Dari Redaksi

Pola Amerika Menguasai Negeri Islam

Sudan kembali berdarah-darah. Kali ini terjadi setelah pasukan RSF pimpinan Hamdan Dagalo (Hemedti) menguasai kota Al-Fashir (ibu kota Darfur Utara) setelah pengepungan selama setahun. Dengan jatuhnya kota itu, RSF kini menguasai seluruh Darfur, sementara tentara Sudan di bawah Abdel Fattah al-Burhan hanya menguasai bagian timur Sudan.

Rakyat Sudan yang mayoritas Muslim kembali menjadi korban permainan politik elit Sudan. Organisasi medis Sudan (“Sudan Doctors Network”) melaporkan bahwa selama penguasaan RSF, setidaknya 1.500 orang tewas dalam tiga hari pertama pasca pengambilalihan kota. Jutaan rakyat Sudan juga terancam kelaparan akibat konflik yang tidak ada henti.

Anggapan “di mana ada negeri yang kaya, di situ terjadi konflik yang melibatkan Amerika Serikat” kembali terbukti. Penguasaan ini terjadi bersamaan dengan rencana gencatan senjata yang diinisiasi oleh Amerika melalui “Kelompok Empat (Quartet)”: AS, UEA, Arab Saudi dan Mesir. Siapa yang tidak ‘ngiler’ menguasai kekayaan alam Sudan. Apalagi negara-negara imperialis rakus seperti Amerika Serikat, Inggris, ataupun Eropa.

Secara geopolitik posisi Sudan sangat strategis. Sudan menjadi pintu gerbang Afrika ke Timur Tengah dan Samudra Hindia. Lokasi ini sangat penting bagi geopolitik, militer dan perdagangan global. Sudan memiliki kekayaan alam besar yang meliputi mineral dan energi seperti emas—komoditas ekspor utamanya. Sudan juga memiliki minyak, gas dan berbagai mineral potensial yang masih minim dikelola. Sektor pertaniannya, dengan tanah subur di sepanjang Sungai Nil, cocok untuk berbagai komoditas sehingga berpotensi menjadi lumbung pangan Afrika dan Timur Tengah. Sudan juga memiliki gum arabic (getah arab). Ini adalah komoditas strategis. Sudan memasok 70–80%-nya dari kebutuhan dunia. Semua ini menjadikan Sudan tetap diperebutkan meski negara itu sering menghadapi sanksi internasional.

Potensi ideologi Islam di Sudan juga menjadi ancaman bagi Amerika. Mayoritas penduduk Sudan adalah Muslim (sekitar 90–95%). Negeri ini memiliki sejarah panjang gerakan Islam politik, termasuk upaya menegakkan syariah Islam dalam pemerintahan (sejak era Ja’far Nimeiri, Hassan at-Turabi hingga gerakan global terkini seperti Hizb ut-Tahrir). Banyak ulama dan mahasiswa Islam aktif membahas konsep Khilafah dan persatuan umat. Karena itu Sudan dianggap salah satu pusat kebangkitan Islam di Afrika. Potensi ideologis ini menjadikan Sudan penting secara ideologis dan strategis. Jika Sudan stabil dengan basis Islam yang kuat, ia bisa menjadi model Negara Islam di Afrika Timur.

Tidak aneh jika Sudan menjadi rebutan kekuatan-kekuatan negara imperialis. Termasuk persaingan Inggris sebagai kekuatan kolonial lama di wilayah itu dengan Amerika Serikat yang ingin sepenuhnya menguasai Sudan. Apa yang terjadi di Sudan sekarang tidak bisa dilepaskan dari keinginan rakus Amerika itu. Jalannya adalah dengan memperlemah Sudan. Memecah-belah Sudan. Kalau sebelumnya Amerika berhasil memisahkan Sudan dengan Sudan Selatan, target Amerika sekarang adalah memisahkan Darfur untuk menjadi negara sendiri yang dikendalikan oleh Amerika.

Seperti biasa, Amerika selalu memakai resep lama: pecah – biarkan berdarah – datang menolong – lalu menguasai. Langkah pertama, ciptakan konflik internal dengan memecah-belah rakyat Sudan berdasarkan suku, etnis dan militer. Dulu, Utara dan Selatan. Sekarang, RSF dan SAF. Tujuannya tidak lain memperlemah Sudan hingga bisa dikendalikan secara penuh.

Langkah kedua, biarkan terjadi kekejaman. AS diam atau pura-pura tidak tahu saat terjadi pembantaian dan pelanggaran HAM. Tujuannya tidak lain mengumpulkan “bukti” untuk menekan pihak yang nanti ingin dikendalikan.

Langkah ketiga, setelah itu Amerika akan masuk dengan dalih perdamaian dan HAM. Setelah situasi kacau, AS tampil sebagai “penyelamat” lewat berbagai sarana seperti tekanan diplomatik, sanksi ekonomi, atau intervensi kemanusiaan (PBB, NGO, ICC). Tujuannya untuk melegitimasi kehadiran dan pengaruhnya secara resmi.

Langkah keempat, disintegrasi menjadi langkah penting dengan memisahkan satu wilayah atau membentuk wilayah baru. Seperti Sudan Selatan dulu, kini Darfur berpotensi menjadi target berikutnya. Dengan demikian Amerika secara penuh bisa menguasai sumber daya (minyak, emas, uranium) dan posisi strategis.

Untuk memastikan itu, langkah kelima menjadi penting, yaitu mengendalikan rezim baru. Setelah konflik “selesai,” AS membantu rezim baru, tetapi tentu dengan syarat politik, utang, dan bantuan luar negeri. Tujuannya untuk memastikan Sudan tetap berada dalam orbit Amerika.

Sejarah menunjukkan bahwa sebuah negara tidak selalu hancur karena serangan dari luar. Kehancurannya sering berawal dari perpecahan di dalam negeri sendiri. Indonesia pernah mengalami hal ini saat Timor Timur terlepas. Banyak pihak menilai bahwa campur tangan asing memainkan peran besar di balik proses tersebut. Kini, di berbagai belahan dunia, pola yang sama tampak kembali digunakan. Isu kemanusiaan dan konflik internal dijadikan pintu masuk untuk mengintervensi kedaulatan negara lain.

Dengan memahami pola ini, penting untuk mengetahui siapa musuh kita sebenarnya. Tidak lain adalah Amerika. Negara rakus ini kerap merampok negara yang kekayaan alamnya melimpah seperti Indonesia. Karena itu negeri ini harus waspada terhadap sepak terjang negara imperialis (AS) ini. Kita pun harus tahu kekuatan kita, yaitu Islam. Islamlah yang akan menyatukan dan mengokohkan negeri ini, tanpa menyingkirkan pihak lain. Sebabnya, Islam agama rahmatan lil ‘alamin.

Dengan Islam, negeri Islam akan memiliki ketahanan ideologis yang tangguh, politik yang mandiri dan ekonomi yang kuat. Semua itu akan terwujud dengan keberadaan Negara Khilafah ‘alâ minhâj an-nubuwwah. Inilah negara adidaya yang merepresentasikan ideologi Islam dan kepentingan umat. Khilafah inilah yang akan menyatukan negeri-negeri Islam dan membebaskan negeri Islam yang terjajah seperti Palestina. Di sinilah posisi penting Hizbut Tahrir sebagai kelompok dakwah yang politis pada level global. Sudah seharusnya kita semua mendukung perjuangan ini, perjuangan penting yang dilandasi keimanan untuk mendapatkan surganya Allah SWT.

AlLâhu Akbar! [Farid Wadjdi]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × four =

Back to top button