Telaah Kitab

Problem Utama Umat Islam

Melakukan amal dakwah untuk membangkitkan umat Islam adalah perkara yang penting. Namun, ada perkara lebih penting yang mesti didahulukan daripada amal dakwah itu sendiri, yakni mengetahui perkara mana yang lebih penting dari yang lain. Jika hal ini tidak diperhatikan, meskipun umat sudah bahu-membahu beramal, niscaya mereka tidak akan sanggup bangkit sesuai dengan yang diharapkan. Sebaliknya, bisa jadi umat akan makin mundur.

Dalam kitab Al-Muhadzdzab min Ihyâ’ ’Uluumiddîn dinyatakan:

«وَتَنَبَّهَ الْمُصَنِّفُ إِلَى سَبَبٍ مُهِمٍّ مِنْ أَسْبَابِ تَخَلُّفِ الْمُسْلِمِينَ، وَهُوَ عَدَمُ وُضُوحِ تَرْتِيبِ الْوَاجِبَاتِ فِي أَذْهَانِهِمْ وَفْقَ سُلَّمٍ يُقَدِّمُ الْأَهَمَّ عَلَى الْمُهِمِّ»

Penulis (yakni Imam al-Ghazali) telah mengingatkan salah satu sebab penting dari berbagai sebab kemunduran kaum Muslim, yaitu tidak jelasnya dalam benak kaum Muslim urutan berbagai kewajiban sesuai tangga nilai yang mendahulukan mana yang terpenting di atas yang penting.

 

Dua Macam Perkara (Qadhiyyah)

Secara umum ada dua macam perkara dalam kehidupan ini. Pertama: Qadhiyyah mashîriyyah (perkara/problem utama). Inilah perkara yang membuat umat, bangsa atau seseorang rela berjuang dengan penuh semangat tanpa keraguan walaupun berhadapan dengan pilihan hidup atau mati. Kedua: Qadhiyyah ‘âdiyyah. Ini adalah perkara yang biasa, yang tidak berkaitan dengan pilihan hidup atau mati.

Penentuan mana yang merupakan perkara utama dan mana yang merupakan perkara biasa ini bergantung paradigma yang digunakan. Ada yang menjadikan ekonomi sebagai perkara utamanya. Ada yang perkara utamanya adalah harga dirinya, kekasih yang dia cintai, tanah airnya, kelompoknya, keyakinannya, dan lain-lain.

 

Perkara Utama Umat Islam Saat Ini

Jika paradigma yang digunakan adalah Islam, maka Islam telah menentukan beberapa perkara yang merupakan qadhiyyah mashîriyyah. Masalah riddah (murtad), menjaga kesatuan umat dan negara, berhukum dengan hukum Islam dan larangan berhukum dengan hukum kufur adalah di antara qadhiyyah mashîriyyah dalam Islam.

Terkait murtad, para ulama sepakat bahwa murtad adalah perkara utama sehingga nyawa taruhannya. Orang murtad yang tidak mau bertobat dikenai hukuman mati berdasarkan hadis berikut:

«مَنْ بَدَّلَ دِيْنَهُ فَاقْتُلُوْهُ»

Siapa saja yang mengganti agamanya (murtad), maka bunuhlah dia.

 

Faktanya, sekarang pemurtadan bukan lagi perkara utama. Atas nama HAM siapa saja boleh keluar masuk Islam.

Pembunuhan yang disengaja juga merupakan perkara utama yang pelakunya wajib di-­qishâsh jika ahli warisnya tidak memaafkan. Begitu juga kesatuan negeri-negeri kaum Muslim. Ini adalah perkara utama. Pasalnya, Islam mengaitkan hal tersebut dengan hidup dan mati. Demikian sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

«إِذَا بُوْيِعَ لِخَلِيْفَتَيْنِ فَاقْتُلُوْا اْلآخرَ مِنْهُمَا»

Jika dibaiat dua orang khalifah maka bunuhlah salah satu di antara keduanya!

«مَنْ أَتَاكُمْ وَأَمْرُكُمْ جَمِيعٌ عَلَى رَجُلٍ وَاحِدٍ، يُرِيدُ أَنْ يَشُقَّ عَصَاكُمْ أَوْ يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ فَاقْتُلُوهُ»

Siapa saja yang datang kepada kalian, sedangkan urusan kalian semuanya berada di tangan seseorang, kemudian orang itu memecah-belah persatuan kalian dan mencerai-beraikan jamaah kalian, maka bunuhlah orang itu.

 

Imam an-Nawawi berkata:

«وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّهُ لَا يَجُوزُ أَنْ يُعْقَدَ لِخَلِيفَتَيْنِ فِي عَصْرٍ وَاحِدٍ سَوَاءٌ اتَّسَعَتْ دَارُ الْإِسْلَامِ أَمْ لَا»

Para ulama bersepakat bahwa tidak boleh mengangkat dua khalifah dalam satu masa, baik wilayah Negara Islam luas maupun tidak.

 

Secara singkat, qadhiyyah mashîriyyah bagi umat Islam saat ini adalah mengembalikan penerapan hukum-hukum Allah SWT (i’âdah al-hukmi bi mâ anzalalLâh).

Inilah perkara utama. Dulu para Sahabat pun mempertaruhkan nyawanya demi perkara tersebut. Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq ra. mempertaruhkan nyawa beliau, bahkan mempertaruhkan eksistensi negara, demi menjaga pelaksanaan salah satu hukum Islam, yakni zakat. Pada saat yang sulit, menghadapi serangan orang-orang murtad, ada sebagian kabilah yang mau mengingkari kewajiban zakat, terhadap mereka dengan tegas Abu Bakar ra. berkata:

«لَوْ مَنَعُونِي عِقَالًا لِجَاهَدْتُهُمْ عَلَيْهِ»

Kalau mereka menghalangi aku dari (mengambil) zakat, sungguh aku perangi mereka.

 

Mendengar hal tersebut, Umar ra. berkata:

«يَا خَلِيفَةَ رَسُولِ اللهِ –ﷺ– تَأَلَّفْ اَلنَّاسَ وَارْفُقْ بِهِمْ»

Wahai khalifah Rasulullah saw., bersikap lunak dan lembutlah kepada manusia.

 

Dalam perhitungan militer, saat orang-orang murtad menyerang Madinah, jika orang yang tidak mau membayar zakat dibiarkan saja, tentu ‘akan mengurangi musuh’, hingga yang dihadapi tinggallah musuh yang benar-benar menyerang Madinah secara fisik saja. Sebaliknya, jika Abu Bakar bersikeras akan menegakkan hukum zakat, hal ini akan menyebabkan mereka memisahkan diri dari negara, bahkan menyerang negara. Ini berpotensi meruntuhkan negara. Namun, Abu Bakar ra. dengan tegas menyatakan:

«أَجَبَّارٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَخَوَّارٌ فِي الْإِسْلَامِ؟ إِنَّهُ قَدْ انْقَطَعَ الْوَحْيُ وَتَمَّ الدِّينُ أَيَنْقُصُ وَأَنَا حَيٌّ؟»

Apakah engkau keras semasa jahiliyah, sementara engkau lemah dalam Islam (wahai ‘Umar)? Sesungguhnya wahyu telah terputus. Agama ini telah sempurna. Apakah agama ini akan berkurang (padahal) aku masih hidup?

 

Allah SWT berfirman:

وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ  ٤٤

Siapa saja yang tidak memutuskan hukum menurut wahyu yang telah Allah turunkan, maka mereka itu adalah kaum kafir (QS al-Maidah [5]: 44).

 

Imam al-Baghawi (w. 510 H) dalam tafsirnya, Ma’âlim at-Tanzîl, menyatakan bahwa Ikrimah menjelaskan maksud ayat tersebut:

«وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ جَاحِدًا بِهِ فَقَدْ كَفَرَ، وَمَنْ أَقَرَّ بِهِ وَلَمْ يَحْكُمْ بِهِ فَهُوَ ظَالِمٌ فَاسِقٌ»

Siapa saja yang tidak memutuskan hukum menurut wahyu yang telah Allah turunkan karena ingkar maka dia sungguh telah kafir. Siapa yang mengakui hukum Allah, namun tidak menjalankan hukum tersebut, maka dia zalim-fasik.

 

Ketentuan tersebut berlaku untuk hukum Allah yang jelas, yang dalilnya sumber dan penunjukan maknanya qath’i sehingga tidak ada ikhtilaf dalam hukum tersebut. Imam Al Baghawi (w. 510 H) menyatakan:

«فَأَمَّا مَنْ خَفِيَ عَلَيْهِ أَوْ أَخْطَأَ فِي تَأْوِيْلٍ فَلَا»

Adapun orang yang samar bagi dirinya hukum tersebut atau salah dalam menakwilkan, maka tidak dihukumi demikian.

 

Khilafah Sebagai Qadhiyyah Al-Mashiriyyah

Qadhiyyah mashîriyyah bagi umat Islam adalah mengembalikan penerapan hukum-hukum Allah SWT dalam kehidupan. Penerapan hukum-hukum Islam ini membutuhkan adanya Imam/kepala negara sebagai penerapnya. Imam Ar-Razi (w. 606 H) menyatakan:

«وَأَجْمَعَتِ الْأُمَّةُ عَلَى أَنَّهُ لَيْسَ لِآحَادِ الرَّعِيَّةِ إِقَامَةُ الْحُدُودِ عَلَى الْجُنَاةِ، بَلْ أَجْمَعُوا عَلَى أَنَّهُ لَا يَجُوزُ إِقَامَةُ الْحُدُودِ عَلَى الْأَحْرَارِ الْجُنَاةِ إِلَّا لِلْإِمَامِ، فَلَمَّا كَانَ هَذَا التَّكْلِيفُ تَكْلِيفًا جَازِمًا وَلَا يُمْكِنُ الْخُرُوجُ عَنْ عُهْدَةِ هَذَا التَّكْلِيفِ إِلَّا عِنْدَ وُجُودِ الْإِمَامِ، وَمَا لَا يَتَأَتَّى الْوَاجِبُ إِلَّا بِهِ، وَكَانَ مَقْدُورًا لِلْمُكَلَّفِ، فَهُوَ وَاجِبٌ، فَلَزِمَ الْقَطْعُ بِوُجُوبِ نَصْبِ الْإِمَامِ حِينَئِذٍ»

Umat telah berijmak (bersepakat) bahwa tidak seorang pun dari rakyat berhak untuk menegakkan hudud terhadap pelaku kriminal. Bahkan mereka bersepakat bahwa tidak boleh menegakkan hudud atas pelaku kriminal yang merdeka kecuali Imam (Kepala Negara), karena taklif ini sifatnya jâzim (pasti). Tidak mungkin terbebas dari taklif ini kecuali dengan adanya Imam. Sebabnya, suatu kewajiban yang tidak akan terlaksana kecuali dengan satu hal, dan hal tersebut mampu dilakukan mukallaf, maka hal itu hukumnya wajib. Ini menunjukkan secara pasti akan kewajiban mengangkat Imam.

 

Imam dalam makna penguasa yang menerapkan hukum-hukum Allah SWT inilah yang disebut dengan Khalifah. Muhammad Najib al-Muthî’iy dalam takmilah (catatan pelengkap) yang ia buat untuk Kitab Al-Majmû’ Syarh al-Muhadzdzab menyatakan:

«وَالِامَامَةُ وَالْخِلَافَةُ وَإِمَارَةُ الْمُؤْمِنِينَ مُتَرَادِفَةٌ، وَالْمُرَادُ بِهَا الرِّيَاسَةُ الْعَامَّةُ فِي شُئُونِ الدِّينِ وَالدُّنْيَا»

Imamah, Khilafah dan Imaratul Mukminin adalah sinonim. yang dimaksud dengan itu adalah kepemimpinan umum dalam urusan-urusan agama dan dunia.

«اَلْخَلِيْفَةُ هُوَ الْاِمَامُ الْاَعْظَمُ، اَلْقَائِمُ بِخِلَافَةِ النُّبُوَّةِ فِىْ حِرَاسَةِ الدِّيْنِ وَسِيَاسَةِ الدُّنْيَا»

Khalifah adalah Pemimpin Agung, yang menjalankan Khilafah Nubuwwah dalam melindungi agama serta pengaturan urusan dunia.

 

Karena itu tidak boleh dilupakan bahwa problem utama umat ini bukan sekadar bagaimana agar mereka berkuasa, bukan pula sekadar tegaknya negara berlabel ‘Khilafah’. yang utama adalah perwujudan negara yang menerapkan hukum-hukum syariah dalam setiap aspek kehidupan. Inilah fokus yang kadang dilupakan.

Meremehkan upaya penegakan khilafah dengan alasan ‘yang penting akidah’ adalah kurang tepat karena kedua hal tersebut tidak kontradiktif. Akidah yang sahih justru akan memberikan dorongan untuk berjuang menegakkan Khilafah. Perjuangan penegakan Khilafah ini pun tidak akan sanggup diemban oleh orang yang akidahnya rusak. Oleh sebab itu janganlah sampai “terbuai” hanya dengan akidah hingga melalaikan dari penegakan Khilafah. Jangan pula “terbuai” hanya dengan penegakan Khilafah hingga lalai terhadap pemurnian akidah. Justru perjuangan penegakan syariah dan Khilafah seharusnya menjadi indikasi sejauh mana akidah seseorang.

WalLâhu a’lam. [M. Taufik NT]

 

Rujukan:

Isma’il, Muhammad Muhammad. Al-Fikru al-Islami. Maktabah al-Wa’ie, 1958.

Nabhani, Taqiyuddin al-. Al-Syakhsiyyah al-Islâmiyyah. Cet. III. Vol. 3. Beirut: Dâr al-Ummah, 2005.

Qarafi, Syihabuddin Ahmad bin Idris al-. Anwâr Al- Burûq Fî Anwâ’ al-Furûq. ’Alam al-Kutub, t.th.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seven − 5 =

Back to top button