
Empat Catatan Penting terkait Visi Israel Raya
Setidaknya ada empat catatan penting terkait pernyataan perdana menteri entitas penjajah Zionis Yahudi Benjamin Netanyahu yang menyatakan “sedang mendambakan visi Israel Raya” pada 12 Agustus lalu. Hal itu dinyatakan Aktivis Hizbut Tahrir Saifuddin Abduh sebagaimana diberitakan hizb-ut-tahrir.info, Senin (25/8/2025).
Pertama, visi Yahudi tentang istilah “Israel Raya” merupakan visi ekspansionis terkait batas-batas negara buatan mereka. Versi-versi visi yang diajukan bervariasi, mencakup seluruh historis wilayah Palestina (dari laut hingga sungai). Kelompok yang paling ekstrem mengadopsi aneksasi sebagian wilayah Yordania, Lebanon, Suriah, Mesir, dan bahkan mungkin Irak dan Jazirah Arab.
Kedua, pengumuman visi tersebut muncul saat ini karena empat alasan:
- Karena situasi domestik Netanyahu menguntungkan akibat Operasi Badai al-Aqsha sehingga menjadi alasan untuk terus melakukan kejahatan dan penindasan terhadap rakyat Palestina;
- Netanyahu ingin menyenangkan kaum kanan religius yang diwakili oleh partai-partai koalisi untuk mempertahankan kekuasaannya dan terus memaksakan fait accompli (fetakompli) di Yerusalem dan Tepi Barat, dengan menindas rakyat Tepi Barat dan menciptakan lingkungan yang mengusir mereka hingga mereka terpaksa beremigrasi;
- Keberhasilan Donald Trump dalam pemilihan presiden AS memberikan pengaruh yang kuat bagi orang-orang Yahudi di Palestina, karena pemerintahan Trump mengadopsi solusi yang berbeda dari yang diadopsi oleh pemerintahan Biden (solusi dua negara), sementara Trump mengadopsi solusi parsial yang konsisten dengan visi orang-orang Yahudi di tanah yang diberkahi (administrasi mandiri yang terbatas);
- Sikap negara-negara Muslim di Timur Tengah adalah sikap yang lemah dan pengecut. Mereka menelantarkan saudara-saudara mereka, rakyat Palestina, yang membuat entitas Yahudi mengungkapkan tujuan dan sasaran yang jauh di dalam hati mereka, yang melampaui tujuan pendirian entitas tersebut, yaitu menjadi ujung tombak kaum kafir Barat melawan kaum Muslim dan menentang pendirian Negara Khilafah yang akan datang, dengan izin Allah.
Ketiga, melihat situasi internasional dan konstelasi negara-negara adidaya, didapati mereka terlibat dan bersekongkol dengan kaum Yahudi, entah dari pihak pemerintahan Trump atau dari pihak anggota Uni Eropa yang munafik. Mereka mengadakan pertemuan di New York dengan tujuan untuk menuntut pembentukan negara Palestina yang didemiliterisasi tanpa mengecam entitas Yahudi atau menuntut agar diambil tindakan praktis untuk melaksanakan apa yang mereka katakan.
Keempat, akhirnya dalam atmosfer yang dipenuhi awan politik negatif ini, kaum Yahudi memanfaatkan kesempatan untuk mengekspresikan isi hati mereka dan mengumumkan cita-cita mereka. []





