
Siapa yang Bertanggung Jawab atas Perang Sudan?
Majalah Al-Wa’ie [berbahasa Arab] mempertanyakan apakah kedua pimpinan pihak yang berseteru di Sudan pernah bertanya pada diri sendiri: siapa yang diuntungkan dan siapa yang bertanggung jawab dalam perang saudara tersebut.
“Pernahkah Burhan [Kepala Dewan Kedaulatan Transisi Sudan Abdel Fattah al-Burhan] dan Hemedti [Komandan Pasukan Pendukung Cepat (RSF) Muhammad Hamdan Dagalo] bertanya pada diri sendiri: siapa yang diuntungkan dari perang ini? Siapa pula yang bertanggung jawab atas darah yang telah mereka tumpahkan dan nyawa yang telah mereka renggut?” tulisnya dalam Edisi 478, Tahun Ke-40, Dzul Qi’dah 1447 H/Mei 2026 M.
Seperti diketahui, Hemedti menyatakan pasukannya siap melanjutkan perang hingga 2040 jika diperlukan, meski perkiraan militer menyebut konflik bisa berlangsung hingga 2033. Dalam pidatonya, Hemedti menegaskan komitmen melawan tentara Sudan dan menyalahkan kepemimpinan militer atas berlanjutnya perang serta kegagalan upaya perdamaian.
Sementara itu, pada 29 April, Burhan menegaskan, tentara Sudan akan terus berperang hingga negara “dibersihkan” dari RSF dan kelompok pemberontak lainnya. Ia menyatakan operasi militer masih berlangsung di seluruh front.
Perang antara tentara Sudan pimpinan Burhan dan RSF pimpinan Hemedti yang pecah sejak April 2023 telah menewaskan puluhan ribu orang dan membuat lebih dari 14 juta orang mengungsi menurut PBB. Penelitian sejumlah universitas AS memperkirakan total korban tewas, langsung maupun tidak langsung, mencapai sekitar 130.000 orang.
Meski menyatakan siap berperang lama, Hemedti menegaskan RSF ingin mengakhiri konflik secepat mungkin, bahkan “malam ini juga”. Namun, mereka menilai perdamaian tidak dapat diwujudkan secara sepihak dan menuduh kepemimpinan militer menganggap kesediaan RSF bernegosiasi sebagai tanda kelemahan. []



