
Rasulullah SAW Teladan Dalam Segala Aspek
Allah SWT, sang Pencipta alam, Yang Maha Pengasih lagi Mahabijak, atas kehendak dan hikmah-Nya, telah mengutus Muhammad bin Abdillah sebagai nabi dan rasul akhir zaman untuk seluruh manusia. Ini adalah sebuah kenikmatan yang sangat agung. Allah SWT berfirman:
Sungguh Allah benar-benar telah memberikan karunia kepada kaum Mukmin ketika (Dia) mengutus di tengah-tengah mereka seorang rasul (Muhammad) dari kalangan mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, serta mengajari mereka Kitab Suci (al-Quran) dan hikmah. Sungguh mereka sebelum itu benar-benar dalam kesesatan yang nyata (QS Ali ‘Imran [3]: 164).
Juga firman-Nya:
Sungguh benar-benar telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri. Berat terasa oleh dia penderitaan yang kalian alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian, serta (bersikap) penyantun dan penyayang terhadap Mukmin. Jika mereka berpaling (dari keimanan), katakanlah (Nabi Muhammad), “Cukuplah Allah bagiku. Tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada Dia aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan Pemilik ‘Arasy (singgasana) yang agung (QS at-Taubah [9]: 128-129).
Imam Ibn Asyur, di dalam kitabnya, At-Tahrîr wa at-Tanwîr1, mengemukakan catatan menarik terkait ayat di atas. Intinya, QS at-Taubah merupakan surat yang sangat keras dan galak terhadap kaum musyrik, Ahlul Kitab dan kaum munafik. Surat ini juga berisi perintah kepada kaum Mukmin agar berjihad sekaligus mencela keras mereka yang mengabaikan, teledor atau menganggap remeh jihad. Sebaliknya, ayat ini memberikan pujian yang tinggi kepada orang-orang yang berjihad, berhijrah, menolong Rasulullah Muhammad SAW dan mengikuti beliau bahkan saat-saat sulit sekalipun. Lalu surat ini ditutup dengan dua ayat yang mengingatkan kaum Mukmin akan kenikmatan yang besar yang diberikan kepada mereka, yaitu dengan pengutusan Rasulullah Muhammad SAW dengan kesempurnaan sifat beliau. Apalagi sifat beliau yang sangat menginginkan petunjuk, iman dan masuknya mereka ke dalam Islam agar beliau menyayangi dan mengasihi mereka. Dengan demikian mereka tahu bahwa ucapan atau sikap beliau kepada orang-orang yang berpaling dari Islam tidak lain demi kebaikan mereka sendiri. Inilah satu dari sekian manifestasi rahmah yang Allah jadikan senantiasa menyertai risalah Muhammad SAW (Lihat: QS al-Anbiya’ [21]: 107).
Kewajiban Umat kepada Rasulullah SAW
Karena itulah, Rasulullah Muhammad SAW memiliki hak yang sangat besar atas umat. Sebaliknya, umat memiliki kewajiban yang sangat besar terhadap beliau. Al-Imam al-Qadhi ‘Iyadh di dalam kitabnya, As-Syifa bi Ta’rif Huquq al-Mushthafa memberikan ulasan yang sangat penting terkait kewajiban umat kepada beliau.2
Secara global, kewajiban tersebut terangkum ke dalam: (1) Iman; (2) Ittibâ’, (3) Taat; (4) Cinta; (5) Mengagungkan dan memuliakan.
Iman kepada Rasulullah Muhammad SAW artinya membenarkan kenabian dan kerasulan beliau dan membenarkan semua yang beliau bawa dan yang beliau katakan, baik berupa akidah maupun syariah, baik dalam masalah ibadah maupun masalah siyasah (politik). Keimanan kepada beliau meniscayakan ketaatan kepada beliau dan berhukum pada hukum yang beliau bawa. Banyak sekali ayat-ayat al-Quran yang menegaskan hal ini (Lihat, antara lain: QS al-Anfal [8]: 20; QS Ali ‘Imran [3]: 132; QS al-Hasyr [59]: 7; QS an-Nisa’ [4]: 65).
Allah SWT berfirman:
Kami tidak mengutus seorang rasul pun, kecuali untuk ditaati dengan izin Allah (QS an-Nisa’ [4]: 64).
Ayat ini, menurut Imam Ibn Asyur berkaitan dengan kritik dan celaan terhadap kaum munafik yang enggan berhukum dengan hukum Rasulullah Muhammad SAW dan justru berhukum kepada thâghût. Ibn Asyur bahkan menegaskan bahwa keberpalingan mereka dari berhukum pada hukum Rasulullah Muhammad SAW menunjukkan kemunafikan mereka. Padahal iman bermakna ridha dengan hukum Rasulullah Muhammad SAW. Sebabnya, Rasulullah Muhammad SAW tidak datang kecuali untuk ditaati. Lalu bagaimana justru mereka berpaling dari beliau?!3
Adapun kewajiban ittibâ’ (mengikuti) kepada Rasulullah SAW dan menjadikan beliau SAW sebagai suri teladan merupakan keniscayaan dari ketaatan kepada Allah dan Rasulullah SAW. Seseorang tak mungkin dapat menaati Allah dan Rasul-Nya kecuali dengan cara mengikuti dan menjadikan Rasulullah Muhammad SAW sebagai teladan dalam perbuatannya. Banyak ayat al-Quran yang memerintahkan hal ini; juga memerintahkan untuk mencintai dan memuliakan beliau (Lihat: QS Ali ‘Imran [3]: 31; QS al-Ahzab [33]: 36; QS al-Ahzab [33]: 21; dan QS al-Fath [48]: 9).
Efek Sekularisme
Sejak keruntuhan Khilafah Islamiyah yang terakhir, umat ini hidup di bawah hegemoni ideologi sekuler dengan tatanan ekonomi kapitalisme, sistem pemerintahan demokrasi, dan sistem sosial-budaya liberal. Akibatnya, umat ini menjadi sangat kerdil dalam memahami agamanya. Islam dianggap seperti agama-agama pada umumnya; tak memiliki perangkat hukum dan sistem yang mengatur, kecuali dalam aspek ibadah ritual saja. Dalam sistem inilah, kita menjumpai manusia-manusia yang mengklaim mencintai Rasulullah Muhammad SAW, tetapi anti sistem pemerintahan Islam warisan beliau, yaitu Khilafah. Wajar jika di negeri yang mayoritas Muslim, lembaga-lembaga ribawi menjamur dengan gedung-gedung tinggi mencakar langit seolah siap menantang Allah. Di dalam sistem ini pula, kita menjumpai jutaan manusia yang mengucapkan kalimat syahadat, namun diam atas penerapan sistem yang menghalalkan apa yang telah Allah haramkan seperti riba, zina, khamer, judi, LGBT, dan yang lain; mengharamkan apa yang telah Allah wajibkan seperti hukum rajam atas pelaku zina, dan potong tangan atas pelaku pencurian. Lebih mengerikan lagi, dalam sistem ini, syariah Allah dianggap sebagai ancaman dan pemecah-belah, jihad dituduh sebagai tindak pidana terorisme, dan penerapan Islam dalam segala aspek kehidupan dituding sebagai keterbelakangan.
Semua itu tak dapat dilepaskan dari hegemoni ideologi kufur sekuleris dan pengaruh tsaqâfah asing penjajah (Barat) yang begitu kuat di negeri-negeri kaum Muslim. Secara fisik kaum penjajah telah pergi dari negeri-negeri kaum Muslim. Namun, tsaqâfah, pemikiran dan standar-standar mereka diadopsi oleh umat. Fa lâ hawla wa lâ quwwata illâ bilLâh.
Lemah dalam Memahami Islam Secara Kâffah
Saat ini pemahaman umat terhadap hakikat Islam begitu lemah. Mayoritas umat memahami Islam terbatas pada aspek-aspek ibadah ritual atau hanya sampai pada persoalan pernikahan dan sebagian kecil muamalah. Selebihnya, mayoritas umat tidak memahami atau tak peduli bahwa di dalam Islam terdapat semua perangkat hukum dan sistem yang khas seperti siyâsah (politik), nizhâm al-hukm (sistem pemerintahan), al–qadhâ’ (peradilan), nizhâm al-‘uqûbât (sistem sanksi), ahkâm al-jinâyah (hukum seputar kejahatan), jihad, militer dan sistem ekonomi secara makro maupun mikro. Hal ini dapat berpulang pada sistem pendidikan dan sistem kurikulum di sekolah yang berbasis pada ideologi sekuler, juga pada peran sebagian da’i yang tidak mengajarkan atau mengenalkan hukum-hukum di atas kepada masyarakat secara luas.
Oleh sebab itu, sistem pendidikan dan kurikulum di sekolah-sekolah harus diubah basisnya. Para da’i juga sudah saatnya untuk memahamkan Islam secara kâffah kepada masyarakat. Dengan begitu masyarakat memahami hakikat Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW. Pada gilirannya mereka terbentengi dan dapat tercegah dari ketersesatan dalam hegemoni ideologi kufur sekuler.
Rasulullah Teladan dalam Segala Aspek
Karena itu memberikan penyadaran dan mengingatkan umat tentang kewajiban meneladani Rasulullah Muhammad SAW dalam segala aspek kehidupan merupakan hal yang sangat urgen.
- Aspek Ibadah.
Rasulullah Muhammad SAW adalah manusia yang paling sempurna ibadahnya. Banyak hadis yang meriwayatkan kesungguhan, kebagusan dan totalitas beliau dalam beribadah. Misalnya hadits tentang shalat malam beliau hingga kaki beliau bengkak (HR al-Bukhari), atau hadis yang meriwayatkan beliau membaca Surat al-Baqarah, Ali ‘Imran dan an-Nisa’ dalam satu rakaat (HR Muslim), atau hadis yang mengisahkan puasa beliau hingga seolah tak pernah berbuka (HR Abu Dawud), dan hadis-hadis yang lain. Semua itu harus diteladani, namun dengan tetap dalam koridor ittibâ’ (mengikuti) kepada beliau. Jika tidak, maka akan terjatuh ke dalam bid’ah dan kesesatan.
- Aspek Akhlak.
Begitu juga halnya dengan keluhuran akhlaq baginda Rasulullah SAW. Masyhur bagaimana akhlaq beliau, baik kepada kawan maupun lawan, kepada yang lebih tua maupun yang muda, saat ridha maupun saat marah, saat susah maupun saat mudah, kedermawanan beliau, kemurahan hati beliau, dan ketawadhukan beliau. Karena itu, Allah memuji-muji beliau dengan pujian yang sangat tinggi:
Sungguh engkau benar-benar memiliki akhlak yang agung (QS al-Qalam [68]: 4).
Rasulullah Muhammad SAW menunjukkan sikap yang tegas terhadap kekufuran dan kebatilan. Beliau murka saat hukum-hukum Allah dilanggar. Beliau keras terhadap musuh-musuh Islam. Beliau tegas terhadap kaum Yahudi yang melanggar perjanjian dengan beliau.
Semua itu, menggambarkan bahwa beliau bukan sosok manusia biasa. Sikap, sifat dan akhlak beliau adalah wahyu. Karena itu sikap lembut beliau kepada kaum Mukmin dan sikap keras beliau kepada musuh-musuh Islam merupakan teladan yang sempurna. Sebuah kebohongan klaim jika seorang mengaku meneladani belas-kasih beliau, namun bermesraan dengan musuh-musuh Islam.
- Aspek keluarga.
Rasulullah Muhammad SAW adalah seorang suami dan sekaligus ayah yang begitu memukau bagi keluarga. Beliau sendiri menegaskan bahwa beliau adalah orang yang paling baik akhlaknya kepada keluarga dan memuji orang-orang yang baik kepada keluarga (anak istri)-nya. (HR at-Tirmidzi dan Ibn Majah dari ‘Aisyah). Beliau amat lembut kepada istri-istri beliau. Beliau juga amat menyayangi putra-putri dan cucu beliau.
- Aspek ekonomi.
Rasulullah Muhammad SAW adalah seorang yang mengajarkan keadilan dalam bidang ekonomi dan yang paling menjaga hak-hak orang-orang yang lemah. Al-Quran menjelaskan agar harta tidak beredar hanya di antara orang kaya saja (QS al-Hasyr [59]: 7). Al-Quran berbicara tentang pembagian ghanîmah, zakat dan fai’ yang menggambarkan bagaimana harta didistribusikan. Semua turun kepada beliau dan telah beliau praktikkan dengan sebaik-baiknya. Beliau pun merumuskan kepemilikan menjadi tiga; kepemilikan individu, umum dan negara. Bagaimana harta-harta itu didapatkan dan dikelola, ekonomi berbasis riil hingga persoalan menangani saat terjadi lonjakan harga di pasaran. Semua terwujud pada diri beliau.
- Aspek politik: Rasulullah sebagai kepala negara.
Rasulullah Muhammad SAW sejak kedatangan beliau di Madinah, langsung mengatur dan membuat berbagai kebijakan di Madinah; Negara Islam pertama. Beliau membuat perjanjian dengan Yahudi, mengatur di antara mereka dan kaum Muslim (melalui Watsiqah Madinah), memutus perselisihan di antara rakyat, menjatuhkan sanksi pada pihak-pihak yang melanggar syariah hingga mengangkat para utusan, hakim, penguasa daerah dan berbagai aktivitas yang lain sebagai kepala negara Islam.
- Aspek kenegaraan: dalam dan luar negeri.
Telah masyhur surat-surat yang dibawa oleh para utusan beliau kepada para raja, seperti raja Hiraqlius, raja Mesir, dan para pemimpin di Jazirah Arabia dan sekitarnya. Dalam surat-surat itu beliau mengajak mereka masuk Islam dan tunduk di bawah Negara Islam. Beliaulah yang mengadakan perjanjian damai dengan beberapa pihak; seperti Perjanjian Hudaibiyah. Beliau juga yang mengumumkan perang kepada suku-suku dan pihak-pihak yang menentang dakwah beliau.
- Aspek jihad.
Sepanjang hidup beliau dan memimpin Madinah, puluhan kali beliau memimpin perang dan puluhan kali beliau mengirim pasukan. Perang Badar, Perang Uhud, Perang Ahzab, Perang Hunain, dan yang lain merupakan perang yang beliau sendiri sebagai panglimanya di medan perang. Sebagai kepala negara, tak ada satu pun panji perang dikibarkan kecuali beliau yang mengikatkan talinya. Beliaulah atau memutuskan semua peperangan kaum Muslim sepanjang hayat beliau. Beliau digambarkan dalam banyak hadits sebagai nabiyyul-malhamah (nabi pemimpin perang) (HR Muslim).
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW
Oleh sebab itu, Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sudah seharusnya menjadi kesempatan untuk mengembalikan pemahaman umat kepada sosok Nabi Muhammad SAW dan meneladani beliau dalam segala aspek; ibadah, akhlak, politik, negara, ekonomi, peradilan, dan lain sebagainya. Sudah saatnya mengakhiri pemahaman tentang sosok beliau dalam frame sekularisme; beliau hanya dijadikan teladan dalam aspek ibadah dan akhlaknya saja. Ini adalah bentuk su’ul adab (buruknya sikap) kepada beliau dan wujud pembangkangan kepada beliau. Bagaimana mungkin maulid beliau diperingati dan akhlak beliau disanjung-sanjung, namun yang beliau haramkan justru dihalalkan, yang beliau halalkan justru diharamkan, yang beliau perintahkan malah dilarang dan dihalang-halangi?! Bagaimana mungkin maulid beliau diperingati, namun syariah dan aturan hukum beliau justru dimusuhi? Itulah realitas yang terjadi pada Perayaan Maulid oleh kaum sekuler.
Maulid Nabi saw., selain momentum kembali pada Islam secara kâffah, juga momentum persatuan umat dalam satu kepemimpinan politik Islam. Sudah terlalu cukup bukti bahwa umat Islam lemah saat mereka terpecah-belah dalam banyak negara. Nation state menjadi malapetaka bagi umat Islam, khususnya Gaza. Akibat kaum Muslim terpecah-belah dalam banyak negara-bangsa, dengan para pemimpin antek dan boneka Barat, kekayaan alam dikeruk oleh musuh, ‘izzah Islam dan kaum Muslim terinjak, dan darah serta nyawa kaum Muslim tak ada harganya. Semua kembali pada ketiadaan kehidupan Islam dengan penerapan syariah Islam secara total dalam institusi Negara Khilafah Islamiyah yang menyatukan semua potensi, baik material maupun ruh, dari umat yang besar. Karena itu mendakwahkan keharusan mengembalikan Khilafah adalah wujud nyata cinta kepada Rasulullah Muhammad SAW, meneladani beliau serta membela beliau dan ajaran beliau. Sabda beliau:
Oleh karena itu, berpeganglah kalian pada Sunnahku dan sunnah al-Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah ia (sunnah tersebut) dengan gigi geraham. Tinggalkanlah oleh kalian urusan-urusan baru (yang diada-adakan dalam urusan agama) karena sesungguhnya setiap bid’ah itu adalah sesat (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi).
WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. [Utsman Zahid as- Sidany]
Catatan kaki:
- Lihat: Ibn Asyur, Muhammad bin Thahir, at-Tahrir wa at-Tanwir, Dar Sahnun, Tunisia, ttp. Jilid IV, hal. 70
- Lihat: al-Yahshubi, al-Qadhi Abu al-Fadhal ‘Iyadh bin Musa, as-Syifa bi Ta’rif Huquq al-Mushthafa, Dar al-Faiha’, Lebanon, 2020. Hal. 472 dan halaman-halaman berikutnya.
- Lihat: Ibn Asyur, Cit. Jilid II, hal. 109





