
Semangat Hijrah Dalam Keluarga
Bulan Muharam biasanya dijadikan umat Islam sebagai momentum untuk berhijrah. Hijrah dari kondisi yang kurang baik menuju kehidupan yang lebih baik. Apalagi hari ini. Berbagai krisis terjadi di semua lini. Tidak hanya terbatas menimpa individu atau keluarga tertentu, namun seluruh masyarakat manapun di dunia.
Keluarga, yang diharapkan menjadi benteng dalam menjaga fitrah manusia dari berbagai kerusakan, saat ini banyak yang tak sanggup berdiri kokoh. Padahal keluarga adalah tempat nilai-nilai kehidupan ditanamkan, karakter dibentuk dan masa depan peradaban ditentukan. Ketika keluarga menghadapi krisis, sesungguhnya yang sedang terancam bukan hanya ketenangan sebuah rumah tangga, melainkan juga masa depan umat secara keseluruhan.
Hari ini, banyak keluarga Muslim berusaha memperbaiki diri. Orangtua semakin peduli terhadap pendidikan agama anak, menghadiri majelis ilmu, memperbaiki ibadah dan berusaha menghadirkan suasana islami di rumah. Semua itu tentu merupakan langkah yang baik dan patut diapresiasi.
Krisis Ekonomi
Banyak keluarga hidup dalam bayang-bayang ketidakpastian ekonomi. Gelombang PHK menjadi ancaman nyata yang dapat menghantam siapa saja. Ketika kepala keluarga kehilangan pekerjaan, bukan hanya penghasilan yang hilang, tetapi juga rasa aman dan ketenangan hidup karena ketidakpastian nafkah.
Di sisi lain, harga kebutuhan pokok terus mengalami kenaikan. Pangan, energi, biaya pendidikan hingga kebutuhan kesehatan semakin mahal. Kenaikan ini sering tidak diikuti dengan peningkatan pendapatan yang memadai. Akibatnya, banyak keluarga harus mengencangkan ikat pinggang, mengurangi kebutuhan penting, bahkan terjebak dalam utang demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ekonomi yang semakin sulit ini pun melahirkan masyarakat yang tertekan dan sakit. Solusi palsu yang difasilitasi negara semisal pinjol, judol, paylater, dll malah sering berakhir dengan keadaan yang jauh lebih buruk; seperti bunuh diri, pembunuhan, menjual kehormatan dan beragam kejahatan lainnya yang lebih mengerikan. Hal ini menunjukkan adanya persoalan yang bersifat struktural dan sistemik.
Robohnya Ruang Aman
Pada masa lalu, orangtua masih dapat merasa tenang ketika anak berada di rumah. Kini, kamar anak justru bisa menjadi pintu masuk berbagai ancaman kejahatan melalui gawai yang terhubung dengan internet. Pornografi, judol, kekerasan digital, perilaku menyimpang (L987Q+) hingga beragam kejahatan masuk tanpa izin dan tanpa batas. Bahkan kerusakan ini juga dipertontonkan dalam kehidupan nyata, tanpa ada sensor sama sekali.
Lingkungan sekolah dan pergaulan juga semakin kompleks. Kasus perundungan, kekerasan, penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas dan berbagai penyimpangan perilaku yang tidak sedikit berakhir dengan hilangnya nyawa menjadi berita yang terus berulang. Ketika melepas anak keluar rumah, orangtua sangat khawatir akan keselamatan jiwa dan kehormatan anaknya. Keluarga akhirnya hidup dalam kecemasan yang berkepanjangan.
Akar Masalah
Sering berbagai persoalan tersebut dianggap sebagai nasib buruk, ujian pribadi, atau kesalahan individu semata. Padahal banyak problem keluarga dan masyarakat muncul sebagai dampak dari kebijakan publik yang tidak berpihak kepada rakyat.
Ketika kebutuhan pokok mahal, pendidikan berkualitas sulit dijangkau, lapangan pekerjaan semakin sempit, ruang digital dipenuhi konten merusak, kekayaan alam dirampas, semua itu tidak lahir begitu saja oleh segelintir orang jahat. Ada kebijakan, regulasi dan arah pengelolaan negara yang memengaruhi kondisi tersebut. Kemaksiatan justru dipelopori oleh institusi yang harusnya memberikan jaminan kesejahteraan, keamanan dan keadilan.
Dalam sistem sekuler-kapitalis, agama diposisikan sebagai urusan pribadi. Adapun pengaturan ekonomi, pendidikan, media, dan pemerintahan berjalan berdasarkan pertimbangan materi dan kepentingan sekelompok orang. Akibatnya, banyak kebijakan yang lebih menguntungkan kelompok tertentu daripada melindungi masyarakat. Inilah jahiliyah modern yang menuntut umat Islam harus berhijrah dari keadaan ini.
Perlu Hijrah Total
Fenomena hijrah yang berkembang di tengah umat merupakan kabar menggembirakan. Banyak Muslim mulai memperbaiki ibadah, menutup aurat, memperbanyak tilawah dan meninggalkan maksiat. Semua ini adalah bagian penting dari ketaatan kepada Allah SWT.
Akan tetapi, realitas menunjukkan bahwa keshalihan individu saja belum cukup untuk menyelesaikan persoalan umat secara menyeluruh. Menjadi shalih sendirian di tengah masyarakat yang rusak ibarat menjaga nyala lilin di tengah badai. Lilin itu mungkin tetap menyala untuk beberapa saat, tetapi ancaman untuk padam selalu ada.
Pendidikan yang baik di rumah tetap harus berhadapan dengan lingkungan yang rusak. Keluarga yang berusaha menjauhi riba tetap hidup dalam sistem ekonomi yang dibangun di atas praktik ribawi. Orangtua yang ingin menjaga akhlak anak tetap harus menghadapi media dan budaya yang terus mengikis keimanan dan nilai-nilai Islam.
Karena itu hijrah tidak boleh berhenti pada perubahan individu. Hijrah harus berkembang menjadi perubahan cara berpikir, cara memandang kehidupan dan perjuangan politis menuju sistem kehidupan yang akan membahagiakan umat manusia.
Hijrah Politis
Hijrah politis bukan berarti mengejar jabatan atau terlibat dalam perebutan kekuasaan praktis. Hijrah politis adalah perubahan kesadaran bahwa Islam bukan hanya mengatur ibadah ritual, tetapi juga mengatur kehidupan masyarakat dan negara. Allah SWT menegaskan di dalam al-Quran (yang artinya): Kami telah menurunkan kepada kamu al-Quran sebagai penjelas segala sesuatu (TQS an-Nahl [16] : 89).
Hijrah politis berarti menjadikan Islam sebagai pandangan hidup dan sistem yang melingkupi serta mengatur seluruh aspek kehidupan. Islam memiliki aturan tentang ekonomi, pendidikan, pergaulan, hukum, media hingga pemerintahan. Penerapan Islam secara kâffah (menyeluruh) ini hanya dapat dilakukan di dalam institusi Khilafah Islam.
Dengan kesadaran ini, seorang Muslim tidak lagi memandang berbagai problem sosial sebagai peristiwa yang berdiri sendiri. Ia mampu melihat hubungan antara kerusakan yang terjadi dengan sistem yang melahirkannya. Pada saat yang sama, ia juga memahami bahwa Islam memiliki solusi yang berasal dari Allah SWT. Inilah yang dimaksud dengan hijrah politis menuju Islam kâffah.
Peta Jalan Hijrah di Tengah Keluarga
Agar kesadaran ini tumbuh dan mengakar, diperlukan langkah-langkah nyata dalam kehidupan keluarga. Di antaranya:
- Memahami Islam sebagai ideologi kehidupan.
Langkah pertama adalah membangun fondasi pemikiran yang benar. Perlu menanamkan keyakinan kepada seluruh anggota keluarga bahwa Islam bukan sekadar agama ritual. Islam adalah mabda’ (ideologi) yang memiliki seperangkat pemikiran dan aturan untuk mengatur seluruh aspek kehidupan manusia.
Keluarga harus mengetahui bahwa Islam memiliki pandangan tentang ekonomi yang adil, pendidikan yang membentuk kepribadian Islam, serta sistem pemerintahan yaitu Khilafah Islam yang akan mengurus rakyat dengan syariah. Ketika fondasi ini kuat, keluarga tidak akan mudah terpesona oleh berbagai ide yang bertentangan dengan Islam.
- Membina diri dengan konsep Islam kaffah.
Kesadaran harus diwujudkan dalam amal nyata. Keluarga harus dibangun di atas ketaatan menyeluruh kepada Allah SWT. Keluarga berusaha membersihkan diri dari praktik-praktik yang bertentangan dengan syariah dan menumbuhkan ketaatan.
Pada saat yang sama, keluarga memperkuat tsaqâfah Islam melalui pembinaan, kajian, diskusi dan aktivitas keilmuan yang rutin. Dengan ilmu yang benar, keluarga akan memiliki ketahanan menghadapi berbagai arus pemikiran yang menyimpang dan merusak.
- Membentuk kesadaran politik Islam.
Kesadaran politik Islam atau wa’y[un] siyâsi perlu ditumbuhkan sejak dini. Orangtua dapat mengajak anak berdiskusi tentang berbagai peristiwa yang terjadi di masyarakat. Ketika harga beras naik, ketika muncul kasus kriminalitas anak; atau ketika terjadi berbagai problem sosial lainnya, orangtua mengajak anak berpikir lebih dalam.
Pertanyaan sederhana bisa dilontarkan seperti: Mengapa ini bisa terjadi? Bagaimana Islam solusinya? Hal ini dapat melatih kemampuan analisis sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap urusan umat dan keberpihakan pada Islam sebagai solusi hakiki berbagai persoalan kehidupan. Dari sinilah lahir generasi yang tidak apatis, tetapi memiliki himmatul-ummah, yaitu perhatian dan kepedulian terhadap kondisi Masyarakat.
- Kompak mendakwahkan Islam ke masyarakat.
Tahap berikutnya adalah menjadikan keluarga sebagai keluarga pengemban dakwah, yang tidak hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri. Mereka juga bertanggung jawab mengajak masyarakat kepada kebaikan. Allah SWT berfirman (yang artinya): Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik (TQS an-Nahl [16] : 125).
Ayah, ibu dan anak-anak bersinergi dalam aktivitas dakwah sesuai kemampuan masing-masing. Mereka bersama umat saling mendukung untuk menghadirkan kembali institusi Khilafah Islam, yaitu sistem kehidupan penerap Islam kâffah. Keluarga yang demikian tidak hanya menjadi konsumen perubahan, tetapi juga menjadi bagian dari agen hijrah politis itu sendiri.
Penutup
Sukses parenting tidak cukup diukur dari keberhasilan duniawi. Ukuran yang hakiki adalah keberhasilan melahirkan generasi yang beriman, bertakwa dan pejuang Islam kâffah. Keluarga bersemangat dan istiqamah dalam perjuangan hijrah politis. Tentu agar umat manusia merasakan kebahagiaan hidup dalam institusi yang diridhai Allah: Daulah Khilafah.
Perjuangan ini mungkin terasa berat jika dipikul sendirian. Akan tetapi, ketika keluarga dan umat bersinergi dengan landasan iman, saling menguatkan dalam dakwah dan ketaatan, maka keluarga tidak hanya menjadi tempat berlindung dari kerusakan zaman, tetapi juga menjadi pusat lahirnya generasi pejuang yang mengabdikan hidupnya untuk kemuliaan Islam.
Allah SWT berfirman:
Hendaklah ada di antara kalian segolongan orang yang menyerukan Kebajikan (Islam) dan melakukan amar makruf nahi mungkar. Mereka itulah kaum yang beruntung (QS Ali Imran [3]: 104).
WalLâhu’alam. [dr. Patmawati Nabila]





