
Pelayan Rakyat
MALAM itu Kota Madinah sunyi. Angin berembus pelan di antara rumah-rumah yang sederhana. Namun, ada seorang lelaki yang tidak mampu tidur. Langkahnya terdengar di lorong-lorong gelap. Ia membawa sesuatu di punggungnya. Sesuatu yang lebih berat di dadanya. Lelaki itu adalah Khalifah Umar bin al-Khaththab ra.
Tak ada lampu sorot. Tak ada kamera. Tak ada publikasi. Hanya seorang pemimpin yang takut jika ada satu saja rakyatnya yang terlewat dari pelayanannya. Takut jika ada keluhan manusia yang menjadi hujjah atas dirinya di hadapan Allah kelak pada Hari Kiamat.
Ia menemukan seorang ibu sedang memasak batu. Bukan makanan. Hanya untuk menenangkan anak-anaknya yang menangis karena kelaparan. Dada sang Khalifah bergetar. Ia menunduk. Air matanya jatuh. Ia bergegas pergi. Ia segera kembali sembari memanggul sendiri sekarung gandum dari Baitul Mal. Ketika Aslam, pelayannya, ingin membantu, Khalifah Umar berkata, “Apakah engkau akan memikul dosa-dosaku pada Hari Kiamat?”
Khalifah Umar memasak sendiri makanan itu. Ia meniup api hingga asap menempel di janggutnya. Ketika anak-anak itu kenyang dan tertawa, Khalifah Umar baru tersenyum lega dan berkata, “Segala pujian milik Allah yang tidak mencabut nyawaku sebelum melihat mereka kenyang.” (Lihat: Ibnu al-Jauzi, Manâqib ‘Umar ibn al-Khaththaab, hlm. 159).
Malam itu Madinah tidur tenang. Namun, Khalifah Umar tidak. Tentu karena pemimpin sejati tidak pernah benar-benar tidur dari amanah dalam melayani rakyatnya.
*****
Sosok pemimpin teladan lainnya adalah Imam Ali bin Abi Thalib ra. Sebagaimana dinukil dalam Kitab Al-Mushannaf karya Ibn Abi Syaibah, Imam Ali ra. pernah berkata kepada seorang yang mengadu kepada dirinya, “Sesungguhnya aku adalah pemimpin kalian. Aku adalah ayah bagi kalian.” Sebuah kalimat yang memotong jarak antara penguasa dan rakyat. Ayah tidak menindas. Ayah tidak mengambil hak anak-anaknya. Ayah memikul beban agar anak-anaknya tidak merasakan beratnya dunia.
Karena itu Imam Ali ra. biasa berjalan dikegelapan malam. Mengamati keadaan rakyatnya. Menghapus keluh-kesah mereka sebelum menjadi badai. Ia memahami satu prinsip emas bahwa negara hidup dan tegak dengan keadilan. Keadilan tidak lahir dari gaya kepemimpinan. Ia lahir dari ketundukan kepada Allah.
*****
Pemimpin teladan berikutnya adalah Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Ia—sosok yang sering disebut khalifah kelima—sering menangis lama di tengah malam. Istrinya bertanya: Mengapa? Khalifah Umar menjawab, “Aku memikirkan anak yatim yang terpukul nasibnya, fakir yang tak memiliki apa-apa dan orang yang terzalimi. Aku tahu bahwa Rabb-ku kelak akan menanyai aku tentang mereka semuanya.”
Ia tidak takut kepada rakyat. Ia takut hanya kepada Allah. Ia tidak khawatir citranya merosot. Ia hanya khawatir saat Allah kelak meminta pertanggungjawaban dirinya. Karena itu ia berkata, “Demi Allah, sejak aku memimpin kalian, aku tidak pernah tidur, kecuali karena benar-benar tidak mampu menahan kantuk.” (Lihat: Ibn Abdil Hakam, Sîrah ‘Umar ibn ’Abd al-’Azîz, hlm. 56).
Amanah itu menggetarkan jiwanya. Getaran itu melahirkan pelayanan terbaik untuk rakyatnya.
*****
Berikutnya adalah Khalifah Harun ar-Rasyid. Penguasa besar pada masa Khilafah Abbasiyah. Ia pernah mendengar teguran keras dari seorang ulama. Teguran itu pedih dan langsung menusuk hati. Semua orang menahan napas. Mereka menunggu kemarahan sang Khalifah. Namun, Khalifah Harun malah menangis. Lalu ia berkata, “Semoga Allah merahmati Anda. Anda telah memperlihatkan aib-aibku.” (Lihat: Ibn Khallikan, Wafayât al-A‘yân, 2/135).
Demikianlah. Pemimpin yang takut kepada Allah tidak tersinggung sedikit pun oleh nasihat. Ia justru merasa diselamatkan. Sebabnya, bagi dirinya, satu nasihat lebih berharga daripada satu wilayah yang ditaklukkan.
*****
Para khalifah dulu tidak membangun pelayanan rakyat karena tekanan opini publik. Tidak pula karena dorongan politik. Mereka melayani rakyat semata-mata karena ketakwaan kepada Allah. Mereka sangat sadar bahwa kekuasaan kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan-Nya.
Pertanyaannya: Mengapa sepanjang kekuasaan Islam, pelayanan kepada rakyat oleh para khalifah itu tampak konsisten? Jawabannya: Pelayanan para khalifah kepada rakyat mereka tidak berdiri di atas karakter personal. Ia ditopang oleh sistem terbaik yang bersumber dari wahyu. Sistem inilah yang mencetak pemimpin yang adil dan rakyat yang berani menegur.
Pertama, kekuasaan tunggal (Imamah) menyatukan umat. Tidak ada negara-bangsa yang saling memusuhi. Tidak ada kepentingan partai. Tidak ada oligarki ekonomi.
Kedua, syariah menjadi hukum di atas penguasa, bukan alat untuk mengamankan kursi. Khalifah terikat dengan syariah. Ia bukan pembuat hukum. Ia hanyalah pelaksana hukum.
Ketiga, Baitul Mal adalah sumber utama pelayanan rakyat. Zakat, fai’, kharaj, jizyah—termasuk harta-harta yang berasal dari sumber daya alam milik umum—semuanya dikelola untuk rakyat, bukan untuk pejabat dan oligarki.
Keempat, hisbah dan amar makruf nahi mungkar memberikan ruang koreksi. Ulama dapat menegur langsung penguasa tanpa takut dijebloskan ke penjara. Rakyat biasa pun dapat mengkritik pemimpinnya tanpa takut dibungkam.
Itulah mengapa pelayanan dalam Khilafah Islam bukan program. Ia juga bukan janji kampanye. Ia adalah mekanisme yang berjalan karena sistemnya benar.
*****
Hari ini, umat Islam merindukan pemimpin seperti para khalifah dulu. Kita merindukan negara yang melahirkan karakter semacam itu. Kita sangat mengharapkan kekuasaan yang membuat penguasanya gemetar ketika mendengar keluhan rakyatnya.
Alhasil, kita sangat merindukan pemimpin yang baik. Kita pun merindukan sistem pemerintahan yang membuat orang baik menjadi kuat dan orang jahat menjadi lemah. Itulah sistem pemerintahan Islam (Khilafah). Sebabnya, pemimpin yang takut kepada Allah tidak lahir dari sistem sekuler. Ia hanya mungkin lahir dari Khilafah yang menegakkan syariah-Nya secara kâffah. Khilafahlah sistem pemerintahan terbaik dan para khalifahlah pelayan rakyat terbaik.
Wa mâ tawfîqî illâ bilLâh. [Arief B. Iskandar]



