
Laksana Buih
Sabtu, 28 Februari 2026 dunia dihebohkan oleh gelegarnya rudal di Iran. AS dan zionis Yahudi membombardir Iran. Pemimpin spiritual Iran Ayatollah Ali Khamenei wafat. Rumahnya hancur lebur digempur rudal. Istri, anak dan cucunya turut menjadi korban. Iran melawan. Pangkalan militer AS yang ada di negeri Muslim Timur Tengah dibombardir. Respon pun segera bermunculan. “Serangan AS dan Israel atas Iran adalah tindakan brutal yang kembali merusak tatanan internasional bahkan berpotensi memicu konflik global yang tidak terkendali serta menciptakan alasan bangkitnya kembali radikalisme dan ekstremisme,” kata Ketua Umum PBNU Yahya Staquf (28/2/2026).
Dia pun menyayangkan serangan Iran ke pangkalan militer AS di Teluk. “Kita semua paham itu kemarahan dan menyasar titik-titik yang diduga menjadi tempat tentara Amerika. Namun, apa pun, serangan itu justru akan memperburuk situasi,” terangnya.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam pernyataannya pada 1 Maret 2024 mengutuk keras serangan Israel yang didukung Amerika Serikat. Berbeda dengan sikap PBNU, terkait serangan balasan Iran ke sejumlah pangkalan militer di kawasan Teluk, MUI menyatakan memahami langkah tersebut sebagai bentuk pembelaan diri yang dilindungi hukum internasional. “Untuk itu, MUI mendesak Pemerintah Indonesia agar mencabut keanggotaan dari BoP karena dipandang tidak efektif mewujudkan kemerdekaan sejati di Palestina,” tegas pernyataan tersebut.
Muhammadiyah memiliki sikap senada. “Kami mengecam dengan sangat serangan tersebut dan kami memandangnya sebagai pelanggaran atas hak-hak asasi manusia, hukum internasional, dan pengabaian atas keputusan-keputusan Perserikatan Bangsa-Bangsa,” begitu di antara bunyi surat yang ditandatangani Ketua PP Muhammaddiyah, Syafiq A. Mughni pada Senin (02/03/2026).
“Biarkan saja. Iran itu Syiah, bukan Ahlu Sunnah. Jangan dibela,” suara berisik mulai muncul.
“Daripada mendukung Amerika, kan lebih baik mendukung Iran,” ujar ulama sepuh Kiai Afif di akun Instagram pribadinya (040/3/2026).
“Serangan terhadap Iran bukan serangan terhadap Syiah, tetapi serangan terhadap kaum Muslim. Upaya membelokkan bahwa itu serangan terhadap Syiah, agar serangan Israel – AS ini mendapatkan dukungan dari kaum Muslim,” tegas KH Hafidz Abdurrahman (03/03/2026).
Begitu juga terkait pengeboman yang dilakukan Iran terhadap pangkalan militer AS di Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Qatar. “Serangan Iran terhadap Bahrain, UEA, Qatar bukan serangan terhadap kaum Muslim atau Sunni, meski inilah framing yang diinginkan oleh Israel – AS. Ini merupakan serangan Iran terhadap pangkalan militer AS yang ada di Bahrain, UEA, Qatar dan lain-lain, yang digunakan AS menyerang Iran untuk kepentingan Israel dan AS,” tegasnya.
“Yang heran, para penguasa Muslim kok diam melihat negeri Muslim lainnya dibombardir. Coba kalau negaranya yang dibegitukan, pasti nangis-nangis sampai mencret, tuh,” ujar Pak Johari kepada saya.
“Memang menyedihkan. Loyalitas para penguasa Muslim sudah berada di titik yang sangat menyayat hati. Alih-alih menolong, mereka hanya menghitung korban yang berjatuhan. Menonton,” ujar saya.
“Paling banter mengutuk. Padahal kalau sekadar mengutuk kita rakyat jelata juga bisa. Mereka kan punya kekuasaan dan tentara,” Pak Johari kembali geram.
Saya sampaikan, “Mereka tidak menyadari bahwa negara-negara kafir itu akan mementingkan kepentingan mereka sendiri. Negara asing imperialis itu juga menyimpan permusuhan terhadap Islam dan kaum Muslimin, hanya tidak ditampakkan secara vulgar. Kita bisa lihat dari sikap dan perilakunya,” tambah saya.
“Jika mereka terlihat merestui suatu negara yang berada dalam orbitnya, sebenarnya itu bukanlah kebaikan, melainkan menyimpan keburukan. Hanya untuk berperan bagi kepentingannya. Sejarah mencatat banyak rezim yang melayani negara besar ujungnya dijatuhkan setelah perannya habis. Masa lupa peristiwa Saddam Husen di Irak?” pungkas saya.
Saya pun menjelaskan QS an-Nisa ayat 138-139 yang maknanya, “Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Ketahuilah bahwa semua kekuatan itu milik Allah.”
“Pada sisi lain, kenyataan ini makin membongkar apa itu Board of Peace (BoP, Dewan Perdamaian) pimpinan Presiden AS Donald Trump,” kata Pak Johari lagi. Wajar belaka MUI yang tadinya ‘dapat memahami’ setelah kejadian ini menuntut Pemerintah Indonesia untuk keluar dari BoP. “Bicara damai, tapi kelakuannya mengebom negara lain. Belum lama ini, Venezuela digempur AS atas perintah Trump. Presidennya, Nicolas Maduro ditangkap dan menjadi tahanan. Sekarang, Iran dibombardir. Damai … damai …, preettt,” tambahnya lagi.
Tidak mengherankan pengamat geopolitik Pizaro Gozali Idrus mengatakan, “Kesannya, namanya keren perdamaian, tetapi menurut saya ini Board of Occupation (Badan Pendudukan), karena ini hanya melanggengkan eksistensi kepemimpinan Zionis Israel yang sekarang di dalam negeri saja tuntutan pemakzulan terhadap Netanyahu begitu kuat.”
Bahkan para tokoh dari Forum Peduli sejak awal dengan lantang menyatakan, “Menolak keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) dan mendesak Indonesia untuk keluar dari BoP. Menolak pengiriman pasukan TNI di bawah komando Amerika/zionis Israel. Mengirim pasukan TNI untuk mengusir penjajah zionis Yahudi.” (26/02/2026).
Pak Dahuri dalam suatu obrolan menyampaikan, “Hati kita ini mestinya robek. Coba, zionis Israel dengan dukungan penuh Amerika memporakporandakan Palestina. Sekarang menyerbu Iran. Umat Islam diam,” ujarnya sambil mengelus dada.
“Saya teringat dulu umat Islam bersatu di bawah kekaisaran atau Kekhalifahan. Kuat. Sayangnya setelah Kekhalifahan dibubarkan oleh Mustafa Kamal pada tahun 1924M, umat Islam menjadi lemah. Seperti sekarang. Orang yang menyuarakan umat Islam sedunia bersatu dituduh radikal,” tandasnya.
Ya, umat Islam kita laksana buih. Rasulullah saw. bersabda, “Hampir saja bangsa-bangsa memangsa kalian sebagaimana orang-orang lapar menghadapi meja penuh hidangan.” Seseorang bertanya, “Apa kami saat itu sedikit?” Rasulullah saw. menjawab, “Bahkan kalian saat itu banyak. Akan tetapi, kalian seperti buih di laut.” (HR Abu Dawud).
WalLâhu a’lam. [Muhammad Rahmat Kurnia]

