Kilas Dunia

Pernyataan Trump Ungkap Rapuhnya Pengaruh AS

Pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump baru-baru ini mengenai penjualan senjata AS ke Taiwan mengungkap semakin rapuhnya pengaruh global AS.

“Pernyataan Trump baru-baru ini mengenai penjualan senjata AS ke Taiwan telah meningkatkan ketegangan geopolitik di Asia Timur dan sekaligus mengungkap semakin rapuhnya pengaruh global AS,” ujar Aktivis Hizbut Tahrir AS Haitsam bin Tsabit sebagaimana diberitakan hizb-ut-tahrir.info, Senin (25/5/2026).

Pasalnya, sebut Haitsam, Setelah KTT Beijing dengan Xi Jinping, Trump menunda kesepakatan senjata Taiwan senilai US$14 miliar dan menyebut Taiwan sebagai “alat tawar-menawar” dalam negosiasi yang lebih luas dengan Cina. Pernyataan ini memicu kesan bahwa dukungan AS kepada Taiwan bersifat kondisional dan dapat dinegosiasikan.

Cina, jelas Haitsam, segera memanfaatkan situasi tersebut dengan menegaskan, Taiwan tidak bisa mengandalkan dukungan otomatis AS. Beijing menyoroti bahwa keamanan Taiwan tidak cukup dijamin melalui pembelian senjata AS serta menggambarkan pulau itu rentan menjadi objek tawar-menawar antarkekuatan besar. Isu Taiwan juga berhasil mengalihkan perhatian dari upaya AS menekan Cina terkait Iran.

Dalam KTT itu, ungkap Haitsam, AS berharap Cina menekan Iran agar meredakan ketegangan kawasan, tetapi Beijing menolak. Cina tetap mendorong dialog sekaligus menegaskan akan terus membeli minyak Iran dan tidak ikut mengisolasi Iran secara ekonomi. Akibatnya, KTT hanya menghasilkan sedikit kemajuan terkait Iran dan menunjukkan terbatasnya pengaruh Washington terhadap Beijing.

Menurut dia, AS datang untuk mencari dukungan Cina terkait Iran, tetapi justru harus mempertahankan kredibilitas komitmennya di Pasifik. Peristiwa ini mencerminkan pergeseran keseimbangan global: pengaruh Cina dan koordinasinya dengan Rusia menguat, sementara kepercayaan terhadap jaminan keamanan AS semakin terkikis karena Washington dianggap lebih mudah meninjau ulang komitmen strategisnya.

Kesimpulannya, simpul Haitsam, konflik di negeri-negeri Muslim dinilai telah menjadi bagian dari persaingan kekuatan besar. Cina mampu mengubah ketidakstabilan itu menjadi keuntungan strategis, sedangkan negeri-negeri Muslim tetap terpecah dan lemah dalam memengaruhi politik internasional.

Kondisi ini, pungkas Haitsam, berakar pada ketiadaan Khilafah yang menyatukan kekuatan politik umat Islam. []

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

14 − 6 =

Back to top button