Tarikh

Penerapan Syariah di Bilad al-Jawi Masa Khilafah Utsmaniyah (Bagian Kedua)

  1. Realitas Penerapan Syariah di Nusantara

Laporan Konsul Batavia Mehmed Kamil Bey, 1897 kepada Turhan Pasya Wazir Luar Negeri:

Di semua provinsi dan kabupaten yang membutuhkan perwakilan khusus pemerintah, pihak berwenang malah menunjuk orang bodoh untuk bertindak sebagai qadhi dan penerjemah.” (Bidang Hukum).

Laporan Konsul Batavia Ali Galip Bey, 1886 kepada Khalifah Abdul Hamid II:

Sebelum Islam memperoleh kekuatan di sini, orang – orang Eropa mencegah penerapan kewajiban-kewajiban tertentu yang bertentangan dengan kepentingan mereka. Itu sebabnya, menutup aurat wanita yang merupakan kewajiban syariat saat ini tidak lagi diakukan.” (Bidang Hukum).

 

Kesaksian Syaikhuna Tubagus Ahmad Bakri as-Samfuri:

Syaikhuna Bakri Sempur merupakan keturunan dari Qadhi Kesultanan Banten, al-Qadhi (penghulu) Tubagus Arsyad al-Bantani. Beliau menjelaskan:

اري جلم انو ايا دي تانه جاوا بهلا نمه غاكو۲ كان مذهب الشافعي رضي الله عنه كو سغكائن فريبدي اينامه فرانتوس جمفور ادوك كاتراغن ننا لوبا هنت امان دنا سكلا۲نا اعوذ بالله من ذلك …

Ari jalma anu aya di Tanah Jawa baheula na mah ngaku-ngaku kana Madzhab asy-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu. Ku sangkaan pribadi, ayeuna mah parantos campur-aduk kateranganana, loba heunteu aman dina sagala-galana. A’udzubillah min dzalik.1

فائغن انو بهلا۲مه مولس رعيتنا شافعية امام۲نا جغ كومفلوت۲نا كذلك …

Di nagara Jawa lalesot tina Mazhab asy-Syafi’i beunang dicirikeun heunteu lalami jaba ramijud jeung batur…

Paingan anu baheula-baheula mah mulus rakyatna Syafi’iyyah , Imam-imamna komplot – komplotna kadzalik.2

Keberadaan para qadhi (penghulu) tersebar di berbagai pelosok semisal di Cirebon, Sukapura (Tasikmalaya) hingga Banyumasan dan Surakarta – Yogyakarta.

 

  1. Silsilah Ulama Jawi dan Politik Pendidikan Khilafah

Laporan Konsul Batavia Mehmed Kamil Bey, 1897 kepada Turhan Pasya Wazir Luar Negeri:

“Semua sarana untuk mencerahkan kaum Muslimin melalui pendidikan, ilmu-ilmu agama, dan perhatian kepada hukum syariat telah hancur secara total. Meskipun semua kelas masyarakat secara teori memiliki hak untuk mengenyam pendidikan tanpa terkecuali, nyatanya semua masyarakat pribumi—kecuali mantan penguasa di sini—dianggap sebagai tawanan dan budak di mata hukum, yang menghabiskan hidup mereka untuk menjadi pembantu rumah tangga dan pekerja demi mencari sesuap nasi.” (Bidang Pendidikan).

“Hampir tidak ada yang berpengetahuan mengenai ilmu-ilmu agama di antara penduduk setempat selain beberapa guru dari kalangan Arab Hadhrami dan Somalia yang tinggal di kota-kota tingkat pertama dan kedua.” (Arab & Pendidikan Islam).

“Setiap tahunnya, dalam rangka menjalankan kewajiban yang ditetapkan syariat Nabi yang memancar, ribuan jamaah dari wilayah ini berangkat ke Hijaz untuk menunaikan ibadah haji dan mencerahkan pengetahuan mereka sampai batas tertentu dengan melihat secara langsung Tanah Suci, yang merupakan tanda kemegahan Islam yang masyhur. Namun, tidak ada satu pun yang pulang dan mengajar ke kampung halamannya setelah berhasil mempelajari berbagai permasalahan syariat dan tinggal di sana.” (Ulama Jawi & Pendidikan Islam).

“Masalah akhlak ini akan diselesaikan dengan cara pembudayaan dan pendidikan. Melalui perlindungan Hadirat Yang Mulia Khalifah di bumi, Amir al-Mu’minin Tuanku Sultan yang Agung, kita akan memeprkuat hubungan politik dengan bagian dunia Islam yang sangat penting ini. Dengan cara meningkatkan keindahan akhlak mereka da menyebarkan karya-karya agama di antara masyarakat sehngga dapat mencerahkan dan memperbaharui pengetahuan mereka serta meningkatkan kekuatan dan keterikatan mereka dengan Sang Pelindung Khalifah.” (Bidang Pendidikan).

 

Daftar Ulama Jawi

  1. Abdullah ibn Abdul Mannan at-Tarmasi (1314 H/ 1894 M)
  2. Muhammad Nawawi ibn Umar al-Bantani (1230 – 1314 H/ 1815 – 1897 M)
  3. Yahya ibn Ahmad Khathib as-Sambasi (1268 – 1310-an H/ 1851 – 1900-an M)
  4. Muhammad Shalih ibn Umar as-Samarani (1235 – 1321 H/ 1820 – 1903 M)
  5. Utsman ibn Abdullah ibn Aqil al-Batawi (1822 – 1914 M)
  6. Abdul Hamid ibn Zakariya al-Kuningani
  7. Thalhah ibn Thalbuddin asy-Syirbuni (1825 – 1935 M)
  8. Abdul Karim ibn Tanda al-Bantani
  9. Ibrahim ibn Muhammad as-Samarani (1839 – 1927 M)
  10. Muhammad Mahfuzh ibn Abdullah at-Tarmasi (1285 – 1338 H/ 1868 – 1920 M)
  11. Ahmad Nahrawi Banyumas al-Makki (1276 – 1346 H/ 1860 – 1927 M)
  12. Ahmad Syathibi ibn Sa’id al-Qanthuri (1365 H/ 1946 M)
  13. Umar ibn Shalih as-Samarani
  14. Muhammad Khalil ibn Abdul Lathif al-Bankalani
  15. Ahmad al-Khathib ibn Abdul Lathif al-Mankabawi
  16. Zainuddin ibn Badwi ash-Shumbawi
  17. Muhammad Mukhtar ibn ‘Atharid al-Bughuri al-Batawi
  18. Abdul Ghani ibn Shubuh al-Bimawi
  19. Muhammad Raji Ghayam

 

Semasa dengan:

  1. Ahmad ibn Zaini Dahlan al-Makki (1231 – 1304 H/ 1817 – 1886 M)
  2. Yusuf ibn Isma’il an-Nabhani al-Azhari (1265 – 1350 H/ 1849 – 1932 M)
  3. Husain al-Jasr Afandi
[Bagian Kedua]

 

 

Catatan kaki:

  1. Ahmad as-Samfuri, Cempaka Dilaga, hlm. 17
  2. Ahmad as-Samfuri, Cempaka Dilaga, hlm. 19

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × five =

Back to top button