yang sering muncul setelah Ramadhan berlalu: Apakah puasa dan amal-amal kita selama Ramadhan diterima oleh Allah? Jawaban pasti tentu hanya Allah yang tahu. Akan tetapi, para ulama memberikan indikasi penting. Imam Ibnu Katsir menyatakan:
Di antara balasan suatu kebaikan adalah kebaikan setelahnya. Sebaliknya, di antara balasan keburukan adalah keburukan setelahnya (Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’an al-’Azhîm, 2/498).
Para generasi salaf memberikan teladan luar biasa dalam menjaga amal setelah Ramadhan. Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib ra. justru lebih khawatir tentang amal yang tidak diterima amal daripada banyaknya amal itu sendiri. Sebagaimana dikutip oleh Ibnu Abi ad-Dunya, dalam Al-Ikhlâsh wa an-Niyyah, Imam Ali ra. berkata, “Kalian harusnya lebih memperhatikan amal-amal itu diterima daripada melakukan banyak amal.”
Demikian pula Imam Malik. Disebutkan dalam Tartîb al-Madârik karya al-Qadhi Iyadh bahwa setelah Ramadhan berlalu, beliau tetap menjaga wirid, tilawah al-Quran dan qiyamullail sebagaimana selama bulan Ramadhan. Para salaf tidak mengenal istilah “libur dari ibadah.” Bagi mereka, Ramadhan hanyalah titik awal peningkatan amal, bukan akhir.
Agar tidak terjatuh menjadi ”Generasi Ramadhani”, ada beberapa hal yang perlu dijaga. Pertama, selalu mengingat kematian. Kesadaran akan kematian membuat seseorang menjaga amalnya hingga akhir hayat. Rasulullah SAW bersabda:
Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada penutupnya (HR al-Bukhari).
Kedua, menaati Allah dan Rasul-Nya secara total. Sebabnya, banyak manusia yang akhirnya menyesal karena dulu mengikuti pemimpin atau tokoh yang menyesatkan mereka (Lihat: QS al-Ahzab [33]: 66–68).
Ketiga, bersabar dalam ketaatan (Lihat: QS al-Ankabut [29]: 2). Rasulullah SAW bahkan menyebut orang yang sabar berpegang pada agama di akhir zaman memperoleh pahala besar: “Orang yang bersabar di tengah mereka mendapat pahala seperti pahala lima puluh orang dari kalian.” (HR Abu Dawud).
Keempat, menjaga amal meskipun sedikit. Rasulullah SAW bersabda, ”Amalan yang paling Allah cintai adalah yang paling terus-menerus meskipun sedikit.” (HR Muslim).
Semoga Allah SWT menjadikan kita bagian dari ”Generasi Rabbani. Bukan ”Generasi Ramadhani”. Itulah generasi yang istiqamah dalam ketaatan sepanjang tahun hingga akhir hayat. Demikian sebagaimana firman-Nya (yang artinya): Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ”Rabb kami adalah Allah,’ kemudian mereka beristiqamah…” (QS Fushshilat [41]: 30).
Semoga kita termasuk di dalamnya.
Wa mâ tawfîqî illâ bilLâh. [Arief B. Iskandar]





