Opini

Sampai Kapan Umat Terus Menjadi Korban?

Memanasnya perang Iran dengan Amerika Serikat dan Israel kembali memperlihatkan satu pola yang terus berulang: umat Islam menjadi korban utama. Sejak meletus pada 28 Februari 2026, data terbaru menunjukkan ribuan orang telah tewas hanya dalam hitungan pekan.

Bahkan, dalam 16 hari saja, korban jiwa telah menembus lebih dari 2.300 orang, dengan puluhan ribu lainnya luka-luka (databoks.katadata.co.id). Korban terbesar berasal dari wilayah-wilayah Muslim seperti Iran, Lebanon dan Irak. Ini menegaskan bahwa negeri-negeri Islam kembali menjadi medan tempur.

Di Dunia Islam, tragedi ini bukan yang pertama. Sebelumnya, Irak hancur akibat invasi AS dan sekutunya. Afganistan luluh-lantak oleh perang panjang. Suriah dan Yaman terjebak konflik berkepanjangan.

Polanya sama: intervensi kekuatan besar, kehancuran infrastruktur dan rakyat sipil sebagai korban utama. Bahkan dalam konflik terbaru, serangan telah meluas ke beberapa negara di kawasan Timur Tengah. Artinya, Dunia Islam terus dijadikan arena perebutan kepentingan global.

Akan tetapi, ada fakta yang lebih menyakitkan: umat Islam tidak hanya lemah karena serangan luar, tetapi juga karena perpecahan dari dalam. Nasionalisme telah memecah umat dalam puluhan negara dengan kepentingan masing-masing. Ketika satu negeri Muslim diserang, negeri lain hanya bisa mengecam tanpa kekuatan nyata untuk melindungi. Ikatan akidah dikalahkan oleh batas geografis yang sempit.

Di sisi lain, konflik sektarian antara Sunni dan Syiah terus dipelihara di tengah umat. Hal ini membuka ruang dimanfaatkan untuk mengadu domba umat. Energi umat habis dalam konflik internal, sementara kekuatan asing dengan mudah menguasai dan memperluas pengaruhnya. Umat Islam akhirnya terjebak dalam lingkaran lemah: dipecah, diserang, lalu kembali hancur.

Pertanyaannya, sampai kapan kondisi ini akan terus berlangsung? Jawabannya jelas: selama umat Islam tetap terpecah, selama itu pula mereka akan terus menjadi korban. Sejarah telah membuktikan, umat Islam hanya kuat ketika bersatu dalam satu kepemimpinan. Tanpa itu, mereka akan selalu menjadi objek permainan politik global.

Karena itu, umat Islam membutuhkan persatuan nyata yang melampaui nasionalisme dan perdebatan sektarian. Persatuan ini harus dibangun di atas akidah Islam dan diwujudkan dalam satu kepemimpinan politik yang kuat. Inilah urgensi perjuangan penegakan kembali Khilafah sebagai jalan untuk menyatukan kekuatan umat, menghentikan dominasi asing dan menjaga darah kaum Muslim. Saatnya umat Islam berhenti menjadi korban dan mulai menentukan nasibnya sendiri.

WalLâhu a’lam. [Muhar; (Tim Redaksi Tinta Media/Lulusan Akademi Penulis Ideologis (API)]

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

8 + 8 =

Back to top button