Dari Redaksi

Pelajaran dari Venezuela

Amerika kembali menampakkan watak imperialismenya. Amerika menculik Presiden Venezuela, Nicolás Maduro. Operasi ini dikabarkan menelan lebih-kurang 100 korban. Banyak pihak mempertanyakan alasan Amerika menculik Maduro. Maduro dituduh bukan presiden yang sah karena tidak terpilih secara demokratis. Amerika Serikat mengklaim Pemilu Venezuela curang, tidak bebas, dan tidak transparan. Maduro juga dituduh menindas oposisi dan bertindak represif.

Pertanyaannya, sekalipun tuduhan itu dianggap benar, apa hak Amerika untuk mencampuri urusan dalam negeri suatu negara? Jika memang Amerika konsisten dengan prinsip tersebut, bagaimana dengan banyak kepala negara yang represif dan bahkan tidak demokratis seperti Saudi Arabia atau Mesir yang justru dibiarkan? Bahkan negara-negara itu menjalin kerja-sama erat dan menerima banyak bantuan dari Amerika.

Masalah utamanya bukanlah apakah suatu negara demokratis atau tidak, melainkan kepentingan Amerika. Banyak rezim yang jauh lebih represif, otoriter dan melanggar HAM tetap didukung oleh Amerika selama patuh pada kepentingannya. Ini menunjukkan bahwa tudingan “tidak demokratis” hanyalah dalih, bukan prinsip.

Hal yang sama berlaku pada tuduhan narkoterorisme. Maduro dituduh terlibat perdagangan narkoba dan kejahatan lintas negara. Pada Maret 2020, Departemen Kehakiman AS menuduh Nicolás Maduro dan sejumlah pejabat Venezuela terlibat narco-terrorism. Tuduhan ini jelas bersifat sepihak, bukan keputusan pengadilan internasional. Maduro tidak pernah dihadirkan dalam proses pengadilan dengan sidang terbuka, hakim yang independen dan mekanisme hukum yang adil.

Venezuela memang menjadi negara transit narkoba, tetapi bukan produsen. Negara ini tidak memiliki ladang koka besar, produksi opium signifikan, maupun industri narkoba sintetis. Standar ganda Amerika terlihat jelas karena negara transit lain seperti Honduras, Guatemala dan Meksiko tidak dilabeli “narkoteroris”. Bahkan Kolombia—yang menurut PBB (UNODC) menyumbang 60–70% produksi kokain dunia—justru menjadi sekutu Amerika dan menerima banyak bantuan. Kolombia bahkan menjadi sekutu strategis utama Amerika Serikat di Amerika Latin dan penerima bantuan militer terbesar AS di kawasan ini.

Melalui Plan Colombia sejak tahun 2000, Amerika mengucurkan miliaran dolar bantuan militer dan keamanan dengan dalih “perang melawan narkoba”. Akan tetapi, faktanya produksi kokain tidak berhenti, bahkan cenderung meningkat. Aparat yang terlibat narkoba tetap didukung selama pro-Amerika dan tidak pernah dilabeli “narkoteroris” meskipun negaranya merupakan produsen narkoba terbesar. Hal ini semakin menguatkan bahwa tudingan terhadap Venezuela hanyalah klaim politik, bukan vonis yudisial.

Klaim Trump bahwa penculikan ini bertujuan menyelamatkan rakyat Venezuela banyak dicibir. Pasalnya, justru tindakan Amerika ini memperparah krisis ekonomi negara tersebut. Sejak 2017, Amerika menjatuhkan sanksi finansial dengan memutus akses Venezuela ke pasar keuangan internasional, memblokir restrukturisasi utang, membekukan aset PDVSA (perusahan minyak negara Venezuela), melarang ekspor minyak, serta menyita hasil penjualannya. Akibatnya, likuiditas negara mengering, produksi minyak anjlok dan Venezuela kehilangan sumber pendapatan utamanya. Padahal minyak menyumbang lebih dari 90% devisa nasional Venezuela.

Dengan demikian, semua tudingan dan klaim Amerika hanyalah kebohongan untuk membenarkan intervensi. Pola yang sama pernah dilakukan sebelum invasi AS atas Irak dengan dalih senjata pemusnah massal yang tidak pernah terbukti. Amerika tidak peduli. Yang penting tujuan menguasai minyak Irak tercapai.

Kekayaan minyak Venezuela inilah yang diyakini menjadi motif utama Amerika menculik presidennya. Venezuela memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia. Sekitar 303 miliar barel menurut data OPEC dan lembaga energi global. Cadangan ini setara dengan sekitar 17–18% cadangan minyak dunia. Lebih besar dari Arab Saudi dan negara penghasil minyak besar lainnya. Minyak merupakan inti konflik senyap ini. Fakta cadangan minyak raksasa saja sudah cukup menjelaskan mengapa Venezuela menjadi target.

Ancaman bagi Amerika meningkat ketika perusahaan-perusahaannya disingkirkan dan ekspor minyak Venezuela dialihkan ke Tiongkok dan Rusia. Hal ini dipandang melanggar Doktrin Monroe serta menghadirkan rival di kawasan terdekatnya. Karena itu persoalan utamanya bukan cara Maduro memerintah, melainkan untuk siapa ia memerintah. Kasus Venezuela menegaskan bahwa yang dipersoalkan Amerika bukan demokrasi atau kebebasan rakyat, melainkan pengaruh yang terancam, kekayaan yang tak lagi terkendali, dan rezim yang membangkang.

Semua ini seharusnya menjadi pelajaran penting bagi Dunia Islam, terutama para penguasanya. Pertama: Amerika adalah negara imperialis yang akan melakukan segala cara demi memuaskan kerakusan ekonominya. Kedua: Jangan berharap pada Amerika. Siapa pun akan dijatuhkan jika tidak sejalan dengan kepentingannya. Ketiga: Amerika Serikat harus diposisikan sebagai musuh umat Islam karena imperialismenya telah melahirkan berbagai intervensi dan pembunuhan kaum Muslim. Keempat: Seluruh gagasan yang ditawarkan Amerika—liberalisme, demokrasi dan HAM—hanyalah alat politik belaka. Amerika sendiri tidak peduli pada nilai-nilai itu jika bertentangan dengan kepentingannya.

Untuk melepaskan diri dari penjajahan Amerika, umat Islam tidak memiliki pilihan lain. Umat harus mencampakkan aturan Kapitalisme, keluar dari hegemoni PBB dan hukum internasional yang penuh kepalsuan serta menolak para penguasa pengkhianat yang melayani kepentingan asing. Melalui tangan merekalah negeri-negeri Islam terus terjajah.

Sebaliknya, umat Islam harus bangkit menjadi negara adidaya yang mandiri dengan ideologi yang kokoh, yakni akidah Islam. Hukum yang diterapkan harus terbebas dari jerat hukum imperialis, yaitu syariah Islam. Umat harus disatukan dengan prinsip tauhid Aqidah Islam, mencampakkan nation state yang memecah belah dan melemahkan. Sekali lagi, penegakan Khilafah Rasyidah ‘alâ minhâjin nubuwwah adalah satu-satunya jalan kebangkitan umat. Hanya dengan itu umat Islam dapat hidup bermartabat, terbebas dari penjajahan, bahkan mampu membantu dunia terbebas dari dominasi kolonialisme.

AlLâhu Akbar! [Farid Wadjdi]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eleven − 5 =

Back to top button