
Sahabat al-Quran
RASULULLAH SAW bersabda, ”Bacalah oleh kalian al-Quran. Sungguh al-Quran itu akan menjadi syafaat (penolong) bagi para sahabatnya pada Hari Kiamat kelak.” (HR Ahmad).
Rasulullah SAW juga bersabda, “Al-Quran kelak akan menjadi pembela atau pendakwamu.” (HR Muslim).
Kalimat ini singkat, tetapi mengguncang. Al-Quran bukan sekadar bacaan netral. Ia bisa menjadi sahabat yang membela kita atau pendakwa yang memberatkan kita. Semua bergantung pada bagaimana hubungan kita dengan al-Quran. Akrab atau asing. Dekat atau sekadar lewat di bibir.
Bagi seorang Mukmin, al-Quran sejatinya bukan seperti buku yang hanya disimpan di rak. Al-Quran hendaknya menjadi sahabat dalam perjalanan hidupnya. Ia seperti cahaya di lorong gelap; seperti kompas di tengah kebingungan; dan cermin yang jujur. Siapa yang bersahabat dengan al-Quran, jiwanya akan dibentuk oleh al-Quran. Siapa yang menjauhi al-Quran akan dibiarkan meraba-raba dalam kegelapan.
Rasulullah SAW adalah al-Quran yang berjalan. Ketika Aisyah ra. ditanya tentang akhlak beliau, ia menjawab, “Akhlak beliau adalah al-Quran.” (HR Muslim).
Artinya, al-Quran bukan hanya dibaca oleh Nabi SAW, tetapi hidup dalam ucapan, sikap, keputusan, air mata dan doa-doa beliau. Inilah teladan tertinggi: menjadikan al-Quran sebagai karakter keseharian. Bukan sekadar bacaan.
Sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq ra. dikenal sebagai sosok yang lembut hatinya. Ketika membaca al-Quran dalam shalat, beliau sering terisak hingga suaranya terdengar oleh orang-orang di sekitarnya. Bahkan kaum Quraisy pernah mengeluh karena bacaan Abu Bakar yang penuh tangis itu “mengganggu” hati mereka (Lihat: Ibn Katsir, Al-Bidâyah wan-Nihâyah, 3/79). Al-Quran bagi beliau bukan teks mati, tetapi pesan langsung dari Allah yang mengetuk relung terdalam hati.
Sahabat lainnya, Umar bin al-Khaththab ra., memeluk Islam bukan karena debat panjang, tetapi karena satu ayat al-Quran yang menghujam dadanya. Ketika itu diperdengarkan kepada beliau firman Allah (yang artinya): Sesungguhnya Aku ini adalah Allah. Tidak ada tuhan selain Aku. Karena itu sembahlah Aku (TQS Thaha [20]: 14). Seketika tubuhnya gemetar. Kesombongannya pun runtuh. Dari ayat itulah lahir sosok Umar yang baru. Sosok yang kukuh imannya. Tegas dalam keadilan dan lembut dalam takut kepada Allah (Lihat: Ibn Hisyam, As-Sîrah an-Nabawiyyah, 1/366).
Sahabat Utsman bin Affan ra. juga memiliki hubungan yang sangat intim dengan al-Quran. Beliau dikenal sering mengkhatamkan al-Quran setiap malam. Beliaulah yang tegas berkata, “Andai hati kita bersih, niscaya ia tidak akan pernah kenyang dari membaca al-Quran.” (Lihat: Abu Nu’aim, Hilyah al-Awliyâ’, 1/61). Kalimat ini seperti cermin bagi kita. Jika kita malas membaca al-Quran, pastinya bukan al-Quran yang kurang menarik, tetapi hati kita yang hitam pekat. Terlalu kotor dengan dosa-dosa.
Bukan sekadar dibaca, al-Quran juga selayaknya dipahami isinya. Terkait itu Ali bin Abi Thalib ra. pernah berkata, “Ketahuilah, tidak ada kebaikan dalam ibadah tanpa pemahaman, dan tidak ada kebaikan dalam membaca al-Quran tanpa tadabbur.” (Lihat: Ad-Darimi, Sunan ad-Dârimi, 1/70).
Tentu bukan hanya dibaca dan dipahami, al-Quran juga wajib diamalkan dalam seluruh aspek kehidupan.
Generasi taabi’in mewarisi hubungan batin yang sangat intim dengan al-Quran ini. Said bin Zubair ra., misalnya. Ia biasa mengkhatamkan al-Quran setiap dua malam. Bahkan pada sepuluh malam terakhir Ramadhan beliau mengkhatamkan al-Quran setiap malam (Lihat: Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubalâ’, 4/321). Yang lebih menakjubkan bukan jumlah khatamannya, melainkan kekhusyukan dan rasa takutnya ketika membaca ayat-ayat azab.
Berikutnya Imam Abu Hanifah ra. Diriwayatkan, beliau mengkhatamkan al-Quran 61 kali selama Ramadhan. Sebanyak 30 kali di siang hari dan 30 kali di malam hari. Sekali pada malam Id (Lihat: Al-Makki, Manâqib Abi Hanîfah, 1/161). Akan tetapi, al-Quran tidak menjadikan beliau sombong. Justru beliau dikenal sangat wara’, lembut dan takut berfatwa tanpa ilmu.
Teladan berikutnya, Imam Malik bin Anas ra., setiap kali hendak membaca al-Quran atau Hadis Nabi saw., lebih dulu mandi, memakai pakaian terbaik dan duduk dengan penuh wibawa. Ketika ditanya mengapa demikian, beliau menjawab, “Aku ingin mengagungkan Kalam Allah.” (Lihat: Ibn Abd al-Barr, Al-Intiqâ’, hlm. 35). Bagi beliau, al-Quran bukan bacaan biasa. Ia adalah tamu agung yang harus disambut dengan adab.
Teladan berikutnya adalah Imam Ahmad bin Hanbal ra. Beliau pernah membaca berulang-ulang sepanjang malam satu ayat al-Quran (yang artinya): Jika Engkau mengazab mereka maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu (TQS al-Maidah [5]: 118). Beliau menangis hingga pagi tanpa beralih ke ayat lain (Lihat: Ibn al-Jauzi, Manâqib al-Imam Ahmad, hlm. 187). Inilah persahabatan sejati dengan al-Quran: berhenti, terdiam, lalu rubuh di hadapan satu ayat al-Quran.
Demikianlah. Al-Quran membentuk siang dan malam mereka; air mata dan amal mereka. Terkait itu, Imam Hasan al-Bashri ra. berkata, “Demi Allah, orang sebelum kalian tidak menganggap al-Quran sebagai bacaan huruf-hurufnya saja, tetapi sebagai amanah yang harus diamalkan.” (Lihat: Al-Ajurri, Akhlâq Ahl al-Qur’ân, hlm. 41).
Menjadikan al-Quran sebagai sahabat berarti membawa al-Quran dalam sepi maupun ramai. Ia menemani saat kita lemah, menegur saat kita lalai dan menguatkan saat kita hampir jatuh. Menjadikan al-Quran teladan berarti membiarkan ayat-ayatnya mengoreksi pilihan hidup kita, meski terasa pahit bagi hawa nafsu kita.
Jika hari ini al-Quran terasa jauh, mungkin bukan karena ia menjauh, tetapi karena ia jarang kita sapa dengan hati. Jika ayat-ayatnya tak lagi menggugah, mungkin karena ia terlalu sering kita baca tanpa kehadiran jiwa kita.
Alhasil, barangkali yang paling kita butuhkan hari ini bukan metode cepat mengkhatamkan al-Quran, tetapi hati yang mau duduk lama bersama al-Quran. Membiarkan al-Quran berbicara kepada kita. Membiarkan al-Quran menegur kita. Membiarkan al-Quran menuntun kita.
Yakinkah, al-Quran tidak akan pernah mengkhianati sahabatnya. Justru kitalah yang sering meninggalkan al-Quran. Kadang sampai berbulan-bulan. Begitu enteng. Sama sekali tanpa beban.
Wa mâ tawfîqî illâ bilLâh. [Arief B. Iskandar]





