Kilas Dunia

Pelatihan Imam Cina untuk Bendung Kekuatan Islam

Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS) Farid Wadjdi menilai program pelatihan imam oleh Pemerintah Cina di Beijing sebagai langkah sistematis untuk membendung kekuatan politik umat Islam di negara tersebut.

“Jadi intinya, apa yang dilakukan oleh rezim Cina adalah bagian dari upaya membendung kekuatan politik umat Islam di sana,” ujarnya kepada media-umat.com, Sabtu (4/7/2026).

Menurut Farid, langkah ini mencerminkan ketakutan rezim komunis terhadap ideologi Islam, khususnya di Xinjiang, yang dianggap dapat mengancam eksistensi politik Partai Komunis Cina (CCP).

 

Lima Pilar

Ia menjelaskan, Beijing menerapkan lima pilar kebijakan strategis untuk menekan pengaruh Islam.

Pertama, pemaksaan corak lokal (sinicization of religion). “Semua agama harus menyesuaikan diri dengan sosialisme, budaya Cina, dan kepemimpinan Partai Komunis,” ulasnya.

Kedua, pendidikan patriotisme bagi tokoh agama, dalam hal ini imam, dididik agar loyal kepada negara dan Partai Komunis.

Ketiga, transformation through education, istilah yang digunakan pemerintah untuk kamp ‘pendidikan ulang’. Namun, pengamat HAM justru menyebut itu sebagai indoktrinasi politik.

Keempat, de-extremification atau de-ekstremisasi yang menjadi legalitas pembatasan ibadah. “Konsep ini lebih luas daripada penanggulangan terorisme karena mencakup berbagai ekspresi keagamaan yang dinilai Pemerintah sebagai tanda ekstremisme,” jelasnya.

Kelima, political indoctrination, yang menurut Farid, banyak digunakan akademisi dan organisasi HAM untuk menggambarkan proses penanaman ideologi Partai Komunis kepada tokoh agama.

Tanggapan ini mencuat setelah adanya laporan seminar di Central Institute of Socialism pada Mei lalu. Pelatihan 45 imam tersebut dilaporkan lebih fokus pada indoktrinasi “Pemikiran Xi Jinping” ketimbang teologi Islam. Dampak nyatanya di lapangan meliputi represi digital, pengubahan arsitektur masjid, hingga pembatasan ibadah, yang oleh PBB (OHCHR) pada 2022 disebut dapat dikategorikan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.

Farid menegaskan penindasan Muslim minoritas di berbagai wilayah termasuk di Cina adalah persoalan global karena umat kehilangan al-junnah (perisai) politik. “Di sinilah kenapa umat Islam itu membutuhkan apa yang disebut sebagai Khilafah ‘alâ Minhâj an-Nubuwwah,” pungkasnya. []

[Joy dan Tim]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

6 + ten =

Back to top button