TarikhTsaqafah

Jaringan Ulama Bogor Pejuang Islam Sejak Era Utsmaniyah (Abad 19–20 M) (Bagian 6)

Sebagian karya tersebut (yang disebutkan dalam pembahasan sebelumnya, red.) dicetak dan diterbitkan oleh Mathba’ah Taraqi al-Majidiyyah al-‘Utsmaniyyah milik Syaikh Majid ibn Shalih al-Kurdi.1

Dalam Natsr al-Jawâhir wa ad-Durar, Syaikh Prof. Yusuf al-Mar’asyli menukilkan murid-murid beliau sebagai berikut2:

  1. Sayyid Muhsin ibn Ali al-Musawi al-Falimbani.
  2. Syaikh Abdurrahman ibn Yusuf al-Madarisi.
  3. Syaikh Abdussattar ibn Abdul Wahhab ash-Shiddiqi.
  4. Syaikh Abdussalam ibn Husni al-Batawi.
  5. Syaikh Sa’id ibn Muhammad Amin al-Jawi.
  6. Syaikh Mahmud ibn Abdurrahman Zuhdi al-Fathani, Syaikh al-Islam Selangor.
  7. Habib Ahmad ibn Husain al-Habsyi.
  8. Syaikh Ahmad Dimyathi ibn Abdullah at-Tarmasi.
  9. Syaikh Hasyim Asy’ari al-Jumbani.
  10. Habib Salim Alu Jindan.
  11. Habib Hasyim ibn Muhammad al-Bar.
  12. Syaikh Manshur ibn Abdurrahman al-Bughuri.
  13. Syaikh Husain ibn Abdul Ghani al-Falimbani.
  14. Syaikh Muhammad Yasin ibn Isa al-Fadani, al-Musnid ad-Dunya di masanya.
  15. Sayyid ‘Alawi ibn ‘Abbas al-Maliki, ayah dari Sayyid Muhammad ibn ‘Alwi al-Maliki.
  16. Syaikh Muhammad Ahyad ibn Idris al-Bughuri, trah Tb. Mustofa Bakri dan menantu Syaikh Rd. Mukhtar ‘Atharid.

 

Dari berbagai sumber disebutkan murid lainnya:

  1. Syaikh Abdullah Fahim, Mufti Pulau Penang.
  2. Syaikh Abdullah ibn Abdurrahman Kelantan.
  3. Syaikh Rd. Sulaiman ibn Husain Sumedang, kerabat Pangeran Mekkah Rd. Suriaatmaja.
  4. Syaikh Ahmad Sanusi Sukabumi, mufassir, aktivis SI dan PUI.
  5. Syaikh Ahmad Dimyathi Sukamiskin (Bandung).
  6. Syaikh Rd. Muhammad Nuh Cianjur, ayah dari Mama Abdullah ibn Nuh, kasepuhan Cianjur.
  7. Syaikh Tb. Ahmad Bakri Sempur (Purwakarta), ulama trah Kesultanan Banten yang berpengaruh di Purwakarta, Karawang, Bekasi, Bogor dan Bandung.

 

Dengan demikian, Syaikh Mukhtar ‘Atharid merupakan pelanjut sanad Ulama Jawi era Syaikh Nawawi Banten yang kitab-kitabnya menjadi rujukan utama di seantero Bilad al-Jawi. Diduga kuat “generasi baru” inilah yang menjadi jawaban Khilafah Utsmaniyah atas laporan Konsulat-nya di Batavia. Tidaklah aneh, jika ditemukan para ulama tersebut pada umumnya merupakan pendukung setia Khilafah Utsmaniyah pada masanya, terutama era Khalifah Abdul Hamid II. Murid-murid penerus sanad Syaikh Mukhtar ‘Atharid menjadi aktivis pendidikan dan gerakan Islam sejak sebelum era kemerdekaan dan setelahnya. Madrasah Dar al-‘Ulum ad-Diniyyah Makkah, Madrasah al-I’anah Cianjur, Pesantren as-Salafiyyah Sempur (Purwakarta), Pesantren Sukamiskin (Bandung), Pesantren Cantayan (Sukabumi) serta Nahdlotul Ulama (NU) dan Persatuan Umat Islam (PUI) atau al-Ittihad al-Islamiyyah merupakan karya juang alumni didikan Syaikh Mukhtar ‘Atharid.

Kitab Ta’lîm al-Muta’allim merupakan panduan di Harm Asyrâf al-Mulûk wa as-­Salâ­thîn, lembaga pendidikan elit Utsmaniyah. Ia dijadikan rujukan kurikulum dan pelaksanaan pendidikan Islam di pesantren dan madrasah di Bilad al-Jawi. Pada ­Syarah-nya tercetak persem­bahan khusus kepada Khalifah Murad III ibn Salim II ibn Sulaiman al-Qanuni ibn Salim ibn Bayazid II ibn Muhammad al-Fatih. Di antara kutipannya:

وينبغي ان ينوي المتعلم بطلب العلم رضا الله تعالى والدار الآخرة وازالة الجهل عن نفسه وعن سائر الجهال واحياء الدين وابقاء الاسلام فان بقاء الاسلام بالعلم … وينوي به الشكر على نعمة العقل وصحة البدن

Hendaknya pencari ilmu berniat mencari ridha Allah dan negeri akhirat, menghilangkan kebodohan dari dirinya dan dari orang bodoh lainnya, menghidupkan agama, melanggengkan Islam karena langgengnya Islam adalah dengan ilmu…serta berniat syukur atas nikmat akal dan sehat badan.3

 

Hal semisal dinukil dari Syaikhuna Muhammad an-Nawawi al-Jawi dalam Syarh Bidâyah al-Hidâyah:

(وان كانت نيتك وقصدك بينك وبين الله تعالى من طلب العلم الهداية) بان تنوي بتحصيله ازالة الجهل عن نفسك وعن سائر الجهال واحياء الدين وابقاء الاسلام بالعلم والدار الاخرة ورضا الله تعالى وتنوي بذلك الشكر على نعمة العقل ونعمة صحة البدن …

(Jika niat dan tujuanmu antara engkau dan Allah SWT dari mencari ilmu adalah Hidayah) dengan niat dari hasilnya adalah menghilangkan kebodohan dari dirimu dan dari orang bodoh lainnya, menghidupkan agama, melanggengkan Islam dengan ilmu, mencari negeri akhirat dan ridha Allah serta engkau berniat dengan itu untuk bersyukur atas nikmat akal dan nikmat sehat badan.4

 

Pengaruh kitab Ta’lîm al-Muta’allim dan Syarah-nya jelas terlihat dalam Kurikulum Pesantren Salafiyah, terutama di Tatar Sunda dan Tlatah Jawi. Dapat ditetapkan bahwa “ruh” dari pondok pesantren adalah konsep Pendidikan Islam yang dijelaskan dalam kitab Ta’lîm al-Muta’allim dan Syarah-nya terutama terkait adab terhadap ilmu dan ulama. Sebagian pihak menuduh pengaruh tersebut adalah “penghambat kemajuan” yang tidak sesuai dengan perkembangan pendidikan modern. Kritik terhadap kajian Pendidikan Islam pada masa lalu dibenarkan jika bersandar pada dalil dalam bahasan materi ajar dan metode belajar dan bersandar pada pendekatan ilmiah dalam bahasan teknik dan sarananya. Adapun kritik bersandarkan pada konsep Pendidikan Barat jelas keliru karena sudah berbeda sejak asasnya, yakni Sekulerisme. Apa yang dianggap tradisi masa lalu oleh Pendidikan Barat sebagiannya adalah bagian dari hukum syariah, termasuk konsep utama seputar adab terhadap ilmu dan ulama.

Kitab-kitab dasar lainnya yang menjadi rujukan pesantren dan madrasah di Bilad al-Jawi ialah: Risâlah al-Bajuuri karya Syaikh al-Azhar Ibrahim al-Bajuri tentang Akidah Islam, Safiinah an-Najâ karya Syaikh Salim ibn Sumair al-Hadhrami tentang Fiqih Ibadah, Sullâm at-Tawfîq karya Habib Abdullah ibn Husain Ba’alawi tentang Akidah dan Syariah Islam dan Al-Ajrumiyyah karya Imam ash-Shanhaji tentang Ilmu Nahwu. Semuanya dicetak beserta syarah-nya karya Syaikhuna Muhammad Nawawi al-Jawi, kecuali al-Ajrumiyyah di-syarah oleh Sayyid Ahmad ibn Zaini Dahlan, guru dari masyayikh Ulama Jawi. Selain itu, tersebar karya Syaikhuna Yusuf ibn Isma’il an-Nabhani semisal Syawâhid al-Haqq dan ar-Ra’iyah ash-Shughra dan Sayyid Husain al-Jasr Afandi semisal Al-Hushun al-Hamidiyyah dan Risâlah al-Hamidiyyah, semisal dinukil oleh Habib Uts­man bin Yahya, Mufti Betawi dan Syaikh Tb. Ahmad Bakri Sempur, murid Syaikh Mukhtar ‘Atharid. [Bagian 6]

 

Catatan kaki:

  • Ginanjar Sya’ban, Syaikh Mukhtar ‘Atharid al-Bughuri wa al-Kutub ash-Shundawiyyah al-Mathbu’ah, Islam Nusantara, Vol. II, No. 1, January 2021, hlm. 103
  • Yusuf al-Mar’asyli, Natsr al-Jawahir wa ad-Durar, 1476
  • Az-Zarnuji, Ta’lim al-Muta’allim, 10
  • Nawawi al-Jawi, Maraqi al-‘Ubudiyyah, hlm. 3.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

12 + 15 =

Back to top button