Baiti Jannati

Membentuk Karakter Adil Pada Anak

Menyimak satu per satu poin-poin Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan AS, apakah membuat Ayah dan Bunda jadi ikut terbawa emosi? Kalau ya, bersyukurlah karena berarti sensitifitas keadilan pada diri kita masih ada. Berbeda halnya dengan yang membuat perjanjian ini, yaitu AS, dalam hal ini Donald Trump sebagai pemimpinnya. Arogansinya sebagai pemimpin negara adidaya telah membuat dia kehilangan jiwa keadilan. Dia berlaku semena-mena terhadap negara lain. Apalagi negara dengan bargaining position yang rendah seperti Indonesia.

Sungguh berbeda dengan para pemimpin shalih dari kalangan kaum Muslim. Salahudin al-Ayyubi, misalnya, diriwayatkan beliau berlaku adil bahkan terhadap musuhnya. Ketika Raja Richard, pemimpin musuh dalam Perang Salib menderita sakit, Salahudin menunda perang dan mengirimkan tabib untuk menyembuhkan dia.

Nah, masalahnya, Ayah dan Bunda, karakter adil seperti ini tidak terbentuk dengan sendirinya. Ia harus ditumbuhkan dan dibentuk. Apalagi jika kita hendak mencetak anak-anak kita sebagai pemimpin umat. Sebabnya, salah satu syarat pemimpin adalah adil. Jika tidak, yang muncul adalah para pemimpin zalim seperti Fir’aun, atau Trump, sang Fir’aun modern.

 

Makna Adil dalam Islam

Menurut Imam al-Ghazali dalam kitabnya, Ihyâ ‘Ulûm ad-Dîn, adil adalah keadaan jiwa yang membuat seseorang mampu menempatkan segala sesuatu pada posisinya. Ini karena akalnya memimpin dan mengendalikan syahwat dan amarahnya sesuai tuntunan syariah.

Dengan demikian, menurut al-Ghazali, adil adalah ketika akal ber-tahkîm pada hukum syariah. Dengan demikian adil bukan semata memberikan pembagian yang sama, namun juga mengendalikan emosi dan keinginan agar tidak menzalimi orang lain.

Allah SWT memerintahkan kita untuk menegakkan keadilan dengan firman-Nya (yang artinya): Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah… (TQS an-Nisa’[4]: 135).

Bagaimana Ayah dan Bunda bisa membentuk karakter adil ini pada jiwa anak? Berikut langkah-langkah yang bisa Ayah dan Bunda ambil dan perhatikan.

 

  1. Keadilan dimulai dari cara orangtua memperlakukan Anak.

Ayah dan Bunda, jiwa keadilan anak akan terbentuk dimulai dari cara kita memperlakukan anak. Ketika anak bertengkar, misalnya, sering kita meminta sang kakak untuk mengalah; atau menegurnya setiap kali si adik menangis. Kondisi ini bisa membuat kakak tertekan dan merasa dizalimi. Sebaliknya, pada adik, bisa melahirkan sikap sewenang-wenang. Di sinilah kita perlu menimbang dan memutuskan dengan adil. Kakak kita berikan haknya dan adik kita kenalkan batas-batas boleh dan tidak boleh.

Rasulullah SAW memberikan contoh yang sangat tegas dalam hal ini. Ketika seorang Sahabat, Nu’man bin Basyir, hendak diberi hadiah khusus berupa rumah oleh ayahnya, Rasulullah saw. bertanya kepada ayahnya, “Apakah semua anakmu engkau beri seperti ini?” Ketika dijawab tidak, beliau bersabda,

“Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah kepada anak-anakmu.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menunjukkan bahwa ketidakadilan, meskipun kecil, di rumah bisa melukai jiwa anak. Anak yang merasa dibedakan bisa tumbuh sifat iri, mudah menyimpan dendam, atau merasa tidak berharga.

 

  1. Memahamkan pada anak bahwa standar adil adalah syariah, bukan sekedar kesamaan.

Dari pengertian adil di atas tampak bahwa ukuran adil adalah kesesuaiannya dengan syariah sehingga sesuatu bisa ditempatkan dengan benar. Jangan sampai muncul standar-standar lain, misalnya, perasaan kasihan atau kepentingan materi. Misalnya, kita memutuskan membela pihak yang lemah, padahal pihak yang lemah justru berada di posisi salah. Adik tidak selalu harus dibela. Begitu pun perempuan; ia tidak selalu benar. Jadi, berlaku adil adalah mendengar dari kedua belah pihak sebelum memutuskan. Diriwayatkan Rasulullah saw. pernah berpesan kepada Ali ketika mengutus dirinya ke Yaman, ”Jika dua orang yang bersengketa duduk di hadapanmu maka janganlah engkau memutuskan perkara hingga engkau mendengar dari yang lain sebagaimana engkau mendengar dari yang pertama. Dengan demikian lebih layak bagi kamu untuk mengetahui keputusan yang benar.” (HR Ahmad dan Abu Dawud).

Adil juga tidak selalu berarti identik. Anak yang berbeda kebutuhan boleh mendapatkan perlakuan berbeda, selama didasarkan pada hikmah dan kebutuhan, bukan pada favoritisme. Misalnya anak yang sakit diberi perhatian lebih, atau anak yang sedang ujian diberi waktu belajar lebih panjang dengan membebaskan dirinya dari beberapa pekerjaan rumah.

Selama Ayah dan Bunda menjelaskan dengan bijak, anak akan belajar bahwa keadilan adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya dan syariah adalah standarnya. Tentu karena menjadi standar, anak harus belajar tentang hukum-hukum syariah yang terpancar dari akidah Islam.

 

  1. Menanamkan empati: akar dari jiwa adil.

Karena adil adalah menempatkan sesuatu pada posisi yang seharusnya, kita juga perlu untuk mengembangkan empati pada anak. Benar keadilan diukur dengan syariah, namun tidak boleh mematikan empati. Ayah dan Bunda bisa mengambil contoh dari kisah teladan berikut:

Al-Khair bin Na’im dikenal sebagai hakim Mesir yang adil. Suatu saat datanglah kepada dia dua orang yang bersengketa mengenai unta cacat. Keduanya datang kepada Al-Khair saat waktu shalat magrib tiba. Karena itu sang hakim menunda proses hukum hingga esok harinya agar tidak terlewatkan waktu shalat.

Tanpa diduga, pada malam hari unta yang disengketakan mati. Pagi harinya, kedua orang itu datang kepada hakim menyampaikan status unta, siapa yang harus mengganti harga unta yang mati itu? Al-Khair pun menjawab, “Putraku, bukan penjual atau pembeli yang mengganti, tetapi hakim yang menunda proses hukum yang harus mengganti.”

Akhirnya, Al-Khair pun mengganti harga unta itu (Ad-Durrar al-Munadzdzam, hlm. 231).

Anak tidak lahir otomatis dengan empati. Ayah dan Bunda perlu melatih sikap ini. Cara sederhana adalah dengan membiasakan anak berbagi dan memikirkan perasaan orang lain. Ketika anak berebut mainan, misalnya, benar mainan adalah milik anak kita sehingga ia berhak mengambil miliknya. Namun, kita ajari dia untuk berbagi dan berempati dengan menanyakan bagaimana kalo anak kita yang berada di posisi temannya?

Anak yang tumbuh dengan empati akan lebih mudah berlaku adil.

 

  1. Mengajarkan tanggung jawab, bukan sekadar hukuman.

Kadang kita terlalu cepat menghukum tanpa memberikan ruang anak memahami dampak perbuatannya. Padahal jiwa adil tumbuh saat anak mampu memahami sebab-akibat, belajar mengakui kesalahan dan memperbaiki kesalahannya.

 

  1. Ayah dan Bunda adalah cermin pertama keadilan.

Saat anak belajar tentang keadilan, mereka akan mencari sosok figuritas yang bisa memberikan teladan. Itu akan mereka cari di lingkungan yang paling dekat dan paling mereka kenal, yakni Ayah dan Bunda. Untuk menguatkan jiwa keadilan pada diri anak, Ayah dan Bunda juga bisa banyak membacakan cerita-cerita tentang para pemimpin, khalifah dan hakim yang adil. Cerita seperti ini banyak sekali di media digital.

 

  1. Untuk anak yang sudah beranjak remaja.

Ayah dan Bunda bisa mengenalkan konstelasi perpolitikan nasional dan internasional agar mereka memiliki kesadaran politik yang kuat, mampu menilai keadilan dan kezaliman pemimpin serta termotivasi untuk ikut berjuang menegakkan keadilan. Tentu keadilan hakiki yang hanya ada dalam sistem Islam.

 

Penutup

Inilah Ayah dan Bunda, beberapa cara untuk membentuk jiwa adil pada diri anak. Yang paling penting tentu kita bentuk terlebih dulu dasarnya, yakni membentuk akidah yang lurus dan keterikatan terhadap hukum syariah.

Semoga Allah memudahkan Ayah dan Bunda untuk mendidik anak-anak kita agar kelak mereka tumbuh menjadi Salahudin-Salahudin baru yang adil. Bukan pemimpin zalim tanpa empati semacam Trump! [Arini Retnaningsih]

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nineteen + 3 =

Back to top button