
Pelajaran Hanya Berguna Bagi Orang Berakal
Sesungguhnya pada yang demikian benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedangkan dia menyaksikannya. (QS Qaf [50]: 37).
Dalam ayat sebelumnya Allah SWT mengingatkan manusia, terutama orang-orang kafir, tentang kaum sebelum mereka yang memiliki kekuatan lebih besar dari mereka. Mereka kemudian dibinasakan karena kekufuran mereka.
Ayat ini kemudian menegaskan bahwa semua kejadian ini seharusnya menjadi peringatan bagi mereka.
Tafsir Ayat
Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya pada yang demikian benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal.
Ayat ini diawali dengan kata « إنَّ » (sesungguhnya). Ini adalah harf tawkîd. Kata ini berfungsi untuk menegaskan berita yang akan disebutkan sesudahnya. Huruf al-lâm pada kata « لَذِكْرى » juga memberikan makna tawkîd (penegasan). Dengan demikian ada dua kata yang berguna sebagai ta’kîd (penegasan) dalam ayat ini.
Lalu kata « ذلِكَ » merupakan ism al-isyârah (kata penunjuk). Yang ditunjuk bisa berupa berita yang paling dekat yang disampaikan sebelumnya, yakna pembinasaan generasi-generasi sebelumnya yang memiliki kekuatan yang lebih dahsyat. Bisa juga menunjuk pada semua yang telah disebutkan sebelumnya, yakni surga yang didekatkan kepada orang-orang bertakwa, neraka yang dipenuhi penghuni, dan lainnya.1
Menurut Syihabuddin al-Alusi, yang ditunjuk adalah pembinasaan (kaum tersebut), atau apa yang disebutkan dalam surat ini.2
Muhammad al-Amin al-Harari juga berkata, “Sesungguhnya pada apa yang telah disebutkan dari kisah mereka, atau pada apa yang disebutkan dalam surah ini, dari awal hingga akhir, berupa berbagai pelajaran, berita dan pembinasaan negeri-negeri.”3
Ini juga yang dijelaskan al-Qurthubi. Mufassir itu berkata, “Pada apa yang telah kami sebutkan dalam surah ini.”4
Tentang makna firman-Nya: « إِنَّ فِي ذلِكَ » (sesungguhnya pada yang demikian), Burhanuddin al-Biqa’ berkata, “Perkara yang menakjubkan berupa berbagai nasihat yang Kami paparkan di sini—sebagaimana yang kalian lihat—dengan gaya-gaya yang mengagumkan dan cara-cara yang luar biasa, baik dalam pembinasaan maupun selainnya.”5
Ditegaskan dalam ayat ini bahwa semua yang telah disebutkan sebelumnya itu menjadi adz-dzikrâ (peringatan, kenangan). Kata « الذِّكْرَى » adalah ism mashdar, yang berarti « التَّذَكُّرُ » (mengingat kembali) dan « التَّذْكِرَةُ » (peringatan). Kedua kata tersebut merupakan bentuk mashdar dari kata yang sama, yakni: « ذَكَرَهُ، يَذْكُرُهُ، ذِكْرًا وَذِكْرَى » (dia telah mengingatnya; ia sedang mengingatnya; dengan dzikr[an] [ingatan] dan dzikrâ [peringatan]).6
Menurut banyak para mufassir, kata adz-dzikrâ dalam ayat ini bermakna « تَذْكِرَةً وَعِظَةً » (peringatan dan nasihat).7
Secara lebih spesifik, Ibnu ‘Asyur mengatakan bahwa adz-dzikrâ adalah « التَّذْكِرَةُ الْعَقْلِيَّةُ » (peringatan yang bersifat rasional). Artinya, « التَّفَكُّرُ فِي تَدَبُّرِ الْأَحْوَالِ » (merenungkan dengan penuh penalaran dan pertimbangan pada keadaan-keadaan) yang telah menimpa mereka hingga berujung pada kebinasaan, agar mereka dapat mengkiaskan keadaan-keadaan itu dengan keadaan mereka sendiri. Dengan itu mereka mengetahui bahwa apa yang akan menimpa mereka sama dengan apa yang telah menimpa orang-orang itu. Ini adalah qiyas rasional yang dapat dipahami oleh orang yang berakal cerdas dengan sendirinya, tanpa memerlukan adanya pihak yang memberi peringatan.8
Kemudian disebutkan:
…bagi orang-orang yang mempunyai akal.
Itu artinya, berita tentang pembinasaan orang-orang terdahulu, tentang surga dan neraka serta tentang semua perkara penting dan menakjubkan yang disebutkan menjadi peringatan, pelajaran, dan nasihat bagi orang yang memiliki akal (qalb).
Kata « قَلْبٌ » dalam bahasa Arab menunjuk pada beberapa makna. Dalam konteks ayat ini, menurut Ibnu ‘Abbas bermakna ‘aql[un] (akal).9 Demikian juga menurut Mujahid.10 Penjelasan yang sama dikemukakan oleh banyak mufassir.11
Secara bahasa, kata al-qalb bermakna al-‘aql. Demikian sebagaimana diterangkan oleh as-Sam’ani. Menurut as-Sam’ani ketika ada seseorang berkata kepada orang lain: « مَالك من قلب » (kamu tidak punya hati), maksudnya: « مَالك من عقل » (kamu tidak punya akal). Dikatakan pula: « أَيْن قَلْبك » (di mana hatimu?), maksudnya adalah: « أَيْن عقلك » (di mana akalmu?).12
Menurut Ibnu Asyur, « الْقَلْبُ » adalah « الْعَقْلُ وَإِدْرَاكُ الْأَشْيَاءِ عَلَى مَا هِيَ عَلَيْهِ » (akal serta kemampuan memahami segala sesuatu sebagaimana hakikatnya).13
Wahbah al-Zuhaili juga memaknai qalb di sini adalah « عقل يعي به ويتفكر في الحقائق » (akal yang dengan itu ia memahami dan merenungkan berbagai hakikat).14
Tentu saja, peringatan, nasihat dan pelajaran itu baru berguna bagi orang yang memiliki dan menggunakan akal dengan benar. Al-Qurthubi berkata, “Maknanya adalah akal, yang dengan itu ia ber-tadabbur (merenungkan, memikirikan, memperhatikan).”15
Bagi mereka yang memiliki akal, tetapi tidak mereka gunakan dengan benar, maka mereka seperti orang yang tidak berakal. Abu Hayyan al-Andalusi berkata, “Orang yang memiliki qalb (akal), tetapi tidak mengerti atau memahami, maka dia seperti orang yang tidak memiliki hati sama sekali.”16
Penjelasan yang sama juga dikemukakan az-Zamakhsyari dalam tafsirnya.17
Kesimpulan demikian juga diperkuat dengan penggunaan kata « قَلْبٌ » dengan bentuk nakirah. Menurut Wahbah az-Zuhaili, hal itu mengandung isyarat bahwa setiap hati yang tidak mau berpikir dan tidak ber-tadabbur, hakikatnya seolah-olah tidak ada.18
Al-Badhawi juga berkata, “Pada penggunaan bentuk nakirah dan pengaburan kata qalb[un] terdapat unsur pengagungan, sekaligus isyarat bahwa setiap hati yang tidak berpikir dan tidak ber-tadabbur adalah seperti hati yang tidak ada sama sekali.”19
Dengan demikian, peringatan dan pelajaran hanya berguna bagi orang yang memiliki dan menggunakan akal dengan benar. Ibnu ‘Athiyah berkata, “« لِمَنْ كانَ لَهُ قَلْبٌ » berarti: bagi orang yang memiliki « قَلْبٌ وَاعٍ » (akal yang sadar atau paham) sehingga ia dapat mengambil manfaat darinya.”20
Dengan memiliki akal yang digunakan dengan benar itu, maka akan membuat orangnya menjadi tersadar. Ia lalu berhenti dari semua kekufuran dan kemaksiatan serta mengganti semua itu dengan keimanan dan ketakwaan. Ibnu Jarir al-Thabari berkata, “Artinya, bagi siapa saja yang memiliki akal dari umat ini, maka dia akan berhenti dari perbuatan yang dulu mereka lakukan berupa kekufuran kepada Tuhan mereka. Pasalnya, mereka takut azab akan menimpa mereka yang serupa dengan azab yang telah menimpa orang-orang itu.”21
Muhammad al-Amin al-Harari ketika menjelaskan firman-Nya: « لِمَنْ كانَ لَهُ قَلْبٌ » berkata, “Qalb (akal) yang selamat, yang dengan itu ia dapat menangkap hakikat apa yang dia saksikan dari berbagai peristiwa, lalu memikirkannya sebagaimana mestinya. Sebabnya, siapa saja yang memiliki qalb seperti itu, maka dia akan mengetahui bahwa poros kehancuran mereka adalah kekufuran, sehingga ia pun menjauhinya hanya dengan menyaksikan bekas-bekas (kehancuran tersebut) tanpa memerlukan peringatan tambahan.”22
Kemudian Allah SWT berfirman:
…atau yang menggunakan pendengarannya, sementara dia menyaksikannya.
Secara bahasa, kata « أَلْقَاهُ » berarti « طَرَحَهُ » (melemparkannya)23. Dalam kalimat « أَلْقَى السَّمْعَ » (dia melemparkan atau mencurahkan pendengaran), berarti « اسْتَمَعَ مَا يُقَالُ لَهُ » (dia menyimak apa yang dikatakan kepada dirinya). Demikian makna: « أَلْقِ سَمْعَكَ إِلَيَّ » (lemparkan pendengaranmu kepadaku), adalah « اسْتَمِعْ مِنِّي » (dengarkan atau simaklah [perkataan] dariku).24
Ad-Dahhak menyebutkan bahwa orang-orang Arab berkata; « أَلْقَى فُلَانٌ سَمْعَهُ » (Fulan mencurahkan pendengarannya), maknanya adalah « اسْتَمَعَ بِأُذُنَيْهِ » (dia mendengarkan dengan dua telinganya).25
Dalam konteks ayat ini, yang didengarkan adalah al-Quran. Ini sebagaimana diterangkan al-Baghawi, bahwa makna ayat ini adalah « اسْتَمَعَ الْقُرْآنَ » (mendengarkan atau menyimak al-Quran).26
Penjelasan serupa juga dikemukakan oleh Ibnu ‘Athiyah, yakni bahwa firman Allah SWT itu bermakna: “Ia mengarahkan pendengarannya pada kabar-kabar yang mengandung nasihat dan meneguhkannya dalam pendengarannya. Itulah yang dimaksud dengan « إلقاء له عليها » (mencurahkan pendengaran kepada dirinya). Termasuk makna ini adalah firman Allah SWT:
Aku telah melimpahkan kepada kamu kasih sayang dari-DiriKu (QS Thaha [20]: 39).27
Menurut Ibnu ‘Asyur, ungkapan kata « إِلْقَاءُ السَّمْعِ » (mencurahkan pendengaran) merupakan majaz untuk menunjukkan sangat kuatnya sikap menyimak al-Quran dan nasihat Rasul saw.; seakan-akan pendengaran mereka dicurahkan sepenuhnya ke arah itu sehingga tidak ada lagi sesuatu pun yang menyibukkan dirinya untuk didengar selain itu.28
Adapun kata « الشَّهِيدُ » (orang yang menyaksikan) adalah « الْمُشَاهِدُ » (orang yang menyaksikan). Bentuk shîghat al-mubâlaghah (bentuk hiperbolik, melebihkan) pada kata tersebut digunakan untuk menunjukkan kuatnya aktivitas menyaksikan hal yang diingatkan; yakni memusatkan pandangan mata kepadanya dengan penuh perhatian demi memahami maksudnya dari berbagai isyarat atau raut wajah yang menyertai ucapannya, karena sesungguhnya penglihatan membantu pemahaman.29
Secara keseluruhan, Wahbah az-Zuhaili menerangkan bahwa pada kisah umat-umat terdahulu dalam surat ini dan surat sebelumnya terdapat pelajaran adab dan nasihat, baik antar individu maupun antar golongan. Pada itu semua ada pelajaran, nasihat dan keteladanan bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran darinya. Mereka adalah setiap orang yang memiliki akal yang difungsikan untuk memikirkan dan merenungkan berbagai kenyataan yang terjadi serta korelasi antara sebab dan akibat.30
Demikianlah. Berbagai peristiwa yang menimpa orang-orang terdahulu seharusnya menjadi peringatan, pelajaran dan nasihat bagi orang-orang sesudahnya. Termasuk kejadian yang harus diperhatikan, dan direnungkan, serta dijadikan pelajaran adalah berbagai azab di dunia yang ditimpakan terhadap orang-orang kafir. Inilah yang ditegaskan dalam ayat ini. Hal ini juga disebutkan dalam firman-Nya:
Tidakkah mereka bepergian di bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul), padahal orang-orang itu lebih besar kekuatannya dari mereka? (QS Fathir [35]: 44).
Hanya saja, peringatan dan pelajaran itu tidak berguna bagi semua orang. Di antara mereka yang menjadikan pelajaran adalah orang yang memiliki akal dan mau menggunakan akalnya dengan benar, serta mencurahkan pendengarannya, sebagaimana disebutkan dalam ayat ini. Dalam ayat lainnya disebutkan:
Sungguh, dalam kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal (QS Yusuf [12]: 111).
Juga firman-Nya:
Sesungguhnya pada yang demikian benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal (QS az-Zumar [39]: 21).
Mereka sesungguhnya dikaruniai akal yang bisa berpikir, tetapi mereka tidak mau menggunakan akalnya itu. Karena itu mereka layak mendapat azab.
WalLâh a’lam bi al-shawâb. [Ust. Rokhmat S. Labib, M.E.I.]
Catatan kaki:
- Al-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, 28, 150
- Al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî, 13 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1994), 341
- Al-Harari, Tafsîr Hadâiq al-Rûh wa al-Rayhân, 27, 476
- Al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur‘ân, 17, 23
- Al-Biqa’i, Nazhm al-Durar fî Tanâsub al-Âyât wa al-Suwar, 18 (Kairo: Dar al-Kitab al-Islamiy, tt), 436
- Al-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, 28, 150
- Al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur‘ân, 17, 23; al-Harari, Tafsîr Hadâiq al-Rûh wa al-Rayhân, vol. 27, 476
- Ibnu ‘Asyur, al-Tahrîr wa al-Tanwîr , 30, 323
- Al-Khazin, Lubâb al-Ta‘wîl fî Ma’ânÎ al-TanzÎl, 4 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1995), 190
- Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-’Azhîm, 7, 409
- Al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur‘ân, 17, 23; al-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, vol. 5 (Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1994), 95
- Al-Sam’ani, Tafsîr al-Qur‘ân, 5 (Riyadh: Dar al-Wathan, 1997), 247
- Ibnu ‘Asyur, al-Tahrîr wa al-Tanwîr , 30, 324
- Al-Zuhaili, Tafsîr al-Munîr, 26, 311
- Al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur‘ân, 17, 23
- Abu Hayyan al-Andalusi, al-Bahr al-Muhîth fî al-Tafsîr, 9 (Beirut: Dar al-Fikr, tt), 541
- Al-Zamakhsyari, al-Kasysyâf, 4 (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabiyy, 1984), 391
- Al-Zuhaili, Tafsîr al-Munîr, 26, 311
- Al-Baidhawi, Anwâr al-Tanzîl wa Asrâr al-Ta‘wîl, 5 (Beirut: Dar Ihya‘ al-Turats al-‘Arabiy, 1998), 144
- Ibnu Athiyah, al-Muharrar al-Wajîz, 6 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2001), 167
- Al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, 22 (tt: Muassasah al-Risalah, 2000), 372
- Al-Harari, Tafsîr Hadâiq al-Rûh wa al-Rayhân, 27, 476
- Zainuddin al-Razi, Mukhtâr al-Shihhâh (Beirut: al-Maktabah al-‘Ashriyyah, 1999), 284
- Al-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, 5, 95
- Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-’Azhîm, 7, 409; al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 22, 464
- Al-Baghawi, Ma’âlim al-Tanzîl, 7 (Beiryt: Dar al-Thayyibah, 1997), 364
- Ibnu Athiyah, al-Muharrar al-Wajîz, 6 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2001), 167
- Ibnu ‘Asyur, al-Tahrîr wa al-Tanwîr , 30, 324
- Ibnu ‘Asyur, al-Tahrîr wa al-Tanwîr , 30, 324
- Al-Zuhaili, Tafsîr al-Munîr, 26, 314

