
Sang Pembebas
Di bawah langit Syam yang biru, angin membawa kisah yang tak lekang. Tentang tanah yang Allah sucikan. Tentang para pembebas yang datang bukan untuk menjarah, melainkan untuk menyucikan bumi dari kezaliman.
Ketika Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. memasuki Baitul Maqdis di Palestina, bumi seolah menunduk dalam khusyuk. Ia menuntun untanya. Tidak menunggangi kendaraannya itu. Agar tidak tampak sombong di hadapan rakyat yang ditaklukkan dengan damai. Pengawalnya ikut berjalan di sisinya.
Ath-Thabari meriwayatkan: Khalifah Umar ra. datang dengan pakaian sederhana. Penuh dengan debu perjalanan. Ia lalu menandatangani ‘Ahd al-‘Umariyyah. Piagam Perdamaian yang menjamin keselamatan jiwa, harta dan tempat ibadah kaum Nasrani. Ia tidak bersorak. Tidak menuntut rampasan. Tidak membangun istana. Ia hanya bersujud cukup lama di tempat suci itu. Air matanya membasahi tanah yang pernah diinjak oleh para nabi tersebut (Lihat: Ath-Thabari, Târîkh al-Umam wa al-Mulûk, 4/449).
Allah SWT berfirman:
Mahasuci Allah Yang telah memperjalankan hambanya pada malam hari dari Majid al-Haram ke Masjid al-Aqsha yang sekelilingnya diberkahi (QS al-Isra’ [17]: 1).
Ayat itu tentu selalu hidup di dada sang Khalifah. Di tangannya, Palestina pun dibebaskan tanpa setetes darah pun.
Sayang, empat abad berlalu, sejak Khalifah Umar ra. menginjakkan kakinya di Palestina, Baitul Maqdis jatuh ke tangan Tentara Salib. Masjid al-Aqsha ternoda. Adzan digantikan oleh dentang lonceng.
Namun, di antara reruntuhan itu, Allah SWT menyalakan cahaya. Ia bernama Shalahuddin al-Ayyubi. Ia bukan sekadar panglima. Ia adalah seorang hamba yang biasa menangis di malam hari. Ibnu Katsir menulis: “Tidaklah Shalahuddin tidur malam kecuali setelah menunaikan shalat panjang dan berdoa dengan linangan air mata.”
Malam sebelum Perang Hittin, ia berdoa di bawah tenda. Ia membasahi bumi dengan air matanya. Ia tidak meminta kemenangan. Hanya ampunan dan ridha Tuhannya. Namun, Allah SWT lalu memberi dia keduanya. Keesokan paginya, pasukan Islam menang gemilang. Tiga bulan kemudian, Baitul Maqdis kembali ke tangan kaum Muslim. Sultan Shalahuddin tidak menumpahkan darah. Ia masuk dengan takbir dan tangis. Ia sujud di tempat yang sama. Tempat Khalifah Umar ra. pernah bersujud (Lihat: Ibnu Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, 12/233).
Khalifah Umar ra. dan Sultan Shalahuddin adalah dua sosok dari dua abad berbeda. Namun, keduanya memiliki jiwa yang sama. Mereka datang bukan untuk menguasai, melainkan untuk menunaikan amanah Allah SWT di bumi yang diberkahi.
Berabad setelah itu, bayangan konspirasi melingkupi negeri-negeri Islam. Khilafah Utsmaniyah berdiri di ujung perjalanannya. Namun, masih ada satu jiwa yang teguh. Dialah Sultan Abdul Hamid II. Ia menolak tawaran Theodor Herzl, seorang Zionis Yahudi yang datang membawa kekayaan dunia untuk membeli tanah Palestina. Ia berkata tegas, “Aku tidak dapat menjual walau sejengkal tanah Palestina. Tanah itu bukan milikku, tetapi milik umat Islam. Mereka telah menebus tanah itu dengan darah mereka.” (Mudakhirât as-Sulthân ‘Abd al-Hamîd ats-Tsânî, hlm. 52),
Ia tahu, yang dijual bukan sekadar tanah, tetapi sekaligus kehormatan umat. Karena itu ia pertahankan kehormatan itu, dengan keyakinan yang lebih kokoh dari tembok istananya.
Namun sayang, konspirasi dunia menjatuhkan dirinya. Khilafah diruntuhkan. Palestina kembali dijajah dan ditundukkan. Sejak itu tangis dan air mata pun mengalir dari langit Syam. Selama puluhan tahun. Hingga detik ini.
Hari ini, di antara puing-puing Gaza, anak-anak kecil menulis huruf alif di atas tanah berdebu. Tangan mereka gemetar, tetapi hati mereka kokoh. Mereka bukan anak-anak biasa. Mereka adalah cucu para pembebas. Darah mereka membawa kesabaran Khalifah Umar ra., doa Sultan Shalahuddin dan keteguhan Sultan Abdul Hamid. Mereka lahir di bawah dentuman bom. Namun, mereka tumbuh dengan suara ayat-ayat suci al-Quran. Mereka tetap tersenyum di antara runtuhan. Pasalnya, karena mereka tahu, janji Allah SWT lebih kuat dari dinding gedung-degung yang runtuh. Rasulullah SAW bersabda:
Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang tegak di atas kebenaran. Tidak membahayakan mereka siapapun yang menelantarkan mereka hingga datang keputusan Allah, sementara mereka tetap demikian (HR Muslim).
Dalam riwayat lain, beliau bersabda, “Mereka itu adalah penduduk Syam.”
Gaza adalah jantung Syam hari ini. Di sanalah janji Rasulullah saw. terus hidup.
Kini, kita menunduk. Kita memang bukan Umar ra. Bukan Shalahuddin. Bukan pula Abdul Hamid. Namun, kita adalah bagian dari doa mereka yang belum selesai. Setiap adzan Subuh yang bergema di Gaza, seolah ada bisikan dari langit: ”Bangunlah! Bumi ini masih menunggu orang-orang yang berani sujud sebelum menang.”
Ya Allah, ajari kami kesabaran seperti kesabaran Khalifah Umar ra.; ketawakalan seperti ketawakalan Sultan Shalahuddin; dan keistiqamahan seperti keistiqamahan Sultan Abdul Hamid.
Jadikan kami bagian dari pasukan yang Engkau janjikan, yang menegakkan kalimat-Mu di bumi-Mu yang diberkahi.
Jangan biarkan kami hanya menjadi penonton sejarah.
Jadikan langkah kami bagian dari takdir-Mu. Takdir kemenangan, dengan kembalinya Baitul Maqdis ke tangan kami.
Saudaraku, mereka telah membayar mahal dengan darah-darah mereka. Kini giliran kita. Membayar dengan darah yang sama. Dengan jihad yang sama. Juga dengan terus berjuang keras untuk menegakkan kembali Khilafah ‘alâ minhâj an-nubuwwah. Di bawah komando Khalifahlah—sebagaimana Khalifah Umar dan para pembebas sebelumnya—kita akan berjihad sekuat tenaga demi membebaskan kembali Palestina.
Wa mâ tawfîqî illâ bilLâh. [Arief B. Iskandar]





