
Istiqamah
”Ustadz, apa resep untuk kita bisa istiqamah?”
++++
Ini pertanyaan yang sering sekali dimajukan kepada saya. Mungkin karena mereka melihat saya cukup lama selalu di dalam jalan dakwah bersama jamaah ini. Iya betul. Lebih dari 40 tahun. Tanpa jeda.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya selalu sampaikan hal pertama paling penting. Soal mindset. Mana sesungguhnya yang lebih mudah: istiqamah atau tidak istiqamah? Istiqamah secara bahasa berasal dari kata istaqama-yastaqimu. Artinya, tegak lurus. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istiqamah diartikan sebagai sikap teguh pendirian. Dalam konteks agama, istiqamah adalah sikap teguh dalam mempertahankan keimanan dan keislaman sekalipun menghadapi berbagai macam tantangan. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan makna istiqamah dalam hadis shahih riwayat Muslim tentang iman dan istiqamah. Ia mengatakan, istiqamah adalah meniti jalan yang lurus; yaitu agama yang lurus, tanpa membelok ke kanan atau ke kiri.
Istiqamah mencakup seluruh amal. Dalam ibadah, siapa saja yang mengakhirkan shalat hingga keluar waktunya, ia tidak istiqamah. Siapa yang enggan membayar zakat, padahal mampu, ia tidak istiqamah. Dalam muamalah, siapa yang menipu dalam urusan jual-beli, atau sewa-menyewa; ia tidak disebut istiqamah. Siapa yang meninggalkan arena dakwah, ia tidak istiqamah.
Jadi, istiqamah itu selalu melakukan semua ketaatan, lahir dan batin, serta meninggalkan semua perkara yang dilarang. Jadi, ukuran istiqamah adalah agama yang lurus ini: melakukan ketaatan sebagaimana diperintahkan (kamâ umirta). Jadi, siapa saja yang kurang dalam melakukan kewajiban dan banyak melakukan yang dilarang, berarti ia tidak istiqamah.
Dari pengertian itu, mestinya istiqamah itu lebih mudah daripada tidak istiqamah. Jika kita tahu jalan lurus ini yang akan mengantarkan pada tujuan, pastilah kita tak akan mau berbelok-belok. Jika prinsip sederhana ini dipahami, seorang yang istiqamah akan selalu taat. Tak mau sebentar taat, sebentar maksiat.
Kedua, istiqamah tidak lahir begitu saja. Ia merupakan buah dari kesadaran dan keyakinan. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali mengatakan, pangkal istiqamah adalah kekokohan tauhid. Ketika tauhid tertancap kokoh di atas ma’rifah (pengetahuan) dan rasa khasyah (takut) kepada Allâh, disertai dengan pengagungan dan ketundukan kepada-Nya, maka semua anggota badan juga akan turut istiqamah. Ini karena kesadaran dan keyakinan dalam hati ibarat raja bagi semua anggota badan. Semua anggota badan merupakan tentara hati. Jika raja istiqamah, tentara dan rakyatnya juga ikut istiqamah.
Istiqamah mencakup tiga dimensi: hati, lisan dan amal perbuatan. Seorang yang istiqamah akan selalu menjaga kesucian hatinya, kebenaran perkataannya dan kesesuaian perbuatannya dengan ajaran Islam. Akan tetapi, menjadi istiqamah bukan tanpa halangan. Pasalnya, setiap orang yang mengaku beriman pasti akan menghadapi ujian. Ujian itu tidak selamanya dalam bentuk yang tidak menyenangkan, seperti kebangkrutan usaha atau celaan,. Kadang dalam bentuk yang menyenangkan, seperti keberhasilan atau pujian.
Seorang Mukmin yang istiqamah tentu akan tetap teguh dalam menghadapi setiap ujian. Ia tidak mundur oleh ancaman, siksaan dan segala macam hambatan lainnya. Tidak terbujuk oleh harta, pangkat, kemegahan, pujian dan segala macam kesenangan lainnya. Bagi dia, semua itu tidak lebih berharga daripada istiqamah. Itulah yang dipesan oleh Rasulullah saw.: beriman dan beristiqamah.
Ketiga, istiqamah atau tidak, sesungguhnya sangat erat dengan kesadaran tentang apa yang akan kita dapat dan apa yang hilang dari sisi kita. Kepada orang yang istiqamah, sebagaimana disebut dalam QS Fushilat ayat 30-31, Allah SWT menjanjikan akan meneguhkan pendirian, menurunkan malaikat sebagai pelindung dalam kehidupan di Dunia dan Akhirat. Dengan begitu mereka tidak merasa takut dan sedih. Bahkan mereka bergembira dengan surga yang telah dijanjikan untuk mereka.
Rasa takut dan sedih yang dimaksud adalah rasa takut dan sedih yang negatif; seperti takut menghadapi masa depan, takut akan rezeki dan lainnya; atau sedih yang berlarut-larut yang membuat seseorang hilang semangat. Ketakutan dan rasa sedih seperti itu tentu menghambat kemajuan, bahkan bisa menyebabkan kehancuran.
Sementara itu, apa yang didapat dengan tidak istiqamah? Sebesar apapun yang didapat dari tidak istiqamah, yang pasti ia akan kehilangan perlindungan dan keridhaan Allah serta surga-Nya yang tak ternilai itu. Rugi besar.
Demikianlah, sikap istiqamah memang sangat diperlukan dalam kehidupan ini. Tanpa istiqamah, seseorang akan mudah terombang-ambing oleh berbagai macam arus yang dengan mudah mencelakakan kita. Karena itu jika kita sudah benar-benar istiqamah, bersyukurlah kepada Allah. Jika belum atau tidak istiqamah, kita wajib segera kembali kepada jalan Allah.
Lalu apa yang harus dilakukan agar bisa selalu istiqamah di jalan Allah? Pertama, harus rajin mengkaji tsaqâfah Islam melalui halqah atau muthâla’ah fardiyah. Intinya, pemahaman Islam harus terus ditingkatkan, karena di sini pangkalnya. Bagaimana kita bisa istiqamah jika tidak tahu apa yang harus diistiqamahi dan bagaimana caranya.
Kedua, bergaul rapat dengan orang yang shalih dan istiqamah dalam dakwah. Di mana itu? Ya, di dalam jamaah dakwah. Teman yang shalih akan menjaga kita dan mengingatkan ketika alfa. Dalam hadis shahih riwayat Imam al-Bukhari, Nabi saw. berpesan tentang pentingnya berteman dengan orang shalih. Digambarkan bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk. Jika tidak dihadiahi misk oleh dia, setidaknya mendapatkan baunya. Sebaliknya, berteman dengan orang yang tidak shalih bagaikan dekat dengan pandai besi. Akan kena baunya yang tidak enak.
Ketiga, pergiat ibadah sunnah, khususnya shalat malam. Untuk Nabi saw., demi memberikan bekal kekuatan ruhiyah dalam melaksanakan amanah dakwah yang tidak ringan (qawlan tsaqîl[an]), sebagaimana dinyatakan dalam QS al-Muzammil, Allah mewajibkan beliau untuk shalat malam. Lalu Nabi saw. melakukan itu. Nah, Rasulullah, teladan utama dalam istiqamah saja, melakukan shalat malam, apalagi kita. Karena itu para pengemban dakwah harus mendawamkan shalat malam. Dengan shalat malam, pikiran menjadi jernih, hati menjadi bersih, ibarat tanah subur mudah menerima nasihat, memahami tsaqâfah Islam dan bergiat dalam dakwah.
Keempat, perbanyak doa kepada Allah. Manusia itu tempatnya lupa dan khilaf. Sepanjang hidup, setan terus menggoda. Kita tidak boleh merasa aman dari kemungkinan tergelincir. Melalui doa, kita mengundang dukungan Allah. Kalimat ‘alâ thâ’atik, dalam doa yang disebut dalam hadits shahih riwayat Imam Muslim, mempunyai makna sangat dalam. Kita meminta supaya hati terus berada pada taat, tidak beralih pada maksiat.
Ingatlah sikap istiqamah Nabi saw. saat menghadapi bujukan pemuka Quraisy untuk menghentikan dakwah ini. Beliau menegaskan, “Demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku, dan rembulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan tugas dakwah ini, sungguh tidak akan aku tinggalkan. Biar nanti Allah yang akan membuktikan kemenangan itu di tanganku, atau aku binasa karenanya.”
Adakah ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan serta rintangan yang lebih dahsyat dari panasnya matahari dan rembulan?
++++
Demikianlah kurang lebih saya biasa menjelaskan bagaimana istiqamah itu harus dibangun dan dijaga pada diri kita. Akan tetapi, di atas semua, keistiqamahan adalah buah dari sebuah proses. Bukan sembarang proses, melainkan proses yang digerakkan oleh kesadaran dan keyakinan. Melalui proses yang panjang, keistiqamahan bakal dirasakan sebagai sebuah kemestian. Tidak bisa tidak. Artinya, istiqamah is the only choice. No other choice. [H.M. Ismail Yusanto]

