
Strategi Pengasuhan Anak di Era Digital
Libur panjang semester telah usai. Bunda, apakah merasakan hal yang sama dengan bunda-bunda lain, selama libur, anak lebih intens berinteraksi dengan gawainya daripada dengan keluarga? Sepertinya sudah menjadi pemandangan yang lumrah, satu keluarga pergi berlibur. Akan tetapi, ayah asyik chatting membahas pekerjaan; ibu tenggelam dalam live sale e-commerce; sementara anak-anak mereka masing-masing terpekur menatap layar, scroll dan scroll. Berjam-jam. Memang benar, anak menjadi lebih tenang. Akan tetapi, di balik itu, bahaya besar sedang mengintai mereka.
Kekerasan di balik game favorit mereka. Pornografi yang sering menyelip dalam aplikasi-aplikasi yang mereka buka. Pemikiran-pemikiran rusak yang berseliweran di medsos mereka. Artis-artis idola yang memberikan pengaruh buruk dalam tontonan mereka. Semua membuat Bunda deg-degan, setiap saat. Mau melarang, anak malah membangkang. Mau mengontrol, anak lebih canggih menghindar. Mau marah, anak makin menjauh. Bunda jadi serba salah.
Saking canggih dan menariknya berbagai konten digital ini, tak sedikit anak yang tak bisa melepaskan diri dari gawai. Bagi sebagian ibu, hal ini merupakan cara yang paling efektif untuk membuat anak tenang; tidak mengganggu aktivitas ibu. Bahkan banyak ibu-ibu, yang tak memiliki pemahaman bahayanya, memilih bertekuk lutut menyerahkan anak dalam pengasuhan digital.
Akan tetapi, itu bukan kita, Bunda. Kita adalah ibu-ibu cerdas dan bertakwa. Kita tidak akan bertekuk lutut di hadapan algoritma digital. Kita akan bertempur melawan sekalipun ada kekuatan besar di baliknya. Kekuatan Kapitalisme yang saat ini mencengkeram, mewarnai dan menghegemoni dunia, termasuk dunia digital.
Fitnah Dunia Digital pada Anak
Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya harta kalian dan anak-anak kalian hanyalah cobaan (fitnah). Di sisi Allahlah pahala yang besar (QS at-Taghabun [64]: 15).
Ayat ini menegaskan bahwa anak adalah cobaan. Dunia digital merupakan bagian dari cobaan tersebut. Tanpa bimbingan iman, anak dapat terseret pada konten yang merusak akidah dan akhlak, budaya hedon dan flexing, hilangnya rasa malu dan kebergantungan pada validasi manusia, bukan ridha Allah. Yang paling berbahaya, anak sebagai generasi yang kita harapkan akan membawa kebangkitan Islam, potensinya dibajak hanya untuk menjadi alat pelanggeng kapitalisme. Menjadi pion-pion yang dikendalikan untuk menggerakkan roda Kapitalisme sekaligus obyek eksploitasinya.
Sejauh itukah? Ya, Bunda. Anak, bila sudah kecanduan gadget, cara hidupnya akan berubah. Lebih berorientasi materialis, baik pola pikir maupun pola sikapnya. Belum lagi melemahnya kreativitas dan kemalasan berpikir akibat waktu untuk berpikir kreatif digantikan dengan aktivitas di depan gadget (Resty Nurhaliza, dkk. 2014, ”Studi Literatur Pengaruh Intensitas Pemakaian Gadget terhadap Kemampuan Literasi pada Anak Usia Sekolah Dasar [6 – 12 Tahun]”). Kondisi ini akan mencetak generasi yang konsumtif, alih-alih produktif. Mereka semakin bergantung pada teknologi dan industri dari luar, yaitu dari negara-negara kapitalis.
Lantas, bagaimana agar masa depan anak tidak dibajak oleh Kapitalisme dan senantiasa produktif dalam perjuangan membangkitkan umat? Berikut adalah tips-tips yang bisa kita jalankan.
- Menanamkan Akidah sebagai Pondasi Utama.
Akidah adalah pondasi pengasuhan Islam. Anak yang mengenal Allah akan memiliki self-control meski tidak diawasi. Akidah inilah yang harus kita bentuk pertama kali pada anak dan kita jadikan sebagai asas bagi pembentukan kepribadiannya. Allah SWT berfirman:
Ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika ia memberi pelajaran kepada dia, “Anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah…” (QS Luqman [31]: 13).
Bunda perlu menanamkan kesadaran bahwa tujuan hidup manusia adalah beribadah kepada Allah (QS adz-Dzariyat [51]: 56), yaitu mencari keridhaan-Nya dengan menjalankan berbagai ketaatan kepada-Nya, bukan dengan mengisi hidup dengan kesia-siaan yang tidak bernilai pahala. Rasulullah saw. bersabda:
Ada dua nikmat yang banyak membuat manusia tertipu (menyia-nyiakannya): kesehatan dan waktu luang (HR al-Bukhari).
Anak juga harus sering dimotivasi untuk beramal shalih. Di antaranya dengan hadits Rasulullah saw. bahwa salah satu golongan yang akan mendapatkan naungan pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan Allah adalah pemuda yang giat beribadah (HR al-Bukhari, No. 1423 dan Muslim, No. 1031).
Keyakinan terhadap murâqabah (pengawasan) Allah juga perlu diperkuat. Dengan itu anak menyadari bahwa Allah Maha Melihat, termasuk melihat aktivitas digital yang mereka lakukan. Juga bahwa setiap klik dan tontonan akan diminta pertanggungjawaban kelak di akhirat.
- Mengajarkan Keterikatan terhadap Hukum-Hukum Allah.
Anak sedari kecil kita kenalkan dengan hukum-hukum syariah. Mengajari mereka hukum-hukum sosial terutama interaksi dan pergaulan dengan lawan jenis; hukum akhlak seperti tidak berlebihan, tidak berlaku mubazir, tidak bermewah-mewah, dan memiliki rasa malu sehingga mereka terbiasa menutup aurat, menahan pandangan dari melihat aurat dan menjauhi kemaksiatan; juga malu untuk selfi di tempat umum dengan berbagai gaya yang menarik perhatian. Semua kita kaitkan dengan niat untuk mendapatkan keridhaan Allah dan menjauhi kemurkaan-Nya.
- Keteladanan Bunda dan Keluarga.
Bunda, bagaimana anak bisa menjauhkan diri dari gawai sementara Bunda dan Ayah tak pernah lepas darinya? Kata orang bijak, keteladanan lebih kuat daripada seribu nasihat. Maka dari itu tugas kita sebagai orang tua adalah melayakkan diri untuk menjadi teladan anak, agar mereka tidak berpaling mencari teladan dari medsos.
- Menghadirkan Diri dan Hati untuk Anak.
Bunda, anak membutuhkan sosok yang dekat, tempat ia mengadu, mencari jawaban atas rasa ingin tahunya yang besar, yang mendukung dirinya ketika ia rapuh dan memberi ia semangat saat ia lemah. Sosok yang menyayangi dia dan selalu menginginkan kebaikan untuk diri. Bukan sosok yang selalu curiga, selalu mengkritik, malas mencari jawaban atas pertanyaan mereka, apalagi yang sering berbohong dan tidak bisa dipercaya. Jangan sampai anak kita lebih percaya pada ChatGPT, bahkan setiap kali memiliki masalah mereka lebih memilih bertanya dan meminta sarannya alih-alih kedua orangtuanya.
- Mengalihkan Anak dari Gawai.
Banyak sekali cara mengalihkan anak dari gawai, Bunda. Hanya saja, memang Bunda harus menghadirkan diri dan hati, kreatif dalam merancang aktivitas yang menarik bagi anak. Tidak berat Bunda, kalau kita ingat bahwa ini adalah medan pertempuran kita, yang kelak Allah akan berikan balasan terbaik dengan menjadikan mereka anak-anak shalih yang senantiasa mengalirkan pahala.
Bunda bisa bercerita berbagai kisah teladan Nabi saw., Sahabat dan orang-orang shalih lainnya. Bisa membuat permainan yang menarik, mendampingi mereka bermain, mengajak mereka keluar rumah: jalan-jalan menyaksikan tanda kebesaran Allah, rekreasi, silaturahmi, atau sekadar melemaskan otot dengan lari pagi atau bersepeda.
- Menghidupkan Rumah dengan Ibadah dan Ilmu.
Rumah yang hidup dengan ibadah akan memudarkan dominasi layar. Bunda bisa membiasakan shalat berjamaah dengan anak-anak perempuan dan memotivasi anak laki-laki ke masjid, membaca dan menghapal al-Quran bersama anak, belajar menyampaikan nasehat misalnya dengan kultum, mengajak mereka menelaah kitab, dan sebagainya. Tentu dengan cara yang menyenangkan dan bervariasi.
Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan.” (HR Muslim). Rumah yang kosong dari ibadah mudah diisi oleh kebisingan dunia digital.
- Mengarahkan Teknologi sebagai Sarana Kebaikan.
Islam tidak anti teknologi karena sifatnya sebatas madaniyah/kebendaan saja. Hukum teknologi dengan demikian bergantung pada penggunaannya. Gawai boleh digunakan untuk kebaikan, seperti menggunakan media digital untuk belajar al-Quran, mendengar kajian yang sesuai usia, dan mengakses konten edukatif dan islami.
Dengan demikian, teknologi menjadi wasilah taat, bukan jalan maksiat. Akan tetapi, dalam hal ini Bunda harus memiliki batasan tegas mana yang boleh dan tidak, berapa lama waktu memegang gawai, serta tidak melepaskan anak-anak begitu saja dari pengawasan kita. Minta password gawai mereka dan jelaskan mengapa kita harus mengontrol. Atau gunakan aplikasi-aplikasi pengawasan orangtua. Sebaiknya mereka tidak kita berikan gawai sampai mereka paham penggunaannya dan siap bertanggung jawab.
- Memunculkan Kesadaran Politis dan Semangat Berjuang.
Seiring bertambah usia anak, Bunda bisa mulai memperkenalkan tentang ideologi (mabda’) asing, terutama Kapitalisme dengan asas sekulernya, beserta turunan-turunannya seperti liberalisme, demokrasi dan seterusnya. Sampaikan bagaimana Kapitalisme saat ini menghegemoni dunia digital dan berusaha menguasai generasi muda Muslim untuk mereka bentuk dengan mabda’ mereka. Selama umat Islam tidak meninggalkan mabda’ ini, umat Islam akan terbelenggu dalam keterpurukan. Maka dari itu, ajak mereka berjuang penjadi pelopor dan agen perubahan yang akan membawa kebangkitan umat.
Dalam hal ini Bunda jangan memaksa. Tumbuhkan kesadaran melalui dialog, diskusi atas berbagai persoalan dunia dan melibatkan mereka dalam aktivitas dakwah Bunda. Mereka akan panas jika Bunda menularkan panas pada mereka.
- Mengupayakan Tegaknya Perisai Umat.
Last but not least, Bunda harus memperkuat diri karena pertempuran ini sangat berat. Kita tidak akan mampu bertempur sendirian. Karena itu, Bunda, bergabunglah dengan bunda-bunda lain yang memiliki cita-cita dan tujuan yang sama. Bersama kita akan saling menguatkan dan bekerja sama. Terutama untuk mewujudkan perisai kita yang akan melindungi anak-anak dari berbagai kerusakan dan mengarahkan mereka pada kebaikan. Rasulullah saw., bersabda, “Sesungguhnya seorang imam itu [laksana] perisai. Dia akan dijadikan perisai, orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Ke sini juga kita arahkan anak-anak kita, agar nantinya kita bisa berjuang bersama dalam dakwah untuk mewujudkan penerapan Islam kâffah. Generasi kita dan generasi anak-anak kita. Dua generasi, satu amanah.
WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. [Arini Retnaningsih]





