
Teladan Pejabat
Sejarah Islam adalah lautan teladan yang tak habis digali. Di dalamnya, kita menemukan banyak kisah para pemimpin dan pejabat negara yang menjadikan kekuasaan bukan sebagai alat untuk bermegah-megahan, tetapi amanah berat yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Dari Rasulullah saw., Khulafaur Rasyidin, para khalifah setelahnya hingga para pejabatnya; semua mengajarkan satu hal: kesederhanaan, kezuhudan dan kewaraan adalah mahkota sejati seorang pemimpin.
Rasulullah saw. adalah kepala negara, panglima perang, sekaligus pemimpin umat. Namun begitu, kehidupan beliau sangat sederhana. Kasurnya hanya dari pelepah kurma. Kadang meninggalkan bekas di punggungnya. Beliau wafat, sementara baju besinya tergadai pada seorang Yahudi demi membeli makanan untuk keluarga beliau (HR al-Bukhari dan HR Muslim).
Kesederhanaan dan kezuhudan Rasulullah saw. juga dipraktikkan oleh istri-istri beliau. Ummul Mu’minin ‘Aisyah ra. meriwayatkan bahwa pada saat Rasulullah saw. wafat, tidak ada makanan di rumahnya, kecuali sedikit gandum di rak, yang habis setelah beberapa hari (HR al-Bukhari).
Ummul Mu’minin Hafshah ra., istri Rasulullah saw. yang lain, juga hidup sangat sederhana dan zuhud. Suatu ketika ayahnya, Umar bin Khaththab ra., pernah memberikan pakaian bagus kepada dirinya. Namun demikian, Hafshah menolak mengenakan pakaian tersebut karena merasa malu hidup mewah, sementara suaminya, Rasulullah saw., hidup begitu sederhana (Lihat: Ahmad, Musnad Ahmad, 6/276).
Pengganti beliau, Abu Bakar ash-Shiddiq ra., mengikuti jejak beliau. Saat menjadi khalifah, Abu Bakar ra. tetap berdagang hingga para Sahabat meminta beliau mengambil kompensasi dari Baitul Mal. Jumlahnya hanya cukup untuk kebutuhan pokok. Menjelang wafat, ia berwasiat agar kebunnya diserahkan ke Baitul Mal sebagai ganti dari apa yang pernah ia ambil (Ath-Thabari, Târîkh ath-Thabari, 3/429).
Penerus Abu Bakar ra., Khalifah Umar bin Khaththab ra., juga terkenal sangat sederhana dan zuhud. Ia biasa tiduran (istirahat) di bawah pohon tanpa pengawal setelah seharian mengurus rakyat. Ia tak segan-segan memikul sendiri gandum untuk seorang ibu miskin. Padahal saat itu ia adalah pemimpin negara besar. Wilayah kekuasaannya meliputi seluruh Jazirah Arab dan wilayah sekitarnya yang sangat luas (Ibnu Katsir, Al-Bidâyah wa al-Nihâyah, 7/140).
Berikutnya, Khalifah Utsman bin Affan ra. Kekayaannya banyak diinfakkan untuk kepentingan Islam, umat dan jihad. Ia pernah membeli Sumur Raumah yang diwakafkan untuk kepentingan masyarakat banyak. Ia pun pernah membiayai penuh Pasukan Tabuk (Adz-Dzahabi, Siyar A‘lam an-Nubalâ’, 2/491).
Penerusnya, Ali bin Abi Thalib ra., jauh lebih sederhana lagi hidupnya. Pakaiannya sering bertambal. Makanannya pun sangat sederhana. Ia bertindak demikian dengan satu alasan, “Agar hawa nafsuku tunduk dan kaum Muslim tidak menuduh aku berlebih-lebihan.” (Ali bin Abi Thalib, Nahj al-Balâghah, hlm. 476).
Berikutnya adalah Khalifah Umar bin Abdul Aziz (Khalifah Bani Umayah). Ia biasa memadamkan lampu negara ketika berbicara tentang urusan pribadi. Tentu agar minyaknya tidak terpakai untuk kepentingan dirinya (Adz-Dzahabi, Siyar A‘lam an-Nubalâ’, 5/120). Pada masa pemerintahannya, sulit ditemukan orang miskin yang mau menerima zakat. Ini adalah buah keberhasilannya dalam mensejahterakan semua rakyatnya.
Kesederhanaan dan kezuhudan Khalifah Umar bin Abdul Aziz juga diikuti oleh istrinya, Fathimah binti Abdul Malik. Sebelumnya, istrinya dikenal sebagai wanita kaya-raya. Namun, ketika suaminya, Umar, menjadi khalifah dan memilih hidup zuhud, ia pun menyerahkan seluruh perhiasannya ke Baitul Mal, agar tidak tampak berbeda dengan kehidupan sang khalifah (Lihat: Adz-Dzahabi, Siyar A‘lam an-Nubalâ’, 5/126).
Di era yang lebih belakangan, era Khilafah Utsmani, ada Sultan Murad IV. Ia terkenal tegas dalam menegakkan syariah. Ia selalu bekerja keras mengurus rakyatnya. Ia sering menyamar pada malam hari untuk memantau kondisi rakyatnya (Muhammad Farid, Târîkh ad-Dawlah al-‘Utsmâniyyah, hlm. 89).
Sultan Murad IV memiliki istri yang baik. Dikisahkan, istri Sultan Murad IV menolak penggunaan harta negara untuk kepentingan pribadinya (Muhammad Farid, Târîkh ad-Dawlah al-‘Utsmâniyyah, hlm. 94).
Berikutnya, Sultan Abdul Hamid II, masih dari Bani Utsmaniyah. Ia pernah menolak dengan sangat keras tawaran menggiurkan dari Zionis Yahudi untuk membeli tanah Palestina. Ia tegas berkata, “Aku tidak akan memisahkan tanah Palestina dari tubuh umat Islam. Biarlah tubuhku yang dicabik-cabik terlebih dulu.” (Mudhâkhirât as-Sulthân ’Abdul Hamîd, hlm. 302).
Selain para khalifah, para pejabat di bawahnya juga banyak yang memberikan keteladanan yang luar biasa.
Abu Ubaidah bin al-Jarrah ra., misalnya. Sebagai gubernur Syam, rumahnya amat sederhana. Hanya ada sepotong roti kering dan pelana kuda. Khalifah Umar pernah menangis melihat dia dan berkomentar, “Dunia telah mengubah semua orang, kecuali engkau, wahai Abu Ubaidah.” (Ibn Abdil Barr, Al-Isti‘âb fî Ma‘rifah al-Ashhâb, 4/1636).
Berikutnya, Amr bin al-‘Ash ra. Saat putranya menzalimi seorang anak Mesir, Khalifah Umar menegakkan keadilan. Amr tunduk pada hukum meski ia seorang gubernur (Ath-Thabari, Târîkh ath-Thabari, 4/208).
Teladan berikutnya adalah Qadhi Syuraih ra. Ia pernah memutuskan perkara antara Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. dan seorang Yahudi. Ia memenangkan pihak Yahudi karena bukti berpihak kepada dia. Khalifah Ali pun menerima keputusan tersebut dengan lapang dada (Ibnu Atsir, Al-Kâmil fî at-Târîkh, 3/ 246).
Berikutnya adalah Nizham al-Mulk. Ia adalah wazir besar di era Khilafah Abbasiyah-Seljuk. Ia mendirikan madrasah-madrasah Nizhâmiyyah dengan hartanya sendiri. Ia menolak memperkaya diri dari Kas Negara (Adz-Dzahabi, Siyar A‘lam an-Nubalâ’, 19/91).
Semua kisah ini membuktikan bahwa jabatan dan kekuasaan dalam Islam adalah amanah berat yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT di akhirat kelak. Inilah yang dipahami oleh kebanyakan para pemimpin dan pejabat Muslim pada masa lalu. Bagaimana dengan para pemimpin dan pejabat di era sekularisme saat ini!
Wa mâ tawfîqî illâ bilLâh. [Arief B. Iskandar]



