Opini

Ketika Materi Dipuja, Jiwa Terluka

Kondisi kesehatan mental remaja Indonesia patut menjadi perhatian serius. Data Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) yang dirilis pada 2022 menunjukkan sekitar 1 dari 20 remaja mengalami gangguan mental. Dengan populasi usia 10–19 tahun mencapai 44,5 juta jiwa, jumlahnya diperkirakan sekitar 2,45 juta remaja. Ini menunjukkan bahwa kesehatan mental remaja bukan lagi isu pinggiran, melainkan masalah nyata yang dihadapi generasi muda.

Usia remaja yang seharusnya identik dengan semangat dan produktivitas justru semakin sering diwarnai kecemasan, depresi dan rasa putus asa. Kasus bunuh diri pun kerap muncul dalam pemberitaan.

Salah satu faktor yang memperparah keadaan adalah budaya materialisme yang dipromosikan melalui media sosial. Fenomena flexing, gaya hidup mewah, dan standar kecantikan tertentu membentuk persepsi bahwa kebahagiaan ditentukan oleh pencapaian materi. Ketika materi dipuja sebagai ukuran keberhasilan hidup, banyak remaja terjebak dalam budaya perbandingan. Mereka merasa kurang, gagal, dan tidak berharga ketika tidak mampu mencapai standar yang ditampilkan orang lain. Pada titik inilah jiwa terluka oleh standar kebahagiaan yang keliru.

Kondisi ini berkaitan dengan cara pandang sekularisme-kapitalisme yang menjadikan materi sebagai ukuran utama keberhasilan hidup. Ketika standar tersebut tidak tercapai, berbagai kegagalan dapat terasa sebagai akhir dari segalanya.

Islam menawarkan cara pandang yang berbeda. Kebahagiaan tidak diukur oleh materi, tetapi oleh kedekatan kepada Allah dan keberhasilan meraih ridha-Nya. Keimanan melahirkan sikap sabar dan tawakal sehingga seseorang tidak mudah tenggelam dalam keputusasaan.

Karena itu, solusi krisis mental tidak cukup pada level individu. Diperlukan lingkungan dan sistem yang mendukung pembentukan kepribadian yang kuat secara mental dan spiritual. Dalam pandangan Islam, negara memiliki peran penting melalui pendidikan berbasis akidah agar generasi muda memiliki tujuan hidup yang benar dan ketahanan mental yang kokoh.

WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. [Rizka Amalia; (Aktivis Dakwah Muslimah)]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 − 9 =

Back to top button