Opini

Pendidikan Rapuh, Moral Pun Jatuh

Dunia pendidikan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir kian diwarnai oleh berbagai bentuk kekerasan yang makin meningkat. Fenomena bullying dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi terus mencuat. Kasus mahasiswa yang diduga mengakhiri hidup di lingkungan kampus, serta data ratusan anak yang bunuh diri dalam kurun waktu singkat, menjadi sinyal kuat adanya krisis dalam ekosistem pendidikan. Ironisnya, di sejumlah kasus, empati pun seolah hilang ketika perundungan masih terjadi bahkan terhadap korban yang telah meninggal.

Di sisi lain, berbagai laporan juga menunjukkan adanya kekerasan seksual di lingkungan pendidikan, termasuk yang melibatkan oknum pendidik. Jumlah korban yang dilaporkan sering jauh lebih kecil dari kenyataan. Pasalnya, banyak yang memilih diam akibat takut, malu, atau tekanan sosial. Ini menunjukkan bahwa ruang pendidikan tidak sepenuhnya aman bagi peserta didik.

Pertanyaan besar pun muncul: Mengapa hal ini bisa terjadi justru di lingkungan yang seharusnya menjadi tempat pembentukan karakter?

Sebagian analisis melihat problem ini tidak lepas dari arah sistem pendidikan yang dominan saat ini, yang berbasis pada paradigma kapitalistik dan sekuler. Pendidikan cenderung diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja, bukan untuk membentuk manusia yang utuh secara moral dan spiritual. Orientasi pendidikan lebih menekankan keterampilan teknis ketimbang pembentukan kepribadian dan nilai.

Akibatnya, lahirlah generasi yang terampil secara akademik, tetapi rapuh dalam aspek moral dan empati. Pendidikan tidak lagi secara utuh membentuk karakter, melainkan lebih berfokus pada output ekonomi.

Sebagai pembanding, sejarah peradaban Islam sering disebut sebagai masa ketika ilmu pengetahuan berkembang pesat sekaligus melahirkan tokoh-tokoh besar seperti Ibnu Sina, al-Khawarizmi, dan Jabir bin Hayyan. Dalam pandangan ini, pendidikan tidak dipisahkan dari nilai keimanan, melainkan menyatu dalam pembentukan manusia yang berilmu sekaligus berakhlak.

Dalam konsep pendidikan Islam, negara dipandang memiliki tanggung jawab penuh dalam penyelenggaraan pendidikan sebagai hak dasar rakyat, bukan komoditas. Pendidikan diberikan secara gratis dan diarahkan untuk membentuk kepribadian Islam, penguasaan ilmu pengetahuan, serta keterampilan hidup.

Kurikulum tidak hanya berorientasi pada aspek akademik, tetapi juga pada pembentukan visi generasi: sebagai hamba Tuhan, pemimpin di bumi, dan pelaku kebaikan sosial. Dengan demikian, ilmu dan nilai berjalan beriringan dalam satu kerangka tujuan.

Dari perspektif ini, solusi krisis pendidikan bukan sekadar perbaikan teknis, tetapi perubahan arah dan paradigma secara menyeluruh: apakah pendidikan hanya akan terus mencetak tenaga kerja, atau kembali membentuk manusia yang berdaya sekaligus bermoral.

Wallâhu a’lam bi ash-shawâb. [Annisa Nur Nabilah; (Mahasiswi IAI Persis Bandung)]

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × two =

Back to top button