
Ustadz H.M. Ismail Yusanto: Khilafah dan Jihad: Solusi untuk Palestina
Pengantar:
Palestina dijajah. Sudah lebih dari 70 tahun. Sampai hari ini. Penjajahnya adalah Zionis Yahudi. Saat ini, lebih dari 78% wilayah Palestina dikuasai oleh sang penjajah. Tiba-tiba ada usulan “solusi dua negara”. Satu untuk bangsa Palestina. Wilayahnya hanya sekitar 22% dari yang seharusnya. Satu lagi untuk bangsa Yahudi. Wilayahnya 78% dari yang mereka rampas dari bangsa Palestina.
Pertanyaannya: Adilkah solusi dua negara itu? Tentu tidak. Bahkan itu adalah solusi yang amat zalim bagi bangsa Palestina. Jika demikian, apa solusi hakiki atas kasus Palestina menurut pandangan Islam?
Itulah inti pertanyaan yang diajukan kepada Cendekiawan Muslim, Ustadz H.M. Ismail Yusanto dalam wawancara dengan Redaksi kali ini. Berikut wawancara lengkapnya.
Solusi Dua Negara yang kini makin nyaring didengungkan oleh banyak pihak terhadap persoalan Palestina. Apakah ini gagasan baru atau lama?
Solusi Dua Negara (Two-State Solution) adalah gagasan untuk menyelesaikan persoalan di Palestina dengan cara membentuk dua negara berdaulat yang hidup berdampingan: Israel untuk bangsa Yahudi dan Palestina untuk bangsa Palestina. Ini bukanlah gagasan baru. Pertama kali ini diusulkan oleh Komis Peel pada tahun 1937, setelah Khilafah Utsmani runtuh pada 1924, dan wilayah Palestina jatuh ke tangan Inggris, untuk membagi wilayah itu bagi Yahudi dan Arab. Usulan ini kemudian pada tahun 1947 ditetapkan PBB melalui Resolusi 181. Wilayah Palestina dibagi menjadi dua negara. Namun, rencana ini ditolak oleh banyak negara Arab, dan memicu perang pertama Arab–Israel di tahun 1948. Setelah itu, ide solusi dua negara terus muncul dalam berbagai perundingan. Di antaranya di Perjanjian Oslo 1993, Camp David 2000, dan berbagai forum lainnya.
Deklarasi New York adalah rangkaian puluhan deklarasi tentang Palestina. Namun, semuanya seolah-olah ‘tidak berlaku’, khususnya bagi Israel. Mengapa demikian?
Jangankan sekadar deklarasi, resolusi PBB pun tak mereka gubris. Lebih 33 resolusi PBB terkait Israel yang dicuekin oleh mereka. Mereka yakin, sikap mereka itu tidak berdampak apa-apa. Itu sudah mereka buktikan. Tak ada satu pun sanksi yang mereka terima akibat penolakan terhadap resolusi PBB. Bahkan perintah untuk menangkap Netanyahu pun tak bisa dieksekusi. Mereka sangat yakin, AS akan melindungi mereka, dan tak ada satu pun negara yang berani bertindak sendiri.
Ada yang menolak Solusi Dua Negara yang bergema di PBB. Sebenarnya titik ‘bermasalahnya” di mana?
Persoalan pokok Palestina sesungguhnya pendudukan atau tepatnya perampasan Israel atas wilayah Palestina. Inilah yang disebut sebagai qâdhiyah wujud (problem eksistensi). Bermula dari gagasan Theodor Herzl, Bapak Zionis Internasional, yang menginginkan pendirian negara Yahudi (Der Juden Stat atau The Jewish State). Dalam pikirannya, semua penindasan terhadap bangsa Yahudi, seperti yang ia lihat pada Peristiwa Dreyfus pada tahun 1894, akan bisa diakhiri jika orang Yahudi memiliki negara sendiri. Ditambah dengan doktrin tentang Tanah Terjanji (The Promised Land). Seolah Tuhan telah menyerahkan wilayah Palestina dan sebagian Mesir, sebagian Syria dan Libanon, yang membentang dari Sungai Nil di Mesir hingga Sungai Euphrat di Irak untuk mereka. Cita-cita ini kemudian disahkan dalam Kongres Zionis Pertama di Basel, Swiss pada 1897.
Namun, sedari awal sesungguhnya mereka menyadari bahwa Palestina bukanlah tanah tak bertuan. Wilayah itu ada di dalam kekuasaan Khilafah Utsmaniyah. Melalui Theodor Herzl yang mendapat mandat dari Kongres Zionis itu, mereka kemudian mencoba meminta wilayah itu kepada Khalifah Sultan Abdul Hamid II. Namun, permintaan itu ditolak mentah-mentah. Akhirnya, mereka sampai pada kesimpulan, bahwa cita-cita negara Yahudi hanya mungkin bisa diujudkan jika pelindung wilayah itu, yakni Khilafah Utsmaniyah, dihancurkan lebih dulu. Itulah yang kemudian mereka lakukan dan berhasil pada 1924.
Setelah keruntuhan Khilafah Utsmaniyah, yang dilakukan oleh Inggris dan para sekutunya, mulailah eksodus besar-besaran komunitas Yahudi dari berbagai wilayah di dunia ke Palestina. Puncaknya pada 1948, atas sokongan Inggris dan PBB, negara Israel dideklarasikan.
Jadi, selama Israel masih ada, dan menjajah wilayah Palestina, selama itu pula persoalan Palestina akan terus muncul. Mungkin saja ada sebagian umat Islam merelakan pendirian Israel di sana, dan karena itu bersetuju terhadap ide Solusi Dua Negara. Namun, lebih banyak lagi yang tak rela. Merekalah yang akan terus berjuang mengusir penjajah itu, seperti yang dilakukan oleh Hamas dan pejuang Palestina lain saat ini.
Solusi Dua Negara itu dikatakan akan menguntungkan Palestina, karena akan bebas dan merdeka. Benarkah begitu?
Sekilas tampak benar, bahwa solusi itu akan menguntungkan Palestina. Palestina akan merdeka dan berdaulat. Faktanya tidaklah demikian. Secara wilayah, Palestina sekarang hanyalah sekitar 15% dari seluruh wilayah Palestina, selebihnya dikuasai oleh Yahudi. Padahal awalnya, setidaknya sampai tahun 1900-an, mereka menguasai hampir seluruh wilayah Palestina, sementara orang Yahudi hanya menguasai sekitar 6%. Sudah begitu, wilayah itu pun terbelah menjadi dua bagian, yakni Tepi Barat Sungai Yordan (West Bank) dan Jalur Gaza. Keduanya dipisahkan oleh wilayah yang dikuasai oleh Israel. Bagaimana bisa, ada satu negara wilayahnya dipisah begitu rupa? Atas dua wilayah itu pun mereka tidak berdaulat sepenuhnya. Visa tetap di tangan Israel. Artinya, siapa saja yang hendak memasuki wilayah Paletina harus seijin Israel. Pintu Rafah yang menghubungkan wilayah Gaza dan Mesir, yang notabene adalah sama-sama negeri Islam, hanya boleh dibuka atas ijin Tel Aviv dan Washington. Itulah mengapa ribuan truk yang membawa bantuan yang amat diperlukan oleh warga Gaza sudah lama mengantri tak kunjung bisa masuk karena pintu itu tidak boleh dibuka oleh mereka. Selain itu, Palestina juga dilarang punya angkatan bersenjata, kapal perang dan pesawat tempur. Mereka hanya boleh punya helikopter untuk membawa Perdana Menteri dan Presiden Palestina terbang dari satu tempat ke tempat lain di wilayah Palestina. Dengan semua itu, apakah layak Palestina disebut negara yang merdeka dan berdaulat?
Jika Solusi Dua Negara tidak menguntungkan sama sekali bagi Palestina, maka solusi tersebut sejatinya mengokohkan tentang apa?
Jelas mengokohkan Israel. Solusi Dua Negara itu akan memberikan legitimasi perampasan tanah Palestina oleh Israel. Inilah yang selama ini susah-payah diupayakan oleh Israel. Dengan legitimasi itu, amanlah mereka. Kemudian hal itu akan menjadi pintu ke usaha berikutnya bagi perwujudan cita-cita zionis, yakni pendirian Negara Israel Raya yang membentang dari Sungai Euphrat di Utara hingga Sungi Nil di Selatan mencakup seluruh wilayah Palestina, Libanon, sebagian Suriah, Yordan dan Mesir, bahkan sebagian Saudi. Jika itu terjadi maka praktis Yerusalem, di mana Masjidil Aqsha, juga Masjid Nabawi ada di dalamnya, juga akan dikuasi oleh zionis. Ini jelas bahaya sangat besar. Bagaimana bisa dua tempat suci umat Islam dikuasi oleh musuh Islam?
Ada yang mengatakan bahwa Solusi Dua Negara itu paling realistis. Pasalnya, posisi Palestina yang lemah, sementara Israel kuat karena didukung Amerika. Benarkah demikian?
Sekilas memang tampak itulah solusi paling realistis. Namun, realistis bukan berarti benar. Perhatikan nasihat nabi, “Siapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tak mampu, ubahlah dengan lisannya. Jika tak mampu, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.” Dalam hadis shahih riwayat Imam Muslim ini, Nabi saw. memberikan petunjuk sangat jelas untuk jangan pernah memberikan toleransi sedikit pun pada kemungkaran. Kemungkaran adalah setiap hal yang bertentangan dengan ketentuan Allah. Melakukan yang haram dan atau meninggalkan yang wajib. Siapa saja, setiap melihat ada kemungkaran harus segera menghentikan kemungakaran itu, dengan cara apapun. Utamanya dengan kekuatan atau kekuasaan. Jika tidak mampu, dengan lisan. Jika tetap tidak mampu, Nabi saw. dengan tegas meminta kita untuk tetap tidak boleh membiarkan kemungkaran itu terus terjadi. Harus tetap ditolak meski di dalam hati. Ini yang disebut sebagai selemah-lemah iman.
Perampasan tanah Palestina oleh Israel, mengusir penduduknya, menghancurkan rumahnya, membunuhi warganya adalah sebuah kemungkaran amat besar. Andai kita ini hari tidak bisa mencegah kemungkaran besar ini, tetap saja Nabi saw. mengajari kita untuk tidak boleh menerima, pasrah, menyerah terhadap kemungkaran itu. Sampai segitunya Nabi saw. memberikan petunjuk untuk terus melawan kemungkaran hingga mengaitkan dengan kuat atau lemahnya iman,
Jika ukurannya kondisi faktual, bukan kali ini saja umat dalam posisi lemah. Lihatlah, dalam semua perang di awal periode, pasukan Islam selalu dalam posisi outnumber (kalah jumlah). Dalam Perang Badar, 300-an pasukan Islam melawan 900-an pasukan Quraiys. Dalam Perang Uhud, 1000 melawan 3000. Perang Khandaq, 2000 melawan 10.000. Perang Mu’tah lebih dramatis lagi. 5000-an pasukan Islam harus berhadapan dengan lebih dari 200 ribu pasukan Romawi. Ketika melawan penjajah Belanda, rakyat Indonesia juga dalam posisi lemah. Jika mereka berpikir seperti sebagian orang Islam sekarang, mungkin umat Islam ketika itu sudah menyerah. Tak akan pernah ada kejayaan Islam. Indonesia juga mungkin tidak pernah merdeka.
Mengapa Amerika berkepentingan melakukan deradikalisasi dan demiliterisasi Palestina seperti dalam proposal 21 poin?
Mereka tahu, Hamaslah yang hingga sekarang terus melakukan perlawanan secara militer terhadap Israel. Taufan Aqsha dua tahun lalu betul-betul menghantui mereka. Oleh karena itu, ke depan mereka harus bisa memastikan ancaman Hamas tidak ada lagi. Di situlah mengapa program deradikalisasi dan demiliterisasi harus dilakukan. Tujuannya jelas, untuk melenyapkan Hamas dan semua potensi perlawanan militer.
Dalam pidatonya, Presiden Macron menyampaikan Solusi Dua Negara menjadi pilihan agar Hamas atau kelompok radikal tidak menjadi opsi perjuangan bagi rakyat Palestina. Bagaimana kita melihat pernyataan ini?
Macron, juga para pemimpin negara Barat lain, memang melihat Hamaslah satu-satunya ancaman bagi Israel. Ini setelah seluruh negara Arab, khususnya yang berbatasan langsung dengan Israel seperti Libanon, Suriah, Yordania dan Mesir telah berhasil mereka tundukkan. Oleh karena itu, mereka bertekad, Hamas harus benar-benar punah. Namun, mereka lupa, umat Islam bukan hanya Hamas, dan yang peduli Palestina bukan hanya orang Palestina. Masih sangat banyak bagian dari umat Islam yang menolak tunduk dan akan terus berjuang untuk merebut kembali wilayah Palestina dari tangan penjajah Israel.
Pidato Presiden Prabowo di PBB mengatakan bahwa Indonesia akan mengakui Israel jika kemerdekaan Palestina diakui. Bagaimana ini?
Pasti ini dipengaruhi oleh cara pandang bahwa Israel berhak hidup di wilayahnya sekarang. Pertanyaannya, benarkah Israel berhak atas wilayah yang dia duduki sekarang? Pertanyaan dasarnya, berhakkah seorang pencuri memiliki barang hasil curiannya? Bisakah Indonesia menerima Belanda menguasai sebagian wilayah Indonesia ketika itu? Jika tidak, mestinya kita juga tidak bisa menerima penjajahan Israel atas wilayah Palestina. Cara pandang seperti inilah yang sekarang umum terjadi pada para pemimpin negeri Muslim, termasuk beberapa tokoh umat di negeri ini. Ini jelas sangat memprihatinkan, karena berarti menyetujui perampok merampas tanah milik kita. Bagaimana bisa kita, yang katanya anti penjajah, menerima keberadaan penjajah di wilayah jajahannya? Bagi zionis radikal, two state solution juga bukan solusi. Pasalnya, yang mereka inginkan adalah pendirian Negara Israel Raya, yang membentang antara Sungai Euphrat di Utara hingga Sungai Nil di Selatan.
Presiden Prabowo juga mengatakan bahwa perdamaian Palestina tercapai jika Israel dijamin keamanannya dan dihormati. Apakah ada yang salah dalam pernyataan ini?
Ini pernyataan aneh. Bagaimana bisa, kita harus menghormati dan menjamin keamanan perampok dan penjajah? Kita saja terus melawan Belanda hingga benar-benar terusir dari negeri kita. Lalu mengapa kini kita justru menyeru untuk menghormati penjajah?
Bagaimana Islam memandang genosida di Palestina?
Itu sebuah kejahatan, kebiadaban dan kekejian luar biasa. Menurut laporan UNEP (United Nations Environment Programme), selama dua tahun serangan ke wilayah Gaza, Israel tidak hanya melakukan genocide dengan membunuh puluhan ribu, bahkan ratusan ribu warga Gaza. Israel juga telah melakukan domicide dengan menghancurkan lebih dari 70% bangunan di sana, termasuk rumah sakit dan fasilitas industri; educide dengan menghancurkan lebih dari 90% sekolah; ecocide dengan menghancurkan lebih dari 97% pohon, 95% semak dan 82% tanaman tahunan; dan culturecide dengan menghancurkan arsip, perpustakaan, museum, mengakibatkan lebih dari 50% situs budaya dan agama hancur.
Semua ini sekaligus menunjukkan kelemahan luar biasa umat Islam, khususnya para penguasa negeri Muslim. Bagaimana bisa, umat Islam yang berjumlah hampir dua miliar tak berdaya melindungi umat Islam di Gaza dari kejahatan sebuah negara yang berpenduduk tak lebih dari 8 juta orang?
Jadi, bagaimana sebetulnya solusi tuntas atas persoalan Palestina menurut Islam?
Tidak ada solusi tuntas dan dibenarkan oleh syariah untuk menyelesaikan secara mendasar persoalan Palestina kecuali melalui Khilafah dan jihad. Mengapa Khilafah? Sejarah membuktikan, sepanjang Khilafah masih ada, wilayah Palestina terlindungi. Ketika Khilafah tidak ada itulah perampasan dan penjajahan di sana terjadi. Jangan lagi tidak ada, saat Khilafah lemah saja, Palestina sempat dikuasai hampir 100 tahun oleh tentara Salib. Maka dari itu, tegaknya kembali Khilafah akan memastikan wilayah yang sangat istimewa bagi umat Islam sedunia itu bisa dikuasai kembali.
Mengapa harus jihad? Jihad. Itulah bahasa yang orang-orang Yahudi kenal. Sudah tak terhitung banyaknya perundingan damai dilakukan, mulai dari Camp David, Oslo, Madrid dan lainnya. Hasilnya nol besar. Mereka tetap saja merangsek masuk ke wilayah Palestina. Mereka memang tidak ingin berdamai sampai cita-cita Israel Raya terwujud. Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk mengusir mereka adalah dengan jihad. Ketika Khilafah tegak, jihad bisa dilakukan dengan jauh lebih baik. Dengan potensi tentara dan perlengkapan militer yang dimiliki oleh umat Islam sedunia yang disatukan oleh Khilafah, tak sulit menyelesaikan persoalan Paletina dengan tuntas.
Kalau begitu, apa yang seharusnya dilakukan oleh pemimpin negeri-negeri Islam terkait permasalahan di Palestina?
Kerahkan pasukan jihad ke Israel. Andai dari lebih dari 50 negeri Muslim, masing-masing mengirim 1000 pasukan saja, akan terkumpul 50.000 ribu pasukan. Itu pasti akan menggetarkan Israel. Apalagi jika didukung oleh sekian banyak pesawat tempur, kapal perang dan rudal – seperti rudal Iran yang hebat itu – yang banyak dimiliki oleh negeri Muslim. Selesailah Israel.
Ada yang mempertanyakan justru mobilisasi tentara sekarang tidak realistis karena akan dihadang Amerika dan sekutunya. Ditambah panguasa Arab yang tunduk pada AS?
Memang, jika negeri Nuslim mengambil langkah itu pasti tidak akan dibiarkan. Namun, itu adalah solusi rasional ini hari. Kekuatan militer harus dihadapi dengan kekuatan militer juga. Sangat mungkin AS akan marah besar kepada para negeri-negeri Muslim. Namun, jika dihadapi bersama, apalagi ternyata diam-diam Rusia, Cina dan lainnya juga mendukung, AS dan negara Barat pasti akan berpikir panjang untuk balik menyerang negeri-negeri Muslim itu. Soalnya, adakah keberanian itu?
Apa yang harus dilakukan oleh umat Islam untuk membebaskan Palestina dari belenggu penjajajahan?
Dakwah ke tengah umat harus digencarkan. Di situlah pentingnya penyadaran umat. Utamanya tentang pentingnya perjuangan bagi penegakan kembali Khilafah. Khilafah akan menyatukan umat Islam. Dengan persatuan itu umat Islam menjadi kuat. Dengan kekuatan itulah, penjajah bisa dienyahkan dari Bumi Palestina dan wilayah Dunia Islam lain.
WalLâhu a’lam. []





