Baiti Jannati

Membentengi Anak dari Tren Bunuh Diri

Bunuh diri saat ini menjadi tren di kalangan remaja. Bulan Oktober lalu, empat anak bunuh diri. Tiga anak usia SMP di Sawah Lunto Sumatra Barat dan Sukabumi. Satu anak masih usia SD di Cianjur. Ini melengkapi temuan KPAI yang menyebutkan sepanjang tahun 2025, jumlah anak yang tercatat bunuh diri sebanyak 25 anak (Tirto.id, 05-10-2025).

Miris, ya Ayah dan Bunda. Lebih miris lagi bukan hanya masalah jumlah. Usia pelaku juga semakin muda. Apakah seberat itu beban anak-anak kita sekarang sampai tidak sanggup bertahan? Padahal anak-anak harusnya mengisi hidup dengan kegembiraan.

Persoalan tren bunuh diri anak ini tidak bisa dipandang remeh karena menunjukkan ada yang salah dalam sistem kehidupan. Penyebabnya juga bukan persoalan sederhana seperti pengaruh medsos saja, tetapi kompleks. Berbagai faktor yang berjalin berkelindan.

 

Analisis Penyebab Bunuh Diri Anak

Peningkatan kasus bunuh diri terjadi secara global di seluruh dunia. Theguardian.com merilis data dari OpenAI bahwa sekitar sejuta pengguna membicarakan topik bunuh diri di aplikasi ChatGPT (Theguardian.com, 27-10-2025).

Di antara pengguna ini ternyata terdapat anak-anak juga. Sebagiannya kemudian memutuskan benar-benar bunuh diri sehingga Open­AI sebagai penyedia aplikasi ChatGPT dituntut oleh beberapa orangtua anak pelaku bunuh diri (Tempo.co, 03-09-2025).

Inilah, Ayah dan Bunda, yang perlu kita waspadai. Anak kita tidak selamanya berada dalam dekapan kita. Mereka juga menghadapi berbagai persoalan dalam proses pendewasaan diri. Sayangnya, tidak semua mereka lulus. Bahkan ada yang lantas berputus asa. Memilih mengakhiri hidup. Pilihan ini terjadi karena beberapa faktor yang berkaitan, di antaranya:

  1. Anak tidak mendapatkan bekal pendidikan agama sedari dini di rumah. Akibatnya, anak tumbuh tanpa keyakinan terhadap keberadaan Allah dan berputus asa terhadap rahmat dan pertolongan-Nya.
  2. Pendidikan agama juga tidak diperoleh anak secara optimal di sekolah. Dengan kurikulum yang sekuler, anak diarahkan untuk mengejar prestasi yang bersifat materi, bagaimana mereka bisa bekerja nantinya. Kurikulum juga memiliki muatan yang berat, yang sering memberikan tekanan yang besar terhadap anak. Di sisi lain, anak tidak dididik untuk memiliki kemampuan bertahan menghadapi kesulitan dan memecahkan persoalan.
  3. Lingkungan yang liberal dan hedon. Gaya hidup lingkungan anak yang bebas dan hedon sering membuat anak mengalami tekanan. Tuntutan gaya hidup yang sama dengan lingkungan membuat sebagian anak tertekan karena tidak memiliki kemampuan. Hal ini juga mengundang perilaku bullying. Anak yang dianggap berbeda, misalnya tidak mau pacaran, atau tidak mampu flexing, dijadikan sebagai obyek bullying. Bullying ini merupakan salah satu faktor yang memicu bunuh diri anak.
  4. Kuatnya pengaruh media, terutama media sosial. Idola yang bunuh diri bisa memicu proses imitasi dari followers-nya. Begitupun terbukanya percakapan via ChatGPT tentang bunuh diri, bagaimana bunuh diri, dan dorongan untuk bunuh diri. Bahkan sampai ada komunitas-komunitas bunuh diri yang mengincar mangsa melalui medsos.

 

Melihat beberapa faktor penyebab bunuh diri anak, kita melihat persoalan ini adalah persoalan bersifat sistemik. Dalam hal ini, solusi juga seharusnya solusi sistemik, yaitu solusi yang menyentuh akar penyebab dari suatu masalah secara menyeluruh, bukan hanya gejala di permukaannya. Solusi sistemik hanya bisa dilakukan oleh negara sebagai institusi yang memiliki wewenang membuat hukum.

Sekalipun demikian, Ayah dan Bunda, perlu kita pahami bahwa proses pembentengan anak yang pertama kali harus dilakukan di rumah. Di sinilah kita memiliki peran penting untuk mencegah anak melakukan tindakan yang akan mengundang murka Allah ini.

 

Membentengi Anak dari Bunuh Diri

Ayah dan Bunda, berikut hal yang bisa kita lakukan untuk bisa menjauhkan anak-anak kita dari tren bunuh diri.

Pertama: Membina kekuatan akidah anak dan membentuk kepribadian Islam, yakni anak berpikir dan berbuat berdasarkan akidah Islam. Dalam proses ini, anak harus kita beri penjelasan bahwa Allah pasti akan memberikan ujian pada hamba-hamba-Nya yang beriman. Ujian ini adalah bentuk kasih-sayang Allah, karena dengan ujian, Allah akan memberikan ampunan, pahala dan menaikkan derajat kita di sisi-Nya. Ujian sering juga menjadi sarana untuk mendewasakan dan menguatkan diri kita. Bisa kita berikan contoh bagaimana para nabi diuji. Begitu pula para sahabat dan salafush-shâlih.

Satu hal yang harus kita yakinkan, Allah pasti akan memberikan pertolongan pada kita untuk menyelesaikan ujian tersebut. Allah adalah tempat kita berpegang, bersandar dan meminta pertolongan. Persoalan apapun, pasti akan ada jalan keluarnya. Allah SWT berfirman:

﴿وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا . وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ ۚ ﴾

Siapa saja yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan bagi diainya jalan keluar serta memberi dia rezeki dari arah yang tidak dia sangka-sangka. Siapa saja yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya (QS ath-Thalaq ayat 2-3).

 

Kedua: Menjelaskan hukum bunuh diri dalam Islam. Nabi saw. bersabda:

«وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ، عُذِّبَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

Siapa saja yang membunuh dirinya sendiri dengan sesuatu, maka nanti pada Hari Kiamat ia akan disiksa dengan sesuatu itu.” (HR Muttafaq ‘alayh).

 

Bunuh diri adalah salah satu dosa besar yang pelakunya diancam dengan azab neraka. Orang yang bunuh diri dianggap telah berputus asa dari rahmat Allah dan menganggap Allah tidak ada untuk menolong dirinya. Ini adalah salah satu tindakan kufur sehingga konsekuensinya sangat berat.

Ketiga: Mengajarkan problem solving kepada anak, bahwa setiap masalah pasti ada solusinya. Karena itu, dari kecil Ayah dan Bunda harus belajar membiarkan anak untuk mencari solusi sendiri bagi masalah-masalahnya. Terus membantu anak boleh jadi adalah ungkapan cinta kita. Namun, hal itu tidak akan mendidik anak untuk kreatif merumuskan problem solvingnya.

Keempat: Memberikan tantangan-tantangan pada anak sesuai tingkatan umurnya sedari kecil. Hal ini akan membentuk kekuatan mentalnya. Namun, perlu diperhatikan agar tantangan tersebut memang mampu ia taklukkan sehingga ia percaya ia bisa menyelesaikan masalah.

Kelima: Berusaha untuk menjadi sahabat anak. Kuncinya, Ayah dan Bunda harus meyakinkan anak bahwa Ayah dan Bunda adalah sosok yang bisa dipercaya. Karena itu jangan pernah membohongi anak sekalipun dalam hal-hal yang menurut kita sepele. Ayah dan Bunda juga harus siap untuk mendampingi dan menerima ananda apa adanya. Dengan demikian ketika ada masalah yang tak sanggup ananda selesaikan, ia akan berlari mencari Ayah dan Bunda, bukan menemui ChatGPT.

Keenam: Me-manage sosmed anak berdasarkan usia dan kematangan kepribadiannya. Ayah dan Bunda bisa menggunakan berbagai fitur dan aplikasi untuk mengontrol sosmed ananda. Sebaiknya, ananda diberi gawai ketika sudah memiliki kematangan emosi, kontrol sosial dan pemahaman agama yang kuat.

Kerujuh: Ayah dan Bunda, ajarkanlah anak untuk menghadapi bullying. Yakinkan bahwa Allah tidak memandang rupa, harta, kedudukan dan kecerdasan seseorang; namun ketakwaannya (Lihat: QS al-Hujurat [49]: 10).

Kedelapan: Ayah-Bunda juga harus peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada anak. Kalau anak tiba-tiba sedih, atau tampak cemas, menarik diri, menjadi pendiam atau perubahan lain, Ayah dan Bunda harus mendampingi anak dengan bijak. Jangan menginterogasi, namun yakinkan Ayah dan Bunda siap mendengarkan masalahnya dan membantu pemecahannya.

Inilah, Ayah dan Bunda, upaya yang bisa kita lakukan di rumah. Upaya ini, bila disertai dengan penerapan Islam secara sempurna oleh negara, akan menghasilkan solusi paripurna bagi persoalan tren anak bunuh diri di Indonesia, bahkan dunia.

 

WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. [Arini Retnaningsih]

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 × 1 =

Back to top button