Catatan Dakwah

Kemungkaran

Siapa saja dari kalian yang melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tak mampu, ubahlah dengan lisannya. Jika tak mampu, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.”(HR Muslim).

++++

Dalam hadis shahih riwayat Imam Muslim di atas, Nabi saw. memberikan petunjuk sangat jelas untuk jangan pernah memberikan toleransi sedikit pun terhadap kemungkaran. Apapun bentuknya. Siapa saja, setiap melihat kemungkaran, harus segera menghentikan kemungkaran itu. Utamanya dengan kekuatan atau kekuasaan. Jika tidak mampu, dengan lisan. Jika tetap tidak mampu, Nabi saw. dengan tegas meminta kita untuk tetap tidak boleh membiarkan kemungkaran itu terus terjadi. Harus tetap ditolak meski di dalam hati. Ini disebutnya sebagai selemah-lemah iman.

Kemungkaran adalah setiap hal yang bertentangan dengan ketentuan Allah SWT. Melakukan keharaman dan atau meninggalkan kewajiban. Sampai segitunya Nabi saw. memberikan petunjuk untuk terus melawan kemungkaran hingga mengaitkan dengan kuat atau lemahnya iman. Mengapa?

Petunjuk Nabi 1400 tahun lalu kini makin menemukan penjelasan faktualnya. Jika kemungkaran dibiarkan, ia akan menjadi kuat, dan terus makin kuat hingga sampai titik yang tak lagi mudah untuk dihentikan. Siapa saja yang berusaha menghentikan kekuatan kemungkaran (al-mungkarât) akan dilawan. Bahkan bisa-bisa yang berusaha menghentikan itu justru akan tersingkir lebih dulu.

Kisah Pablo Escobar, raja narkoba Kolombia, memberikan bukti. Pada tahun 1970, saat usianya 21 tahun, ia memulai bisnis narkoba. Lima tahun kemudian, Escobar mulai memasok bubuk kokain dan membangun jalur perdagangan barang haram itu ke Amerika Serikat. Daun koka yang banyak tumbuh di hutan-hutan Kolombia membuat bisnisnya berkembang cepat. Pada usia belum genap 26 tahun, Pablo Escobar sudah memiliki simpanan sebesar 3 juta dolar AS. Jumlah ini terus meningkat seiring dengan bertambahnya permintaan kokain. Medellín, kartel yang dibentuk Escobar, mampu mengumpulkan 420 juta dolar AS perminggunya. Jumlah ini sekitar Rp 356,160 T pertahun, ukuran sekarang. Inilah yang membuat dia menjadi salah satu orang terkaya di dunia selama 7 tahun berturut-turut. Sang raja narkoba, Pablo Escobar, diperkirakan memiliki total kekayaan sekitar setara 80 miliar USD di 2025 (Rp 1.348 triliun).

Dengan kekayaannya itu, Pablo menjadi orang yang tak mudah disentuh. Ia bisa membeli aparat penegak hukum, polisi dan para politisi. Bahkan ia bisa membangun kamp pertahanannya sendiri lengkap dengan pasukan bersenjata. Tak mudah bagi Pemerintah Kolombia menaklukkan Pablo. Akhirnya pemerintah mereka meminta bantuan pemerintah AS. Saat dikepung, Pablo sempat membakar uang sebesar 2 juta dolar atau sekitar Rp 33 miliar untuk membuat putrinya, Manuela Escobar, tidak kedinginan.

Bukan hanya di Kolombia. Kekuatan al-mungkarât juga ada di banyak negara dan sempat merepotkan pemerintahan di sana. Sebutlah, misalnya, Yakuza di Jepang atau mafioso di Italia dan AS. Di Amerika Serikat, mafia Cosa Nostra terkenal setelah menjadi kawanan ‘bandit’ Italia. Dia melakukan pemerasan dan jadi tukang pukul di Chicago, New York dan beberapa kota lainnya. Perdagangan heroin menjadi bisnis inti mereka. Beberapa klan mafia Itali beroperasi secara global. Mereka bersaing dengan kelompok-kelompok mafia lain yang sama kejamnya dari Rusia, Cina, Albania dan beberapa negara lainnya. Kadang organisasi-organisasi itu berkoordinasi dalam melakukan kejahatan dan berbagi jarahan.

Kekuatan al-mungkarât di negeri ini memang belum sampai seperti Pablo atau para mafioso itu. Namun, pengaruhnya tak boleh dipandang remeh. Dari bisnis judi online saja konon mereka bisa meraup lebih dari Rp 1000 triliun. Belum dari narkoba, illegal mining, illegal fishing, illegal logging. Pemerintah baru saja mengambil alih tiga juta hektar lahan sawit ilegal. Bayangkan, berapa duit dihasilkan dari lahan seluas itu? Andai dari 1 juta hektar di antaranya yang sudah berproduksi didapat keuntungan bersih Rp 1 juta/ha per bulan (ini angka minimal), maka bisa diraup Rp 1 triliun tiap bulan. Jumlah ini lebih dari cukup untuk membeli apapun, termasuk membeli aparat, polisi dan para politisi. Dari situlah kita bisa memahami mengapa kejahatan-kejahatan besar kok tampak sulit diberantas, malah kesannya makin membesar? Coba pikirkan. Dari mana mau diberantas? Dari aparat? Aparat sudah dibeli. Dari birokrasi? Birokrasi, hingga level tertinggi, juga sudah dibeli. Dari peraturan perundangan? Justru merekalah dengan kekuatan uangnya itu bisa memesan peraturan perundangan yang menguntungkan mereka, seperti revisi UU KPK, lahirnya UU Minerba 2020 yang menggantikan UU Minerba 2009 dan lainnya.

Seorang pejabat tinggi Kepolisian berbintang dua di Kalimantan beberapa tahun lalu bercerita. Ia bisa mendapat paling sedikit Rp 35 miliar rupiah setiap bulannya dari para pelaku bisnis narkoba, judi illegal logging, illegal mining dan illegal fishing, asal dia mau mendiamkan saja semua kejahatan itu. Namun, ia tak mau. Ia melawan semua itu. Akhirnya ia berhasil menangkap satu bos besar di tangga jet pribadinya sesaat sebelum take off. Bisa dimengerti, pejabat Kepolisian hebat ini tak bertahan lama. Ia dicopot dan sekarang tak pernah terdengar lagi kabarnya.

Pejabat setara di provinsi lain justru memaksa seorang pemegang HPH untuk melakukan illegal logging. Karuan saja, perintah gila itu ditolak. Pasalnya, siapapun tahu, risiko yang bakal dihadapi jika melakukan hal terlarang itu. Namun, pejabat Kepolisian ini tidak peduli. Ia terus memaksa dan mengancam akan memenjarakan orang ini jika tetap tak mau menuruti kemauannya. Karena tetap menolak, dengan aneka rekayasa, akhirnya kawan yang mencoba tertib ini benar-benar masuk penjara.

Mungkin karena mengetahui ada banyak kejahatan yang merugikan negara, Pemerintah sekarang mau beberes. Namun, lihatlah, kekuatan al-mungkarât itu tak tinggal diam. Demo anarkis kemarin membuktikan hal itu. Selain memang dipicu oleh faktor obyektif berupa kekesalan publik atas kenaikan pajak yang sangat tinggi, sikap anggota DPR yang menyebalkan dan aneka ketidakadilan, juga ada faktor subjektif: para penjahat yang tak ingin aktifitas mereka diganggu. Setelah praktik mega korupsi yang telah berjalan sekian lama, dan telah menghasilkan cuan yang sangat banyak, seperti korupsi tambang nikel, timah, perniagaan migas dan lainnya, mereka tak rela semua itu hendak dihentikan oleh penguasa sekarang.

Mereka melawan. Mereka tidak akan berhenti untuk terus melawan. Gagal dengan cara sekarang, mereka pasti akan mencoba dengan cara lain. Termasuk menggerakkan rakyat dan mahasiswa serta aparat pada saat yang bersamaan. Rakyat didorong untuk bertindak anarkis, sementara aparat diperintah bertindak represif. Hasilnya sebuah benturan besar, seperti yang baru lalu terjadi, meski ternyata tak cukup besar untuk menghasilkan perubahan yang mereka inginkan.

++++

Jelaslah, dari sebuah tuntunan yang tampak sederhana untuk tak membiarkan kemungkaran apapun terjadi, ternyata terkandung sebuah hikmah yang sangat besar. Di antaranya, bahwa dalam realitas kehidupan masyarakat dan negara, tak mungkin bersekutu atau hadir bersama antara kebaikan dan keburukan. Antara kekuatan yang menginginkan keadilan, keamanan, ketertiban, kesucian dan ketaatan pada Allah dengan yang sebaliknya. Kekuasaan juga mesti digunakan untuk menegakkan kebaikan, bukan sebaliknya. Pasalnya, di manapun, kekuasaanlah yang bisa menghentikan setiap kemungkaran dengan cara yang efektif. Lalu apa jadinya jika penguasa puncak justru bersekutu dengan kejahatan? Karena itu kekuatan al-mungkarât itu cepat atau lambat justru akan menerkam kekuasaan itu sendiri, seperti yang kini terjadi di negeri ini dan di banyak negeri lain.

Semua kemungkaran itu sesungguhnya adalah buah dari kemungkaran yang lebih besar. Itulah sistem sekuler. Kemungkaran besar ini pulalah yang terus menghalangi tegaknya sistem yang haq. Itulah sistem Islam, yang akan membereskan semua bentuk kemungkaran itu.

Jadi, hari ini kita berhadapan bukan hanya dengan kemungkaran biasa yang terus mengancam, tetapi juga dengan kemungkaran besar. Kemungkaran di atas kemungkaran (al-munkar ‘ala al-munkar), yang terus berusaha mempertahankan diri dengan segala cara! Jangan khawatir, kemungkaran besar itu akan tersingkir dengan sendirinya asal kebenaran (al-haq) itu hadir. Nah, menghadirkan al-haq dengan segenap kesungguhan dan keistiqamahan. Itulah tugas kita! [H.M. Ismail Yusanto]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × five =

Check Also
Close
Back to top button